23 November 2008

[ac-i] Rieke Diah Pitaloka dari TITIAN

13.

Perempuan di Sel Bawah Tanah

Rieke Diah Pitaloka

 

 

AKU berada di sebuah ruang pengap dan lembab, di sini Orang-orang, binatang, pohon, rumah, mobil, motor, trotoar ada di atas, di sana.

Tak ada yang mau, tak ada yang berani mendekat, tidak ada yang ingin menjenguk.

Tidak langit tidak matahari tidak bulan tidak bintang tidak ada di sini, tapi di sana.

Ada sedikit angin.

Ada sedikit cahaya.

Di sini.

Tapi sepi lebih luas dari secuil angin atau sejumput cahaya .

Di sini.

Tapi aku tahu aku tidak sendiri.

Di sini.

Ada dengus lain yang keluar dengan irama pedih yang sama.

 

"mari kita bicara biar maut tak jemput dalam sepi"

"berceritalah tentang nama dan mengapa tidak di sana"

 

 

Perempuan 1

 

Aku Mariana, usiaku 14 tahun, hari itu aku berdiri depan rumah, memakai kaos putih satu tali dan rok mini merah jambu.  Tiga orang lelaki di sebrang jalan menatapku dengan mata srigala


"Astagfirullah!" teriak mereka serentak


 

Mereka berlari ke arahku dengan air liur menetes basahi aspal

Masih kecil sudah jadi penggoda, pengrusak iman!"

"Siapa kalian?"

"Kami petugas langit yang ditugasi langit menghukum perempuan-perempuan yang menodai langit

 

Mereka menangkapku, air liur terus menetes tebar amis di sepanjang jalan

 

Karena pakaianku, aku di sini

 

Perempuan 2

 

Aku Latifah, usiaku 25 tahun, aku pramuniaga di sebuah mal.  Shift malam memaksaku berdiri di halte bis.  Sepuluh empatbelas menit, malam itu, lima orang lelaki berpakaian putih-putih mendatatangiku.

 

"Sedang apa kau perempuan?"

"Aku sedang menunggu bis."

"Pendusta! Hampir satu jam kau di sini, pasti kau si penjaja tubuh!"

"Siapa kalian?"

"Kami petugas langit yang di kirim langit untuk bersihkan bumi dari perempuan-perempuan sepertimu Perempuan-perempuan yang mengkhianati langit!"

 

Vaginaku berdarah tinggalkan bercak di baju putih mereka dan mereka menangkapku

 

Karena pekerjaanku, aku di sini

   

 

Perempuan 3

 

Aku Suryati, usiaku 27 tahun.  Berjejal di gerbong kereta api listrik berangkat atau pulang kerja, jadi bagian dari hidup.  Seperti hari-hari kemarin, pagi itu aku berada dalam situasi yang sama.  Tadinya aku pikir hal yang biasa, dalam penuh sesak tubuh terhimpit, apalagi jika masinis menarik rem di stasiun-stasiun persinggahan, semua pasti terdorong ke depan, serentak.  Aku mulai merasa ada yang tidak beres saat sebuah tangan berusaha masuk ke balik rok kerjaku. 

 

"Diam saja," bisikan sentuh cuping telinga, "mari kita mencari kesengan dalam ketidaknyamanan ini."

"Hentikan, atau aku teriak copet dan satu gerbong akan menghajarmu!"

"Perempuan! Jangan pura-pura, aku tahu kau juga menikmatinya."

 

Nafasnya semakin memburu nyalakan api di kepalaku.

 

"Tolong!" kemarahanku tak terbendung, "lelaki ini mengotori tubuhku!"

 

Beratus wajah menatap kami, siap hantarkan tinju pada lelaki itu. 

 

"Perempuan laknat!" lantang balasnya, "jangan percaya, tak mungkin aku begitu, karena aku petugas langit yang dikirim langit.  Perempuan ini yang menggodaku.  Ia sengaja menebar harum dari rambutnya yang basah, memaksaku untuk keluarkan birahi.  Pantatnya menyentuh pelirku, memaksaku mencari kelaminnya!"

 

Beratus pasang mata memukul hatiku, sisakan bilur-bilur di seluruh tubuh.  Mereka biarkan lelaki itu membawaku.    

 

Karena rambutku, aku di sini

 

 

Perempuan 4

 

Aku Rukiyah, usiaku 35 tahun.  Suamiku meninggal tiga tahun lalu.  Sejak itu banyak lelaki yang berusaha melamarku, tapi aku tak ingin menikah lagi.  Gunjingan tetangga hinggap di atap dan menyusup dari pori-pori dinding.

 

 "Hati-hati, jaga lelaki-lelakimu, dia janda muda, tubuhnya masih bisa puaskan lelakimu, lupakan dirimu." 

 

Sejak itu aku merasa lebih nyaman memakai kerudung dan gamis, aku tak suka diperhatikan orang karena tubuhku.  Suatu ketika seorang wali langit datang bersama senja kelima.

 

"Aku ingin kau jadi istri ketigaku."

"Maaf, aku tak bisa menerimamu, cinta telah pergi bersamanya."

"Berkali aku datang, jawabmu tak pernah berubah."

"Maaf, aku tak bisa."

"Kali ini aku tak memaafkanmu, kau sudah menolak penerus perintah langit di bumi, aku akan menghukummu!"

 

Lelaki itu pergi tinggalkan bara di pintu dan jendela. 

Esoknya tujuh orang petugas langit datang.

 

"Perempuan, kau kami tangkap!"

"Atas tuduhan apa? Aku sudah menutup seluruh tubuhku dari pandangan semut sekalipun."

"Tapi kau tak menutup wajahmu.   Senyummu menjerat kaumku dalam khayalan kotor.  Kau tersenyum pada wali langit, namun kau lukai langit."

 

Perempuan-perempuan penggunjing bergerombol di halaman rumah.

 

"Betul tuan, rajam perempuan yang tebar racun dengan senyumnya!"

"Betul tuan, perempuan ini membuat lelaki-lelaki kami tak lagi mau meniduri kami!"

 

Mereka menangkapku.  Seseorang pasangkan borgol di pergelangan tanganku, yang lain meremas payudaraku.

 

Karena bibirku, aku di sini

 

 

Perempuan 5

 

Aku Anisa.  Usiaku 43 tahun.  Sudah sepuluh tahun aku berpakaian tanpa warna, selain hitam.  Kututup bibirku dengan sapu tangan hitam.  Kubungkus jari-jariku dengan sarung tangan hitam.  Tak pernah ada yang berani mengusikku, malam hari sekalipun.  Mungkin aku lebih dianggap bayangan dari pada manusia.  Tapi ternyata tidak semua orang tidak peduli akan keberadaanku.  Seorang lelaki yang tinggal di ujung jalan selalu anggukan kepala jika melihatku.  Tersenyum.  Aku selalu memandang tanah

menghindari tatapannya.  Sebenarnya aku juga membalas senyuman itu, tapi pasti ia tidak tahu, karena bibirku terlindung sapu tangan hitam.  Selalu begitu

 

Suatu siang yang terik tapi lengang, saat aku berada tepat di hadapannya, lelaki itu menarik tubuhku.  Menarik-narik kain hitamku.  Aku tak bisa bersuara, karena tangannya yang lain mencengkram leherku.  Untung saja dua orang lelaki datang.

 

"Hei! Apa yang kau lakukan pada perempuan ini!"

"Siapa kalian?" bentak lelaki itu

"Kami petugas langit!"

  

Lelaki itu lepaskan cengkramannya. 

 

"Tolong aku, tuan," kataku, "dia tiba-tiba menyerangku dan berusaha lepaskan pakaianku."

"Jangan percaya tuan-tuan," aku lihat dua tanduk muncul dari kepalanya, "perempuan ini selalu menggodaku, ia selalu balas senyumanku!"

"Bagaimana kau tahu aku tersenyum padamu, sedang bibirku tak pernah kuperlihatkan pada siapa pun, termasuk kau!"

"Ha, ha, ha….kalian dengar tuan-tuan, perempuan ini menganggap kita bodoh.  Perempuan, tanpa melihat bibirmu pun lelaki tahu, setiap perempuan tersenyum pasti matanya jadi berbinar.  Jadi, biar kau tundukkan kepala saat berpapasan denganku, aku tahu kau tersenyum karena sorot matamu membuat tanah jadi berpendar merah jambu."

"Omong kosong!"

"Perempuan sinting!" kulihat ekor mulai menyembul dari pantatnya, "tuan-tuan, sudah jelas duduk perkaranya,perempuan ini menggodaku lewat sorot matanya, dari kejauhan kedua bola mata itu selalu melihat ke arahku, menelanjangi  tubuhku dan mengajak untuk bercumbu.  Pakaiannya hanya tipuan agar orang tak tahu kalau ia binal!  Coba tuan-tuan tatap saja matanya, kalian juga pasti akan merasakan getaran dari dua mata itu.  Mata itu mengajak setiap lelaki bersetubuh dengannya."

 

Para petugas langit menarik kepalaku.  Memaksaku dongakan wajah, menatap mereka. 

 

"Benar, mata perempuan ini seperti bulan yang ingin memperkosa malam!"

 

Keduanya lalu menangkapku, satu tangan mereka menarik tanganku, satu lagi sibuk memegangi kelamin yang mulai membesar.

 

Karena mataku, aku di sini   

 

Aku, Perempuan 6

 

Aku perempuan  tanpa nama.  Aku perempuan tanpa wajah, tanpa bibir, tanpa mata, tanpa rambut, tanpa tubuh.  Suatu siang di bulan ke enam, sepuluh petugas langit mendatangi rumahku.       

 

"Perempuan! Keluar kau! Kami menangkapmu!"

"Apa alasan kalian?"

"Karena kau bersenandung!"

"Apa salahnya, senandung ini untuk ninabobokan gadis bungsuku."

"Suaramu auratmu! Suaramu mengganggu langit, senandungmu bangunkan penis semua lelaki, termasuk kami!"

 

Bau sperma putuskan gerendel pagar, robohkan tiang-tiang rumah.

 

Karena suaraku, aku di sini

  

Sepi semakin ganas memakan angin, mengusir cahaya. 

 

Dan seuntai tangis dari pojok sel memakan angin

Lalu, berganti teriakan histeris dari pojok yang sama mengusir cahaya

 

Seorang perempuan telanjang bulat menatap kami wajahnya, tubuhnya, berbalut debu dan jelaga, rambutnya kusam, bibirnya lebam, matanya buram.  Ia berhenti berteriak saat aku mendekatinya

 

"Siapa kau? Berceritalah tentang nama dan mengapa kau di sini."

 

Perempuan itu menepis sentuhanku, dan tak bicara.

 

"Bicaralah, biar maut tak datang dalam sepi." 

 

Perempuan itu tak bicara. 

 

Aku menjauh, dan ia mulai menangis lagi, menjerit, berteriak, lalu diam.

 

Kami mendekatinya

Perempuan telanjang bulat itu menatap kami dan mulai tertawa, menangis lagi, lambaikan tangannya ajak kami lebih mendekat.  Ia mulai tersenyum, dan tertawa lagi, dan mulai bicara

 

"Ha ha ha…..Aku perempuan, usiaku he he he seusia perempuan…ha ha ha ha ha…. Petugas langit menangkapku karena mereka laki-laki…ha ha ha ha…. Petugas langit menangkapku karena aku perempuan….ha ha ha ha

 

Perempuan gila itu terus tertawa sampai terpingkal-pingkal, sambil berguling-guling, lalu berhenti, lalu diam, lalu sepi

 

Dan sepi semakin luas, memakan angin, mengusir cahaya

 

Perempuan 1 berbisik:

"sst, perempuan ini pasti perempuan gila yang diceritakan penjaga, ia lukai tiga petugas langit sampai hampir mati saat menangkapnya."

 

Perempuan telanjang bulat itu menangis lagi gerogoti sepi

 

Perempuan telanjang bulat itu tertawa lagi

sampai

Perempuan Mariana ikut tertawa

Perempuan Latifah ikut tertawa

Perempuan Suryati ikut tertawa

Perempuan Rukiyah ikut tertawa

Perempuan Anisa ikut tertawa

Sampai aku juga ikut tertawa

 

Dan kami tertawa terus tertawa sampai sepi tak lagi sepi

Dan kami tertawa terus tertawa sampai sepi pun ikut tertawa

dan kami menyambut maut tidak dalam sepi

dan langit pun ikut tertawa***

 

Kukusan, 070506

Sabtu, 19:33

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: