21 November 2008

[ac-i] [Ngayogjazz2008] Jazz Bukan Hanya Milik Kaum Elit

Kamis, 20 November 2008, 16:20 WIB
Jazz Bukan Hanya Milik Kaum Elit
Joko Widiyarso - GudegNet

Anggapan sebagian orang bahwa musik jazz itu elit, eksklusif, dan komersial dibantah dengan keras oleh seniman kontemporer asal Jogja Djaduk Ferianto. Menurutnya, jazz bukan hanya komersial dan repertoir saja, namun merupakan sebuah peristiwa budaya yang menarik.

"Ada anggapan bahwa setiap forum jazz identik dengan komersial, padahal jazz lebih merupakan peristiwa budaya. Citra elit yang melekat pada jazz -ga tau siapa yang memulai- seharusnya tidak ada," kata Djaduk dalam acara jumpa pers Ngayogjazz 2008 di Yogyakarta (20/11).

Menurut Djaduk, stigmatisasi musik jazz yang ekslusif hanya akan mengakibatkan terbatasnya apresiasi terhadap musik yang seharusnya menjadi musik rakyat itu. "Yang ada nanti adalah tiket konser musik jazz mahal dan sedikit penonton," katanya.

Untuk itu, pada tahun 2007 lalu, Djaduk Ferianto bersama Kua Etnika, Wartajazz.com, Bambang Paningron, dan pecinta jazz lain menyelenggarkan sebuah acara jazz Ngayogjazz yang kemas dengan konsep lokal bahkan ndeso yang digelar di kampung.

Menilik pada penyelenggaraan Ngayogjazz 2007 lalu, nuansa lokal yang mengemas acara tersebut dapat mendekatkan seni kepada masyarakat. Masyarakat yang menonton bahkan dapat berinteraksi secara langsung dengan para seniman meski acara sedang dimulai.

"Ngayogjazz itu unik. Kami ingin mendekatkan seni kepada masyarakat. Masyarakat akan berinteraksi dengan seni itu. Itulah yang terjadi pada Ngayogjazz tahun lalu," ujarnya.

Sementara itu Bambang Panigron yang turut andil dalam Ngayogjazz juga berharap dapat menjadikan musik jazz sebagai media interaksi sosial seperti pada sejarah musik jazz dulu. Jazz bukan hanya milik masyarakat tertentu. Jazz itu heretogen.

"Sejarah jazz berawal dari interaksi sosial, untuk itu kami ingin mengembalikan jazz yang sebenarnya adalah heterogen," kata Bambang.

Pada penyelenggaraannya nanti, Ngayogjazz juga akan menampilkan alat musik yang mungkin tidak akan ditemukan di acara jazz lain. "Akan ada instrumen musik non-jazz yang tampil seperti rebana, gejog lesung dll," tambahnya.

Ngayogjazz 2008 "Nja-Jazz Desa Milang Kori" mendatang akan digelar secara unik pada 23 November 2008 mulai pukul 14.00 WIB di Desa wisata Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Pentas musik jazz dengan lima panggung ini akan dilaksanakan di tengah-tengah pemukiman dan di sela-sela penduduk yang sedang melakukan kegiatan sehari-hari. Sejumlah penampilan spontan akan diperagakan layakanya pertama kali permainan musik jazz muncul di benua Amerika. Jazz tidak muncul berupa pertunjukan, tetapi berupa permainan bersama.

Sejumlah seniman musik tanah air akan hadir meramaikan acara gratis ini seperti Rika Roeslan, Eliana Dewi Koko Harsoe & friends (Bali), Zeva (Bandung), Komunitas Mata Hati (Surabaya), Living Room (Jogja) dan Das Smoothly (Jogja) serta tiga perempuan pelanggan tetap NgayogJazz, Trie Utami, Iga Mawarni dan Syaharani dengan grup Fireworks-nya.

Sumber: http://gudeg.net/news/2008/11/3924/Jazz-Bukan-Hanya-Milik-Kaum-Elit.html



Iwan Pribadi
Marketing dan Promosi
Gudeg.Net - Gudang Info Kota Jogja
http://gudeg.net
Jl. Petung No. 31 Papringan
Yogyakarta INDONESIA 55281
telp. +62-274-554444
faks. +62-274-553055
__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: