01 Desember 2008

[ac-i] [sajak] Almayer Inn

Almayer Inn

 

Lengan Bartledoom membuat mulut pintu itu terbuka.

 

Sebelum lebar yang sebenar-benarnya lebar, dibiarkannya derit-derit engsel memamerkan suara pilu, menyayat, seperti bisik hatinya pada seseorang yang pernah datang pertama kali.

 

Di lihatnya juntai kaki putih itu menyeruak dari laut.

 

Seakan sadar pada mimik tempat tidur, kursi, cermin, meja tulis kecil, almari, Bartledoom mendehem kecil, "Saya memang sudah di kamar ujung, sebuah koridor panjang.

Dan di sinilah saya sekarang, duduk menghadap laut yang dihadirkan mulut lain dari sisi dunia lain."

 

Sebuah mulut jendela

 

Malam akan menggelisahkan segenap gemombang laut

namun juga menyenangkan perjalanannya. Perjalanan langkah seseorang yang pernah dilihatnya muncul dari laut dan menyongsong pelan ke arahnya namun samar

 seperti mini seri mimpi televisi

 

Episode kali ini adalah ratusan nama serupa yang dibubuhi tanda tangan

dan oleh jari yang sama.

 

Ratusan amplop yang tersimpan di sebuah kotak kayu mahoni, ditujukan kepada nama

dan alamat yang sama

 

Kepada Engkau yang tercinta,

  yang tengah lelap dalam dekapan gelap

  lalu terjaga oleh matahari yang mengantuk dan lelah

  kemudian kau bangkit dan kau pun tampak

  mulai melangkah, seakan senyum itu untuk semua manusia

  tapi, siapalah yang melihat, selain aku sendiri

  seperti sekarang ini, kibaran gaun putihmu diterpa

  angin yang sama

  seperti aku mendengar alunan nada yang tak pernah berganti

  dari tuts-tuts piano yang sama

  dengan perasaan serupa

  kembali menyeruak dari sebuah rongga jendela

 

"Saya memang sudah di kamar, ujung sebuah koridor yang panjang.

Dan di sinilah saya sekarang, duduk menghadap laut yang dihadirkan mulut lain dari sisi dunia lain."

Sebuah mulut jendela

 

2008


blalang_kupukupu

http://asharjunandar.wordpress.com


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: