20 November 2008

Re: [ac-i] Separuh fakta sejarah Indonesia penuh kebohongan

Mungkin yang dimaksud adalah sejarah yang "resmi" dikeluarkan oleh pemerintah atau dinas sejarah, atau oleh orang-orang partisan dari partai politik. Kalau ini sih saya setuju. Malah mungkin bisa 60 persen. Tetapi kan banyak juga sejarah Indonesia yang ditulis oleh pakar sejarah dengan benar, merupakan fakta sejarah, seperti buku Tan Malaka oleh Harry Poeze ini. Saya kira dalam membaca tulisan sejarah kita harus kritis, ditulis oleh siapa dan dalam konteks apa.

Salam,
Firman  



 MEDAN - Hanya 50 persen fakta sejarah Indonesia yang benar, kata
> antropolog Unimed Prof Dr Usman Pelly, MA.
>
> "Separuh lagi penuh kebohongan," tegas guru besar Unimed itu ketika
> memberikan tanggapan dan apresiasi dalam acara peluncuran dan bedah buku
> berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri Dan Revolusi Indonesia karya sejarawan
> terkemuka dari Belanda Harry A Poeze yang juga Direktur Lembaga Kerajaaan
> Belanda Untuk Bahasa, Bangsa dan Masyarakat atau Koninklijk Instituut Voor
> Taal-Landen  Volkenkunde (KITLV). 
>
> Acara yang diadakan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed
> kerjasama dengan KITLV di VIP room Gedung Serbaguna Unimed, tadi siang,
> menampilkan narasumber Harry A Poeze, Dr Phil Ichwan Azhar (Ketua Pussis
> Unimed) dan Dr Ridwan Rangkuti, MA (pakar politik USU).
>
> Pelly mengatakan, tidak sedikit fakta telah dikorupsi oleh penggalang
> koruptor sejarah demi melanggengkan kekuasaan sebelum dan pasca
> kemerdekaan. Dengan adanya buku karangan Harry Poeze, lanjutnya,
> memberikan fakta yang sebenarnya mengenai gambaran pejuang kiri yang
> berkiprah dalam revolusi kemerdekaan, seperti Tan Malaka. Pengakuan Pelly
> ketika itu sempat membakar surat-surat diperolehnya dari Tan Malaka yang
> ditulis pejuang berdarah Minang itu dari penjara, karena tekanan dari
> penguasa.
>
>
>
> Katanya, sudah saatnya para akademisi melakukan pelurusan sejarah sebelum
> kemerdekaan. Dia menyayangkan pembekuan tim pelurusan sejarah oleh
> pemerintah yang sempat terbentuk waktu itu, di dalamnya terdapat Ichwan
> Azhari. Pelly berharap para akademisi terdorong melakukan upaya
> pengungkapan sejarah yang lurus agar seperti Tan Malaka yang ditetapkan
> sebagai pahlawan nasional dimasukkan dalam buku sejarah di
> sekolah-sekolah. Sejarah Tan Malaka salah satu fakta sejarah, sebelum
> kemerdekaan, yang terlarang untuk dibaca pada masa Orde Baru dan
> pemerintah ketika itu menonjolkan komunisme versi penguasa untuk membentuk
> opini masyarakat terhadap sejarah yang dibelokkan.
>
> Kepala Pussis Unimed Ichwan Azhari ketika membedah buku Tan Malaka
> mengatakan, pemerintah harus meluruskan sejarah tentang peranan komunis
> sebelum dan sesudah 1945 yang dinilai sangat berbeda. Baginya, komunis
> sebagai ideologi pergerakan telah memberi kontribusi dalam proses
> kemerdekaan Indonesia.
>
> "Kita harus merevisi pandangan tentang komunis. Salah jika kita
> campuradukkan komunis pasca 1948 dan 1965. Dalam sejarah selama ini, Tan
> Malaka dibuat sebagai tokoh misterius dan beraliran komunisme," katanya.
>
> Komunisme versi pemerintah
> Meski Tan Malaka pernah menjabat ketua PKI di Semarang dan perwakilan
> komunis di Asia Tenggara, dia pernah mengecam komunis ketika idenya
> ditolak ingin membuat kerjasama komunisme dengan islamisme/Sarikat Islam.
> Akhirnya, Tan Malaka dianggap sebagai musuh besar komunis karena dituduh
> berkhianat. "Beberapa fakta sejarah ini yang tidak ditonjolkan dari
> seorang Tan Malaka selama ini."
>
>  Bukti sejarah komunisme bagi Tan Malaka ini, lanjutnya, dijadikan
> strategi melawan penjajahan Belanda. Namun, fakta itu dibenamkan penguasa
> orde baru. Yang ada komunisme versi penguasa ketika itu yang telah terpola
> di kepala kita. Menurut Ichwan, buku karya Poeze ini menjadi sumber
> insprasi baru untuk mengkaji serius sejarah yang benar. Namun, Ichwan
> mengkritik dalam buku kedua ini ada dua kata yang dihilangkan dari tulisan
> Belanda yakni dihujat dan dilupakan. Dua kata ini, lanjutnya, sangat
> penting untuk membuka tabir sebenarnya. Penguasa orde baru sangat berjasa
> menghilangkan sejarahnya dan bagaimana Tan Malaka bertarung dengan
> tokoh-tokoh pergerakan dan ilmuwan pada zamannya.
>
>
>
> Sementara itu, pakar politik USU Ridwan Rangkuti sependapat Tan Malaka
> seorang pejuang idelogi terbaik Indonesia yang bisa menjadi contoh.
>
> "Tan Malaka seorang pemikir, politisi dan pejuang revolusioner. Dia aktif
> menulis buku dan melakukan aksi. Tidak hanya itu, dia pernah mendirikan
> partai politik untuk mengembangkan politiknya," katanya.
>
> Menurut Rangkuti, dia bahkan sejajar Karl Marx dan George Wihelm
> Friederich Hegel karena berhasil mengembangkan dialektika historis logika
> dalam karyanya berjudul Madilog. Katanya, buku karya Harry Poeze sangat
> baik untuk bacaan para politisi di tanah air. Buku ini memaparkan
> bagaimana Tan Malaka mengembangkan karir politik, sekaligus sebagai
> gambaran bahwa sampai sekarang tidak ada perubahan yang mendasar pada
> sistem kelembagaan dan perilaku politik era sekarang dan dulu, antara
> lain, terdapat saling mencurigai.
>
> Tidak diungkap
> Harry Poeze menjelaskan buku itu ditulisnya melalui riset 10 tahun. Fakta
> sejarah ini diperolehnya sebagian besar dari karya-karya Tan Malaka. Buku
> ini akan diterbitkan dalam enam jilid. Sedangkan yang diluncurkan ini
> jilid II. Dia menerbitkan buku itu dua jilid dalam setahun. Buku ini
> aslinya setebal 2.000 halaman. Harry mengatakan, dia menulis buku ini
> karena banyak fakta sejarah pada masa revolusi di Indonesia yang tidak
> diungkap atau dikaburkan oleh penguasa. Dengan buku ini, katanya,
> diharapkan semua fakta sejarah dapat diketahui terutama sepak terjang Tan
> Malaka sebagai pahlawan nasional Indonesia yang dilupakan.
>
> Poeze menceritakan, sepak terjang Tan Malaka di dunia politik melalui
> Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Republik Indonesia (Pari) yang
> didirikan di Bangkok dan Partai Murba didirikan 1948. Peran Tan Malaka
> atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka di belakang layar, salah satunya
> ada pada rapat Ikada  di Jakarta. Poeze mengabadikan gambar Tan Malaka di
> belakang Soekarno. Tan Malaka sebagai nasionalis beraliran kiri dan
> pemikir revolusioner, lanjutnya, terbuang dari tanah air karena dianggap
> melawan arus. Dia lahir di Nagari Pandam Gadang Suliki, Sumatera Barat 2
> Juni 1897 dan wafat di Jawa Timur 21 Februari 1949, di belakang layar.
>
>
> (fjr)
>  
> http://www.waspada.co.id/berita/separuh-fakta-sejarah-indonesia-penuh-kebohongan.html
>
>
>               salam
>      wahyudibaca@gmail.com
>  
>  
>
>
> Get your preferred Email name!
> Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: