04 Desember 2008

[ac-i] Takengen Setelah 10 Tahun

Dua hari setelah acara konferensi di Hermes Palace saya berangkat ke
Takengen, kota kelahiran saya yang sudah cukup lama tidak pernah saya
kunjungi.

Tidak banyak yang berubah dari Kota ini, kecuali jalan dua jalur dari
Paya Tumpi menuju pusat kota ditambah dengan lampu lalu lintas di
simpang empat dan simpang Polres. Selebihnya pusat Kota Takengen,
secara fisik bisa dikatakan masih persis sama seperti saat saya masih
SD dulu.

Di sekitar pasar pagi saya lihat rumah-rumahnya tetap rumah papan dua
tingkat berbentuk ruko sebagaimana yang pernah saya ingat saat saya
pertama kali bisa mengingat. Sedikit perubahan baru terasa saat saya
melintas daerah sekitar pasar Inpres. Ada banyak bangunan ruko yang
baru dibangun di sana ditambah dengan keberadaan sebuah restoran
mahal berkelas nasional yang rasa makanannya sama sekali tidak jelas
dan sama sekali tidak istimewa. Gurami Goreng Asam manis di Restoran
ini rasanya hambar sehingga butuh sedikit perjuangan dan sedikit
kenangan terhadap bayi kurang Gizi di NTB sana untuk bisa
menghabiskannya. Jika rasa Gurami Asam manis di restoran ini saya
bandingkan dengan rasa gulai bandeng di warung Yusra Baru di Simpang
Lima. Perbandingannya seperti rasa gula jawa berbading rasa coklat
bulat Home Made bersertifikat buatan Swiss yang berlapis lima dengan
tiap lapis masing-masing memiliki variasi rasa yang berbeda.

Yang lain jika bisa dikatakan sebagai perubahan adalah penampilan
mesjid raya Ruhama yang sekarang jadi terlihat aneh dengan kubah-kubah
baru berwarna emas yang bukannya membuat mesjid ini tampak lebih indah
justru sebaliknya membuatnya jadi terlihat norak dan 'nggak matching'
dengan lingkungan sekitarnya.

Selain perubahan negatif pada penampilan Mesjid Ruhama, saya juga
melihat sebuah perubahan lain pada wajah kota ini yang sangat saya
sesalkan. Perubahan ini sangat saya sesalkan karena tidak seperti
perubahan penampilan mesjid Ruhama yang suatu saat bisa saja diubah
kembali jika Takengen beruntung dipimpin oleh Bupati yang punya cita
rasa seni, perubahan yang satu ini adalah cacat permanen terhadap
wajah cantik kota Takengen. Cacat permanen yang dibuat sendiri dengan
sengaja dan berbiaya mahal pula.

Dulu Kota Takengen dikenal sebagai kota dataran tinggi yang indah,
kota yang dikelingi gunung-gunung yang ditumbuhi hutan pinus alami
yang keindahannya menyatu dengan lansekap kota ini. Salah satu di
antara gunung-gunung yang menyatu membentuk kecantikan alami kota
Takengen itu adalah Bur ni Pereben yang terletak tepat di belakang
rumah saya. Gunung ini dulu pernah ditanami pohon pinus yang membentuk
aksara yang akan terbaca sebagai kata GAYO. Tapi sayangnya pohon pinus
yang membentuk kata GAYO itu tidak pernah besar karena selalu terbakar
di musim kemarau.

Sekarang Bur ni Pereben, gunung yang merupakan salah satu latar
belakang dan ciri utama kota Takengen ini terlihat jelek sekali. Bur
ni Pereben terlihat jelek karena di gunung ini Pemerintah Aceh Tengah
membangun jalan yang sama sekali tidak jelas peruntukannya. Jalan itu
dibangun tepat di bagian tengah antara kaki dan puncak gunung ini,
tepat menghadap Kota Takengen melintang dari Bale sampai ke ujung desa
Dedalu. Jalan yang dibangun entah untuk manfaat apa ini membuat
penampilan gunung cantik ini tampak cacat sehingga merusak seluruh
aspek keindahan kota Takengen. Akibat dari cacat yang sengaja dibuat
pada 'wajah' Bur ni Pereben ini, kota Takengon yang cantik sekarang
terlihat seperti Luna Maya dengan codet besar melintang di pipi.

Di gunung lain yang letaknya tepat di seberang gunung ber'codet' ini.
Di sisi lain danau Laut Tawar di daerah Kebayakan sekitar Mendale,
tampak bendera merah putih ukuran besar yang sepertinya dibuat dari
beton. Bendera ini dibuat dengan sangat baik dan dapat dilihat dari
seluruh bagian Kota Tekengen.

Meskipun ada beberapa perubahan negatif pada fisik kota ini tapi
perubahan-perubahan itu tidak cukup signifikan untuk sampai membuat
saya merasa merasa asing sebagaimana yang terjadi pada saya ketika
saya tiba di Banda Aceh, kota yang membesarkan saya menjadi manusia
dewasa. Apa yang saya rasakan di Takengen terbalik dengan apa yang
saya rasakan di Banda Aceh.

Di Banda Aceh saya merasa asing dengan tampilan baru kotanya tapi
tidak dengan orang-orangnya. Saya tidak merasa asing karena ketika
saya mulai berbicara dengan orang-orang Banda Aceh, saya langsung
dapat merasakan semangat yang sama seperti yang saya rasakan dulu
ketika saya masih menjadi penduduk resmi kota ini. Meskipun secara
materi apa yang diomongkan sudah berbeda dengan beberapa tahun yang
lalu tapi saya dapat melebur dengan orang-orang Banda Aceh langsung
pada saat itu juga, meskipun orang yang saya ajak mengobrol itu belum
pernah saya kenal sebelumnya.

Berkebalikan dengan Takengen, saya merasa sangat familiar dengan
tampilan fisik kotanya tapi langsung merasa asing ketika saya mulai
berbicara dengan penduduk kota kelahiran saya ini. Ketika berbicara
dalam bahasa Gayo dengan mereka, terutama dengan kalangan mudanya.
Saya langsung merasakan ada perubahan yang asing dalam cara, nada
bicara dan istilah-istilah yang mereka gunakan.

Saya yang terlahir dengan bahasa ibu 'Gayo' tentu saja sangat fasih
berbahasa Gayo karena bahasa inilah bahasa yang pertama kali saya
kenal dalam hidup saya. Tapi selama kurun waktu 10 tahun belakangan
ini bahasa Gayo yang saya gunakan sama sekali tidak mengalami
perkembangan, karena dalam kurun waktu itu bisa dikatakan saya
terisolasi penuh dari komunitas utama penutur bahasa Gayo. Ketika
sekarang, saya penutur asli bahasa Gayo yang mengenal bahasa Gayo
versi lama tiba-tiba masuk kembali ke dalam komunitas utama penutur
bahasa Gayo di Kota Takengen ini. Secara ajaib tiba-tiba saya merasa
sedikit asing dengan bahasa ibu saya ketika bahasa itu dituturkan oleh
orang Gayo lain yang menetap di tempat asli bahasa ini berkembang.

Saat berbicara dengan orang-orang Takengen saya menemukan banyak
kata-kata janggal serapan dari bahasa Melayu versi Indonesia dalam
kosa kata bahasa Gayo mereka, kosa kata yang dulu sama sekali tidak
pernah saya kenal.

Kosa kata baru itu misalnya kata 'kayak e' yang merupakan terjemahan
dari bahasa Indonesia 'sepertinya'. Dulu saat saya masih berada dalam
komunitas ini, saya dan orang orang Gayo lainnya menggunakan kata
'nampak e' untuk terjemahan kata ini. Sebagaimana halnya ketika saya
masih sering pulang ke Takengen dulu, sampai sekarangpun saya masih
tetap menggunakan istilah 'nampak e' ketika konteks ini saya gunakan
saat saya berbicara dalam bahasa Gayo dan semua orang gayo yang saya
kenal juga menggunakan kata itu. Tapi sekarang, pilihan kata yang saya
gunakan ini terdengar janggal di telinga orang Gayo yang tinggal di
Takengen. Sayapun juga demikian, saya merasa janggal dengan kata baru
yang mereka gunakan, yaitu 'kayak e' yang merupakan peng'gayo'an dari
kata bahasa Melayu versi Indonesia 'Kayaknya'.

Masih banyak kosa kata baru lainnya yang sekarang umum mereka gunakan
tapi dulu tidak pernah saya kenal. Kata-kata itu misalnya untuk
mengatakan besarnya, sekarang beberapa orang Gayo yang saya temui
mengatakan 'besar e', bukan lagi 'kul e' yang merupakan kosa kata asli
bahasa Gayo. Demikian juga untuk pemakaian istilah dalam kata-kata
lain seperti kata 'duduk' dan 'teman' misalnya. Sekarang anak muda di
Takengen saya lihat cenderung lebih suka menggunakan kata serapan dari
bahasa melayu tersebut ketimbang kosa kata asli bahasa Gayo 'kunul'
dan 'pong'.

Kejanggalan lain yang saya rasakan ketika berada di Takengen adalah
ketika saya menyaksikan pergaulan antara muda-mudi di kota ini. Saya
amati kalau sekarang pergaulan antar jenis anak-anak muda Takengen
sudah jauh lebih bebas dan terbuka dibandingkan pergaulan muda-mudi
pada saat saya masih seumuran mereka dulu. Perbedaan itu tampak sangat
mencolok ketika saya memperhatikan perilaku dan penampilan gadis-gadis
muda kota Takengen. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan penampilan
dan perilaku umum gadis-gadis muda di masa saya masih ABG dulu.

Ada dua perbedaan mencolok yang saya lihat; pertama dibandingkan
dengan gadis-gadis muda pada masa saya, gadis-gadis muda Takengen
sekarang terlihat jauh lebih tidak malu-malu menunjukkan kemesraan
terhadap pasangan ABG mereka di depan umum, perilaku mereka sekilas
sangat mirip seperti perilaku ABG-ABG dalam Sinetron yang diputar di
berbagai saluran TV swasta. Perbedaan kedua, yang sangat jelas
terlihat ada pada penampilan fisik. Tidak seperti gadis-gadis muda di
masa saya ABG dulu yang rata-rata keindahan rambutnya bisa bebas kita
nikmati, sekarang kepala gadis-gadis muda kota Takengen yang enerjik
itu semuanya ditutupi jilbab atau kerudung.

Begitulah kesan awal kunjungan saya sebagai orang yang lahir dan
tumbuh besar di Takengen dan sekaligus penutur asli bahasa Gayo
terhadap kota terbesar di tanah Gayo ini.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com


------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: