29 November 2008

[ac-i] Nirwan Dewanto : Diskusi Sastra di BBJ Digugat, Keberadaan Sejarah Sastra Indonesia

Senin, 21 Februari 2000

Diskusi Sastra di BBJ
Digugat, Keberadaan Sejarah Sastra Indonesia

Jakarta, Kompas

Telaah sastra yang mencoba menyapu teks-teks sastra dengan pendekatan umum yang kemudian melahirkan apa yang disebut sejarah sastra, angkatan dalam sastra, dan semacamnya, agaknya perlu ditinjau lagi eksistensinya atau setidaknya perlu dilakukan secara kritis. Telaah semacam itu gagal memperhitungkan kekayaan serba-neka teks sastra yang ada, membikin mainstream pada pihak-pihak tertentu sementara di lain pihak memarginalkan pihak-pihak yang lain. Akhirnya, sejarah sastra lebih menjadi masalah daripada potensi.

Itulah pokok gagasan yang mempertemukan berbagai pemikiran peserta diskusi, dengan pembicara utama Nirwan Dewanto dan Radhar Panca Dahana di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu (19/2) siang. Diskusi membahas buku suntingan Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sastra Indonesia Abad XX (Kepustakaan Populer Gramedia, 2000), beriringan berlangsungnya Pameran dan Bursa Buku Sastra di Bentara Budaya, 17-20 Februari 2000. Pembukaan pameran dan bursa buku ditandai dengan penyerahan 1.000 buku sastra peranakan Cina dari kepustakaan pribadi pencinta sastra sekaligus psikolog Myra Sidharta kepada Bentara Budaya.

Dipandu oleh Nirwan A Arsuka, kedua pembicara, Radhar yang baru pulang dari Perancis maupun Nirwan Dewanto yang baru pulang dari Amerika, sebetulnya sama-sama menggugat signifikansi sejarah sastra (Indonesia).

Radhar memulai uraiannya dari sejak Balai Pustaka didirikan tahun 1908, yang dengan itu muncul standarisasi penggunaan bahasa dalam sastra, yakni dengan bahasa Melayu (tinggi). Dampak standarisasi bahasa ini yang kemudian juga ke masalah tema, plot, hingga misi, telah mengakibatkan terpinggirkannya karya-karya di luar kerangka itu.

Dia tidak mengusulkan penyusunan ulang sejarah sastra, karena katanya, mengutip Voltaire, hanya akan menambah "tableau dari ketololan manusia." Ia mengusulkan pemerkayaan dengan variasi-variasi yang lain, yang diharapkannya akan membantu kita memahami lebih baik kesusastraan kita secara umum, dan pada akhirnya keberadaan kita sendiri sebagai masyarakat maupun perorangan.

Sementara Nirwan Dewanto menyerang kecenderungan penulisan dunia sastra dengan pendekatan diskursif, "meninggi dengan pandangan mata burung: tajam-menukik karena tak berlaku utilitarian terhadap teks."

Ia menyebut banyaknya "budayawan" yang masuk dalam dunia kritik sastra, untuk mengistilahkan mereka yang tak betah membaca serat, teks. "Mereka tak membangun pikiran dari karya sastra, mereka hanya memaksakan pikiran bagaikan tudung-pelindung ke karya sastra," kata Nirwan.

Ketidakbetahan dalam menekuni apa yang disebut oleh Nirwan sebagai "bidang kecil" (teks sastra), nafsu untuk melebur ke "masyarakat luas", dan rasa penting-genting tentang peran diri dalam sejarah, telah membuat kita cuma mendapat "budayawan", bukan pemikir sastra.

"Jangan-jangan bahkan 'pemikiran' itu adalah bentuk tercetak dari omong-omong, obrolan, dan bukan sama sekali pergulatan dengan budaya tulisan," ucap Nirwan.

Diskusi ini cukup menarik perhatian kalangan kesenian. Hadir dalam diskusi antara lain Danarto, Sutardji C Bachri, Hardi, Slamet Sukirnanto, Edy Effendi, Jajang C Noer, Marusya N Abdullah, Tony Prabowo, Adi Munardi, Arahmaiani, Tommy Awuy dan Nelden, F Rahardi, Viddy AD, Hudan Hidayat, Ahmad Sahal. (bre)


Why gasoline's price have to raise? Is there any solustion other than that?

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: