22 November 2008

[ac-i] jurnal toddopuli:indonesia di koperasi restoran indonesia paris

JURNAL TODDDOPULI:
 
 
 
INDONESIA DI KOPERASI RESTORAN INDONESIA PARIS
 
 
Pada 15 Desember 2008 nanti, Koperasi Restoran Indonesia atau SCOP Fraternité,  yang terletak di jantung ibukota Perancis,  12 rue de Vaugirard,75006 Paris, akan merayakan ultanya yang ke-26.Orang-orang Perancis menyebut Koperasi ini dengan panggilan singkat: "Indonesia". Jika ia seorang anak manusia, maka pada usia 26 tahun ini ia sudah menjadi seorang yang dewasa, walau pun seperti ayah saya almarhum "tidak gampang menjadi dewasa". Usia tidak menandakan seseorag itu telah dewasa.
 
Pengalaman membangun dan mengembangkan koperasi restoran ini adalah pengalaman pergulatan membela harkat dan martabat diri dan Indonesia  "dari tidak ada menjadi ada, dari tidak tahu menjadi tahu". Saya katakan bermula "dari tidak ada  menjadi ada, dari tidak tahu menjadi tahu", karena sebagai orang-orang yang mendirikan dan bekerja di koperasi restoran ini pada awalnya bukanlah orang-orang yang pernah bekerja di dunia perestoranan. Mereka adalah wartawan, penulis, ahli bedah, nsinyur, dokterk, ekonom, dan kejuruan-kejuruan lain yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia bisnis dan restoran. Mereka datang ke Paris untuk mencari tempat suaka pada masa rezim Orba Soerharto mengendalikan Indonesia.  Uang di kocek hanya pas-pasan untuk hidup sehari-hari berasal dari bantuan sementara  pemerintah Perancis kepada para suaka politik sementara memantapkan status mereka. Bukan suatu bantuan permanen. Sementara itu, ijazah-ijazah yang dikantongi dari negeri-negeri lain, setinggi apa pun tidak disetarakan dengan ijazah Perancis, berbeda dengan perlakukan dari orang-orang berkulit putih  yang  datang ke Perancis, lari  dari negeri-negeri Eropa Tilur dan Uni Soviet. Padahal dari segi keterampilan, orang-orang Indonesia pemegang ijazah tidak rendah itu, pasti tidak kalah. [Di sini saya tidak memasuki rincian dan bukti-buktinyanya]. Yang  bisa saya katakan bahwa seorang ahli bedah berijaeah Ph.D dan praktek bertahun-tahun di rumah sakit, hanya dinilai sebagai pembantu jururawat.
 
Dalam keadaan begini, masalah pekerjaan untuk hidup sebagai anak manusia menjadi masalah mendesak dan tidak bisa ditunda-tunda. Dan tentu saja bukan pekerjaan yang tidak stabil. Modal yang dipunyai orang-orang ini hanyalah kepala, kaki dan tangan. Bermodalkan milik satu-satunya  ini, maka ide pun dijual untuk mendapatkan modal guna mendirikan usaha yang disepakati berbentuk koperasi dan restoran. Bentuk koperasi dipilih karena bentuk ini akan menarik simpati banyak orang dan sesuai dengan semangat kebersamaan. Restoran? Karena dengan restoran bisa memberi peluang kerja pada banyak kawan, dan cash-flow [aliran uang tunai --?--]-nya cepat. Dari hasil penjualan ide inilah koperasi restoran dididirikan dan berlangsung sampai sekarang   
 
Sedangkan pengetahuan ketrampilan, didapat melalui praktek , ditambah dengan kursus-kursus singkat mengenai masalah yang diberikan oleh Perhimpunan Koperasi Seluruh Perancis. SCOP Fraternité Koperasi Restoran Indonesia salah satu anggotanya.
 
Pengalaman membangun dan mengembangkan Koperasi Restoran Indonesia di Paris, memberikan saya keyakinan bahwa kemungkinan adalah sebuah pintu terbuka, sebuah cakrawala tanpa batas , bahkan tak obah galaksi bagi para pencari. Bahwa "yang mengetok akan dibuka, yang mencari akan mendapat",  Ketidaktahuan pun menjadi relatif. Dari pengalaman ini dan pengalaman-pengalaman lain di tempat berbeda-bedan , saya  juga  melihat bahwa yang terpenting,pertama-tama adalah manusia. Bukan uang yang pertama-tama. Jika uang ada tapi manusianya brengsek, berapa pun jumlah uang di tangan akan melayang tak menentu.
 
Hal yang barangkali unik juga dibandingkan dengan restoran-restoran lain bahwa sejak awal, sejak berdirnya,  selain sebagai tempat bekerja mencari sesuap nasi di negeri orang, koperasi restoran ini pun sekaligus merupakan sebuah sekolah bagi pekerja-pekerja yang bekerja sambil menyelesaikan sekolah S2 bahkan ada yang mau menyelesaikan  S3 mereka? Mengapa saya katakan sebagai sebuah sekolah? Karena sambil bekerja, anak-anak muda ini diskusi tentang sejarah, politik ,sastra-seni, ekonomi, agama , bahasa, dan lain-lain.... Kalau pengamatan saya benar, maka nampak setelah beberapa saat bekerja di Koperasi, anak-anak muda ini dalam pemikiran, pemahaman dan  kesadaran mengalami banyak perkembangan maju. Dalam cara berpikir mereka lebih kritis. Kalimat-kalimat mereka pun mulai terhitung, termasuk dalam memilih kata.
 
Kecuali itu, untuk mendapatkan dana, Koperasi ini dalam statusnya juga menyebtkan diri sebagai penggiat danmempromosi budaya Indonesia dan Dunia Ketiga. Guna merealisasi ide ini, selain menangani sendiri berbagai pameran foto, lulisan, batik, karya-karya perancang mode Indonesia, pemutaran slide, menggelarkan tari-tarian Indonesia, dan lain-lain... Koperasi juga menggalang kerjasama dengan Travel Agents, Kotapraja dan berbagai LSM serta organisasi yang tertarik pada ide serupa. Hal ini berlangsung sampai sekarang. Sampai detik ini. Berpegang pada ide di statuta pendiriannnya, maka dalam  memperingati 26 tahun berdirnya Koperasi Restoran Indonesia,maka Koperasi bekerjasama dengan Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam",  berencana akan  memenyelenggarakan pameran foto tentangn Indonesia dan bedah buku "l'Indonésie" karya Patrick Blanche [Editions George Naef, Genève, Octobre 2008, 254 hlm]. Buku luks berkulit tebal ini, memperkenalkan Indonesia, terutama pulau-pulau besar tanahair, kecuali Kalimantan. Karya penuh foto dan disertai dengan teks ini ditulis sebagai hasil perjalanan 11 bulan di berbagai pulau Indonesia. Dari Sumatra sampai Papua. Foto-foto Patrick Blanche ini pulalah yang akan dipamerkan di Koperasi pada kesempatan peringatan ulta ke-26 pada 15 Desember 2008 nanti. Diharapkan orang-orang KBRI Paris yang rencananya seperti biasa diundang secara khusus, akan hadir dalam acara ulta ini. Sementara pembicara dari para Indonsianis Perancis masih sedang dipastikan.
 
Dari tuturan di atas, akankah berkelebihan menyebut,  bahwa "Indonesia hadir selama usia Koperasi di Koperasi Restoran Indonesia "Scop Fraternité" di Paris"? Paling tidak demikianlah yang diinginkan dan selalu dicoba diujudkan.****
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
-------------------------------------------------------
JJ. Kusni
 
Catatan
Foto terlampir menunjukkan wajah Koperasi Restoran Indonesia "Scop Fraternité", 12 Rue  Vaugirard 7506 Paris, pada Desember 2006. Wajah ini sekarang sudah banyak berobah.


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: