05 Desember 2008

[ac-i] Montessori, Kemandirian Anak dan Pembantu Indonesia

Kemarin istriku yang baru pulang dari pertemuan di sekolah anakku
menelponku untuk menceritakan hasil pertemuan tentang kemajuan yang
dicapai oleh anak kami selama sekolah dan juga kendala-kendala yang
dia hadapi. Pertemuan yang diikuti istriku ini adalah semacam acara
pembagian rapor di sekolah-sekolah tradisional.

Di TK Montessori tempat anakku sekolah, mereka tidak mengenal yang
namanya penilaian dan laporan tertulis apalagi pemberian rangking. TK
dan SD Montessori tidak pernah mengklasifikasikan murid-muridnya ke
dalam klasifikasi bodoh dan pintar. Di sekolah ini setiap anak
diperlakukan sebagai pribadi yang unik yang masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Karena itulah Montessori menganggap adalah
tidak mungkin menilai kemampuan seorang anak dengan ukuran angka. Cara
Montessori melaporkan perkembangan anak adalah dengan mengundang orang
tua untuk menyaksikan aktivitas anak mereka di kelas selama setengah
jam. Lalu kemudian apa yang disaksikan selama setengah jam itu
didiskusikan dengan guru yang di Montessori disebut 'Direktris'.

Yang menjadi direktris di kelas rose, kelas anakku adalah Valda, gadis
Amerika berumur 26 tahun. Di samping aku dan istriku, Valda yang
cantik dan sangat ramah ini termasuk salah satu orang yang paling
diidolakan oleh anakku. Kepada istriku Valda menceritakan kalau anakku
memiliki kemampuan yang sangat baik dalam hal berkonsentrasi. Menurut
Valda anakku mampu mengerjakan aktivitas yang dia suka sampai selesai
tanpa terganggu oleh suara gaduh teman-temannya. Daya serap terhadap
informasi baru juga sangat baik. Ada beberapa hal positif lain yang
disebutkan Valda tentang anakku.

Anakku yang tanggal 7 Desember nanti akan tepat berumur 4 tahun
sekarang sudah bisa menyiapkan semua kebutuhannya sendiri tanpa perlu
dibantu oleh orang dewasa. Itu bisa terjadi karena di sekolah
Montessori ini anak-anak diajarkan untuk mandiri. Di sini anak-anak
dibiasakan memakai sepatu sendiri, selesai makan mencuci piring
sendiri, bahkan beberapa anak yang mengompol di kelaspun diajarkan
untuk mengepel lantai dan mencuci celana bekas ompolannya sendiri.

Di samping mengajarkan kemandirian, aktivitas seperti itu juga melatih
keterampilan motorik anak. Karena memang anak-anak yang masih berumur
tiga tahun ini dalam tahapan psikologi perkembangan dikatakan masih
berada dalam masa peralihan dari tahap perkembangan 'sensori motorik'
ke masa 'pra operasional'.

Berdasarkan hasil dari banyak riset, para ahli menyimpulkan bahwa
mengarahkan anak-anak sangatlah mudah. Melatih anak-anak untuk bisa
mandiri seperti yang dilakukan di sekolah Montessori juga sangat
mudah, karena anak-anak pada umur-umur TK seperti anakku ini
perilakunya masih sangat mudah dibentuk. Yang menjadi masalah
terbesar dalam membentuk kemandirian anak selalu datang dari orang tua
dan orang dewasa lain yang berada di sekitar si anak. Berdasarkan
pengalaman Montessori yang sudah nyaris seabad eksistensinya mereka
juga menemukan bahwa semua kegagalan yang dialami oleh anak dalam
mengikuti metode Montessori selalu berasal dari orang tua.

Karena itulah sebelum menerima seorang murid di sekolah ini, fihak
Montessori terlebih dahulu melakukan seleksi ketat. Yang mereka test
dalam proses seleksi tersebut bukan si anak yang menjadi calon murid
melainkan orang tuanya. Hanya anak dari orang tua yang memiliki
kesepahaman dengan Montessori yang bisa diterima di sekolah ini.
Seleksi semacam itu mereka lakukan supaya program yang mereka buat
dapat berjalan optimal. Sebab kalau orang tua tidak memiliki cara
pandang yang sama dengan Montessori dalam mendidik anak. Apa yang
didapatkan anak di Montessori akan sia-sia karena di rumah anak-anak
yang sudah diajari mandiri ini kembali dilayani, biasanya oleh
pembantu. Lalu jika anak seperti ini ada di Montessori, kebiasaan
dilayani yang dia dapatkan di rumah akan dia bawa ke sekolah dan anak
inipun akan menularkan mentalitas feodalnya itu kepada anak-anak yang
lain. Dan hancurlah semua program yang dibuat Montessori.

Masalahnya biaya pendidikan di Montessori yang terbilang cukup mahal
membuat anak-anak yang mendaftar ke sana selalu berasal dari kalangan
mampu. Yang menjadi masalah dengan orang-orang yang berasal dari
kalangan ini, biasanya mereka selalu memiliki pembantu di rumah. Para
pembantu itu bertugas mengurusi semua keperluan anggota keluarga
tersebut, termasuk anak-anak Balita yang sedang berada dalam tahapan
psikologis sensori motorik dan pra operasional. Padahal anak-anak
seumuran itu seharusnya dibiarkan melakukan berbagai aktivitas motorik
untuk melatih keterampilan geraknya. Tapi karena diumur-umur seperti
itu anak-anak ini malah dilayani bagaikan raja dan ratu. Akibatnya
kemandirian dan kemapuan motorik anak-anak itu tidak berkembang dan
merekapun tumbuh menjadi anak manja.

Situasi yang dihadapi kaum kaya ini diperburuk oleh kenyataan bahwa
mereka tinggal di Negara yang bernama Indonesia. Di negara ini sulit
sekali mencari pembantu yang punya mental orang merdeka yang bisa
memandang majikan di tempatnya bekerja sebagai manusia yang setara.
Hal ini sangat sering dikeluhkan oleh para orang tua murid di
Montessori yang saya kenal ketika kami mengobrol di setiap acara
pertemuan orang tua.

Di Indonesia ini para pembantu, baik yang berseragam maupun tidak.
Hampir bisa dikatakan seluruhnya bermental Abdi Dalem yang dalam
hubungan profesionalnya ketika bekerja selalu menempatkan diri sebagai
alas kaki tuannya. Padahal para orang tua anak-anak Montessori yang
saya kenal rata-rata adalah para ekspat berjiwa humanis yang tidak
pernah menganggap pembantu di rumah mereka sebagai orang yang
derajatnya lebih rendah. Tapi masalahnya mentalitas menghamba di
kalangan kaum pembantu di Indonesia ini memang sudah berurat dan
berakar karena tradisi. Inilah yang dikeluhkan para orang tua
teman-teman anakku. Mereka mengeluh karena mereka sangat menyadari
kalau keberadaan pembantu model begini di sekitar anak-anak mereka
yang sedang mencari bentuk jati diri, betul-betul merusak.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com


------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: