20 November 2008

[ac-i] Pranita Dewi dari TITIAN

 

9.

Gerimis Merelakan Kau Pergi  

Pranita Dewi                                                                                                                                                      

 

 

AMBARAWA, 31 Desember 2003

Gerimis jatuh lagi. Aku selalu teringat hari kemarin saat matahari tiada pernah aku lihat lagi belakangan ini. Dengan rasa gamang aku melepasmu untuk pergi jauh. Aku tak tahu adakah tujuan yang pasti ketika  gerimis yang kulihat bukan gerimis yang dulu lagi? Pada setiap bulirnya tampak  jelmaan langit yang hampir runtuh.

Matahari sudah cukup umur memanasi dunia. Matahari telah lelah dan kini matahari ingin terus-menerus berada di pembaringan agar tak seorang pun dapat melihatnya lagi. Matahari telah bosan untuk memberikan secarik sinar. Semesta gelap dalam gerimis.

Itulah sebabnya Tuhan pun kini mengutus hujan untuk menggantikan matahari itu.  Hujan? Tapi bukan hujan yang kulihat melainkan gerimis yang mengais sepi. Lorong-lorong basah rata dengan tanah. Juga atap-atap rumahku yang bocor. Hingga aku betah untuk menetap di hunian ini. Hunian? Ya, aku kini berada di sebuah ruang entah berukuran berapa untuk mencari jati diriku yang sebenarnya.

Kau yang senantiasa berada di sampingku seolah ingin menyelamatkanku dari dingin malam dengan hangat tubuhmu. Kau kira aku dingin dengan keadaan seperti ini? Tidak, tubuhku tidak dingin, tapi hatiku sekarang mungkin sudah beku. Namun kau  yang berambutkan kelam masih saja ingin menyelamatkanku dari dingin gerimis malam ini. Kau  begitu baik padaku. Aku pun tak tahu apa yang harus kukatakan padamu tentang tubuhku yang sebenarnya? Tubuhku tidak dingin tapi hatiku telah beku oleh ucapanmu kemarin. Kipas angin yang selalu berputar kini diam seolah tak bernyawa. Mati!

Di remang kaca yang biasanya hanya memantulkan satu wajah saja, kini mencerminkan dua wajah. Kau dan aku. Gerimis semakin mencekam. Malam bertambah kelam dengan desahan pohon palem. Kau tertawa lugu. Tapi  tidak! Kau  tidak tertawa namun hanya tersenyum sambil memandangiku. Kau yang bertubuh kekar memakai kaos yang sudah pasti terlalu besar untuk kugunakan. Kurasa setelah hampir setahun aku bersamamu, menjalin hubungan denganmu, dan telah sekian kali menguji cintamu, aku yakin kau adalah laki-laki terakhir bagiku.

Kau akan pergi esok ketika aku tak tahu apakah esok hari akan gerimis atau cerah. Aku tak bisa menduga apa yang akan terjadi esok. Semoga kau tak jadi pergi, itu harapanku dalam hati. Hanya dalam hati karena bibirku tak sanggup meluncurkan  kata-kata yang membuatmu ragu untuk berangkat pergi.

Ini sudah hari kedua aku menginap di tempat ini tapi tidak untuk ketiga karena esok kau akan bergegas untuk meninggalkanku sendiri dalam gerimis. Tak ada lagi yang akan menemaniku, tak ada lagi tubuh yang mencoba untuk menghangatiku dari dingin malam. Ini hari terakhir aku bersamamu karena esok pasti tidak lagi. Kau terlihat sangat bahagia atas kepergian esok, namun itu nestapa bagiku.

Malam ini malam perpisahan. Aku mencoba untuk membuat malam ini betul-betul menjadi malam yang tak terlupakan untukmu, juga untukku. Seraya menikmati lagu yang terus mengalunkan nada-nada sendu, kita asyik berdansa mengiringi semua nyanyian alam. Hanya kita berdua, kau dan aku. Aku tak menghiraukan sedikit pun hal yang terjadi di luar dan aku tak boleh menghiraukan hal itu.

Di ruangan ini hanya ada kau dan aku, bahkan semut pun kurasa sungkan untuk datang bertamu malam ini. Mungkin di luar sedang ada berbagai macam kejadian, ada lalu lintas yang macet, ada kecelakaan, tapi malam ini punya kita. Biarlah kita menikmatinya. Hanya kau dan aku.

Kita saling berpandang tak jemu. Sedetik kemudian aku tak tahu apa yang kau lakukan terhadapku. Tiba-tiba tubuhku telah tergelepar di ranjang, kurasa aku tak akan menyesal melakukan  itu setelah setahun bersamamu. Bukankah malam ini hanya milik kita berdua? Bahkan serangga malam pun tak sanggup mengganggu. Karena aku tahu kau akan pergi esok, kurasa aku harus menghadiahkanmu sesuatu yang sangat berarti bagiku. Aku menghadiahkanmu milikku yang paling berharga setelah setahun aku selalu bersamamu. Esok kau akan pergi.

Malam bertambah dingin. Gerimis masih berjatuhan, walau tadinya tampak terhenti sejenak. Pohon-pohon kedinginan.

"Kita hangat di sini. Namun aku tidak sanggup merasakan penderitaan yang dialami pohon-pohon di luar sana. Kasihan pohon-pohon itu, mereka harus berjuang sendiri untuk melawan dingin dan mereka harus mempertahankan hidup mereka sendiri." Aku mencoba bercakap denganmu, walau aku tahu kita sedang menikmati percintaan  yang belum usai. Kau memelukku erat sambil tersenyum mendengar apa yang aku ucapkan. Mungkin kau selalu memikirkan pertanyaan-pertanyaan lugu yang meluncur dari mulutku.

"Kita adalah mahluk yang beruntung di antara semua mahluk ciptaan-Nya. Namun masih banyak juga manusia yang merasa tidak puas dengan apa yang ia miliki, ia selalu saja menuntut hal yang berlebihan. Bayangkan saja! Kita telah memiliki cukup pakaian untuk melindungkan diri dari dinginnya malam, makanan untuk bertahan hidup dan juga rumah atau tempat tinggal sebagai tempat kita berlindung dari panas dan dingin!"  ujarmu seperti seorang guru di depan kelas.

Kau selalu sabar mengajariku tentang hidup, membimbingku kalau aku sedang bimbang. Itulah sebabnya mengapa aku sangat menyukaimu. Kau adalah sosok yang dewasa. Aku tak tahu mengapa aku masih mempertanyakan hal-hal bodoh semacam itu padahal kita sedang asyik bercinta. Pertanyaan-pertanyaan bodoh macam itu akan menunda percintaan kita. Aku tak ingin menunda percintaan ini. Aku ingin merasakan manisnya cinta malam ini. Biarlah aku merasakan indahnya malam ini sebelum keberangkatanmu esok pagi.

Detik-detik luruh. Sama sekali tak kurasakan penyesalan dalam hidupku. Aku telah membagi tubuhku untuk tubuhmu. Aku mencintaimu, teramat mencintaimu. Itulah yang membulatkan tekadku untuk membagikan sepotong tubuhku, di malam terakhir ini. Karena aku tak tahu kapan kau akan pulang lagi. Aku tak tahu kapan kau akan bersamaku lagi. Ini adalah awal percintaan kita dan sekaligus akhir percintaan kita. Jam-jam telah memutar angkanya sendiri, kita telah satu malam ini. Setelah letih kita mendaki hingga tiba di puncak percintaan, kita sama terlelap entah untuk berapa lama. Kau esok akan pergi walaupun aku ingin kita terlelap bersama untuk selamanya.

Ponselmu berbunyi. Aku kaget dan terbangun. Kau masih pulas, tak berdaya, seperti orang mati. Kau bagai mayat yang siap dimandikan oleh keluargamu. Sesungguhnya aku tak ingin mengganggu tidurmu yang pulas, namun apa boleh buat aku terpaksa membangunkanmu untuk membertitahu bahwa ponselmu berbunyi. Mungkin ada berita penting yang ingin disampaikan seseorang untukmu. Entah apa berita penting itu, aku tak tahu. Untuk menjawab rasa penasaran yang sedari tadi mengganggu pikiranku, aku bergegas membangunkanmu. Dan tiba-tiba saja kelopak mata yang tadi tertutup kini terbuka seperti seorang umat yang menunggu terbitnya sang fajar. Kau bergegas bangun walau agak bingung. Kau menerima telepon genggam itu.

"Iya, ya..Baik. Kalau begitu saya akan secepatnya pergi ke bandara." 

Entah apa yang kau bicarakan dengan orang di seberang, yang jelas sangat darurat.

"Aku harus segera pergi." kau berkata.  Aku bingung,

"Bukankah harusnya kau berangkat esok hari?"

"Kantor manyuruhku untuk mempercepat keberangkatanku. Ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan padamu."

"Tapi saat ini hujan, aku tak rela kau pergi."

"Tak ada yang bisa mencegah kepergianku, bahkan hujan pun tak sanggup untuk membuatku tak pergi. Karena ini keadaan darurat, kantor membutuhkanku."

Dengan berat hati aku melepasmu pergi, gerimis tiba-tiba berhenti. Aku berdoa dalam hati agar kau selamat walau aku tak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Gerimis pun merelakan kau pergi. Aku tak sanggup berbuat apa. Kau telah pergi, tinggal aku sendiri di sebuah ruangan yang entah berukuran berapa. Aku duduk sejenak, mengingat sekejap tentang percintaan kita. Aku pergi ke balik gerimis malam  karena aku tahu sudah tak ada guna lagi aku di sini. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat di ruangan yang sepi ini.

 

**

 Seorang lelaki melipat secarik kertas surat yang telah selesai dibacanya sambil memandangi tubuh jenazah yang baru selesai diotopsi. Dokter mengatakan penyebab kematian wanita cantik itu adalah bunuh diri. Dan yang memiriskan hati adalah wanita bernama Lisa yang baru berusia 20 tahun itu telah berbadan dua. Wanita itu bunuh diri dengan seutas tali di lehernya, meninggalkan secarik kertas yang bukan surat wasiat, melainkan kisah percintaan. Lelaki itu tidak habis mengerti mengapa Lisa nekat mengakhiri hidupnya? Apa hanya karena merasa kesepian, Lisa akhirnya memilih jalan bunuh diri?

**

Wanita itu aku. Dan, lelaki yang kuceritakan dalam surat itu adalah ayah dari bayi yang kukandung.

Malam sangat muram, gerimis jatuh lagi. Kau bergegas pergi dengan langkah sayu menyesali nasib. Gerimis pun merelakan kau pergi. Aku terbaring dalam sunyi di liang bumi.***

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: