20 November 2008

Re: [ac-i] DR.KEITH FOULCHER,Kata Pengantar pada SURAT BUNGA DARI UBUD

Putu Satri, bagaimana kelanjutan penerbitan buku Tragedi Bali 1965/66.  Sudah ada berapa cerpen terkumpul yang tidak melalui saya/
Tolong donk dipikirkan soal naskahnya. Dana untuk mencetak saya usahakan di Jakarta.
Salam untuk Ole dan Sonia.
 
salam
putu oka
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, November 11, 2008 7:50 PM
Subject: Re: [ac-i] DR.KEITH FOULCHER,Kata Pengantar pada SURAT BUNGA DARI UBUD

Selamat atas peluncuran ini. Dengan sastra, ditulis apa yang belum dibaca dan apa yang tidak boleh dibaca dan apa yang coba dihilangkan oleh penguasa .
Salam: Putu Satria Kusuma

--- On Tue, 11/11/08, putu oka sukanta <poskanta@indosat.net.id> wrote:
From: putu oka sukanta <poskanta@indosat.net.id>
Subject: [ac-i] DR.KEITH FOULCHER,Kata Pengantar pada SURAT BUNGA DARI UBUD
To: wahana-news@yahoogroups.com, artculture-indonesia@yahoogroups.com
Cc: foulcher@bigpond.net.au
Date: Tuesday, November 11, 2008, 7:34 AM

SURAT BUNGA DARI UBUD, adalah kumpulan puisi Putu Oka Sukanta, dalam bahasa Indonesia dan Inggris, diterbitkan oleh Penerbit Koekoesan, disukung oleh Institut For Global Justice.
Penerjemah puisi : Keith Foulcher, Sylvia Tiwon, Kaja McGoan, dan Vern Cork.
 
Buku TITIAN dan SURAT BUNGA DARI UBUD, diluncurkan tgl. 7 nop. 2008. di Goethe Institut Jakarta
 
Setelah kata Pengantar, akan disajikan puisi-puisianya berturut-turut, kalau tidak ada halangan mulai besok.
 
Salam hangat dan selamat membaca
Putu Oka Sukanta
 

KATA PENGANTAR

Kumpulan Puisi SURAT BUNGA DARI UBUD

Putu Oka Sukanta.

 

Para pembaca puisi-puisi Putu Oka Sukanta akan menemukan bahwa ada banyak hal yang bisa dinimati dan direfleksikan dalam kumpulan puisi-puisinya yang menandai 70 tahun kepenyairannya. Terbagi dalam 4 bagian, Surat Bunga dari Ubud terdiri dari 71 sajak, ditulis antara tahun 1999 hingga 2007, dan beragam mulai dari yang personal sampai politis, atau nexus dari keduanya. Yang tersunting disini dalam bahasa puisi adalah perenungan terhadap kehidupan pribadi sang penyair, pengalaman-pengalam annya dan hubungannya dengan orang lain, dan pandangan-pandangan nya terhadap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kehidupan sosial dan politik di Indonesia pada tahun-tahun awal di abad ke-21. Nada kumpulan puisi ini beragam sebagaimana inspirasi-inspirasi untuk sajak-sajak itu sendiri.  Ada kalanya suasana hati dalam puisi itu gelap dan putus asa, pada saat yang lain lebih optimis, bahkan terkadang terkesan bermain-main dan menyindir secara halus. Tetapi kumpulan puisi ini secara keseluruhan tidak jauh dari kegelisahan yang membingkai semua karya-karya Putu Oka pada tahun-tahun terakhir ini, sebuah komitmen yang menegaskan pada prinsip-prinsip martabat kemanusiaan. Pada puisi-puisi ini, dan juga pada sebagian besar karyanya yang lain, kita selalu sadar akan kepekaan sang penyair akan pelanggaran paling mendasar terhadap kebutuhan kemanusiaan yang paling mendasar ini, baik yang terjadi di kehidupan pribadinya ataupun di kehidupan sesama warga negara.

 

Sebagian besar dari kumpulan ini diliputi oleh derita akan kepedihan rasa kehilangan: masa lalu yang hilang, dan mereka yang menjadi bagian darinya, kehilangan kemesraan dalam perjuangan keseharian untuk tetap bertahan, kehilangan hidup dan komunitas dalam bencana alam dan malapetaka sosial yang melanda Indonesia selama periode yang dipantau oleh sang penyair.  Kehilangan masa lalu menjadi bagian dari perasaan sang penyair menjelang tua yang dipicu oleh perpisahannya dengan beberapa sahabat yang tidak akan pernah bertemu lagi (Perkawanan dengan Z. Afif, Bung Agam), tetapi itu juga berkembang menjadi pengalaman kehilangan yang dini, dan kebutuhan untuk memulihkan perasaan untuk tetap  bertahan hidup dihadapan perpisahan yang kekal (Anita di hari hari kemudian, Munir, Kulihat kamu ada di sini, Yang Hilang dari perpisahan). Ada kesan kepedihan akan kehilangan sebuah tempat (Aku kangen kampung halaman) dan dendam yang melekat atas kehilangan seluruh dekade kehidupan sang penyair dibawah kondisi penahanan politis dan efeknya yang berkelanjutan (Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan, Wajah Salemba 66-76, Patung Liberty).

 

Kehilangan kemesraan membingkai peristiwa-peristiwa keputus-asaan diri saat romantika cinta berlalu (Semakin Sering, Gelak Tawa, Kuda binal), meskipun masa suram kejadian itu bertebaran di sepanjang kumpulan puisi ini, menjadi kehadiran cinta yang lebih dalam, cinta dari keluarga yang menabahkan  dan menjadi sumber kekuatan atas eksistensi sang penyair (Jiwa Bunga, Dua Perempuan). Yang lebih sulit untuk dilepaskan adalah dahsyatnya rasa kehilangan akan kehidupan yang disebabkan oleh bencana alam (Aceh, dukamu duka dunia) dan Indonesia yang menangisi masyarakat dan nilai-nilainya sendiri (Ada rumah di dalam hati, Bulan Sabit). Dalam hal ini duka dan kehilangan adalah perbandingan tentang kenyataan bahwa hanya ada satu pertimbangan untuk mengabstraksikan kesemestaan, seperti keterbatasan- keterbatasan pokok dari usaha manusia, cinta yang dirasakan oleh manusia terhadap sesamanya, serta dorongan suara hati manusia, sebagai sebuah sumber akan adanya harapan dan keyakinan bahwa  masa depan yang berbeda masih mungkin untuk digapai. Tidak ada pilihan kecuali untuk tetap terus melangkah, tetapi dihadapan keadaan kemanusiaan saat ini, terdapat kebutuhan yang terus menerus untuk kembali memulihkan perasaan akan kekuatan, harapan dan keyakinan untuk menghadapi tantangan-tantangan yang membentang di depan.

 

Seperti halnya yang terdapat pada sajak-sajak yang diliputi oleh suasana duka dan kehilangan, nada yang bermain-main dengan makna dan kekayaan hati muncul dalam kumpulan puisi yang  merefleksikan pribadi dan pengalaman,dan dalam sajak yang berasal dari pengamatan terhadap masalah-masalah sosial dan politik. Banyak dari sajak yang masuk dalam kategori pribadi ini merupakan refleksi dari pengalaman perjalanan, dimana kebutuhan-kebutuhan dan tekanan-tekanan dalam rutinitas keseharian ia tinggalkan dan spirit sang penyair tampak menunjukkan perasaan bebas dan tak adanya sesuatu yang harus segera ia urus dan ia pertanggungjawabkan . Pada sajak-sajak ini, ada rasa akan kegembiraan hidup sebagai penyair diantara penyair-penyair yang lain (Tiga Penyair Makan Pagi), dan bukan perjuangan untuk menciptakan ruang bagi puisi dibawah tekanan kehidupan sehari-hari (Di Kamar Praktik). Tema yang lebih besar dari kumpulan puisi ini— upaya-upaya untuk menyembuhkan masa lalu yang hilang, keinginan untuk menjadi bagian dari perjuangan kemanusiaan, makna cinta—selalu melekat dalam tema-tema puisinya ((Jakarta-Hangzhou, Kota dalam air, Di Restoran), tetapi dalam sajak-sajak perjalanan, tema-tema itu  tidak dibebankan secara padat dalam refleksi sang penyair. Tema-tema itu menapak secara ringan saja dalam puisi-puisinya, yang memberi ruang bagi pembaca untuk menikmati tempat-tempat dan orang-orang yang digambarkan melalui kata-kata sang penyair.

 

Satir dalam sajak-sajak ini ada kalanya menunjukkan sisi-sisi yang gelap (Republik dalam amplop, Bulu Ayam). Tetapi kumpulan sajak ini juga memuat sebuah sajak panjang yang bermain-main secara satir, sesuatu yang agak jarang dalam karya-karya Putu Oka Sukanta, dan akhirnya menjadi lebih istimewa. Sajak ini berjudul Tolong Pak Presiden-baru, dan merupakan pikiran-pikiran sang penyair atas pemilihan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada September 2004. Dari pembukaan yang ironik, mengejek ke olok-olok yang lebih serius di akhir sajak, suasana hatinya riang, sedikit nakal dan penuh kegembiraan—mungkin ini merupakan momen yang jarang dalam karya-karya Putu Oka tentang harapan akan masa depan yang tidak rumit, dan kepercayaan akan masa depan demokrasi baru bagi Indonesia.

 

Namun, dalam sajak-sajak 'perjalanan' pada Bagian II-lah  pandangan yang paling positif dan paling menyentuh akan harapan terjadinya perubahan politik muncul. Hal ini muncul pada Merdeka di Timor Lorosae, satu dari empat sajak yang ditulis selama kunjungan di Dili pada bulan Oktober 2003. Disini, penderitaan yang mendalam akan sejarah yang baru saja terjadi di Timor Lorosae bertemu dengan pandangan akan masa depan yang tidak pasti, diceritakan melalui mata seorang yang terlibat dalam perjuangan:

 

            berjalan tanpa takut adalah kemerdekaan

sederhana tapi nyawa dipertaruhkan

tak ada lagi pemeriksaan turun bukit arah  ke kota di jalanan

bermakna kemerdekaan

sederhana tapi bertahun-tahun diperjuangkan

anak cucu memetik jerih payah, adalah harapan

kuntum dan tunas

buah kemerdekaan

kata seorang tua di Turismo Hotel, menghadap pantai

bola matanya menjelajah

 

 

Disini, terjadi  tarik menarik antara kemerdekaan dan ketidakpastian, tetapi juga perasaan yang kuat akan masa lalu yang tidak dapat dielakkan. Masa depan menjadi sumber harapan, daripada sesuatu yang pasti, akan tetapi tanpa kemerdekaan, masa depan itu sama sekali tidak akan tercipta. Hal ini menjadi kebutuhan mendasar dari martabat kemanusiaan, suatu persoalan yang menjadi komitmen sang penyair yang tak tergoyangkan. Komitmen ini yang membingkai sikap hidupnya, sebagaimana dia mengawali usia ke-70 nya.*

 

 

Keith Foulcher

Sydney, Januari 2008

 

Alih bahasa: Maymunir Munir

 


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: