23 November 2008

[ac-i] Re: [media-jabar] Wisata Masa Silam di Manglayang

 
----- Original Message -----
Sent: Sunday, November 23, 2008 1:46 AM
Subject: [media-jabar] Wisata Masa Silam di Manglayang

Wisata Masa Silam di Manglayang

Wahana untuk bermain dan mengenal budaya Sunda. Tak kalah asyik dibanding permainan modern di mal.
Tak, tek, tok, dung, dung / Tok, tok, dung, dung…. Suara lodang ditimpali pukulan kendang memecah kesunyian sore itu. Lupakan soal lagu, tak usah peduli soal irama, pokoknya main, dan ramai. Pemukul lodang, alat musik yang terbuat dari bambu, juga pemain kendang, boleh cengengesan sambil mempertontonkan giginya. Tak usah takut salah, yang penting happy.
Kok, main musik tanpa aturan? Itulah asyiknya main di Kampung Seni dan Wisata Manglayang, Bandung. Jika alat musik lodang tak sedang dimainkan oleh awak grup yang sebenarnya, pengunjung boleh menabuh sepuasnya. Anak-anak boleh memilih ruas bambu mana yang akan dipukul, begitu juga orang tuanya. Kalau capek, tak usah khawatir, banyak saung yang bisa dipakai beristirahat. Menyelonjorkan kaki, menikmati semilir angin.
Kampung Seni dan Wisata Manglayang berada di kawasan Bukit Manglayang, tepatnya di Kampung Ciborelang, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Keberadaan area seluas hampir dua hektare ini diawaki sepasang sarjana seni, yakni Kawi dan Ria Dewi Fajaria. Hasil ide pasangan suami-istri ini mulai diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan pada akhir Agustus 2007. "Butuh waktu dua tahun untuk menyiapkannya," kata Kawi, 49 tahun, kepada Tempo. "Dulu kawasan ini kebun terpencil."
Selain lodang, ada beragam permainan lain yang disediakan di kampung wisata ini. Misalnya permainan naik egrang, yakni berjalan sambil naik potongan bambu dengan pijakan kaki berketinggian sekitar setengah meter di atas tanah. Terlihat sederhana, tapi mesti berhati-hati. Saat satu kaki melangkah, kaki satunya lagi harus menahan keseimbangan supaya tidak jatuh.
Permainan bedil-bedilan lain lagi. Untuk memainkan permainan zaman baheula ini, pengunjung mesti menyiapkan kertas basah sebagai peluru. Kertas basah diremas-remas hingga bulat, lalu dimasukkan ke potongan bambu kecil, terus disodok ke dalam. Jika peluru pertama sudah ada di ujung bambu, siapkan peluru kedua dari bahan yang sama, lalu disodok lagi. Tekanan udara di dalam bambu akibat sodokan peluru kedua akan membuat peluru pertama lepas ke udara. Dor! Lawan yang tubuhnya terkena peluru boleh berpura-pura terguling sambil menahan sakit, atau berpura-pura mati.
Bagi anak-anak yang mau main gasing kayu atau bermain karet gelang, permainan ini juga tersedia. Saling patok gasing atau melompati tali karet laiknya bermain loncat tinggi tak kalah asyiknya. Ingin memegang dan memainkan wayang golek, ayo aja. Si Cepot, salah satu tokoh kesohor wayang ini, pasti tak akan marah.
Nurdin, 38 tahun, salah seorang pengunjung, merasa senang membawa putrinya, Humaira, 7 tahun, ke Kampung Seni Manglayang. "Di sini anak saya bisa mencoba beragam permainan tradisional yang makin sulit ditemukan," katanya. Maklum, anak-anak sekarang lebih betah bermain PlayStation, Nintendo, atau bermain di kawasan permainan modern, seperti TimeZone, yang banyak bertebaran di mal besar.
Memainkan alat musik tradisional, juga permainan tradisional, hanya salah satu bagian dari sajian Kampung Seni dan Wisata Manglayang. Di sini pengunjung berkesempatan mengenal budaya Sunda, termasuk rumah adat dan kelengkapannya. Di area yang ditanami beragam pohon, seperti tangkil, lengkeng, bambu tali, asam, dan peuteuy, itu terpacak tegak sejumlah rumah panggung dengan dinding bambu dan beratap rumbia. Untuk melongok nama dan isi rumah, pengunjung tinggal menelusuri jalan setapak dengan undak-undakan yang tertata rapi.
Saung Kamonesan, sekadar contoh, dibangun dua tingkat. Di dalamnya tersimpan benda-benda menarik, seperti topeng dan wayang golek. Sedangkan di Saung Wreti tersimpan perabot rumah tangga, seperti gentong, kentongan, dan caping. Bagi mereka yang ingin melihat tempat penyimpanan padi, datangi saja leuit alias lumbung padi. Jika hendak mengetahui seperti apa bentuk lesung kayu yang biasa dipakai menumbuk padi menjadi beras, pengunjung bisa menengok Saung Lisung.
Mengobrol sembari menikmati pemandangan hamparan padi di sawah bisa dilakukan di Saung Binangkit, semacam teras bagi rumah kebanyakan. Jika azan berkumandang dan pengunjung ingin salat, tak usah repot-repot, datang saja ke bangunan tajug (musala). Di sela-sela saung dan beragam pepohonan, pemilik kampung seni juga membangun sejumlah kolam ikan. Juga ada tempat duduk dari tembok batu tanpa diplester sehingga terlihat artistik, lengkap dengan meja bundar dari bahan serupa.
Selanjutnya, jika penasaran ingin tahu seperti apa bangunan khusus untuk memelihara manuk alias burung dan domba lengkap dengan rak tempat rumput, pelototi saja kandang manuk dan kandang domba di sana. Jika capek setelah muter-muter, selain beristirahat di saung, pengunjung bisa membeli beragam makanan dan minuman di Saung Tamba Hanaang.
Namanya berada di kampung seni dan wisata Sunda, nama saung dan pengumuman di kawasan ini ditulis dalam bahasa Sunda. Jadwal pertunjukan rutin juga ditorehkan dalam bahasa Sunda.
Pada malam Minggu, kampung seni ini memang rutin menyajikan beragam pertunjukan. Pekan pertama pertunjukan wayang golek, kedua seni benjang, ketiga ketuk tilu, dan pekan keempat warna-warni, seni tradisional dan modern ditampilkan, misalnya pop Sunda. Acara digelar dari pukul delapan hingga tengah malam.
Pertunjukan tersebut rata-rata diawaki oleh warga yang tinggal di sekitar kampung seni. Itulah cara Kawi menghidupkan seni di area yang dibangunnya. Heri, 19 tahun, dan Rahmat, 18 tahun, adalah dua pemuda Ciborelang yang rutin memainkan lodang, seni reak, dan gamelan di situ. "Lumayan untuk mengisi waktu, daripada diam di rumah," kata Heri. DWI WIYANA
Lahir dari Mimpi Kawi
Ide awal pembentukan kampung wisata dan seni itu, menurut Kawi, bermula dari kegelisahan dirinya sebagai seniman. "Saya lihat minat dan kepedulian orang terhadap seni dan tradisi Sunda mulai menurun. Untuk itulah saya tertantang untuk membikin kampung seni ini," katanya.
Rupanya, ide Kawi dan istrinya, Ria Dewi Fajaria, sesuai dengan rencana pemerintah daerah setempat. Walhasil, melalui Bupati Bandung Obar Sobarna, akhirnya pemerintah daerah memberikan bantuan berupa fasilitas jalan penghubung ke kampung seni. "Pak Bupati juga membantu peralatan gamelan pencak," Kawi mengungkapkan.
Lebih setahun berjalan dan terus-menerus menata isinya, Kawi tidak percaya ia bisa menjaga agar kampung dan aktivitasnya terus berjalan. Sebab, jika sekarang dihitung, fulus untuk membangun kawasan ini diperkirakan sudah lebih dari Rp 1 miliar. "Saya juga merinding, tak pernah membayangkan bisa punya uang sebesar itu," kata bapak dua anak ini sembari tertawa. Apalagi pengunjung kebanyakan tak dikenai biaya alias gratis, kecuali paket untuk anak sekolah. "Kalau kunjungan anak sekolah, saya minta pihak sekolah membayari siswanya," kata Kawi.
Untuk keperluan mereka, Kawi dan kawan-kawan menyiapkan paket berisi tujuh cabang kesenian, seperti seni bela diri benjang, reak (dari kata reog dan surak atau surak surai), marawis, dan outbound. Duit juga didapat jika ada pihak luar yang menyewa dan memanfaatkan area kampung seni. Maklum, biaya operasionalnya Rp 7 juta sebulan.
Laiknya seorang seniman, dosen jurusan tari di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, ini mengaku mengawali semuanya dengan apa yang ada saat itu. Seperti saat membuat karya, kata Kawi, "Saya tak memikirkan apa-apa, yang penting apa yang ada dijalankan, ya, jalan saja," ujarnya. Ternyata, usahanya tak sia-sia. Kampung seni dan wisata berkembang seperti sekarang.
Selama menekuni dunia seni, Kawi telah menciptakan lebih dari 10 karya koreografi, seperti Wang-Ko-Ya, Air Kehidupan, Bangsa Menak, Arya Kemuning, dan Reak. "Seni pertunjukan reak bahkan sempat ditampilkan di ajang Festival Folklore Asia 2006 di Beijing," katanya dengan mata berbinar.
Mengajar dan terus berkarya membuat Kawi bisa menyisihkan duit untuk meneruskan obsesinya mengembangkan kampung seni. Kata kuncinya, kata pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat, ini, adalah "Saya sehat, maka semua akan bisa terus berlanjut."
Salah satu obsesi yang belum beres digapai adalah menyelenggarakan secara rutin paket kegiatan petani, dari membajak, menanam, hingga memanen padi. Alasannya, air di kawasan itu mulai berkurang lantaran mata air Cihampelas di kawasan Manglayang mulai dikuasai pihak swasta menjadi bahan baku air minum. Selain menyulitkan bagi kampung seni, pasokan air yang berkurang juga merepotkan warga sekitar.
Soal pasokan air yang bermasalah itu pula yang menyebabkan Kawi belum bisa optimal membuat dan mengisi kolam-kolam ikannya. "Saya ingin menjadikan kolam sebagai media pembelajaran bagi pengunjung, terutama anak-anak, tapi terbentur soal pasokan air," ujarnya dengan nada prihatin.
Andai saja pasokan air tak bermasalah, suguhan seni dan wisata di Kampung Seni Manglayang pasti lebih lengkap dan seru. Anak-anak bisa bermain, sementara orang tua bisa menerbangkan angannya dan bernostalgia mengingat indahnya masa kecil. Asyik bermain di sawah, memelototi ikan yang berlarian di kolam, bermain egrang, menonton wayang golek, atau bermain lodang. DWI WIYANA
 
   Salam
Abdul Rohim

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: