05 Desember 2008

[ac-i] jantung lebah ratu - langkah ulung seorang penyair

papan Catur Nirwan dewanto
langkah Ulung Seorang Penyair

tipografi adalah kode bagi sebuah puisi. Seorang penyair meletakkan larik-larik puisinya dengan cara tertentu, membentuk bait-bait puisi. Bait-bait yang menjadi unit-unit pemaknaan bagi pembaca. Tapi pembaca bisa memainkan kode yang disusun penyair. Dalam semangat kebebasan yang memberontak dari setiap konvensi dari dunia puisi – konvensi tipografi.

Kebebasan pembaca nyaris tanpa batas itu, bisa menyerat puisi ke arah pemaknaan lain dari makna awal yang hendak didedah oleh sebuah puisi. dengan memainkan tipografinya.

Dari pembacaan ulang buku puisi nirwan dewanto, jantung lebah ratu, saya menemukan apa yang saya maksudkan, dari puisi pertamanya bernama "Perenang Buta". Betapa permainan tipologi, atau pemakaiannya ke dalam tubuh puisi, dapat menggeser arti dan makna puisi.

Puisi perenang buta bisa kita letakkan sebagai palang dari maksud sang penyair: sang penyair meletakkannya sebagai puisi pertama, sebagai undangan bagi pembaca karena sang penyair hendak menangani dunia benda secara lain. Yakni unik yang aneh. Dan memang yang segera terasa membaca tiap puisi dari kumpulan puisi ini, adalah sebuah keunikan dan keanehan, betapa benda-benda kecil dilihat oleh sang penyair, secara tidak biasa. Ada sudut pandang baru di sana.

Seolah sang penyair yang dalam sekian puluh tahun di ranah sastra dan budaya negeri ini, menyuarakan sebuah suara seni yang berinti: perlakukanlah sebuah bahasa dengan kaidahnya, tapi perlakukan pula nalar dalam menangani bahasa. Atau dalam kata-kata yang diringkas: dunia puisi menuntut kecerdasan sang penyair, untuk membuatnya sebagai sebuah bidang di mana ia, dunia puisi itu, bisa menjadi sebidang papan catur dengan pemain catur melangkah dengan langkah-langkah yang ulung.

Langkah-langkah yang ulung itu, dalam dunia puisinya, adalah saat bagi sang penyair memainkan larik dan baitnya, atau bidaknya, ke dalam simbiose bentuk dan isi yang melekat seolah roh dan badannya. Sehingga dunia puisi menjadi sebuah totalitas bentuk dan makna yang dikandungnya. Bentuk yang mengatasi bentuk – tipografi yang mungkin memberi arah makna lain - makna yang mengatasi makna – makna lain dari dunia benda, yang disembunyikan ke dalam suatu permainan dengan pembaca.

Bentuk dan makna yang mengandung langkah-langkah perenang buta, ke dalam dunia pemaknaan yang disusun penyair sebagai dunia yang membatalkan, dunia yang mengaburkan, dunia yang mendalamkan dirinya ke dalam permainan benda-benda kecil yang menghidupkan identitas sang perenang buta. Sehingga pembaca disodori sebuah kompleksitas makna dalam rentetan pertanyaan pada puisi: apa dan mengapa perenang buta itu di sini.

puisi sampai kepada pembaca sebagai gaung bunyi. Tapi gaung ide juga. Ide dan bunyi yang dibawa oleh imaji puisi. Imaji yang menaut dalam relasi konteks latar tempat (laut), dan mahluk-mahluk laut yang menjadi latar di mana puisi bermain. Dan perenang buta adalah sebuah puisi yang bermain di dalam latar jarak, yang penyebutannya sendiri pembaca sudah disuguhi oleh sang penyair dengan sebuah ragu, dalam arah yang menunjuk ke banyak arah, dengan menyimpul kepada nomina jarak yang relatif.

Dengan memakaikan kata "atau" dalam larik pertama, maka terbacalah dunia relatif itu: sepuluh atau seribu depa. Relatifitas dari jarak yang mungkin hendak ditempuh oleh sang perenang buta. Tapi rentang jarak itu, yang dalam sebuah konteks tempat bisa kita sambung imaji sang penyair, ke dalam imaji pembaca yang memaknai jarak sebagai jarak ke muka atau ke belakang, ke bawah atau ke atas, sehingga jarak itu sendiri, adalah sebuah ruang yang bisa kita tangani dengan wacana geometri euclides, bentuk dan tiap sudut maknanya. Yakni ada titik berangkat sang perenang buta. Titik yang dimulai dari judul puisi itu sendiri: perenang buta. Di mana sebuah tarikan titik (.) pembentuk huruf p di awal, adalah awal sebuah garis yang bisa kita tarik, kita hubungkan dengan sebuah titik lain yang dikandung oleh titik a dalam akhiran kata buta. Sehingga diri sang perenang buta itu sendiri, adalah implikasi dari sebuah titik yang dihubungkan oleh sebuah garis ke titik
lain – tidakkah panjang tubuh kita seolah garis yang dimulai dari kedua titik itu? – garis lurus yang bermakna diri sang perenang buta yang membentuk biometri tubuh dengan, atau biometri melalui, arti yang bisa kita rujukkan semantik maknanya ke dalam konteks latar, di mana sang puitor di sana meletakkan perenang buta dalam relasi dengan gejala benda di seputarnya.

tapi bersama dengan biometri tubuh – perenang yang secara fisik adalah lelaki (?) buta, sang penyair mulai memainkan persepsi pembaca dengan kata-kata informatif "terang" yang diimbuhinya dengan "semata": terang semata. Maka kita segera dihadapkan kepada sebuah kontras pemaknaan: terang semata itu bagi sang perenang buta atau bagi pembaca puisi – penerang yang berfungsi sebagai latar dalam puisi. Tapi tampaknya, terang semata itu adalah dunia sebagaimana sang perenang buta adalah representasi dari manusia yang hendak mencari dalam dunia.

Maka di sini, dari larik pertama, betapa puisi telah menyembunyikan apa yang hendak ia sampaikan: bahwa jarak itu penuh dengan resiko (relatif sepuluh atau seribu). Tapi resiko bukanlah sebuah ketidakmungkinan (terang semata sebagai latar ratio manusia untuk memahami), tapi relatifitas dan rasio itu kemudian dibawa, atau diputar, oleh sang penyair ke dalam diri "ia" yang buta.

Segera terasa kehendak nirwan untuk menempatkan manusia, walau buta atau awal mulanya tak mengerti akan tiap sesuatu, setidaknya ada seberkas sinar terang untuk sebuah upaya pencarian – puisi menyebut, atau menghidup, kan upaya ini dengan metanomik, dalam tautan individu yang mengalami jarak dalam sebuah latar laut dengan mahluk-mahluk serupa ganggang, ubur-ubur, simbolik dari pengembaraan seorang penyair, di mana arus dan arah gelombang, adalah arus dan arah gelombang hidup itu sendiri. Manusia buta di tengah gejala penampakan dunia. Tapi ada aritmatika dan serat optik makna yang bisa membimbingnya.

Maka terbaca:

Perenang Buta

Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.

Tipografi puisi, yang kalau kita mainkan tipografinya ke dalam tipografi prosa menjadi kalimat sebagai:

Sepuluh atau seribu depa ke depan sana, terang semata.

Sebuah kalimat yang tak bergoyang maknanya walau ia disusun secara tipografi kalimat, bukan larik yang membentuk bait dalam puisi. Maka bisa pula dari permainan kesamaan makna yang diproduksi larik dan bait dalam puisi ini, ke dalam kalimat dalam dunia prosa, kita merujukkan bahwa hidup ini bisa didekati secara puisi bisa pula secara prosa. Sebuah rujukan persamaan yang menyembul keluar dari dunia puisi "Perenang Buta" (bersambung)

Hudan Hidayat


Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: