03 Desember 2008

[ac-i] jurnal toddopuli:: taman luxembourg

Jurnal Toddopuli
 
 
TAMAN LUXEMBOURG, PARIS
  
 
Taman Luxembourg, merupakan salah satu taman terbesar di tengah kota Paris. Boleh dibilang berada di kilometer nol,. Tidak jauh dari Universitas Sorbonne. Persis di belakang Gedung Senat yang megah. Dari Koperasi Restoran Indonesia, hanya berjarak 100 meter. Kurang lebih satu kilometer dari Sungai Seine yang membelah Paris yang dibayangi oleh Katedral Nontre Dame dan gedung-gedung bersejarah. Cara paling sederhana dan cepat untuk mengetahui  sejarah Paris adalah naik kapal menelusuri sungai dan mengitar Pulau Saint Louis yang terletak di tengah sungai. Kapzl kalian akan dikawal dibuntutui oleh ratusan camar putih.  Selama perjalanan, kalian akan mendengar tuturan sejarah Paris yang dituturkan secara garis besar kepada para penumpang. 
 
 
Salah satu yang tercatat di Taman Luxembourg ini  adalah perjumpaan pengarang Les Miserables dana Si Bongkok Dari Notre Dame, Victor Hugo , dengan istrinya yang setia.  Saya katakan setia, karena jetika Victor Hugo terpaaksa meninggal Perancis untuk mencari suaka di Belgia, karena sikap politik Victor Hugo yang tegas menyokong Peembrontakan Commune de aris, sang istri turut dengan tegar menanggung segala duka-derita dan sepi seorang suaka politik di ngeri orang.  Sang istri tergolong seorang perempuan yang berprinsip. Bukan perempuan yang bersikap "ada uang ada sayang, tak ada uang abang melayang".
 
 
Pada musim panas, taman ini menjadi tempat orang-orang berjemur sambil membaca. Ia juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan, tempat hiburan dan bermain bagi anak-anak. Taman yang mencakup beberapa model taman, seperti taman model Inggris, di segala musim dijadikan daerah olahraga: jogging,tenis dan  tai chichuan, Sekaligus tempat bersantai dan tentu saja juga tempat berkecan. Suasana kemesraan merupakan bagian dari pemandangan taman, apalagi di musim panas dan siapapan tidak ambil perduli. Menanggapnya hal demikian sebagai urusan pribadi yang bersaangkutan.
 
Menjelang jam 19:00 petang, penjaga taman yang berseragam seperti pakaian polisi, membunyikan sempritannya, mengingatkan para pengunjung bahwa taman segera akan tutup. Terlarang untuk bermalam di sini seperti halnya terlarang untuk bermaam tidur di dalam stasiun metro -- kereta-api bawah tanah.
 
Adakah para pedagang kecil di dalam taman seperti yang kita saksikan di tanahair yang segera mengisi tempat-tempat publik dan trotoar? Di dalam taman tidak ada sama sekali. Bahkan rumput hijau, apalagi bunga-bunga, terlarang diinj ak. Jika kita melanggar ketentuan ini, polisi akan segera datang menegur. Kencing sembarangan pun terlarang. Saya ceritakan soal kencing ini, karena pernah seorang teman saya yang sakit,  tidak bisa menahan kencingnya. Daripada menahan sakit dan mengencingi celananya, ia berlindung di balik sebuah pohon besar taman dan kening. Tiba-tiba ia mendengar suara sempritan polisi penjaga taman yang langsung mendekati da menegurnya:"Tuan, Monsieur, terlarang buang air kecil sembarang". Teman saya itu meminta maaf sambil  mengmenjelaskan keadaannya. Polisi taman itu tersenyum maklum,  kemudian berlalu.[Pamusuk Eneste ketika melihat ada orang buang air kecil di Saint Michel, setelah kembali dari Paris, menulis ketercengangan akan kejadian ini sama  membuat tercengangnya Dr. Masud ketika ia diminta ua,g oleh pengemis New York. "Bulé minta uang dari seorang Ilander", ujarnya sambil tertawa].
 
Taman besar yang berpagar besir berujung lancip seperti mata tombak setinggi kurang lebih 10 meter, diurus dengan baik oleh petugas khusus. Merekalah yang menyapu dedaunan rontok di musim gugur, menggunting dan membentuk tanaman-tanaman, menanam bunga. Mendangirnya. Menyirmanya . Sehingga taman senantiasa terawat dan asri Memberikan kenyamanan bagi para pengunjung. 
 
Hal unik, satu-satunya di Paris, bahwa pagar besi taman ini sejak bertahun-tahun dimanfaatkan sebagai pameran foto permanen. Berlangsung siang-malam selama dua bulan dengan tema berbeda-beda. Pagar yang digunakan adalah bagian yang menghadapi jalan teramai yaitu simpang tiga Rue de Vaugirard yang menuju Universitas Sorbonne dan jalan Saint Michel mengarah ke Pntheon, tempat pemakaman atau perisirahatan putera-puteri terbaik Perancis --vbyang sebagian besar terdiri dari orang-orang kiri dengan segala tendensinya, termasuk anggota Partai Komunis, seperti Madame Curie;, saastrawan Andre Malraux yang pernah Trotskis, Vixtor Hugo yang penyokong konsekwen kaum Komunard, dan lain-lain.... Keadaan dan kenyataan ini menimbulkan pertanyaan pada diri saya: Mengapa banyak orang kiri yang mengisi Pantheon sebagai tempat berisitrahat terpandang bagi putera-puteri terbaik Perancis? Apa hubungan dan adakah hubungan antara orang kiri dan putera-puteri terbaik? Atau sekedar suatu kebetulan belaka?.Tapi yang jelas tidak ada orang kanan, apalagi kanan ekstrim.
  
Pameran foto bersarna dan artistik berukur 2 X 4 meter ini diprakarsai dan disponsor oleh Senat dengn tujuan edukatif.  Beberapa tema foto yang pernah dipamerkan antara lain memperkenalkan kepada masyarakat tentang Perancis, Afrika, Tibet, sejarah politik dunia, laut dan kerusakan laut,  tentang Tiongkok, bumi dilihat dari langit,  dan lain-lain.....
 
Senati sebagai sebuah lembaga tertinggi negara Perancis memprakarsai pameran seni foto permanen begini dan sudah berlangsung beberapa tahun, bagi saya sungguh merupakan suatu gejala yang menarik. Ia seperti memperlihat bahwa para politisi di Senat memahami peran seni bagi masyarakat, terutama makna edukatifnya. Di samping pameran permanen ini secara finansial membantu nyata kehidupan para fotograf.  Prakarsa Senat ini juga , dari segi lain, memperlihatkan adanya politikus yang mengerti sastra-seni, paham akan budaya. Secara singkat bisa disebut sebagai politikus yang berbudaya yang bisa berdampak bahwa pendekatan politik mereka pun bisa lebih berbudaya. Hal yang berbeda dengan pendekatan militeristik para politisi yang bersandar pada cara "main gebuk", iika menggunakan istrilah Presiden Soeharto dalam wawancaranya dengan Majalah Times beberapa dasawarsa silam .
 
Adanya barisan politisi berbudaya bahkan sekaligus seniman, di Perancis bukanlah hal-ikhwal baru. Presiden George Pompidou telah menerbitkan antologi puisi Perancis, François Mitterrand  adalah budayawan yang dikenal sebagai penulis yang mempunyai gaya dan bahasa yang kenidahannya diakui oleh semua orang, termasuk oleh Presiden Sarkozy sekarang. Sarkozy dalam salah satu waxwancaranya mengatakan bahwa pengetahuan sastra François Mitterrand sangat luas yang sempat membuatnya merasa rendah diri.  Mantan Perdana Menteri Villepin adalah seorang esais yang terkemuka, Luc Ferry, mantan menteri pendiikan adalah seorang filosof dan penulis terpandang. Ini hanya untuk menyebut beberapa contoh saja. Politikus yang berbudaya agaknya merupakan hal yang perlu dipertimbangkan oleh para politisi di negeri kita.Siapakah politikus berbudaya di negeri kita? Soekarno barangkali. Tan Malaka, Sjahrir, Njoto, dan µSusilo Bambang  Yudhoyono,Jenderal Wiranto [barangkali]  yang selain menulis antologi puisi juga menciptakan lagu?
 
Tapi pertanyaan saya dengan mengangkat masalah politisi berbudaya ini adalah apakah dalam praktek politik praktis, pendekatanbudaya dan berbudaya ini sudah diterapkan? Apakah masakre demi masakre, nyawa manusia dan anak negeri yang tidak dihargai sama sekali termasuk ujud dari pendekatan politik yang berbudaya? Sementara di Perancis, matinya seorang gelandangan karena kedinginan  saja sudah menjadi isu politik besar secara nasional.
 
Pertanyaan-pertanyaan demikianlah yang saya lihat ketika saban hari melalui Rue de Vaugirard dan melihat foto-foto pamran permanen di pagar Taman Luxembourg yang dielenggarakan oleh Senat sebagai salah satu lembaga tertinggi negara. Ketika menyaksikan bagaimana taman sebagai salah satu wahanan pelayanan masyarakat.
 
Dari Taman Luxembourg dan pameran foto permanen  taman raya di jantung Paris, saya melihat jalan berliku dan pnjang yang masih perlu kita tapaki. Jalan yang jika meminjam istilah Mochtar Lubis adalah  "jalan tak punya ujung", "perjalanan tak punya sampai", ujar pelukis Salim almarhum. Jalan pemausiawian diri, manusia, kehidupan dan masyarakat. Jalan singkat itu memang ada tapi hanya bagi yang mengidap pola pikir dan mentalitas "mie instan"" -- jenis budaya yang agaknya  jamak di negeri kita. Bagaimana kita merawat, memaknai taman-taman, warisan budaya kita? Barangkali jawaban pertanyaan-pertanyan ini, membantu kita berkaca melihat wajah diri negeri,terutama wajah pola pikir dan mentalitas penyelenggara negeri dan negara serta diri kita sendiri.****  
 
 
Perjalanan Kembami, Musim Dingin 2008.
---------------------------------------------------------
JJ. Kusni 
 
 
Keterangan foto:
Pagar besi Taman Luxembourg yang digunakan oleh Senat Perancis sebagai wahana pameran foto permanen  sejak bertahun-tahun [Dari Dok. JJK].


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: