17 November 2008

[ac-i] Siaran Pers Taman Budaya Yogyakarta

Siaran Pers Taman Budaya Yogyakarta

Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 se-DIY

 
 

Bagi masyarakat Yogyakarta, kethoprak sudah menjdi kesenian yang sangat digandrungi, baik di pedesaan maupun perkotaan. Untuk itu, perlu kethoprak terus ada upaya untuk melestarikan, mengembangkan, serta menjaga keberadaanya. Selain menjadi sarana yang mampu menghadirkan hiburan, kethoprak, juga mampu memberi pencerahan atas perbagai problematik sosial yang ada ditengah masyarakat saat ini.

Berangkat dari hal diatas itulah Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 se-DIY menjadi penting, sebagai upaya untuk melestarikan kesenian kethoprak. Selain itu, keberadaan Festival Kethoprak ini juga diharapkan mampu menjawab persolan regenerasi pelukan kethoprak yang selama ini menjadi keprihatinan para pelaku dan pencinta kethoprak.

Bondan Nusantara, tokoh ketoprak dan mantan pengurus FKKB adalah salah satu yang merasa prihatin atas degenerasi ketoprak di DIY. Ia khawatir ketoprak akan punah. Untuk itu, dibutuhkan pembibitan dan penyegaran. Festival ketoprak antar pelajar menjadi salah satu jawaban.

Seretnya regenerasi ketoprak di DIY terjadi setelah akhir era 1980-an. Banyak faktor yang jadi kendala: eksternal dan internal. Secara eksternal, di Yogyakarta dan sekitarnya tidak lagi ada tobong (panggung permanen) ketoprak seperti pada era 1960-1980-an.

Pada era tersebut kita bisa menyebut beberapa grup ketoprak yang nobong, antara lain, Ringin Dahana, Kridha Mardi, Sapta Mandala, PS Bayu Gito-Gati dan Sinar Mataram, serta Padmanaba. Akhir 1980-an, Ketoprak Surya Budaya pimpinan aktor Widayat main di Panggung bekas THR (sekarang Purawisata), namun tidak setiap hari.

Hilangnya tobong ketoprak menjadikan para pelaku ketoprak kehilangan media untuk berekspresi, sedangkan para pelaku muda ketoprak kehilangan peluang untuk belajar dan praktik langsung. Harus diakui, tobong ketoprak merupakan "universitas" sekaligus pasar. Di sini, orang digodok kemampuannya sekaligus "menjual" jasa kreatifnya.

Media lain yang hilang adalah tradisi ketoprak di TV. Waktu itu, TVRI Stasiun Yogyakarta aktif memproduksi acara ketoprak yang mampu menyerap para pelaku ketoprak.

Sedangkan faktor internal, lebih terkait dengan tradisi dunia ketoprak itu sendiri yang menggunakan sistem bintang atau pemain yang sudah jadi. Orientasi pada hasil dan bukan pada proses ini juga disebabkan tradisi komersial tanggapan (undangan main). Memasang pemain-pemain muda dianggap pilihan yang riskan. Jika hasilnya kurang memuaskan, si penanggap akan kecewa. Kini, ketika belum ada media panggung yang secara permanen menyajikan ketoprak, tradisi festival diharapkan bisa melakukan regenerasi.

Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini sengaja dikemas dalam format sebuah kethoprak garapan, agar diharapkan mampu melahirkan format pemanggungan kethoprak yang lebih baik.

Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini, berbeda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya, peserta dipilih oleh pihak Pemkab/Pemkot yang ada, namun tahun ini peserta lomba melalui tahapan festival antar kecamatan dahulu. Setelah mampu dilolos ditingkat Kabupaten/Kota, peserta yang juara maju untuk mewakili di tingkat propinsi. Ide ini muncul, sebagi upaya untuk mencari bibit-bibit baru dan usaha menjawab persoalan regenerasi kethoprak di DIY.

Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008, direncanakan akan dimulai 18 November 2008, dan berkahir pada 20 November 2008, dan bertempat di Gedung Societed, Taman Budaya Yogyakarta. Acara dimulai pukul 20.00 WIB sampai dengan selesai.

Dalam pelaksanaan Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008 ini, Pihak Taman Budaya Yogyakarta, selaku panitya pelaksana, sengaja menghadirkan nara sumber Bondan Nusantara, M. Sugiharto, Mardjijo, Drs. Untung Mulyono, dan Y. Subowo. Adapun dewan juri yang akan menilai nanti Ign. Wahono (Seniman Kethoprak), Indra Tranggono (Budayawan), Drs. Trustho, M.Hum (Seniman Karawitan), Nanang Arizona, S.Sn (Dosen ISI), Hanindawan (Teaterwan Solo).

 

 

Salam Budaya

 

Stage Manager

Festival Kethoprak Antar Kabupaten dan Kota 2008

Agus Setiawan (085228014565)

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: