30 November 2008

[ac-i] puisi sebelum prosa (dari blognya pabrik tenan)

Puisi, Sebelum Prosa

by Nuruddin Asyhadie

katakataDengan mengulang kembali diktum Gunawan Muhammad bahwa seorang penyair yang baik mestilah penulis prosa yang baik, lewat sebuah esei berjudul "Prosa, Sebelum Puisi", Nirwan Dewanto berusaha mengkritisi permainan bahasa dalam puisi mutakhir Indonesia
. Bagi Nirwan, puisi-puisi itu begitu rapuh dan tumpul, meski tampak gagah dan eksentrik, berlebihan dalam penggunaan kata dan tak cermat dalam menyusun kalimat dan tanda baca.

Hipotesa ini kemudian diverifikasi dengan kegagalan para penyair itu dalam membangun argumen dan menarik kesimpulan ketika mereka menulis prosa, namun justru mekanisme verifikasi puisi dengan hal di luar dirinya inilah yang membuat tulisan Nirwan menjadi begitu problematik. Pertama, mengapa ekonomi bahasa (puisi) musti hemat atau tersuling? Kedua, mengapa ia musti benar dan tepat? Ketiga, mengapa ia harus logis (apapun bentuk logika yang dianut atau disodorkannya)?

Penaikan prosa atas puisi yang dilakukan dalam "Prosa, Sebelum Puisi" menunjukan pada kita bahwa bagi Nirwan Dewanto, bahasa adalah sebuah alat untuk mengutarakan gagasan, sepotong pakaian bagi akal, sebuah produk dari keterjagaan.

Dari sanalah maka terdapat tulisan yang baik dan yang buruk, benar dan salah, sebab akallah yang memiliki baik dan buruk, benar dan salah. Akal adalah sebuah dunia totaliter dan tertutup. Ia bersumber dari Aku dan kembali ke Aku. Tidak ada yang di luar diri-Ku, Yang Lain tak lebih tak bukan adalah alter ego-Ku. Dalam dunia seperti ini sistem yang berlaku adalah pemutusan, inklusi-eksklusi.

Pernahkah menulis menjadi operasi yang demikian rigid? Jika demikian mengapa dalam setiap tulisan atau secara lebih luas, dalam setiap teks, selalu terdapat retakan? mengapa setiap kali menulis orang tak pernah berhasil sampai pada tujuan yang ditetapkannya dan hanya menemui suatu "kegagalan yang indah"?

Saya teringat pada sebuah pernyataan dalam Phaedrus: "Writing is at once mnemotechnique and the power of forgeting." Menulis adalah teknik hafalan atau apa yang disebut oleh Milan Kundera sebagai "perjuangan melawan kealpaan", tetapi juga sekaligus kealpaan itu sendiri. Itulah sebabnya maka sebuah tulisan, seperti yang disadari oleh Budi Darma saat menulis Olenka, selalu mengalami pelanturan.

"Prosa, Sebelum Puisi" sendiri merupakan sebuah contoh konkrit dari hal itu. Bagaimana sebuah tulisan yang mengagul-agulkan logika, keruntutan, dan ketepatan berpikir, yang dengan demikian juga berbahasa, justru gagal menampilkan diri sebagaimana yang ingin diajukannya. Semisal, ketika Nirwan Dewanto menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri mengenai puisi modern dunia akhir Abad 19, yang anti naratif, yang bebas dari argumen, dan diksi yang lebih menekankan irama tinimbang makna, bukannya membuktikan bahwa sajak-sajak itu sesungguhnya merupakan sajak-sajak yang lemah, atau berusaha menunjukan bahwa pun dalam puisi-puisi seperti itu terdapat sebuah logika tertentu, ada sebuah ketepatan, atau keruntutan berpikir atau berbahasa tertentu, jawaban yang diberikan lebih merupakan sebuah elakan.

Lebih menyedihkan lagi, pengelakan tersebut kemudian disusul dengan sebuah seruan agar kita ingat bahwa bahasa ada sebelum penyair, dan penyair tak dapat bergerak bebas tanpa tunduk kepada logika bahasa itu sendiri, pada gramatikanya, yang mengalami kontradiksi dalam dirinya sendiri.

Apakah artinya "penyair tak dapat bergerak bebas tanpa tunduk kepada logika bahasa itu sendiri, pada gramatikanya", bagaimana mungkin ketertundukan menjadi syarat bagi kebebasan? Kalimat ini sungguh merupakan kalimat tak bermakna.

Pun jika yang dimaksud di sana adalah semacam arche writing Derrida atau psikoanalisa Lacanian (yang berpendapat bahwa "Aku" adalah konstruksi bahasa yang ditanamkan pada fase cermin), Nirwan telah melupakan satu hal, yaitu bahasa sebagai sebuah sistem yang arbitrer, bukan absolut.

Contoh lainnya adalah ketika Nirwan menjawab persoalan automatic writing yang dipraktekan oleh para penyair Surealis Prancis, ia menyatakan: "Saya tak percaya kepada penulisan otomatis." Kalimat ini kemudian disusul dengan: "Tapi saya percaya…" Tidak ada argumentasi di sana. Penjelasan akan apa yang dipercayainya, tidak bisa begitu saja dipandang sebagai sebuah argumentasi atau memiliki hubungan kausalitas. Di dalam logika, peristiwa yang sebelumnya, tidak serta merta merupakan sebab dari yang kemudian, dan yang kemudian tak serta merta merupakan akibat dari yang sebelumnya. Jelaslah dalam masalah ini Nirwan mengalami sebuah sesat pikir.

Apakah dengan demikian Nirwan Dewanto adalah penulis prosa yang buruk? Yang karena ia juga menulis puisi, maka ia adalah juga penyair yang buruk?

Dalam bangun pikir "Prosa, Sebelum Puisi", jawabannya adalah ya, tetapi jika menulis adalah perjuangan melawan kealpaan sekaligus kealpaan itu sendiri, jika menulis adalah proses pelanturan, jawabannya adalah tidak. Dalam tulisan sebagai tegangan antara ingatan dan kealpaan, hal itu menjadi sesuatu yang tak terpikirkan. Tulisan kini berada di seberang baik dan buruk. Amoral.

Pelanturan dalam tulisan menunjukan bahwa motif pertama dalam menulis adalah hasrat, bukan akal. Hasrat, mengacu pada pendapat Rousseau dalam "Essay on the Origin of Languages", merupakan ibu dari tindak metaforik, artinya sebuah tindak transegeresi terus menerus, melompat dari satu hal ke hal lainnya, tanpa pernah memikirkan tujuan akhir atau merindukan kembali bilik rumahnya yang hangat. Tindak metaforik secara esensial merupakan bentuk dari puisi. Tindak metaforik adalah tindak puitik.

Oleh sebab itu dalam dunia puitik, yang dipertaruhkan bukanlah rumusan benar dan salah, baik dan buruk, melainkan kemampuan seseorang untuk menghubungkan setiap tanda. Seorang jenius, sebagaimana yang dikatakan oleh Aristoteles, adalah orang yang mampu menemukan hubungan dalam fenomena-fenomena yang ada, bahkan fenomena yang tak berhubungan sekalipun.

Pertaruhan ini tak terbatas pada penyair dan pengarang, tetapi juga kritikus. Kritikus di sini bukan lagi seorang abdi sekaligus penguasa yang menentukan kelayakan hidup sebuah karya. Ia tak lagi seorang hakim yang mengetukan palunya untuk kemudian menyatakan mana yang menang dan mana yang kalah, mana yang bebas dan mana yang musti tewas terpenggal jilotin. Sebagaimana penyair dan pengarang, kini kritikus adalah seorang alkemis, nomad, Abraham, yang mengembara oleh sapaan hasrat. Bukan seorang pemalas, yang terkungkung dalam tempurung ingatan kolektif, sehingga saat ia melihat sekuntum bunga teratai ia langsung menghubungkannya dengan Shidarta Gautama, seakan-akan teratai sama dengan Shidarta sama dengan kesucian sama dengan keilahiaan. Ia tak peduli ketika teratai itu justru meludahi langit, dan tenggelam dalam kejatuhan. Ia tak peduli akan keberadaan sebuah teratai lain: Lotopaga, teratai-teratai kealpaan.


___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: