26 November 2008

[ac-i] jurnal toddopuli: "revolusi coklat"

JURNAL TODDOPULI:
 
 
"REVOLUSI COKLAT"
 
 
 
Setelah berbicara tentang "Kebudayaan Dan Kekuasaan: Yang Silam dan Menjelang",  di Yayasan Umar Kayam [Jalan Perum Sawit Sari 1 No..3 Yogyakarta] yang  diorganisasi oleh Sarikat Indonesia dan beberapa komunitas kebudayaan lainnya,  pada 25 Oktober 2007, saya berjumpa kembali dengan tidak sedikit teman lama dan berkenalan dengan kawan-kawan baru terutama dari angkatan muda. Di antara mereka yang dari Angkatan Muda ini termasuk mereka yang bekerja pada Lembaga Prof. Dr.Sajogyo dari IPB Bogor yang saya kenal sejak 1901 waktu di ibukota propinsi Kalimantan Barat ini berlangsung Kongres Nasional Dayak. Kerjasama kami makin intensif ketika saya bekerja  di Kalimantan Tengah. Kami bersama-sama menangani banyak masalah lokal antara lain masalah pemberdayaan dan pembangunan masyarakat, konflik etnik dan soal otonomi daerah.  Mengenai soal pemberdayaan dan pembangunan, sebelum keluar dari Indonesia, saya sempat  mewawancara beliau untuk   "Sahewan Panarung", buletin LSM Yayasan Dayak Panarung Palangka Raya.  Dalam wawancara inilah Prof. Sajogyo mengajukan konsep "Jalan Kalimantan" -- Kalimantan bisa diganti dengan nama-nama tempat atau pulau lain - -- konsep yang berintikan bahwa pemberdayaan itu harus memperhitungkan faktor budaya dan kondisi lokal, bersandar pada masyarakat lokal sebagai aktor pemberdayaan dan pembangunan shingga tanggap dan apresiatif.
 
 
Setelah diskusi di Yayasan Umar Kayam di atas, pada suatu malam yang  sudah agak larut, ponsel saya berdering. Jauh di ujung sana, terdengar suara seorang lelaki memperkenalkan diri bahwa mereka empat orang dari Yayasan Sajogyo.  "Kami sedang berada di Jatinom, Klaten untuk melakukan penelitian tentang  daya tahan pangan di Klaten. Apakah kami bisa ingin berjumpa Bung  sekarang?". Jarak antara Jatinom dan di mana saya menginap hanya 10 menit bersepeda mootor --kendaraan yang makin umum menggantikan andong di kabupaten Klaten, sapi pembajak digantikan dengan traktor tangan. Usaha membuat batu bata dan genteng dari tanah sawah makin menjadi salah satu sumber usaha penting. "Datang sajalah", ujarku. Mereka menghubungiku, karena barangkali dari Pak Sojogyo mereka tahu bahwa daerah yang kugarap sebagai lokasi tesisku  di Universitas Sorbonne Paris,  adalah Klaten pada masa Gerakan Aksi Sepihak pada tahun '63-'65 dalam rangkapelaksanaan UUPA dan UUPBH , gerakan tani yang saya ikuti langsung dari awal hingga akhir. Tentu saja dalam membahas masalah ini , saya menatutkannya dengan masalah pemberdayaan dan pembangunan. Barangkali tema perhatian serupalah yang mendekatkan saya dengan Pak Sojogyo yang sangat intensif melakukan penelitianpesedaan di berbagai pulau tanahaair, termasuk Sulawesi Selatan. 
  
 
Karena memang bukan orang setempat, sekali pun sudah dipandu melalui ponsel, mereka tersesat  higga ke desa ujung barat  dan baru berjumpa menjelang tengah malam yang dingin. Dengan panji Yayasan Sajogyo, kami bertemu dan diskusi sampai dinihari, tak obah sahabat lama. Sangat terbuka.
 
 
Dalam diskusi hingga dinihari ini, satu masalah yang mereka singgung adalah masalah yang mereka namakan sebagai "revolusi coklat" di Sulawesi Selatan-- daerah yang merupakan lokasi riset mutakhir  mereka.  Dahulu, pada masa Orde Baru,   di bidang pertanian,  kita mengenal yang disebut "Revolusi Hijau" yang menggunakan bibit-bibit pada dari Los Pasos Filipina, yang memungkinkan panen beberapa kali setahun yang menjadikan Orde Baru bisa menyatakan Indonesia sebagai negeri yang swasembada pangan. Hanya kemudian, secara dunia "Revolusi Hijau" dikritik keras sebagai solusi sejenis "mie instan" tanpa menghitung dampak merusaknya pada tanah.
 
 
"Mengapa perkebunan coklat di Sulawesi Selatan [Sulsel disebut 'revolusi coklat' Apa saja dampak-dampak 'revolusi coklat" ini pada tanah dan kehidupan masyarakat?. Aapakah 'revolusi coklat' ini menimbulkan strata sosial baru dan alih strata, lalu apa konsekwensi dari keadaan demikian?", tanyaku karena memang tidak tahu. Sambil mengajukan pertanyaan demikian, di kepala saya terbayang ulang dampak dari Gerakan Aksi Sepihak Melaksanakan UUPA dan UUPBH pada tahun '60an. Terbayang perkembangan desa-desa  Klaten yang sekarang boleh disebut sebagai desa-kota -- yang pernah dimimpikan oleh Mao Zedong dengan gerakan Sekolah Tujuh Mei [U Ci Qan Xiao]   dan intelektual pergi ke desanya.
 
 
"Disebut "revolusi" karena adanya perkebunan coklat itu ternyata berdampak pada perkembangan masyarakat lokal seperti halnya 'revolusi hijau' berdampak pada kehidupan masyarakat dan pertanian negeri. Dampak sosial negatif inilah yang agaknya perlu kita cermati, terutama oleh pihak penyelenggara negara. Jangan sampai perkebunan coklat memelaratkan masyarakat", jelas anak-anak muda yang serius dan penuh keprihatinan pada nasib bangsa dan negerinya. Jenis anak muda yang lagi-lagi meyakinkan saya bahwa Indonesia dengan segala kemelutnya, masih merupakan negeri di mana kita tetap  bisa berharap. Bahwa di negeri ini masih ada manusia Indonesia dan repuliken.
 
 
Ketika membuka laptopku siang ini, saya pmendapatkan berita berbentuk tuturan dan pertanyaan dari seorang teman baik di Makassar di sekitar masalah coklat ini. Berita yang kuterima petang ini aantara lain menuturkan bahwa:"Proyek di Palopo bermasalah... group target kami mogok kerja, karena merasa upahnya rendah.. ", "Padahal.. sebelum kami mulai proyek ini, barang yang akan kami beli hanya jadi sampah. kenapa tiba-tiba "murah?", "Seandainya bisa dibeli cash.. tentu akan akan lebih menguntungkan  petani- buruh coklat , yang tinggal di kebun-kebun"..
 
 
Kemudian dituturkan juga oleh berita temanku ini dengan nada sesal seakan hilang daya berdampingan dengan mimpi sosialnya:"Sayangnya, proyek ini tidak punya kapasitas pembelian yang besar, dan karenanya tidak bisa membuka pasar untuk siapa saja" lalu menanyakan : "Apa yang salah di sini?"Kenapa tiba-tiba sesuatu yang 'sampah' ,menjadi 'terlalu murah' ketika ada peluang mendapatkan rupiah?"
 
 
Inikah dampak dari "revolusi coklat" di Sulsel? demikian serta-merta pertanyaan menyerbu benak dan renunganku. Lalu temanku itu dengan kegundahan di antara mimpi sosial dan kenyataan dengan kepedihan hati bagai orang menjerit: "Tolong saya memahami ini, laku ini".
 
 
Jeritan inilah yang di sini ingin saya gaung ulang ke segaa penjuru, terutama kepada para penyelengara negara dan mereka yang perduli pada kampung-halaman di Sulsel. Ataukah persoalan masyarakat tak obah batu atau sebuah kerikil  yang kita lemparkan ke laut, ke selatan dan sungai seta danau? Sejenak beriak lalu luput dari pandangan mata apalagi ingatan dan perhatian. Saya khawatir saja, jka tak diindahkan, kita sedang menabur angin,esok lusa akan menuai badai. Mudah-mudahan kita tidak melempar batu nilai republiken dan berkeindonesiaan dengan  yang disebut "revolusi coklat" sehingga kepentingan rakyat, bangsa dan negeri tidak menjadi sipongang di lembah yang menjumpai kita sebelum hilang di kaki bukit......****
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008.
--------------------------------------------------------
JJ. Kusni


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: