03 Desember 2008

[ac-i] PANJI REMENG di Taman Budaya Jatim

[ Rabu, 03 Desember 2008 ]

Sendratari Panji Remeng di Gedung Cak Durasim

SURABAYA -Sebuah pertunjukan apik dipertontonkan 16 seniman Jawa Timur dalam pentas sendratari Panji Remeng di Gedung Cak Durasim tadi malam. Semua seniman itu merupakan gabungan perupa, penari, dan pemusik di bawah koordinasi koreografer Heri Lentho.

Pertunjukan yang tidak biasa tersebut terselenggara atas prakarsa Taman Budaya Jawa Timur. Mereka sengaja mengangkat lakon cerita wayang gedhog karya (alm) A.M. Munardi yang diadopsi dalam sendratari.

Keenam belas seniman yang terlibat itu adalah Heri, Toyib Tamsar, Tri Handoyo, M. Rizard Gandong, Fatah Hidayat, Nono Goang, Pambuko, Suwandi, Purbandari, Mega Kartika Putri, Ernawati, Supriyadi, Hariyanto, Triyono, Ujang, dan Antok.

Lakon Panji Remeng menceritakan penjelmaan pengasuh Panji Inukertopati, yaitu Bancak, yang menjadi seorang pangeran atau kesatria. Penyebabnya, Bancak tidak bisa menjaga ikatan perjodohan antara Panji Inukertopati dari Jenggala dengan Dyah Ayu Sekartaji dari Kadhiri. Raden Panji ternyata menikahi Dewi Anggreni sehingga keinginan untuk kembali menyatukan dua kerajaan tersebut pupus.

Namun, sendratari berdurasi satu jam itu tidak ditampilkan persis cerita aslinya. "Saat kami berproses dan berkolaborasi ide, sempat terpikir, apa masih relevan cerita tersebut dipentaskan saat ini?" ujar Heri.

Akhirnya, Panji Remeng yang sebenarnya merupakan bangsawan dengan asal usul tidak jelas tersebut menyimbolkan kondisi kekinian. "Contohnya, banyak orang tiba-tiba bermunculan ingin jadi pejabat atau wakil rakyat. Padahal, asal-usulnya tak jelas," paparnya.

Lakon Panji Remeng dibuka dengan keluarnya tokoh utama yang diperankan Tri Handoyo, cucu tokoh Topeng Malangan Mbah Karimun. Hanya mengenakan sarung dan bertelanjang dada, dia duduk dan sedang suntuk memahat topeng. Di belakangnya tertata bermacam topeng wajah pahatannya. Ada yang bermuka seram, cantik, juga yang tidak keruan.

Dia terus memahat topeng dan tidak memedulikan keadaan di sekitar sampai datanglah seorang dewa. Dia tetap terpaku pada pahatan itu. Baru setelah muncul seorang wanita membawa tampah dan mendekatinya, si pemahat topeng merespons. Wanita yang sedang kulakan rai (topeng) itu bertransaksi dengan si pemahat topeng.

"Kang, topeng raden-raden ngeten niku kok murah to, Kang?" ucapnya.

Si pemahat menjawab, "Nggih, Yu, topeng panji-panji ngeten niku murah buanget amargi wanci niki lagi usum-usume."

Dalam pertunjukan tersebut, ada komposisi cermin yang ditempatkan di tengah-tengah penonton oleh si wanita pembawa tampah. Dia rupanya menawarkan topeng kepada penonton. Suasana bertambah hidup ketika para pemusik di panggung memainkan kuali dengan lubang yang ditempeli kaca. Sinarnya dipantulkan ke arah penonton. Maka, tercipta ekspresi-ekspresi spontan penonton.

Di akhir cerita, diketahui bahwa Panji Remeng tak lain adalah si pemahat topeng. Oleh dewa, derajat dia diangkat menjadi seorang panji bernama Panji Remeng.

"Persiapan yang dilakukan untuk pementasan itu memang tidak main-main. Harapannya, bisa membuat pertunjukan jadi hidup," ucap Heri.

Beberapa di antara persiapan tersebut adalah berlatih di studio dan melakukan latihan alam. Latihan alam mereka lakukan di halaman Candi Jalatunda. Mereka menari di sana supaya feeling para pemain bisa lebih dalam.

"Kalau dalam cerita asli, setelah dimarahi, Bancak bertapa di Candi Jalatunda. Di sanalah dia menjelma menjadi Panji Remeng," bebernya. (jan/ari)

(Jawa Pos)


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: