05 Desember 2008

[ac-i] jurnal toddopui: sastra periferik dan atau sastra kepulauan?

JURNAL TODDOPULI:
 
 
SASTRA PERIFERIK DAN ATAU SASTRA KEPULAUAN?
 
 
 
Istilah priferik atau pinggiran adalah kosakata yang dihadapkan dengan sentral. Istilah yang umum digunakan dalam teori-teori ilmu ekonomi pembangunan dengan tokoh-tokoh seperti Andre Gunder Frank, Cardoso, Samir Amin, Ignacy Sachs, dan lain-lain....  dan kemudian banyak yang berhimpun di sekitar Universitas Leuven, Belgia.
 
Adanya istilah sastra periferik ini baru saya dengar dari Luna Vidya, yang hari ini, 04 Desember 2008 petang ,  telah tiba dengan selamat di Paris setelah berhenti sebentar di Dubai, dengan membawa dua koper buku karya-karya penulis Makassar dan Aceh.
 
Ketika mendengar istilah sastra periferik ini, saya tidak langsung mereaksi  Luna Vidya tapi merenungi istilah tersebut. Istilah? Mengapa ia harus dipermasalahkan?  Jawabannya, sederhana karena istilah pada galibnya, seperti halnya setiap kosa-kata tidak lain dari lumbung bagi suatu konsep dalam bentuk bahasa. Jika benar demikian, maka agaknya kepada semua pemakai bahasa diharapkan adanya kesadaran berbahasan, termasuk kesadaran menggunakan kosakata atau istilah. Makna istilah dan pemilihan kosakata dan atau istilah ini akan makin terasa ketika kita menulis karya-karya ilmiah, skripsi  dan apalagi  saat menulis tesis.
 
Melihat buku-buku karya-karya para penulis Makassar dan Aceh yang akan dipamerkan dalam acara Lembaga Persahatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam" di Paris pada 07 Desember 2008, "Sepuluh h Jam Untuk Sastra Indonesia", yang mengisi koper-koper Luna Vidya sehinggga membuatnya harus membayar ongkos timbangan lebih penerbangan [over weight],  saya bertanya-tanya: "Karya-karya inikah yang disebut karya-karya sastra  periferik"? Sementara saya masih mempertanyakan apakah karya-karya yang disebut "periferik" ini mutunya jauh lebih rendah dari karya-karya yang terbit dan ditulis oleh para penulis Jakarta atau Jawa yang mungkin dipandang sebagai sentral?
 
Periferik dalam ilmu ekonomi pembangunan memang bermaksud menekankan keniscayaan negeri-negeri Selatan untuk memperjuangkan keadilan secara ekonomi, melawan dominasi negeri-negeri Utara dan untuk menjadi tuan atas negeri sendiri serta setara dengan bangsa-bangsa lalin di dunia , termasuk negeri-negeri Utara. Konsep periferik juga bisa dipandang sebagai dasar teori front persatuan negeri-negeri Selatan guna menegakkan keadilan manusiawi dalam tingkat global. Konsep menentang dominasi negara-negara Utara yang umumnya kapitalistik.
 
Lalu apa yang disebut sastra kepulauan?
 
Dalam pengertian saya, sastra kepulauan tidak lain dari pada niat dan usaha mengembang-tumbuhhkantanpa kompleks  potensi-potensi sastra di berbagai daerah dan pulau tanahair yang tentu saja berbeda dengan konsep "Black is beautiful" dari Leopold Senghor , Aimé Césaire dan kawan-kawan karena latar sejarahn dan politiknya memang berbeda..  Dasar teori konsep sastra-seni kepulauan, saya kira terdapat pada kosakata republik dan Indonesia yang secara ringkas dirumuskan dalam motto filosofis  "bhinneka tunggal ika". Hal yang tidak terdapat pada konsep saastra periferik. Konsep sastra periferik terasa padaku masih berpegang pada pandangan UUD '45 yang mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia itu adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, mengakui adanya sentra-sentra budaya, sastra-seni, penuh kompleks rendah diri pada yang disebut sentral, tidak menyadari arti kesetaraan dalam nilai republiken dan berkindonesiaan serta tidak mengkahayati makna kebhinnekaan. Hal yang berbeda dengan konsep sastra kepulauan. Satra periferik lebih menjurus ke konsep sastra proyek LSM. Tentu saja sastra proyek LSM tidak saya tentang, tapi yang saya inginkan adalah kejelasan konsep.Bahwa Republik dan Indonesia serta bhinneka tunggal ika adalah kosakata-kosakata  yang melukiskan sebuah cita-cita untuk negeri dan bangsa. Adalah suatu program dan politik kebudayaan. Sastra-sastra kepulauan, sastra-seni yang ada di berbagai pulau dan daerah sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Sentral dan periferik jika itu ada, dominasi dan hjegemoni hanyalah salah satu akibat dari pemahaman bahwa Republik dan Indonesia sinonim dari sentralisasi, jika dilihat dari segi politik. Sehingga daerah-darrah dan pulau tidak lain suatu daerah jajahan tipe baru dan sentral.  Karena itu saya memandang bahwa konsep sasra kepumauan [dalam pengertian termasuk daerah-daerah] lebih rasuk [compatible] dibandingkan dengan  kosakata periferik.
 
Dalam konteks inilah maka saya memandang kehadiran Sitor Situmorang, Richard Oh, Laksmi Pamuntjak, Lily Yulianti,  Maesa Ayu Djenar, Luna Vidya di acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia",   merupakan ujud dari pengakuan Paris pada sastra kepualauan sebagai kenyataan Indonesia. 
 
Sementaran demikianlah pendapat saya yang selalu bermimpi agar konsep republik dan Indonesia yang sesungguhnya dan demikian  itu bisa  terujud.  Jika Martin Luther King Jr mengatakan "I have a dream", maka demikianlah mimpi saya. This is my dream.****
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
------------------------------------------------------
JJ. Kusni


Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist. Download it now! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: