29 November 2008

[ac-i] sihar simatupang :lorca

Lokal Kontekstual : Kemiskinan Imajinasi atau Kesalahan Pembaca? (Bahan diskusi novel LORCA karya Sihar Ramses Simatupang, Melibas 2005) di Library@Senayan, Perpustakaan Diknas, 4 Maret 2006)

Prolog

Saya memang tak langsung membuka dialog ini dengan kenikmatan tekstual Lorca. Tapi sebelum saya beralih pada hal-hal itu, izinkan saya mengawalinya terlebih dahulu dengan problem lokal-kontekstual yang sudah mengawali kesimpangsiuran membaca novel Lorca ketika baru terbit April 2005 lalu. (Mengenai cerita dan kekuatan tekstual Lorca saya pilih diperbincangkan lisan dalam diskusi saja.)

Mungkin bagi beberapa orang ini masalah kecil dan kurang penting meskipun pengantar dari Mudji Sutrisno SJ yang tercantum dalam buku ini sudah sedikit menjelaskan apa yang hendak disampaikan pengarangnya. Tapi bagaimana sebuah karya dapat dinikmati dengan merasakan kekuatan tekstualnya ketika pembaca salah memasuki pintu masuknya?

***

Tampaknya perdebatan mengenai posisi sebuah karya sastra sadar tak disadari kembali bergulir dan celakanya seperti "menghantui" alam kebanyakan pembaca kita- khususnya dari generasi yang berkarya pada 1970-an sampai 1990-an maupun penulis zaman sekarang- khususnya yang lahir dari genre "sastra koran" dan "majalah sastra".

Hal ini saya rasakan tatkala menghadiri acara pelucuran novel Lorca: Memoar Penjahat Tak Dikenal (Melibas, 2005) karya Sihar Ramses Simatupang beberapa waktu lalu di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Kala itu diskusi yang dipandu moderator Hudan Hidayat secara tak sengaja memertanyakan mengapa tokoh-tokoh dalam novel Lorca ini menggunakan nama-nama asing- seperti dari negeri yang jauh, bukan dari Indonesia. Perdebatan ini sebenarnya kurang menarik tapi dampaknya cukup mencemaskan.

Mengapa?

Sepertinya ada sesuatu yang tak disadari mengekang imajinasi pengarang walau novel ini toh ditulis dengan bahasa Indonesia. Bagaimana dengan novel chick lit dan teen lit? Bukankah problem kontekstual mereka kurang mengena jika dibaca oleh khalayak pembaca yang bukan berasal dari kota besar? Jika benar begitu mengapa terjadi pada Lorca yang dalam diskusi tersebut tiba-tiba "diutak atik gatuk" lokalitasnya?

Hal demikian semakin menguatkan anggapan saya bahwa sebetulnya "ada yang tak beres" dengan pembacaan kita sehingga karya apapun yang mungkin cukup punya daya kekuatan persuasif seperti latar yang sepertinya seolah dari negeri antah berantah, cerita dengan parabel maupun interpretasi yang terasa subversif karena berasal dari Al Quran, dan lain-lain yang sebenarnya punya potensi mengisi "jagat lain" seperti yang pernah diungkapkan Renee Wellek dan Austin Warren dalam buku klasiknya Teori Kesusastraan, tak pernah menggugah minat media massa apalagi pengamat sastra yang umumnya lebih tertarik dengan biografi pengarang, bukan kenikmatan tekstual sebuah karya.

Memang, belum lama ini ada juga karya lokal yang sempat memancing perhatian pengamat sastra kita. Misalnya sajak-sajak penyair Lampung yang pernah menggugah Nirwan Dewanto untuk menyebutnya sebagai "Homo Lampungensis" di Koran Tempo beberapa waktu lalu. Sialnya (ini bukan tentang anggapan benar atau salah) walau esai tersebut sedikit memunculkan kegembiraan saya bahwa seorang Nirwan Dewanto mulai menelisik karya penulis angkatan muda, ada satu hal yang masih menjadi "diktum" para pengamat untuk paling tidak menyebut sebuah karya sastra layak baca: dia harus lokal-kontekstual dulu dengan problem yang ada di Indonesia.

Oleh karenanya wajarlah ketika Indonesia sempat melahirkan penulis genre fiksi ilmiah yang cukup serius misalnya Djokolelono dengan serial Penjelajah Angkasa-nya di era 1980-an, problem masa depan dengan rasa hiperealitas dalam Opera Bulutangkis 1999-nya Titi Nginung, "rasa" eksistensialis dalam aroma metropolis yang sedikit muncul dalam Rissa (Grafikatama, 1990) karya alm. Umar Nur Zain, tetap saja yang muncul ke permukaan adalah problem lokalitas dan kontekstualitas yang celakanya menghambat kepenulisan kreatif kita sendiri dengan tak ada lagi yang berminat melanjutkannya. (Boro-boro melanjutkan, dibicarakan secara ilmiah oleh pengamat sastra tidak.)

Akibatnya, sadar tak disadari sastra seperti "jalan di tempat" dan hanya "berani muncul" jika pencetusnya sudah berhasil. Ketika genre "sastra Islami" yang dipelopori Forum Lingkar Pena (FLP) mencuat, yang lain menyusul. Ketika genre "sastra seks" mencuat, yang lain ikut-ikutan, bahkan sampai ada "yang dibaptis" sebagai "pembaharu". Ketika masalah sosial "kupon Porkas-SDSB" yang mencuat tahun 1990-an dalam cerpen koran, koran yang ada memuat cerpen bertema "SDSB" (daftar ini bisa diperpanjang dengan banyak kasus lain lagi-pen) seolah-olah sastra kita kurang menggairahkan orang untuk bereksperimen.

Pertanyaan mengusik, masalah ekskomunikasikah ini ketika sesungguhnya sudah cukup banyak eksperimen yang pernah dilakukan para pengarang Indonesia? Memang banyak karya dengan metafora pun parabel-parabel yang untungnya karena seperti terjadi di Indonesia luput dari "kecaman" ini. Padahal jika kita jeli Lorca tak beda dengan karya lain yang memang terbaca justru kontekstual. Hanya karena nama-nama asing yang sepertinya berlatar dari negara Spanyol sungguhlah sayang jika kita sepertinya hanya mengulang kesalahan lama lantaran "kebiasaan" kita yang masih belum pulih: banyak sastrawan masih lahir dari genre cerpen koran, bukan buku yang sebetulnya memberi ruang sangat longgar untuk berimajinasi. Gejala ini akibatnya pun nyaris sama seperti masa H.B Jassin masih hidup: kalau dulu penulis baru dianggap "sastrawan" dan "pengarang top" kalau karyanya di-ACC H.B Jassin, sekarang kalau dimuat terlebih dulu di Kompas, Kalam, dan Koran Tempo.

Sesungguhnya Lorca humanis dan universal. Problem yang terkandung di dalamnya pun bisa jadi ada di belahan negara manapun: kekerasan serta kesadaran ingin kembali pada satu titik nol. Yang mengagetkan dasar penulisan nama-nama ini toh sebenarnya juga dari negeri kita juga yaitu Papua yang kental berbau Spanyol atau Portugis (jangan lupa nama-nama di Filipina pun juga seperti itu!).

Saya mendadak teringat dalam sebuah pertemuan kecil dengan Marissa Haque. Dia menceritakan kesannya setelah menonton film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja karya Garin Nugroho di sebuah pusat kebudayaan. "Saya merasa itu bukan Indonesia," paparnya. "Tapi begitu film berakhir, yang menyadarkan saya bahwa film tersebut dari Indonesia adalah… itulah karya Garin!" sambungnya sambil tersenyum. Kemudian anggota DPR yang mantan aktris papan atas itu menyatakan ini gara-gara di Indonesia lebih "diakrabkan" budaya Jawa.

Mon Dieu!

Begitu parahnya ketercerabutan akar budaya yang membuat diri kita terasing di negera kita sendiri saudara-saudara? Apakah ini yang menyebabkan pembacaan yang salah, seolah-olah Lorca dari negeri nun jauh di sana meskipun kata pengarangnya sendiri ini adalah interpretasinya bergaul dengan saudara kita di Papua? Konon, Satyagraha Hoerip pernah menuliskan prestasi literer kumpulan cerpen Orang-Orang Terasing (Gunung Agung, 1984) karya Pamusuk Eneste (PE) yang jika kita baca lagi toh juga mengalami "gangguan" agak sama seperti Lorca, yaitu problem sosial dengan tokoh-tokohnya yang bernama asing rasa Jerman karena ketika cerita itu ditulis PE sedang menempuh studi di Jerman. Anehnya, ketika Budi Darma menelurkan Olenka atau Orang-Orang Bloomington yang berlatar dari negara asing, sampai sekarang saya belum mendengar masalah lokal-kontekstual ditujukan kepada pengarangnya. Ada apakah ini?

Julia Kristeva dalam Structuralist Poetics susunan Jonathan Culler (London:Rouledge&Kegan Paul, 1977) mengatakan bahwa setiap teks sastra sebenarnya hanyalah merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi teks-teks lain. Dengan kata lain, tak ada karya sastra di dunia ini yang tidak terpengaruh oleh karya orang lain. Atau sebuah karya sastra tak mungkin lahir dari ruang kosong.

Adagium "pengarang sudah mati" memang sah-sah saja bergulir. Tapi, sungguh celaka jika memang pembaca yang konon diharapkan khalayak umum diharapkan dapat "menuntun pembaca" ternyata "dia juga mati" bukan karena tak mampu secara intelektual, tapi memang sudah pikun apalagi tekun dengan karya yang sebenarnya punya nyali ataupun ambisi literer.

Dan, dampaknya ternyata lebih celaka lagi ketika "yang sudah mati" lantas dianggap khalayak umum seolah mafhum bahwa karya sastra itu harus lokal dan kontekstual Indonesia. Penghargaan sastra maupun hadiah untuk karya buku pun jadi "teracuni" oleh "diktum" itu sehingga pantaslah penghargaan sastra di sini begitu minim jumlahnya. Jika ada aroma kompetitifnya kurang. Sebutlah Adikarya Ikapi, Rancage (untuk Sunda) atau Buku Utama jika dibandingkan Katulistiwa Award dan penghargaan novel-roman dari Dewan Kesenian Jakarta.

Padahal sejarah sastra dunia mencatat Jhumpa Lahiri, yang dibesarkan di London, memenangkan PEN/Hemingway Award dan New Yorker Prize setelah ia dianggap "tidak lokal-kontekstual" di Bengali, India. Konon penulisnya sempat patah arang merasa dipinggirkan oleh pengamat sastra dari negara asalnya sendiri lantaran ia banyak menulis cerita dengan perasaan keterasingan seorang India di Inggris. Hal ini juga yang terjadi pada Haruki Murakami di negara asalnya yang dianggap "tidak membumi". Maklum Murakami adalah seorang penerjemah karya sastra Barat ke Jepang sehingga ketika ia menulis karyanya sendiri sangat jelas karya sastra Barat memengaruhi karyanya. Padahal karyanya Norwegian Wood dan Kafka's on The Shore setelah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan ternyata cukup punya nyali di pasar internasional.

Begitu juga kemenangan novel Vernon God Little (yang terasa sangat Amerika dengan begitu kentalnya budaya pop di dalamnya) karya DBC Pierre dalam Man Booker Prize 2003 sempat dicaci lantaran novelnya tak mengandung lokalitas kontekstual Inggris. (Catatan: penghargaan Man Booker Prize adalah penghargaan buku dari Inggris. Salah satu penulis yang pernah jadi pemenangnya antara lain adalah Salman Rushdie dan V.S Naipaul yang peranakan India).

Problem lokal-kontekstualitas memang menarik dan terus memancing perdebatan sastra kita-bahkan dunia yang ternyata juga menyimpan problem serupa. Pertanyaan mengusik, apakah kemenangan DBC Pierre tersebut lantaran setelah karya pemenang sebelumnya yang rata-rata sangat Inggris mulai membosankan juri-jurinya hingga mereka memilih Pierre ketimbang nominator lain seperti Rushdie atau Zadie Smith yang sangat lokal Inggris pada waktu itu?

Bisa jadi. Tapi, di luar caci maki dan rasa curiga itu sebetulnya saya malah menangkap kenikmatan tekstual luar biasa dari karya debutan Pierre itu (Pierre adalah seorang kartunis yang gagal kemudian coba-coba menulis novel) sehingga pada Man Booker Prize 2003 saya mencatat ada kemajuan: yaitu ambisi literer yang mampu memberi kenikmatan tekstual, bukan dilatarbelakangi dengan lokal-kontekstual. Problem Pierre adalah problem kontekstual juga, begitu juga problem Lorca walau ia diolah dengan "rasa" lain.

Saya khawatir kalau problem ini terus menggumuli pembaca buku kita maka imajinasi (juga para pengarangnya sehingga baru berani menulis kalau sudah ada yang memulai) makin terasa miskin walau di sini kita toh pernah dihanyutkan dengan kekuatan persuasif cerita silat Kho Ping Ho asli bikinan Indonesia (peranakan, tentunya) yang tak kalah kuatnya dengan cerita fantasi Harry Potter maupun C.S. Lewis.

Rawamangun, Maret 2006

This entry was posted on Thursday, Jul


___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: