26 November 2008

[ac-i] Yonathan Rahardjo dari TITIAN

Kampung Kebun Pisang

Yonathan Rahardjo

 

KEBUN pisang yang permai. Di sini kita saling pandang dengan damai. Di sela pohon-pohon pisang yang memberi kenyamanan hati, kita saling tatap mata tanpa mengharap lain tersemai.

Rani.., kita adalah sebuah teka-teki berada di tempat ini. Kita kesatuan berpadu dengan bisik-bisik daun, dahan dan batang pisang yang tegak berpadan dengan kata tak terucap. Hati kita saling sapa mengisyaratkan bagian dari mereka, alam yang senantiasa mengelukan undangan persahabatan..

Di sini, kita berdiri berpelukan terlindungi pohon-pohon ramah memagar dengan kenyamanan. Tidak ada mata yang sanggup menembus dan memandang bahkan untuk mengintip.

Kebun pisang yang luas, di sini kita dapat menambahkan hari-hari makin panjang. Sayang petang keburu datang. Akankah kita tetap di sini untuk menusuk malam dengan percumbuan?

Tidak, kita harus segera pulang. Makhluk penunggu kebun pisang ini akan datang, tidak rela kediamannya kita rebut dari dingin malam. Ia masih butuh malam gelap, senyap dan sunyi. Sedang kita pun mesti berangkat mengaji.

Dalam gelap kita berjingkat, menyusuri tanah berserak daun kering. Gemerisiknya adalah musik menawan, sebuah simfoni bila kita tetap melangkah tanpa takut dengan tubuh saling memeluk. Entah mengapa, kita melihat pohon-pohon ini merupakan bayangan menakutkan. Gemeresak daun yang membelai dahan dan batang memperingatkan supaya kita lebih cepat angkat kaki.

Ayo cepat, ayo cepat, ada sesuatu terpendam yang akan muncul di tanah ini. Sebuah irama yang tidak dapat dimengerti, segera menjadi kenyataan tak terbantahkan.

                                                         **

Kami segera berlari keluar dari kebun pisang, bergandeng tangan mempercepat langkah. Kadang kami hampir menabrak pohon pisang yang tak tampak ketika kami saling pandang untuk saling memastikan.

Langkah kami makin cepat, daun kering di atas tanah memberi irama lain, sedangkan yang paling kuat bunyi daun di dahan. Kami tidak dapat menahan diri bahwa telinga kami menjadi penampungan dari orkestra tanda-tanda bahaya, agar kami terus berlari...

Di depan sana adalah kampung di mana Rani tinggal setiap hari. Malam ini  kampung itu begitu menjadi dekat di hati. Kami ingin segera sampai. Namun sayang sekali kaki tak cepat sampai menjejaki.

Aku dan Rani terus berlari. Dahan pohon dengan daun-daunnya tiba-tiba melambai-lambai kencang. Kami terus berlari dan berlari menjauh dari lambaian. Serupa tangan-tangan saling bertautan, mereka memeluk kami. Kami meronta-ronta melawan tarikan pelukan mereka.

Kami kalah. Pada saat yang sama pohon-pohon pisang roboh, tertuju pada aku dan Rani. Kami tertimbuni. Namun kami terhisap daun kering yang membusuk menyatu dengan tanah basah akibat air hujan. Kami terhisap masuk tanah. Gelap.

 

                                               **

 

Dalam gelap aku melihat Rani di sampingku. Ia bercahaya terang, kontras dengan kegelapan kami. Rani menjadi lebih cantik, berkilau laksana permata dunia yang satu-satunya pernah kulihat di depan mata. Mempesona. Putih seperti salju, terang bagai matahari. Ia bukan lagi Rani yang setiap hari kucumbui, namun Rani yang berpuluh kali lebih jelita.

Aku tahu ia adalah Rani-ku yang kukenal selama ini, namun kini sudah menjadi bidadari. Bidadari cantik ini menatapku dengan lembut, tersenyum. Aku terpesona, tidak berdaya oleh kesempurnaannya. Ia terlalu mempesona. Aku hanya sanggup menatapnya dengan tergeming.

Kehangatan senyum sorga Rani tidak memengaruhiku untuk mendapatkan kehangatan mengusir dingin menjalar... Bergetar seluruh tubuhku, menggigil. Aku tak sanggup lagi harus mendekat padanya dan memberi salam manis seperti biasa dan kecupan cinta. Aku terpaku membeku di depan Rani-ku sendiri. Rani yang denganku saling menyayangi dalam hari-hariku. Rani yang terjerembab dalam hisapan kebun pisang bersama-sama dengan tubuhku, sudah menjelma menjadi begitu luar biasa, sedang aku...

Aku tak sanggup lagi mengidentifikasi seperti apa wujudku... Aku alihkan perhatianku dari Rani sebagai matahari di depanku, menuju tangan dan lenganku sendiri... Hitam... Lumut tumbuh di sana-sini… Badan... Juga tumbuh lumut… Hitam, coklat, hijau... Tumbuh saling membelit, berkelindan, lembab, basah… Aku tak sanggup lagi mengenali diri sendiri.

Rani telah menjadi bidadari, sedang aku…. Kuraba wajahku dengan kedua tanganku yang gemetar… Darah, nanah busuk,..  bau sangat menyengat… aku muntah. Pingsan… Gelap.

                                              **

 

Dalam gelap aku hanya sanggup berteriak-teriak tanpa suara. Mulut tersekap, lidah kelu, kerongkongan tersekat. Aku hidup dalam gelap. Tak lagi sanggup melihat sedikit gurat cahaya. Kekosongan hitam menguasai. Aku tak sanggup berdefinisi, tanpa cahaya penerang, aku berada di bawah timbunan gunung tanah, jelmaan pohon pisang sebagai daratan kuat dan liat.

Aku tidak tahu lagi hendak apa. Cuma satu yang aku rasakan, kebahagiaan. Aneh, kebahagiaan. Sebab, Rani-ku menjadi bidadari, dan hidup abadi. Biar aku seperti ini, asal Rani-ku seperti itu. Kami yang setiap hari bersatu dalam suka dan sedih, kini dipisahkan oleh keadaan yang sungguh membuatku tak sanggup lagi merintih. Beku. Aku gelap. Ia terang.

Dalam dingin dan beku, aku tidak tahu-menahu lagi apa-apa tentang duniaku. Bahkan dalam terang yang melingkupi Rani dengan segala kemuliaan… aku hanya tahu, aku tak lagi ada. Rani pun tak lagi menyapa. Aku menggapai-gapaikan tangan untuk mendapat uluran tangannya... Sia-sia.

                                                   **

Kampung halaman lengang. Udara dingin menyelinap masuk membuat seorang penduduk terjaga, diikuti langkah terburu-buru menyadari dia tidak menjumpai anaknya semalaman.

"Rani… Rani… di mana kamu?" ia tergopoh-gopoh membuka kelambu pintu kamar tidur anak gadisnya. Kosong. Rani tidak ada.. Si petani tidak dapat menahan rasa panik.

"Salahku sendiri, semalam langsung tidur tanpa memeriksa keberadaan Rani..." Ia cari di setiap sudut dan ruang dalam rumah, tidak ada Rani.

Anak gadis satu-satunya lenyap dari rumah. Sedangkan seingatnya, sore kemarin ia masih melihat anak peninggalan istrinya almarhumah ini. Datangnya seorang tamu pada malam itu, sesudah ia berangkat tidur, tidak ia ketahui. Ia hanya bisa berharap, Rani di halaman rumah. Ditelusuri di setiap tempat halaman itu. Lengang.

"Rani hilang! Rani hilang!!!" Ia bangunkan tetangga sekampung. Ia kabarkan tentang hilangnya anak perempuannya. Penduduk satu demi satu bangun dari istirahat malam… Pagi itu menjadi perhelatan gelisah, mereka sama mendesah mencari tahu di mana Rani... Saling tanya, tanpa kepastian.

Mereka pun mencari dan mencari barangkali Rani dapat diketemui. Hingga mereka mendapati keanehan pada kebun pisang di pinggir kampung mereka. Tidak lagi berwujud kebun, namun sudah menjadi sebuah pusara, pemakaman orang mati yang sangat besar. Batu nisan besar menjulang tinggi melebihi pohon asam yang paling tinggi dan tua di kampung itu.

Ada apa ini? Kebun pisang telah menjelma menjadi pusara dengan gundukan tanah tempat penimbunan mayat. Penduduk terperangah, dengan segera memahami, Rani ada di dalam kuburan itu. Namun, kuburan ini begitu besar... cukup untuk memakamkan orang sekampung.

Keheranan penduduk diikuti tindakan-tindakan untuk tahu isi kuburan raksasa. Mereka kerahkan seluruh laki-laki untuk membuka isi kuburan. Segala peralatan penggalian digunakan. Perempuan-perempuan menyediakan makanan dan minuman.

Para lelaki bercucur keringat menggali kuburan. Cuma tanah dan tanah! Kuburan digali lebih dalam. Hari panjang melibatkan seluruh penduduk bahkan tetangga kampung kiri-kanan bahkan sampai ibu kota kecamatan. Buldozer pun didatangkan. Menggali dan menggali. Tidak ada satu batang pisang pun di tempat itu, padahal jelas-jelas tanah gundukan kuburan ini adalah tempat kebun pisang. Penggalian terus dilakukan... Terik matahari dilawan.

Akhir penggalian menuai hasil. Pada kedalaman sepuluh meter didapati satu sosok gadis yang hampir saja penduduk gagal mengenali. Gadis ini tampak putih seperti salju, terang seperti matahari, berpakaian putih cemerlang bidadari. Matanya menutup, rambut tertata sempurna, pakaian begitu rapi tanpa kisut apalagi kotor tanah penimbun tubuh.

Diamati lebih teliti, akhirnya mereka berhasil mengenali, memang ia: Rani. Namun kecantikannya tidak seperti Rani yang mereka kenal sehari-hari, juga sungguh jauh di atas rata-rata wajah gadis biasa. Aneh. Bapak Rani mendekat dan menangis, meski anaknya dalam kondisi sempurna, jelas Rani sudah tidak bernyawa.

Bagaimana semua keanehan ini terjadi?... Aku yang sedari tadi tak berdaya dengan kondisi buruk dan busuk, sepertinya mendengar semua keluh kesah mereka. Telinga siapa yang kupakai? Rasanya aku telah melihat perubahan dalam diri Rani... kini menjadi lebih terguncang dan terheran-heran lantaran sanggup mengetahui, apa sesungguhnya yang terjadi pada penduduk dan Rani sendiri.

Rani, rupanya tidur dengan tenang sebagai bidadari, sedang aku telah menjadi tanah, yang menimbuninya. Dengan busuknya tubuh berdarah bernanah, dimakan ulat-ulat dan belatung, membuatku begitu cepat menjadi tanah. Tanah dari tubuhku begitu cepat berlipat, menimbuni tubuh Rani tanpa mengotori apalagi melukai, bertimbun-timbun meninggi, menjadi makam seluas kebun pisang yang dipatok oleh Malaikat Penjaga Kuburan.

Sebagai tanah aku menempel pada kaki-kaki penduduk yang menjejak dan menggali tanah kuburan raksasa kami. Sebagai tanah aku punya telinga dapat mendengar pembicaraan seorang berpakaian hijau loreng, kaca mata hitam, berkacak pinggang, dan berkata pelan pada bapak Rani...

"Pak Parmin, anak Bapak telah menjadi tumbal penghilang dendam korban pembunuhan massal kita."

Mulut orang tua Rani menganga, pandangan matanya penuh ketidakpercayaan.

Tentara itu melanjutkan tegas, "Anak Bapak betul-betul telah menjadi bidadari penghapus dendam sejarah bangsa yang tak pernah terselesaikan."

Kepala kampung yang mendengar perkataan itu tak mampu menahan diri terhadap sikap heran yang ditunjukkan bapak Rani. "Jadi, korban-korban pembunuhan yang dikubur secara massal di sini sekarang sudah ikhlas terhadap perlakuan yang Bapak perintahkan?" tanyanya.

"Ya, sekaligus mengingatkan bahwa sebetulnya tindakan yang kita lakukan dulu itu adalah benar. Perintah yang kuberikan untuk membebaskan bangsa dan negara kita dari pembantaian lebih keji dibenarkan oleh tanda-tanda ini."

"Membenarkan kesalahan pembantaian massal?"

"Pembantaian massal itu tidak disalahkan oleh mereka. Mereka ikhlas diperlakukan demikian karena memang mereka salah. Justru tindakan kita yang benar yang mengampuni dan melupakan kesalahan mereka. Untuk itu mereka kini betul-betul ikhlas dibunuh saat itu," jawab perwira angkatan darat yang datang dari ibu kota kecamatan itu.

Ah, betulkah itu? Pemutarbalikan fakta macam apa lagi ini? Bukankah pembunuhan besar-besaran yang makan korban berjuta-juta orang di negeri ini termasuk orang sekampung ini, semua dilakukan tanpa ada pengadilan untuk memeriksa salah-benarnya?

Siapa orang itu? Ia berpakaian tentara, tapi sudah kelihatan sangat tua. Bukankah perawakan dan wajahnya sangat mirip malaikat penjaga kuburan raksasa ini? Ia Malaikat Penjaga Kuburan yang mematok kuburan ini? Oh.., bukankah ia bapakku sendiri? Mengapa aku hampir tidak mengenalnya lagi?

Aku masih bertanya mengapa dalam penglihatanku, Bapak angkatku menjadi malaikat penjaga kuburan raksasa Kampung Kebun Pisang. Sepertinya aku melihat Bapak atau Malaikat Penjaga Kuburan itu mengusir semua dendam mayat-mayat korban pembunuhan massal yang dibantai begitu saja di lubang besar ini. Tapi, mengapa caranya seperti itu? Begitu mudah membolak-balikkan fakta dengan bersilat kata! Tanpa pernah menghidupkan kembali mayat mereka, untuk dilakukan pengadilan yang semasa hidupnya tidak pernah terjadi!

Ternyata mayat-mayat korban pembunuhan massal-lah, pohon pisang yang menimbuni aku dan Rani. Berpuluh-puluh tahun lalu, setelah orang-orang itu dipenggal kepalanya dan tubuh tanpa kepala itu ditimbun di lubang besar, kuburan massal ini ditimbuni tanah lalu ditanami pohon-pohon pisang, sehingga kampung di pinggir kebun pisang ini terkenal disebut sebagai Kampung Kebun Pisang.

Aku adalah anak salah satu korban pembunuhan besar-besaran itu, namun diangkat sebagai anak oleh perwira angkatan darat itu. Aku tidak tahu harus bertindak mengikuti siapa. Mengikuti orang tua kandungku yang dikubur secara kejam di bawah kebun pisang, ataukah mengikuti bapak, perwira tentara orang tua angkatku.

Rani adalah anak dari kelompok orang tua kandungku yang dicap sebagai pemberontak, namun terbebas dari pembunuhan massal lantaran membocorkan informasi siapa-siapa dari kelompoknya yang patut ditembak mati.

Aku baru tahu bahwa aku adalah bagian dari darah keluarga korban dan Rani adalah anak dari pengkhianat korban, setelah aku sudah tidak hidup lagi. ***

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: