28 November 2008

[ac-i] SASTRA INDONESIA, SKENARIO IMPERIALISME, dan sastra pornografi

SASTRA INDONESIA DAN SKENARIO IMPERIALISME
pks-jogja.org | Sastra | MIS | 2007-08-13 | Sudah dibaca : 361 kali

Sastra Indonesia dalam Skenario Imperialisme
Oleh: Mahdiduri

Penyair dan ketua KSI Banten
(Republika, Senin, 23 Juli 2007, hlm. A-8)

Nasionalisme humanis dibangun atas dasar prinsip, setiap bangsa mampu memberikan sumbangan dalam menegakkan harkat dan martabat manusia, serta untuk pengembangan nilai-nilai humanisme sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat bangsa itu.

Tidak hanya paham kebebasan, keadilan dan kesetaraan, tetapi paham toleransi adalah hal yang perlu mendapat perhatian dalam tata pergaulan internasional. Nasionalisme yang berlandaskan pada toleransi tidak hanya dapat menciptakan perdamaian dunia, tetapi dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Demikian gagasan nasionalisme humanis dari seorang Soekarno.

Pada saat ini nasionalisme bangsa kita tengah dirongrong oleh kekuatan besar dari Barat yang kita kenal sebagai imperialisme. Kita telah didikte bagaimana bernegara, begitu banyak kebijakan-kebijakan yang seharusnya berpihak pada rakyat telah disulap menjadi keuntungan para pemodal besar.
Sejak kebijakan penanaman modal asing ditetapkan pada tahun 1967, segala sendi kehidupan berbangsa menjadi incaran penjajahan mereka, tak terkecuali kebudayaan. Kita telah diberi fatamorgana budaya yang membuat kita merasa nyaman. Pada sektor budaya ada sebuah skenario besar yang sedang dijalankan lewat agen-agen yang sengaja ditanamkan di negeri ini dengan memakai wajah kesenian.

Dalam skenarionya, pihak imperialis menyadari bahwa saat ini sangat tidak mungkin untuk memaksakan kehendak dengan jalan menginvasi sebuah negara lewat militerisme (walaupun hal itu sedang dilakukan di wilayah Timur Tengah). Maka, strateginya melalui protectorate atau mandate dan targetnya adalah menghancurkan tatanan politik, sosial, dan moral rakyat, agar memeluk nilai-nilai kaum imperialis.

Pada imperialisasi kebudayaan, kaum imperialis berencana menguasai jiwa (de geest) dari bangsa lain, karena dalam kebudayaan terletak jiwa suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, maka berubahlah jiwa bangsa itu. Kaum imperialis hendak melenyapkan kebudayaan suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan kaum imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti menguasai segala-galanya dari bangsa itu.

Imperialisme kebudayaan itu adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.

Ada indikasi yang sangat kuat bahwa imperialisme budaya dewasa ini sedang tumbuh dalam sastra Indonesia kontemporer, terutama melalui fiksi-fiksi seksual-liberal karya para penulis terkini yang sebagian berasal dari Komunitas Utan Kayu (KUK). Seks sebagai tema primer karya-karya mereka, terutama karya-karya Ayu Utami, adalah "panser ideologi" yang dipaksakan masuk untuk menumbuhkan imperialisme budaya itu.

Mereka telah mendewakan nilai-nilai estetis sebagai sebuah pencapaian karya adiluhung, tanpa memperhitungkan nasionalisme dan moralitas generasi bangsa ini. Betapa tidak, kebebasan membicarakan seks (gerakan-gerakan seks) yang termaktub dalam karya-karya mereka hanya dimiliki oleh kebudayaan Barat. Sama sekali tidak mencerminkan kepribadian Indonesia.
Kearifan lokal kita lebih menghormati hak individu dalam bersenggama dan lebih halus pengungkapannya. Pembicaraan (konsultasi) seks dilakukan pada pihak tertentu saja: suami-istri, dokter, konselor rumah tangga. Tidak diumbar kemana-mana, apalagi dipublikasi secara luas lewat buku dan media massa.

Sebagai komunitas intelektual, KUK sebenarnya mampu menyerap sumber inspirasi dari kebudayaan lokal, seks sekalipun. Tetapi, lewat karya-karya Ayu Utami, TUK malah menyajikan seks ala Barat yang liberal dalam upaya menarik simpati pemodal besar kaum imperalis. Seperti halnya Dante lewat karyanya, La Divina Comedia, yang terinspirasi Isra Mi'raj nabi Muhammad (berisi penghinaan), kaum imperialis telah menggunakan sastra dan film sebagai propaganda ideologi mereka.

Beragam politik kesenian pun mereka jalankan, seperti disinyalir dalam tulisan Viddy A Daery (Gerakan Sastra Anti Neo-Liberalisme) bahwa KUK mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai daerah, sebagai bagian dari "gerakan politik sastra" untuk liberalisasi. Dalam kaitan ini KUK juga berupaya merebut kursi-kursi strategis di bidang sastra, seperti menguasai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Wowok Hesti Prabowo dan Maman S Mahayana malah meledek bahwa DKJ sekarang telah menjadi cabang KUK. Ada kabar, DKJ tahun ini membantu dana besar untuk pelaksanaan program rutin KUK, yakni Utan Kayu International Literary Biennale 2008, dengan mengorbankan program Komite Sastra DKJ sendiri.

Sementara, acara besar Pekan Presiden Penyair (PPP) yang pekan lalu diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu (YPM) di TIM, sama sekali tidak mendapat bantuan DKJ. Menurut ketua YPM Asrizal Nur, panitia PPP bahkan cenderung dipersulit untuk menyewa tempat di TIM. Ketua Masyarakat Sastra Jakarta, Slamet Rahardjo Rais, juga sempat mengeluhkan program Komite Sastra DKJ yang tidak menyentuh komunitas sastra di Jakarta yang seharusnya menjadi sasaran program DKJ. Kenyataannya, Komite Sastra DKJ periode ini memang hanya mengadakan acara rutin kecil-kecilan, yakni Lampion Sastra, yang sesungguhnya cukup dilaksanakan oleh sanggar sastra atau lembaga mahasiswa -- alias 'bukan level' DKJ.

Saya rasa pendirian komunitas cabang KUK atau TUK di daerah-daerah juga adalah skenario lain untuk merekrut penganut-penganut baru yang akan patuh pada kehendak sang imperialis dalam mendikte kebutuhan sastra ke depan. Dan, penguasaan posisi stategis dalam lembaga kesenian, disinyalir adalah upaya untuk memperkuat finansial organisasi terkait dengan berkurangnya pasokan dana dari luar (subsidi silang), dengan bukti kasus bantuan dana DKJ untuk biennale KUK di atas.

Melalui novel dan esei-eseinya di X-Magazine, aktifis KUK Ayu Utami pun mengumbar tubuhnya sendiri ke khalayak ramai tanpa rasa malu. Ini adalah keprihatinan terdalam bagi kaum perempuan! Eksploitasi tubuh atas nama eksplorasi estetis telah dijadikan tameng dalam memunculkan sastra gaya rambut belah tengah -- sebuah feminisme sastra liberal yang menyesatkan!
Terkadang rasa penasaran menghinggapi tatkala melihat sepak terjang para perempuan yang tak segan-segan memperagakan gerakan seks mereka sendiri lewat kata. Jadi, apa perbedaan fiksi-fiksi seksual mereka dengan layanan seks premium call 0809? Apakah mereka merasa lebih berderajat karena berada di jalur sastra?

Memang, fiksi seksual tidak hanya ditulis oleh orang-orang KUK, tapi juga penulis di luar KUK, seperti Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat dan Mariana Amirudin, serta Henny Purnamasari. Namun, karya-karya mereka muncul setelah novel Saman karya Ayu Utami mendapat sambutan banyak kalangan dan laris di pasaran.

Keteguhan seorang Jane Austen menggali peristiwa lokal sebagai sumber inspirasinya patut digugu dan ditiru, bagaimana dia konsisten mewartakan lewat sastra perihal kehidupan perempuan di masanya yang menjadi korban pergerakan industri. Walaupun banyak dicemooh kalangan kritikus sastra karena tidak peka dengan sejarah besar 'revolusi industri', siapa sangka karya-karyanya abadi, dan bahkan banyak menjadi bahan telaah. Seperti yang diakui oleh Edward W Said, dalam Mansfield Park Jane, tidak buta-buta amat akan kondisi sosial politik yang kental kritik terhadap imperialisme.
Proses kekaryaan Jane mengajarkan pada kita bahwa keabadian karya bukan dilihat dari isu hangat apa yang akan melambungkan popularitas, yang sifatnya sementara. Melainkan keteguhan hati dalam mewartakan apa yang menjadi tuntutan rakyat pada masanya.

Substansi dari peran kaum intelektual adalah membongkar hegemoni! Hampir semua cendekiawan tempo dulu adalah hasil dari didikan penjajah, tetapi mereka berhasil menempatkan diri agar tidak terjerat menjadi 'intelektual bayaran' yang bisa disetir oleh penjajah. Tapi, ternyata kondisi ideal itu tak berlaku lagi di saat sekarang, semua serba pragmatis dan pesimistis. Kesusateraan Indonesia digadaikan hanya karena keinginan sebuah komunitas untuk menjadi jaya, untuk menjadi yang terbesar.

Legitimasi semu sastra yang ditawarkan pihak pendukung hegemoni atau sentralisasi sastra hanyalah permen yang bisa menghancurkan gigi kesusasteraan Indonesia. Sudah cukup sastra kita didikte oleh satu komunitas atau lembaga kesenian dalam menentukan kebutuhan pasar sastra Indonesia ke depan. Adalah kebodohan jika kita tahu kondisi (permasalahan) lingkungan kita tapi kita sendiri tidak bergerak!

Karena itu, sudah saatnya para sastrawan Indonesia menabuh genderang perang untuk melawan sastra imperialis-liberalis dalam segala bentuknya. Hentikan praktek prostitusi kebudayaan yang akan menelan nasionalisme dan moral kita! Saatnya bergerak dengan apa yang kita bisa! ( )

Kebebasan Berekspresi
Polemik Tanpa Akhir

Oleh Rieni Dwinanda
(Republika, Minggu, 22 Juli 2007)

Kebebasan. Itulah yang tengah dirisaukan oleh penggerak Memo Indonesia. Mereka gusar lantaran kebebasan berekspresinya diusik.
Adalah Mariana Amiruddin, Hudan Hidayat, Rocky Gerung, dan Fadjroel Rachman, yang menyampaikan Memo Indonesia, pekan lalu (12/7). Ini merupakan pernyataan orang-orang seide yang menganggap setiap upaya atas dasar moral, nilai-nilai, atau kekuasaan yang hendak membelenggu kebebasan adalah menghambat kemajuan.

''Kami adalah manusia bebas. Berdaulat atas jiwa dan raga kami. Untuk mencipta kemanusiaan kami sendiri, dalam kebebasan penciptaan tanpa penjajahan,'' demikian petikan Memo Indonesia. Apa gerangan yang memicu Memo Indonesia digulirkan? ''Ini gara-gara pidato kebudayaan Taufiq Ismail yang menyebut sastra yang ditulis generasi muda sebagai sastra mazhab selangkangan (SMS) atau fiksi alat kelamin (FAK),'' jelas Fadjroel, aktivis, penyair, sekaligus esais.

Fadjroel punya alasan ikut mendukung Memo Indonesia. Kini, ia tengah merampungkan novel dengan genre serupa. ''Supaya, begitu terbit, saya sudah punya teman,'' akunya. Pada 20 Desember 2006, Taufiq menyampaikan pidato kebudayaan di Akademi Jakarta dengan tajuk Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka. Budayawan tersebut menyorot kecenderungan penulis fiksi akhir-akhir ini yang dianggapnya suka mencabul-cabulkan karya. ''Budaya malu bangsa kita telah dikikis habis oleh Gerakan Syahwat Merdeka,'' katanya. Taufiq mengatakan ada lebih dari lima aktivis yang melakoninya. Para penulis tersebut disinyalir Taufiq mengusung paham neo-liberalisme dan menjadi bagian dari Gerakan Syahwat Merdeka yang mendapat angin sejak masa reformasi 1997 di Indonesia.

Genre sastra yang dikecam oleh Taufiq itu dicurigai memiliki kaitan erat dengan 11 komponen lain Gerakan Syahwat Merdeka, seperti pabrikan racun nikotin, VCD biru, situs internet porno, penikmat narkoba, dan produsen TV mesum. ''Saya ingin budaya malu kembali ke seluruh jalur kehidupan bangsa kita,'' harapnya.

Fadjroel sempat menyebut genderang yang ditabuh Taufiq sebagai penyulut perang antargenerasi. Tapi, karena tak mungkin menggeneralisasi generasi, ia kemudian meralatnya. ''Kekuatan sosial konservatif tengah beradu dengan kuasa progresif,'' katanya. Tentang bagian-bagian tubuh paling pribadi yang diangkat ke dalam karya sastra, Hudan Hidayat berpendapat hal itu sah-sah saja. Ia sempat melakukan test case terhadap sejumlah anak muda dan orang tua dengan membagikan buku-buku sastra tersebut. ''Ternyata, mereka nyaman saja membacanya,'' katanya.

Hudan yakin masyarakat punya ukuran sendiri-sendiri dalam menilai sesuatu. ''Taufiq tak boleh menghakimi dan memberi cap tertentu terhadap karya sastra tertentu. Dia bukan kritikus sastra,'' imbuhnya. Sejak debat sastra antara Taufiq dengan kelompok Memo Indonesia mencuat, sastra kemudian menjadi perbincangan banyak orang. Bahkan, orang yang tak begitu sering membaca bisa angkat bicara menanggapi serta menambah sengit 'perang' ini. Terlebih, karena nilai moral yang menjadi pertaruhannya.

Kedua kubu itu lantas beradu pendapat lewat kolom-kolom di media massa dan kanal pribadi. Seperti hendak berbalas pantun, satu argumen disusul dengan gagasan lain yang hendak menjawab. Meski begitu, Taufiq tetap pada pendiriannya. ''Kerisauan utama saya tidak direspon langsung. Memo Indonesia telah membelokkan persoalan dari esensi pidato kebudayaan saya,'' sesal Taufiq.

Namun, kritikus sastra Maman S Mahayana melihat polemik yang melibatkan beberapa sastrawan saja itu tak lebih sebagai wacana belaka. Dosen sastra Universitas Indonesia (UI) ini menilai terlalu jauh jika mengaitkan apa yang disampaikan Taufiq dengan prakondisi disahkannya Rancangan Undang-undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi seperti yang dipercaya Fadjroel. ''Kalau tidak setuju, jawab saja lewat karya sastra. Jangan cuma berwacana,'' sarannya.

Setiap orang, lanjut Maman, berhak untuk menilai karya sastra. Penilaian terhadap karya sastra bukan monopoli kritikus. Tak perlu menjadi anggota kelas masyarakat tertentu pula untuk dapat menyuarakan pendapatnya tentang karya sastra. Mereka akan menilai berdasarkan standar norma yang tentu beragam sesuai dengan pemahamannya. ''Siapa saja boleh berbicara, asal tidak memberangus hak orang lain.''

Maman dapat memahami kegusaran Taufiq atas kondisi moral bangsa. Apalagi, kenyataan kehancuran moral yang terjadi di masyarakat jauh lebih gawat ketimbang yang telah tertulis dalam novel atau cerpen. ''Kenyataannya jauh lebih mengerikan,'' katanya.

Maman sepakat sastrawan bebas mengekspresikan dirinya lewat karya sastra. Hanya saja, mereka harus ingat, karya sastra bisa multitafsir. ''Penafsirannya amat tergantung pada pengalaman, pendidikan, ataupun ideologi pembacanya,'' ujarnya.

Saat buku karya sastra dilepas ke publik, bisa sampai ke tangan siapa saja. Terlebih, pasar Indonesia tidak sesigap negara lain dalam melindungi pembaca. "Taufiq hanya berusaha mengetuk kesadaran penulis agar bertutur dengan bahasa yang tidak vulgar,'' kata Maman.

Kondisi pasar yang tak siap tadi, tambah Maman, sejatinya menghadirkan tantangan tersendiri bagi penulis. Mereka diajak untuk menjajal kemampuan mengeksplorasi kata hingga menghasilkan karya populer. ''Penulis sebetulnya dapat menghasilkan karya yang lebih tinggi nilai sastranya jika mengemas tulisannya menjadi indah dengan menggunakan bahasa simbolik.''
Menurut Maman, cara NH Dini, Motinggo Busye, dan Ratih Kumala bertutur soal adegan ranjang bisa menjadi contoh baik cara membincangkan seks di hadapan publik pembaca. Tanpa kata-kata yang vulgar, pembaca tetap mengerti tokoh yang diceritakan sedang berhubungan intim. ''Karya sastra bukan buku pelajaran seks. Juga bukan bukan stensilan esek-esek pinggir jalan. Jadi, tidak perlu vulgar dalam menggambarkan adegan seks,'' katanya.

Meskipun begitu, Maman mengingatkan agar kedua pihak tetap berwacana secara sehat tanpa harus saling memberangus, agar kebenaran yang dicari dapat hadir secara jernih tanpa dilumuri kemarahan dan kebencian.

(reiny dwinanda).


Is demonstration and go to the street the right things to do?

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: