02 Desember 2008

[ac-i] Alam Bukan Problem Serius dalam Novel - kompas

masa iya pak maman hehe

bukankah kering iwan simatupang sudah mempersoalkan kemarau? juga supernova telah mengaduk dunia bintang-bintang. ada lagi novel lanang yang telah mengurusi dunia sapi perah sebagai bagian dari alam.

jangan dilupakan pula dalam layar terkembang dua orang suami istri di sana meninggalkan kota demi untuk hidup bersama alam (desa) dengan menjadi petani.

tapi menarik untuk melihat semua novel dan mencari apa yang menjadi pokok soal yang dilihat pak maman ini.

hudan

Alam Bukan Problem Serius dalam Novel
Jumat, 7 November 2008 | 01:14 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Alam dalam novel Indonesia tidak tersentuh sebagai problem serius. Perjalanan novel Indonesia tidak memandang alam sebagai persoalan yang perlu diangkat secara tema cerita. Jejak alam yang muncul dalam novel Indonesia berupa ekspresi keterpesonaan, kekaguman, pemujaan, dan hasrat melakukan persahabatan dengan alam.

Hal itu dipaparkan Dr Maman S Mahayana, pengamat dan pengajar sastra dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam acara Temu Sastra III, Mitra Praja Utama 2008, di Hotel Panorama, Lembang, Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/11). Temu Sastra Nasional yang digelar seniman dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemerintah Provinsi Jawa Barat itu mengangkat tema "Peran Sastra dalam Meningkatkan Kesadaran dan Kecintaan Masyarakat terhadap Lingkungan."

Juga tampil sebagai pembicara, antara lain, Jakob Sumardjo, Bambang Sugiharto, Beni Setia, Triyanto Triwikromo, Safrina Noorman, dan Warih Wisatsana.

Maman dalam makalah bertajuk "Jejak Alam dalam Prosa Indonesia" memaparkan, novel Indonesia sebelum perang, seperti Muda Teruna karya Muhammad Kasim tahun 1922, Dian yang Tak Kunjung Padam (Sutan Takdir Alisjahbana, 1932), dan Tenggelamnya Kapal van der Wijk (Hamka, 1939), cenderung berjenis novel sosial. Problem kemasyarakatan yang paling banyak mendapat sorotan.

Gambaran alam yang harus diselamatkan juga belum muncul dalam novel Indonesia mutakhir. Keluarga Gerilya (Pramoedya Ananta Toer, 1948) menjadikan hutan sebagai daerah perlindungan gerilyawan. Titik perhatian novel itu pada nasionalisme.

Maman menunjuk Kemarau karya AA Navis (1957) sebagai novel yang telah memperlihatkan kesadaran pentingnya alam bagi kehidupan manusia. "Inilah novel Indonesia yang memperlakukan alam sebagai lahan garapan, sebagai lapangan pekerjaan yang dapat mengangkat kesejahtera- an hidup manusia," katanya. (XAR)

Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: