04 November 2008

[ac-i] Undangan Pidato Kebudayaan: Kita, Sejarah,Kebhinekaan oleh: I Agung Ayu Ratih 10 November 2008

SIARAN PERS


"KITA, SEJARAH, KEBHINEKAAN"

 

I Agung Ayu Ratih

 

Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki

10 November 2008, pukul 20.00-22.00 WIB

 

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menggelar acara tahunan "Pidato Kebudayaan" yang diadakan bertepatan dengan hari ulang tahun Pusat Kesenian Jakarta—Taman Ismail Marzuki, 10 November. Sebagaiman yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, Pidato Kebudayaan kembali membicarakan masalah-masalah aktual di sekitar kita, khususnya jika masalah itu dipandang dari sudut kesenian. Kali ini DKJ menampilkan I Gusti Agung Ayu Ratih dengan judul pidato "Kita, Sejarah, Kebhinekaan". Pidato Kebudayaan ini juga dimeriahkan oleh pentas musik Balawan dan kawan-kawan.

           

Adapun pokok-pokok pikiran Gung Ayu, begitulah I Gusti Agung Ayu Ratih biasa disapa, dalam pidato kali ini adalah sebagai berikut:

 

"Indonenesia adalah sebuah kemajemukan; ia lahir dari kesepakatan beragam kekuatan yang bercita-cita membesarkan negeri-bangsa berwawasan kesetaraan, kemanusiaan dan keadilan sosial. Oleh sebab itu, segala upaya untuk menyeragamkan langgam, memangkas imajinasi tentang bagaimana kita harus berbangsa, dan mengasingkan kelompok atau golongan yang lakunya tidak (atau belum) saling bersesuaian adalah pengingkaran terhadap alasan keberadaan (raison d'etre) negeri-bangsa ini sendiri. Namun, Indonesia juga adalah sebuah konsep modern yang harus terus-menerus dipelajari dan dimaknai kembali. Adalah suatu lompatan luar biasa untuk mengubah kesadaran dan loyalitas primordial menjadi kesadaran akan kebangsaan, terutama karena tradisi keindonesiaan itu sangat baru dan tak punya rumusan baku, apalagi jika dibandingkan dengan tradisi-tradisi lain yang berusia ratusan tahun dan didukung oleh kitab-kitab sakral para begawan dan nabi.

 

"Dari masa ke masa selalu ada perdebatan dan pertarungan antar gagasan tentang keindonesiaan. Dalam perdebatan dan pertarungan tersebut tak jarang kekuatan-kekuatan tertentu, yang sebenarnya sudah ikut melahirkan dan menghidupi republik ini, terpental. Entah oleh gagasan-gagasan dominan tentang superioritas kelompok atau golongan tertentu, atau oleh pertikaian politik yang sifatnya lebih ideologis. Kaum perempuan merupakan salah satu kelompok yang pandangan dan pengalamannya acapkali terabaikan dalam perbincangan ini. Sementara gerak mereka yang secara tradisional di wilayah paling dekat dengan kebudayaan—nurture and cultivate—sudah menghadapkan mereka pada keberagaman tak terhingga. Sebaliknya, tubuh perempuan hampir selalu menjadi salah satu medan pertarungan utama perumusan apa itu keindonesiaan. Kendali atas gerak dan tubuh perempuan seakan menjadi acuan pokok kemajuan sebuah bangsa dan kekukuhan negara. Perempuan yang elok dan santun menurut norma-norma ketimuran menjadi simbol kepribadian bangsa yang konon ramah-tamah dan beradab ini! (Tak ada tempat bagi penari ronggeng, ledhek, paraji, dkk—ini mirip dengan perburuan terhadap dukun bayi seiring dengan perkembangan kapitalisme modern yang mengagungkan rasionalitas di Amerika.)

 

"Sepuluh tahun setelah reformasi kita berhadapan dengan dua kekuatan besar yang lagi-lagi mengancam kemajemukan yang sudah lahirkan Indonesia, yaitu fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Sekilas keduanya tampak berjalan terpisah. Padahal, mereka sebetulnya berkaitan, bahkan di titik-titik tertentu berhubungan sebab akibat. Fundamentalisme pasar sudah menimbulkan kecemasan, rasa ketidakpastian karena acuan bergerak kita ditentukan oleh sebuah kekuatan yang tampaknya tidak bisa kita kendalikan sebagai suatu 'polity'. Mereka yang paling terpuruk oleh kebijakan neoliberalisme kehilangan rasa berarti sebagai manusia dan warga masyarakat. Dalam suasana kebingungan dan kecemasan inilah kaum fasis berjubah agama menawarkan sesuatu yang pasti, janji adanya penyelamatan dan surga, sedikit bantuan ekonomi, dan status sosial yang lebih mulia ketimbang sekedar pengangguran, pemulung atau preman. (Fenomena ini muncul juga di AS dengan naiknya Bush dan Evangelism.) Nah, kalau pasar bebas menjawab kesulitan hidup sehari-hari dengan membuka ruang bagi lalu lintas perdagangan TKW, kelompok fundamentalis menuding keliaran perempuan sebagai sumber kebejatan dan kekacauan dewasa ini. Lagi-lagi tubuh perempuan menjadi taruhan.

 

Kita perlu merumuskan dasar-dasar pijakan kemajemukan yang kita inginkan agar tidak terperangkap dalam rumusan yang superfisial dan mudah dimanipulasi. Orde Baru dengan segala upayanya menyeragamkan punya rumusan kemajemukan yang 'folkloristic', seperti lagu Dari Sabang sampai Merauke. Salah satu institusi yang boleh dikatakan sangat, bahkan paling majemuk adalah militer; segala ras, sukubangsa dan agama masuk dalam dinas kemiliteran. FPI atau PKS pun saya duga punya bayangan sendiri tentang kemajemukan karena untuk membangun kekuatan yang hegemonik mereka tidak mungkin semata-mata gunakan kekuatan represif; mereka juga harus memperoleh 'consent'. Kalau tidak, bagaimana kita jelaskan seorang Meutia Hatta yang lahir dan besar di keluarga nasionalis liberal menyetujui RUU Pornografi? Jadi, kita memang harus kerja keras agar kebhinekaan yang kita tawarkan tidak mengawang-awang dan mudah dicuri kekuatan-kekuatan yang anti-demokratik. Akses dan ruang untuk perbincangan yang rasional dan setara menjadi syarat utama. Dan, adalah tugas negara untuk memastikan bahwa akses dan ruang tersebut terbuka bagi siapa saja dan tidak disalah-gunakan untuk tujuan pengasingan dan pemusnahan."

 

Dalam pengantarnya Ketua Pengurus Harian DKJ Marco Kusumawijaya juga menyatakan bahwa di tahun ini kita kembali sibuk membela dan merawat kebhinekaan kita, Republik Indonesia. Pada saat yang bersamaan sebenarnya kita juga memperjuangkan kemampuan masyarakat untuk mandiri, untuk sebanyak mungkin mengurus dirinya sendiri, mengurangi ketergantungan pada hirarki kekuasaan. Pada saat bersamaan, kita percaya bahwa bangunan bernama Republik Indonesia ini akan lebih kaya kalau kita semua terlibat menyumbangkan pandangan, sehingga ia kokoh karena ditopang oleh semua keberagaman kita.

 

"Kita merasakan bahwa kebhinekaan kita terancam oleh kerja demokrasi yang tidak maksimal. Padahal kebhinekaan kita itu seharusnya dapat menjadi sumber kehidupan yang lebih baik, sebagai manusia yang multidimensi, bukan hanya sebagai konsumen, bukan pula hanya sebagai pemilih (voter) dalam pemilihan umum. Kita ingin menghayati kehidupan yang menentang penyeragaman oleh modal maupun oleh kekuasan serta fundamentalisme agama apa saja yang tidak berdaya toleransi," kata Marco.

 

I Gusti Agung Ayu Ratih dilahirkan  di lingkungan Puri Kapal Kaleran, Mengwi, Bali, pada tanggal 19 Maret 1966. Ia adalah seorang cendekiawan yang mendasarkan pemikiran-pemikirannya pada penelitian berwawasan sejarah yang mendalam dan kritis, sambil terlibat secara intensif dalam praktik-praktik kebudayaan sehari-hari. Ia seorang intelektual yang aktivis. Karena itu, ia menghayati kebhinekaan pada dua tataran sekaligus: pada tataran intelektual yang berjarak, dan pada tataran praksis yang meleburkan dirinya.

 

Ia mengenyam pendidikan dasar di SD Laboratorium IKIP Malang (1976), pendidikan menengah di SMPK St. Maria II (1980) dan SMAK St. Albertus (1983). Setelah menamatkan S1 di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang (1989), ia melanjutkan studi di bidang sejarah dan sastra perbandingan di Program Studi Asia Tenggara, University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat dan memperoleh gelar Master of Arts. Sekembalinya dari AS pada 1994 ia bekerja sebagai peneliti di Yayasan Pusat Studi HAM (YAPUSHAM) dan ikut mendirikan Jaringan Kerja Budaya (JKB) di Jakarta. Di saat gerakan reformasi mulai berkembang ia aktif membantu pengembangan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), Forum Solidaritas untuk Timor Lorosae (FORTILOS), Sanggar Anak Akar, dan Suara Ibu Peduli. Sejak 2000 bersama dengan beberapa orang sejarawan ia mengorganisir penelitian sejarah lisan tentang pengalaman korban Tragedi 1965, serta membangun perpustakaan dan arsip suara yang menjadi basis pendirian Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI). Disamping itu, ia bekerja sebagai konsultan bagi sejumlah organisasi dan menulis artikel untuk surat kabar, majalah, dan jurnal di dalam dan di luar Indonesia. Sekarang ia memimpin ISSI dan memusatkan perhatiannya pada penelitian tentang sejarah kebudayaan dan gerakan perempuan.***

 

 

Untuk keterangaan lebih lanjut sila hubungi Lina di 0812 9855181 atau (021) 31937639

 

 

 
silahkan berkunjung ke www.dkj.or.id untuk informasi program


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: