07 November 2008

[ac-i] Pameran Mural 12 Kampung,Seni yang Memperlihatkan Gairah Hidup

Sinar Harapan, Kamis, 06 November  2008, http://www.sinarharapan.co.id

Pameran Mural 12 Kampung
Seni yang Memperlihatkan Gairah Hidup

Oleh Yuyuk Sugarman

Yogyakarta - Ada suasana lain di kampung-kampung Kota Yogyakarta. Orang bisa tersenyum saat memasuki areal kampung-kampung tersebut, bahkan cekikikan sekaligus kagum pada lukisan-lukisan maupun tulisan-tulisan yang terpampang di beberapa tembok ataupun papan nama (plang).
da 12 kampung yang memberikan corak lukisan dan tulisan di tembok dan papan nama di wilayahnya. Tengok saja Kampung Badran, atau tepatnya di wilayah Bong Suwung. Di sebuah mulut gang, terlihat lukisan pisang yang ujungnya dikerudungi kondom. Di bawahnya ada tulisan “Ampun Kesupen” (Jangan lupa).
Wilayah Bong Suwung yang dikenal sebagai tempat lokalisasi ini mampu mengubah suasana yang sangar menjadi ceria. Semua ini berkat sentuhan lukisan mural ataupun “petuah-petuah” yang bertebaran di tembok-tembok serta papan nama di mulut-mulut gang.
Demikian pula wajah ramah juga terlihat di Kampung Jogokaryan. Sebuah lukisan yang menunjukkan sosok seniman lawak kondang di Yogya, Susilo Nugroho, tengah naik motor yang lantas diembel-embeli dengan tulisan “Don’t Made to order layatan.”
Masih banyak lagi mural yang unik ataupun lucu muncul di kampung-kampung lain, seperti “Slow
wae bos” (Pelan saja bos), “Ojo lali sinau” (jangan lupa belajar) atau “Saiki urip kudu hemat mbok” (Sekarang ini hidup harus hemat, Bu).
Mural-mural di 12 kampung seperti di Mranggen, Gemblakan, Kepuh dan lain sebagainya inilah yang dipamerkan di Jogja Nasional Museum. Bahkan, Rabu (5/11) malam dikunjungi Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Pada perhelatan pameran mural yang dibuat oleh para seniman kampung setempat dan bahkan ada yang melibatkan WTS ataupun mahasiswa pendatang, juga digelar lukisan mural yang dibuat para seniman tradisional seperti Ki Ledjar Subroto, Bandi maupun Mbah Tjipto Ramayana di jembatan layang Lempuyangan.
Kehadiran mural di berbagai kampung di Yogya itu tak lepas dari usaha Samuel Indratma,
jebolan ISI Yogya. Lelaki yang rambutnya bergaya rasta ini memang dikenal sebagai “nabi mural” yang selalu gregetan jika melihat tembok kosong.
Sam memang berharap Yogya akan menjadi sebuah lahan yang subur untuk tumbuh dan berkembangnya seni mural dan membayangkan akan menjadi pusat mural di tingkat Asia Tenggara. “Tentu akan asyik jika ini terwujud,” tuturnya.
Salah satu pemerhati seni, Romo Budi Subanar, melihat maraknya mural di kampung-kampung
ini dapat dikatakan sebagai satu kekhasan atau keistimewaan masyarakat Yogya. “Proyek Jogja Mural Forum bersama 12 kampung ini telah membangkitkan daya dan gairah hidup bersama di kampung-kampung dan di berbagai ruang publik kota,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan, kita dapat menempatkan inilah makna pembangunan bagi hidup bersama.
Sebab, kata Romo Banar, selama periode Orde Baru, kita pernah mengalami penyeragaman papan nama, atap rumah, cat pagar yang pada akhirnya justru mendikte dan membungkam kekuatan sosial dari bawah.
Romo Banar juga menilai estetika yang muncul dalam proyek ini menunjukkan bahwa seni bukan
lagi sebagai klangenan, juga bukan hanya berhenti pada seni kagunan (kegunaan). “Tapi lebih dari itu, telah masuk wilayah sakti. Seni yang menggerakkan dan memperlihatkan daya dan gairah hidup,” tegasnya.

Memaknai Kehidupan
Sultan Hamengku Buwono X dalam diskusi yang digelar malam itu menilai seni mural ini lebih terbuka sehingga lebih banyak bisa dinikmati masyarakat. “Warga juga bisa memaknai arti kehidupan, sebab di sini juga ada pepeling (petuah–red) yang akan menumbuhkan kembali kearifan lokal yang selama ini mungkin ditinggalkan,” ungkapnya.
Sultan juga berharap mural-mural seperti ini akan tumbuh subur di wilayahnya. Bahkan, ia
berjanji akan membicarakan mural ini dengan para bupati maupun wali kota yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyatakan, semakin banyak seniman ada di sebuah
kota maka masyarakatnya akan lebih maju dan dinamis,” tegas Sultan.
Sultan tak berhenti hanya mendorong seni mural saja, tapi juga seni-seni lainnya untuk bangkit dan bergairah menyemarakkan kehidupan Yogya. Sebab, selama ini yang dilihat masih sangat minim pagelaran seni. “Padahal, Yogya ini dikenal sebagai kota budaya,” kata Sultan lagi. n

    
Copyright © Sinar Harapan 2008 __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: