04 Desember 2008

[ac-i] KURATOR: PEWACANAAN SENI RUPA DI SURABAYA MINIM

KURATOR: PEWACANAAN SENI RUPA DI SURABAYA MINIM

Surabaya, 3/12 (ANTARA) - Kurator, Agus Kucing mengemukakan bahwa pewacanaan mengenai seni rupa di Surabaya dalam beberapa dekade sangat minim, padahal di kota ini banyak perupa yang terus menerus berkarya.
"Kondisi ini memang sangat memprihatinkan dalam kehidupan seni rupa di Surabaya. Padahal, kita tahu akhir-akhir ini banyak perupa di Surabaya menggelar pameran," katanya pada diskusi "Mazhab Seni Rupa Surabaya dalam Peta Seni Rupa Nasional" di Galeri Seni "House of Sampoerna" Surabaya, Rabu.
Ia mengemukakan, gerakan perupa di Surabaya agaknya belum bisa dijadikan wacana mazhab baru, karena selama ini mereka masih bergerak dalam tataran individual dan sebagian pada komunitasnya sendiri-sendiri.
"Karena itu, kalau wacana mencari mazhab seni rupa Surabaya saya kira masih jauh. Mazhab itu akan muncul jika ada perguliran pemikiran yang terus menerus. Di Surabaya, diskusi seni rupa semacam ini dalam lima tahun terakhir sangat jarang," kata dosen seni rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya itu.
Selain itu, katanya, literatur seni rupa di Surabaya juga sangat minim. Hal ini berbeda dengan Yogyakarta maupun Bandung yang dalam satu tahun bisa terbit sampai lima buku mengulas masalah seni rupa.
"Masalah lain yang kita hadapi adalah belum siapnya infrastruktur seni rupa di Surabaya, termasuk bangunan jejaring dengan luar negeri. Kalau jejeraing terbentuk, maka perupa asing akan berbondong-bondong untuk berkolaborasi dengan seniman Surabaya," katanya menambahkan.
Menurut dia, sebenarnya dari sisi seniman yang saat ini sekitar 300 orang, Surabaya sudah cukup, termasuk kolektor besar yang berani membeli karya seni rupa hingga senilai Rp9 miliar.
Masalah mazhab seni rupa Surabaya itu, digulirkan oleh budayawan sekaligus kolektor lukisan, Henky Kurniadi yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut. Hal itu didasari sejarah berkembangnya ekonomi, politik dan budaya yang banyak dimulai dari Surabaya.
"Ada Soekarno, HOS Cokroaminoto dan lainnya yang bermula dari Surabaya. Dari sisi ekonomi, sangat banyak pebisnis sukses yang memulai dari Surabaya. Demikian juga dengan seni budaya. Leo Kristi dan Gombloh lebih dahulu mengenalkan lagu balada ketimbang Iwan Fals," katanya.
Karena itu, tidak berlebihan kalau seni rupa juga perlu mencari mazhab Surabaya, selain yang sudah menjadi arus utama saat ini, yakni Yogyakarta dan Bandung.
Menurut dia, saat ini, Surabaya belum memiliki institusi pendidikan kesenian yang berwibawa seperti Yogyakarya dan Bandung. Karenanya, semua insan seni harus berkumpul untuk berpolemik mengenai mazhab itu.
"Ayo kita susun bersama mengenai kemungkinan mazhab baru ini. Jangan hanya melihat ke Bandung dan Yogyakarta saja," katanya berharap.
(T.M026/B/C004/C004) 03-12-2008 16:07:54


 
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: