| Mas moderator, tolong yang tadi dihapus. Ini yang benar. Terimakasih. BUNGKUSAN HATI DI DALAM KULKAS Teater Salihara, Selasa, 16 Desember 2008 Pukul 20.00 – selesai Dalang: Ki Catur Kuncoro Sinden: Soimah Poncowati Rancang Wayang dan Imaji Visual: Eko Nugroho Ide Cerita dan Naskah: Joned Suryatmoko Desain Panggung: Andy Seno Aji Penata Musik: Yenu Ariendra Manajer Panggung dan unit Produksi: Vindra Diratara Staff Panggung: Darmanto Setiawan Pendukung Produksi Pimpinan Produksi: Alia Swastika Dokumentasi: Oki Permata Sari dan Desi Suryanto Desain grafis: Sari Handayani Karya ini berangkat dari keinginan untuk menjelajahi kemungkinan yang lain dari wayang, baik dalam hal bentuk maupun cerita. Jika mempelajari sejarah wayang, terutama yang berkembang setelah abad 20, kita melihat bahwa wayang digunakan juga sebagai medium yang bisa menjadi ruang untuk mendiskusikan persoalan-persoalan aktual dalam masyarakat. Misalnya, ada yang disebut wayang revolusi, yang menceritakan tentang hubungan Indonesia- Belanda, dan mengadopsi karakter-karakter manusia pada masa itu. Keinginan kami adalah menimbang kembali bentuk wayang, memberinya muatan yang kontekstual dan menyuguhkan pertunjukan wayang dalam sensibilitas yang kontemporer. Sebagai dalang, Catur Kuncoro tetap memanfaatkan format pewayangan, terutama dalam hal bayangan (shadow), dan juga bentuk wayang yang dimainkan di tangan. Yang terutama berubah adalah karakter-karakter wayang, yang akan menggunakan karakter yang khas dari Eko Nugroho, seorang seniman visual. Karakter-karakter Eko yang merupakan pembacaan atas situasi sosial kontemporer yang akan menggantikan karakter dalam wayang klasik. Ketertarikan Eko atas bentuk-bentuk kekerasan dalam kehidupan sehari-hari, atau potret-potret ironi kehidupan masa kini, akan menjadi gagasan dasar yang membangun "cerita" dalam pertunjukan. Humor, sarkasme dan cerita-cerita lokal akan dikombinasikan dengan refleksi-refleksi tentang manusia modern. Kami tertarik mempresentasikan lintasan-lintasan peristiwa keseharian, yang barangkali kecil dan seringkali terlupakan, yang menunjukkan bagaimana kekerasan menjadi sesuatu yang sekarang ini semakin diterima dan membudaya dalam masyarakat. Dengan tata panggung oleh Andy Seno Aji dan musik garapan Yenu Ariendra, pertunjukan ini akan menyuguhkan sebuah cara lain melihat kenyataan sehari-hari dalam kehidupan kita. Bagaimana hal-hal domestik yang kecil dan nyata sering terlupa, terlindas oleh berita-berita besar yang melibatkan orang-orang besar. Sebagai bintang tamu, Soimah Poncowati akan berpartisipasi pula dalam pertunjukan ini. Tiket Rp 50.000,00 dan Rp 30.000,00 mahasiswa Rp 15.000,00 Pemesanan melalui Alia Swastika 081802771307 atau Vindra Diratara 081328787553 Atau dapatkan ditempat pertunjukan |
__._,_.___
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com
-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___




0 komentar:
Poskan Komentar