01 Desember 2008

[ac-i] jurnal toddopuli: sans domicile fixe --sdf

JurnaL Toddopuli:
 
 
SANS DOMICILE FIXE
 
  
Dingin sudah merontokkan dedaunan dari dahan-dahan kotaku. Langit kelabu seakan hanya sepanggalah saja tingginya dari menara katedral terletak di depan taman Abbesses. Orang-orang jalan bergegas dibalut pakaian tebal. Syal tebal melilit leher mereka.Kalau pun sesekali matahari merebak di antara awan  menyinari kota dan atap-atap, bertaburan di jalan,  sinarnya pun terasa sangat tumpul, tak terasa menyegat seperti pada bulan Agustus silam. Sengat matahari diganti oleh irisan dingin pada  jari-jari kaki dan tangan serta pipi atau daun telinga yang tidak tertutup. Di tengah iklim yang terasa  sangat menekan ini, orang-orang berteriak girang dengan mata bercahaya saban melihat ada matahari menyala: "Ooooo, soleil,  soleil..."   [Oooo, matahari, matahari...]. Matahari jadi dambaan, isi kerinduan, disenandungkan dalam lagu dan puisi. Di samping menikmati keindahan varian tamasya negeri empat musim, saya makin merasakan betapa matahari tanahair tidak tergantikan, terdengar seperti suara rindu seorang ibu  atau orang kesayangan menyeru-nyeru segera pulang.
 
Matahari seperti juga bulan,  bagiku adalah lambang harapan dan kerinduan -- cinta yang tak pudar, dimatangkan dalam perjalanan musim dengan segala ketiba-tibaan tak tertakar duga. Alangkah gelapnya kehidupan tanpa harapan. Alangkah gelapnya siang tanpa matahari dan betapa temaramnya malam tanpa bulan. Tanpa harapan membuatku akan seperti orang tenggelam ketika pinisinya pecah dibanting topan,   yang tergapai-gapai sebelum hilang di lubuk dalam kesia-siaan tanpa makna. Keadaan jiwa tergapai-gapai inilah yang dilukiskan oleh temanku Arifin C. Noer dalam dramanya berjudul "Gapai-gapai". Ataukah di samudera kehidupan ini kita memang sering tergapai-gapai?
 
Musim dingin di kota tempatku  sejenak bertenda  dari perjalanan panjang berdasawarsa meniti busur bumi, menjadi sempurna ketika  salju turun  beberapa kali pada hari-hari  lalu. Terselip memang bayangan betapa saya dan keluarga di saat salju tebal turun bagaikan sisik-sisik naga putih rontok berhamburan  dari langit, bermain lempar-lemparan salju sambil kejar-kejaran di antara derai gelak tak berkeputusan mengembarai ujung-ujung alam yang putih seluas cakrawala, lalu membangun sebuah patung manusia.  Mengenang dan membayang ulang tamasya begini, saya menyadari bahwa sebenarnya kehidupan tidaklah berwarna tunggal, tapi penuh warna-warni, duka yang hitam hanyalah salah satu saja yang tertera di kanvas  kehidupan.
 
Tapi musim dingin  di negeri pertendaan sementaraku, apalagi jika suhu sudah berada di bawah nol, adalah juga musim  yang memusingkan kepala penyelenggara negara berbagai tingkat, mulai dari tingkat walikota melalui Perdana Menteri hingga ke Presiden, tanpa perduli apakah mereka itu kiri atau kanan. Lembaga-lembaga kemanusiaan seperti Emaus [lembaga yang didirikan oleh pastur Abbé Pierre alm. khusus untuk menangani masalah kemiskinan di Perancis] , Samu Social [lembaga pemerintah untuk pertolongan darurat], dan  Restaurant du Coeur [restoran  yang didirikan oleh bintang filem dan pelawak, Coluche, dengan dana dari para bankir dan orang-orang kaya] yang menyediakan dan membagi-bagikan makan gratis pada orang-orang miskin di seluruh Perancis, makin sibuk. Coluche, seniman yang berpihak dan terlibat demi pemanusiawian masyarakat. Kerbepihakan dan keterlibatan sosial manusiawinya yang membuat ia selalu hidup di hati masyarakat Perancis.
 
Musim dingin menjadi isu politik nasional. Karena saban musim dingin tiba, senantiasa saja membawa berita kematian demi kematian para gelandangan [clochard] dan orang-orang yang tidak mempunyai tempat tingga,l yang di sini dinamakan "sans domicile fixe" dikenal dengan singkatan SDF. SDF disamping orang-orang yang tergolong dalam "Dunia Keempat" [Le Quatre Monde], orang-orang hanya punya kaki, tangan dan kepala, bahkan cacat, sejak lama  merupakan  masalah sosial besar dalam masyarakat Perancis. Adanya clochard, SDF dan Le Qurtre Monde,  masalah yang tak terpecahkan sampai sekarang, baik oleh pemerintah kiri atau pun kanan, merupakan sisi lain dari Perancis, di samping segi glamour, mode, parfum,  sastra, filsafat dan lain-lain faset  kemilaunya. Karena keadaan ini, maka saya selalu melihat Perancis memang utuh secara teritorial, tapi pecah dari segi sosial, beragam dari segi budaya. Waktu saya belajar antropoloogi-sosiologi di l'EHESS [L'Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales], pecahan dari Universitas Sorbonne,  dulu, saya diperkenalkan dengan adanya "tiga Amerika Serikat" yang kalau tidak salah bermula dari pandangan kelompok sosiolog dari Chicago School. , Sebagai varian dari pandangan ini, saya melihat Perancis pun , paling tidak ada dua Perancis. Perancis kaya dan Perancis yang pas-pasan bahkan yang "clochard". Clochard sebagai sebuah metafora realistik.  
 
Musim Dingin memang baru saja tiba. Ia belum sampai Februari di mana ia berpuncak. Sampai sekarang menurut keterangan Dinas Meteorologi,  suhu terrendah baru sampai minus 6°, maksimal 8° atau minus 12°  jika dinihari dan subuh.Walau pun belum sampai pada suhu minus 40° seperti yang pernah kurasakan di Tiongkok Utara, ketika pagi tiba, koran-koran , radio dan televisi sudah menyiarkan tentang mennggalnya sejumlah clochards atau SDF di hutan Vincennes dan Bois de Boulogne  di mana mereka  membangun tenda. Pemerintah dan LSM-LSM kemanusiaan menjadi gempar. Digegerkan oleh kematian sejumlah clochard yang sampai hari ini sudah mencapai angka 265 orang meninggal karena kedinginan.
 
Untuk menangani masalah ini maka Christine Boutin, Menteri Urusan Perumahan pemerintah François Fillon, memerintahkan pembukan beberapa tempat-empat gimnastik dan penyediaan  tempat-tempat penampungan darurat. Tapi sekalipun demikian, tempat-tempat penampungan darurat hanya mampu menampung 99.600 dari jumlah 100.00 clochard dan SDF. Sisa yang tak tertampung berlindung di berbagai tempat seperti kuburan atau emper-emper rumah dan gedung-gedung dengan beralaskan karton. Oleh kurangnya tempat penampung darurat ini, maka pada masa golongan kiri memerintah, pemerintah menginstruksikan pembukaan stasiun-stasiun metro, kereta-api bawah tanah sebagai tempat berlindung para clochard dan SDF berlindung dari terpaan dingin yang membunuh tanpa ampun. Sedangkan Restaurant du Coeur dengan kendaraan mereka, berkeliling mencari para clochard dan SDF untuk membagi-bagikan makanan hangat. Kemudian LSM-LSM kemanusiaan mendesak pemerintah untuk menambah bujet untuk menyelamatkan jiwa para clochard dan SDF ini karena LSM-LSM ini memandang dana untuk menangani soal kepapaan ini sangat minim. Atas desakan demikian, pemerintah kotapraja yang dari Partai Sosialis segera mencairkan dana darurat sejumlah 1,3 juta euros.. LSM-LSM dan para dokter menuntut agar pemecahan masalah clochard dan SDF tidak dilakukan secara tambal-sulam [bricolage], tapi secara tuntas dan mendasar. Dipecahkan dari akarnya. Dari penyebab mengapa terjadi marjinalisasi dalam masyarakat Perancis. Dr. Xavier Emmanuelli, salah seorang pendiri Samu Social, mengatakan bahwa "marjinalisasi dan ekslusi dalam masyarakat tidak ada kaitannya dengan musim dingin. Kita harus mengerti patologi kemiskinan maka harus  dibuat suatu rencana dan dilaksanakan mediko-psikho-sosial",  ujar Dr. Xavier ketika ia mengotopsi jenazah seorang SDF yang meninggal di Bois de Vincennes, 26 November lalu.
 
Kalian tahu , ketika masih muda remaja, saya pernah lama hidup  dan bekerja di Repbulik Rakyat Tiongkok [RRT]]. Lalu setelah saya meninggalkan negeri tersebut karena merasa ada suatu kebuntuan teoritis yang saya dapatkan pada teori "basis revolusi dunia", dan sektarisme yang tak tertahan, saya beberapa kali kembali ke negeri tersebut sebagai peserta konfrensi internasional dan secara perorgangan menggunakan sisa-sisa hubungan yang saya miliki.  Waktu berbicara di salah sebuah universitas di Kanton, saya ditanya: "Apa pendapatmu tentang perkembangan Tiongkok sekarang?". Waktu itu tahun 1991. Saya baru saja datang dari Australia. Pertanyaan ini tentu diajukan karena ketika saya turun dari kereta-api saya menyaksikan beberapa pemandangan yang mengagetkan dan teman-teman Tiongkok saya amengetahuinya. Hal itu adalah sikap kasar orang-orang pabean Tiongkok pada para perantau Tionghoa yang ingin melihat tanah leluhur dan adanya para pengemis yang menadah tangan saat saya akan masuk mobil jemputan dari universitas.  Pemandangan begini membuat saya berpikir sungguh-sungguh tanpa cerca kecuali melihat bahwa Tiongkok dulu, semasa saya tinggal dan bekerja, bukan Tiongkok sekarang.Lalu di depan para pendengar pertanyaan di atas saya jawab: "Tiongkok sedang mencari jalan terbaik untuk dirinya, untuk rakyatnya. Mencari bukanlah hal yang gampang tapi saya percaya Tiongkok akan  mendapatkan jawabannya karena ia mencari, ia bertanya dan punya tekad dengan motif yang benar sekali pun harus melalui proses trial and error. Sejarah Tiongkok menunjukkan ia biasa dengan proses ini, biasa dengan bertanya dan menjawab". Setelah itu beberapa kali saya kembali lagi ke RRT untuk mencari jawab pertanyaan-pertanyaan yang mengusik diri saya berdasarkan apa yang pelajari saat belajar di Sorbonne mengenai ekonomi pembangunan.  Saya datang tanpa bersangukan prasangka kecuali beberapa premis atau hipotesa dan setumpuk tandatanya.
 
Sejauh yang saya ketahui, yang masih saja kudapatkan -- mungkin penglihatanku keliru -- bahwa tidak terdapat masalah clochard dan SDF mati kedinginan di negeri yang berpenduduk satu miliard lebih ini.  Bahwa ada soal kemiskinan: Ya! Bahwa tingkat hidup tidak merasa: Benar. Tapi kematian SDF dan cloachard tidak pernah kudengar. Sangat jelas bahwa 70 juta penduduk Perancis hanya sebanding dengan penduduk satu propinsi di RRT. Karena itu destabillalasi RRT akan berdampak dunia. Saya tidak pernah pemerintah RRT yang sering dihujat oleh pemerintah Perancis, baik kiri atau pun kanan, sebagai pelanggar HAM, tidak pernah ribut dengan soal kematian para gelandangan. Sebabnya bisa macam-macam: tidak perduli, bisa juga teratasi, bisa juga ditutup-tutup. Hanya yang saya dapatkan waktu melawat ke tempat-tempat terpencil yang paling miskin pun,  soal perumahan , betapa pun sederhananya, relatif teratasi sehingga orang-orang tidak akan mati kedinginan yang lebih garang dari di Perancis. Anjing-anjing di RRT tidak akan berpesta-pora makan bangkai orang-orang tak berumah pada musim dingin seperti yang dikisahkan laoran-laporan tentang Tiongkok pada masa kekuasaanKuo Min Tang Chang Kaishek.
 
Dengan perbandingan begini, saya sampai pada pertanyaan ketika melihat 265 orang clochard dan SDF mati kedinginan di Perancis -- salah satu negeri Eropa Barat terpenting: Apa yang salah dengan Perancis sehingga hanya mampu menyelesaikan soal ini secara bricolage alias tambal-sulam? Dengan pertanyaan ini, saya tidak mempersoalkan apakah Tiongkok itu negeri sosialis, pra-èsosialis , kapitalis atau bukan? Saya hanya berpegang pada pendapat Deng Xiaoping  [Deng Si Prajurit Tjilik] bahwa ia tidak memperdulikan kucing itu hitam atau putih, karena yang terpenting adalah asal kucing itu bisa menangkap tikus. Dan tikus itu bernama kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, kepapaan. pengangguran.  Agaknya kucing Perancis yang modis, sexy dan wangi parfum sekali pun masih belum berhasil menangkap tikus -- tikus yang sering kita lihat berseliweran di bawah rel-rel metro.
 
Perancis bangga menyebut dirinya sebagai "Tanahair HAM". Tapi hak hiidup manusiawi bagi anak manusia apakah bukan termasuk masalah HAM? Apakah 265 nyawa mati kedinginan sebelum musim dingin mencapai puncaknya bukan sebuah lemparan tombak berbisa ke ulu hati "Tanahair HAM"? Entahlah. Hanya yang menarik perhatian saya adalah bahwa melalui gegernya masyarakat dan pemerintah karena kematian 265 SDF dan clochard ini, rasa akemanusiaan rakyat negeri ini cukup tinggi. Selama saya berada di Paris, saya tidak pernah melihat ada orang melecehkan clochard. Yang terjadi,saya sering melihat orang berjas-berdasi ketika pulang kerja duduk berdiskusi dengan para clochard dan SDF, menanyakan ini itu kepada mereka. Memberikan buku-buku untuk mereka jual saat ada Pasar Kaget, sebagai ujud sloidaritas dan perhatian pada sesama.  Ketika pulang malam setelah usai kerja, di kade metro seorang clochard tergeletak, lalu dokter Samu Social bergegas datang begitu mendapat telpon dari pekerja Jawatan Kereta Api. Tim kesehatan Samu Social yang datang memberi pertolongan darurat hanya dalam beberapa menit setelah mendapat pemberitahuan, selama 24/24 jam , saya pahami ujud dari suatu rasa kemanusiaan yang tinggi di kalangan masyarakat, sebagaimana yang saksikan juga keserantakan masyarakat Perancis secara spontan bersolidaritas pada korban Tsunami di Aceh.  Mereka sangat marah ketika tahu, dana yang mereka himpun disalahgunakan dan menuntut pemerintah Perancis mengembalikan dana yang mereka kumpulkan tapi diselewengkan. Sebagai orang Indonesia  pada waktu itu saya merasa turut dipermalukan oleh korupsi gila-gilaan memporak-porandakan  negeri kita. 
 
Dari segi rasa kemanusiaan, saya terbayang akan kejadian-kejadian main "hakim sendiri"  terhadap pencopet, maling atau sopir yang tak sengaja menabrak orang, di tanahair, terbayang bahwa penduduk mati dan dimasakre  dalam jumlah berapa pun  tidak menyentuh nurani kita, seakan-akan  nyawa anak negeri dan manusia itu tidak punya punya nilai sama sekali. Tuhan pun diikut-sertakan sebagai pembunuh. Diajak jadi sektaris dan tukang bom. Apakah yang salah? Di mana letak salahnya? Ataukah sudah wajar demikian.
 
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul di benakku ketika membanding-bandingkan apa yang kulihat sepanjang perjalananku meniti busur bumi dari benya ke benua sambil membayangkan tanahair yang tak berhenti berseru memanggil kembali tiba anaknya? Pertanyaan lain:  Apakah dan bagaimanakah sistem manusiawi yang padan dan rasuk untuk negeri kita sehingga negeri bisa menjadi salah sebuah tempat geografis supaya kita bisa hidup sebagai anak manusia yang manusiawi?
 
Di depan kematian 265 clohard dan SDF di bulan pertama musim dingin dan di tengah dingin Paris yang menggigit sungsum belulang, pertanyaan-pertanyaan  di atas terasa  lebih menggigit jiwa sementara hidup terus berlanjut tanpa melirikku. La vie continue sans me regarder! ***
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
---------------------------------------------------------
JJ. Kusni


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: