25 November 2008

[ac-i] T.Iskandar A.S dari TITIAN

Sepasang Jejak Telanjang

T.Iskandar A.S.

KULIK elang hanya menegaskan kelengangan Meunasah  Cot Bak U, ketika aku tiba di kampung kelahiranku itu. Ini bukan lagi kelengangan sebuah desa kecil karena keterasingan dan keterbelakangannya. Niscaya Cot Bak U telah ditinggalkan penghuninya karena bahaya instan yang mengancam mereka.

       Dari atas bukit kecil, yang memisahkan Cot Bak U dengan jalan raya, aku menatap ke bawah. Biasanya, dari sana sudah terlihat kehidupan: asap dari dapur rumah-rumah, anak-anak yang berlarian atau menggiring kerbau ke air, perempuan-perempuan yang menampi beras, atau laki-laki yang duduk-duduk di rangkang 1.) Hari telah lohor, tapi mana suara azan yang biasa terdengar dari meunasah? 2)

       Aku terkesiap. Ikut pergi jugakah nenekku? Apa kataku pada seluruh keluarga, jika aku gagal membawanya ke Jakarta? Berkali-kali Bang Manyak mengutus anak buahnya untuk menjeput Nenek. Namun Nenek menolak meninggalkan kampung halaman dan rumah warisannya. "Sebelum hari raya, Nenek sudah harus bersama kita di sini, dan kita mencium lututnya," kata Abang Manyak melepas keberangkatanku dari Bandara Cengkareng, tiga hari lalu, atau sekitar sebulan setelah kesepakatan damai RI-GAM ditandatangani di Helsinki, Finlandia.

       Nenek yang kritis dan sudah lama mencemaskan kami sekeluarga. Kalau ia bukan cucu Teungku Ulee Karang, ulama yang berpengaruh sampai di luar Aceh, yang menyerukan bantuan dan dukungan kepada RI pada awal kemerdekaan, ia tentu sudah lama 'diambil' oleh salah-satu pihak yang bersengketa. Celakanya, ia seperti abai akan bahaya yang dapat menimpanya. Ia tak mau diajak pindah ke Jakarta atau  Medan. "Biarkan aku mati di tempatku lahir," katanya selalu.      

Sedari menapak dari jalan raya aku telah curiga. Jalan setapak menuju ke bukit sudah mulai ditembusi pucuk-pucuk rumput teki dan ilalang. Kampungku memang berpenduduk jarang, tapi inilah satu-satunya jalan pintas terpendek ke jalan raya. Jadi mustahil tak ada seorang pun merasa perlu melintasinya – jika tidak terjadi sesuatu yang gawat atas Cot Bak U.

       Turun dari bukit, aku mendengar serentetan tembakan di kejauhan. Aku terhenti kaget, tetapi segera terdorong maju oleh jalan yang menurun. Seekor kerbau yang ditinggalkan pemiliknya mendongakkan kepalanya, kemudian melenguh. Sekawanan induk ayam berkotek-kotek memanggil anak-anaknya agar datang berlindung di bawah kepakan sayapnya. Percuma. Seekor elang yang bermata nyalang, yang sedari tadi mengintip dari ketinggian, mendadak menukik. Ia dengan secepat kilat menyambar seekor anak ayam yang tercecer. Induknya memburu hendak mencegah. Sia-sia. Ia memang berhasil menyelamatkan Si Bungsu, tapi binatang pemangsa itu berbalik sasaran. Dua anaknya yang lain berhasil dibawanya terbang.

       Aku terpana. Perlambang apa ini? Aku makin khawatir akan nasib Nenek.

       Melintasi lapangan sepak bola, aku masih terngiangi oleh gelak-tawa anak-anak yang ceria bermain bola. Tapi lapangan yang pernah menyumbang seorang "pemain nasional" sepak bola untuk Persiraja Banda Aceh ini sudah mulai dipenuhi ilalang. Tiang-tiang gawangnya terjengkang. Selepas lapangan sepak bola, aku menemukan meunasah  kosong – hanya menyisakan bagian dari salawat  Marhaban, marhaban, jaddam husaini,  lagu puji pada Nabi Muhammd saat perayaan maulid 3)  , dalam ingatan masa kecilku. Meunasah telah doyong ke arah kiblat –- apa pula artinya ini? Aku tadinya ingin salat lohor, tapi sumur dan kolam wuduknya telah dipenuhi sampah.

       Tumpukan rumah di kampung kami tak ada pembatas yang tegas – pagar, atau apa – tapi semua tahu batas-batas milik masing-masing. Rumah-rumah bertiang tinggi itu rata-rata sudah reyot, dan terlantar sejak ditinggalkan penghuninya. Aku melaluinya satu per satu, melintas di antara rumah-rumah, atau melalui kolong-kolongnya. Semua tanpa penghuni – begitu jugakah rumah nenekku?

       Menghampiri rumah Nenek, aku terkesiap melihat di bubungan rumahnya  bertengger sekawanan burung pemakan bangkai. Pertanda burukkah ini? Aku mendoakan sebaliknya.

       Di tangga rumah aku terhenti. Rumah ibu dari ibuku ini sama lapuknya dengan yang lain, dan juga sama kotornya. Tak terurus. Pasti sudah lama ditinggalkan. Aku mencium bau anyir. Bau apa itu? Aku berharap itu anyir darah tikus atau kucing. Tapi aku tak bisa membohongi logikaku: Karena vokalitasnya, Nenek dituduh sebagai anggota, bahkan pemimpin, Inong Balee.3) Bulu kudukku berdiri. Aku hendak pergi. Tapi segera aku ingat pesan Abang Manyak: mati atau hidup, Nenek harus ditemukan.

Dengan memberanikan diri, aku menaiki tangga rumah panggung, yang membekaskan tapak-tapak sepatu dan sepasang jejak kaki telanjang di lapisan debu yang tebal. Ini pertanda bangunan tua ini sudah lama ditinggalkan, tapi ada yang kemudian datang. Aku yakin, Nenek tak bisa berlama-lama meninggalkan rumah warisan orangtuanya itu. Ia sesekali akan menjenguknya, diam-diam. Sepasang jejak kaki telanjang itu mungkin miliknya, tapi tapak-tapak sepatu itu? Ya Allah, tolong…

Sesampai aku di pucuk tangga, suasana rumah centang perenang. Sepi menikam. Di lantai yang berdebu tebal tergeletak sebatang sapu, centong air, puan dari tembaga, tikar yang setengah terkembang, gelas, dan daun-daun kering dan setengah kering, yang masuk dari cendela kecil yang separuh terbuka. Ada bagian yang telah disapukan, dengan tumpukan di sebuah sudut.

       Yang sungguh mengagetkan aku, banyak tapak sepatu yang membekas di debu tebal yang melapisi lantai dan segala benda yang berserakan di atasnya. Aku terkesiap. Jangan-jangan…..

       "Nenek!" seruku, memberanikan diri. Bau amis makin menyengat. Hatiku berkata, aku harus segera meninggalkan tempat itu. Tapi aku ingat kembali pesan Abang. Jadi, aku melangkah ke juree 4), dengan menaiki satu undakan – sebagaimana rumah tradisional Aceh pada umumnya. Dan apa yang aku lihat?

       Seiring dengan menderasnya bau amis, aku melihat di lantai juree terbaring sebatang tubuh manusia  Tubuhnya yang kurus dan renta menyiratkan penderitaan lahir-batin: Nenek.  "Nenek, Nenek, Nenek…" aku berteriak sejadi-jadinya. Aku membungkuk, dan membalikkan tubuhnya, yang masih meneteskan darah segar dari lubang sebesar jempol kaki di dada  kirinya. Aku panik, lalu aku berteriak keras-keras.

       "Oi, orang sekampung…  Tolong, tolong…!" Teriakanku bersipongang menambah ketercekaman. Aku beranjak dan mendorong jendelanya yang setengah terkuak, "Oii, orang sekampung!!... Tolong, ada yang….."

       Kerongkonganku tersekat. Tapak-tapak sepatu yang berat mendekat. Aku melihat ke bawah melalui pintu. Orang-orang memang berdatangan, tapi semuanya berseragam hijau-hijau loreng, bersenjata api langkap, berbaret merah. Tubuhku lunglai, nyawaku seperti terbang… . Aku merasa nasibku akan seperti yang menimpa Nenek.…***

Jakarta, Oktober 05.  

Catatan:

1) Rangkang  = pondok bersantai

2) Meunasah   = surau

3) Maulid  = hari lahir Nabi Muhammad

4) Inong Balee  = janda, di sini lasykar wanita GAM

5) Juree = kamar tidur, kamar pengantin        

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: