19 November 2008

[ac-i] jurnal toddopuli: melebarnya ruang jelajah "sastra kepulauan?

Jurnal Toddopuli:
 
 
MELEBARNYA RUANG JELAJAH "SASTRA KEPULAUAN"?
  
 
Ketika membuka laptopku petang ini,  aku dapatkan berita dari Lily Yulianti, penulis kucerpen "Makunrai" [bahasa Bugis: Perempuan], yang lengkapnya sebagai berikut: 
 
"DISPLAY BUKU-BUKU PENULIS MAKASSAR DI PARIS"
 
halo semua,
Pengelola Pasar Malam bersedia memberikan ruang pamer buku-buku penulis Makassar, untuk acara  di Paris 7 Desember, karenanya kami berencana membuka gerai buku-buku penulis Makassar selama acara berlangsung. bagi yang berminat menitipkan buku mohon hubungi saya lily@panyingkul. com atau ke kak luna
luna.vidya@gmail. com"

Bila buku yang masuk lebih banyak dari kapasitas angkut, dengan sangat terpaksa kami akan menyeleksi, mendahulukan karya sastra, sejarah, penulis berpotensi dan terbitan baru, karena kami rencananya membawa  buku-buku teman penulis Aceh untuk promosi, membantu Komunitas Tikar Pandan Aceh".***
 
salam
Ly
 
[Sumber: Lily Yulianti <redaksi@panyingkul.com>,"display buku-buku penulis makassar di paris",, in::  nyingkul@yahoogroups.com>, Tuesday, 18 November, 2008, 10:34 PM] .
 
Seperti diketahui, pada 07 Desember yang akan datang, Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam", di Paris akan menyelenggarakan kegiatan "Sepuluh Jam Untuk SAstra Indonesia". Menurut rencana, akan hadir di acara tersebut, dari Indonesia adalah Lily Yulianti [dari  Makassar],, Luna Vidya [aktor dan penyair kelahiran Setani , Papua], Richard Oh  [pemodal Hadiah Sastra Khatulistiwa dari Jakarta], dan Sitor Situmorang [yang bermukim di Belanda]. Sedangkan para pakar dan Indonesianis dari  berbagai negeri, termasuk tentu saja  Perancis dan Belanda juga akan turut menyemaraki pertemuan sastra ini, antara lain Harry Poeze, penulis tentang Tan Malaka, disamping para wakil dari penerbit-penerbit besar Perancis seperti Flammarion, Gallimard,  yang antara lain telahmenerbitkan karya Ayu Utami:"Saman". Masalah yang akaan dibahas adalah hubungan dan perkembangan seorang sastrawan dari lokalitas berkembang melintasi nasionalitas hingga ke ruang universalitas. Tema inilah yang barangkali melatartbelakangi komposisi para mereka yang diundang oleh "Pasar Malam" yang menggunakanpendekatan kebudayaan dalam menggalang persahabatan antara rakyat Perancis dan Indonesia..
 
Jika semua rencana "Pasar Malam" ini semua berjalan lancar, maka kehadiran Lily Yulianti dan Luna Vidya,   dalam kegiatan internasional tentang sastra Indonesia di Paris, merupakan konsolidiasi, menyusul kedatangan penyair Bali, Tan Lioe Ie, beberapa waktu silam. Konsolidasi dari perhatian pada sastrawan-sastrawan di luar pusat-pusat kegiatan sastra-seni tradisional yang berfokus di Jawa. Artinya, Paris mulai melirik dengan mata terbuka  pada perkembangan saastra di daerah-daerah dan pulau-pulau di luar Jawa. Bahwa Indonesia bukan hanya Jawa. Bahwa di pulau-pulau dan di daerah-daerah  lain, disamping pusat-pusat tradisional sastra Indonenesia berbahasa Indonesia, ada dan berkembang juga sastra dan seni. Barangkali masalah ini ada sagkut-autnya dengan  masalah wawasan tentang apa yang disebut sastra Indonesia itu sendiri dan menjalar ke politik kebudayaan yang diterapkan oleh penyelenggara negara selama berdasawarsa, dari rezim satu ke resim lain.Atau wawasan para politisi yang berimbas pada dunia sastra-seni dan kebudayaan secara umum.  
 
Rumah Dunia Serang , Banten yang pada 5-7 Dsember 2008 akan menyelenggarakan temu sastra Ode ke-3,  menyebutkan  bahwa sekarang ini terdapat 4000 komunitas sastra-seni atau komunitas yang menaruh perhatian pada sastra-seni. Lepas dari tepat tidaknya angka Rumah Dunia ini, jika jumlah ini direduksi menjadi 2000 atau separonya saja, maka jumlah 2000 ini pun sudaha sangat berarti. Angka ini memperlihatkan bahwa penggiat sastra-seni terdapat di berbagai tempat. Terdapat suatu penyebaran sejalan dengan terdapatnya perguruan-perguruan tinggi yang ada diberbagai kota dan pulau. Perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam mengembangkan kehidupan sastra-seni. Ia merupakan pusat kebudayaan. Jika kita amati, komunitas-komunitas ini pun melakukan penerbitan karya-karya para anggotanya. Aku percaya bahwa dari kuantitas ini akan lahir suatu kualitas yang terus-menerus meningkat dan berkembang tanpa henti . Apalagi antara komunitas-komunitas ini terjalin suatu kerjasama yang memungkinkan mereka saling belajar dan meningkatkan diri. Kerjasama ini misalnya napak dari posting pendek Lily Yulinati di atas. Penulis-penulis Makassar membantu  promosi penulis-penulis dari Aceh pada kesempatan Lily dan Luna ke Paris.
 
 
Adanya komunitas-komunitas dalam jumlah yang aku kira akan terus meningkat, mempunyai arti kongkret dalam mewujudkan politik budaya yang berkeindonesiaan, mengakar dan majemuk. Keadaan ini juga cepat atau lambat akan berdampak pada desentralisasi nilai dan menangkal dominasi nilai serta standar. Adanya komunitas-komunitas ini pun, kukira merupakan dasar bagi terujudnya dari bawah politik kebudayaan "biar bunga mekar bersama, seribu aliran bersaing suara" yang di Indonesia sejak lama kita kenal dengan istilah "bhinneka tunggal ika". Dari keragaman inilah akan muncul sastra-seni Indonesia  bukan sastra-seni patokan dari penyelenggara negara. Atau dari atas. Sesuai dengan posisi sastrawan-seniman yang merupakan warga republik berdaulat, komunitas-komunitas ini pun, mengapa tidak berfungsi sebagai pengawas sosial dalam masyarakat kita.
 
Display buku-buku karya para penulis Makassar dan Aceh di Paris dalam acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia" yang diselenggarakan oleh  "Pasar Malam", pada 07 Desember 2008, nanti, akan memperlihatkan kepada Paris, potensi yang terdapat di berbagai daerah dan pulau. Bahwa sastra Indonesia berbahasa Indonesia juga terdapat di berbagai daerah dan pulau dari ujung barat hingga ke ujung timur tanahair. Jakarta, Yogyakarta, Bandung,Surabaya, Malang hanyalah beberapa nama saja dari tempat kegiatan sasta-seni dan yang memproduksi karya-karya sastra.Jika demikian, terlalu salahkah jika mengatakan bahwa sastra-seni kepulauan itu ada dan berkembang? Kehadiran  Lily Yulianti Luna Vidya, menyusul kehadiran Tan Lioe Ie di Paris, barangkali bisa dilihat sebagai makin melebarnya ruang jelajah "sastra kepulauan" ini. Bahwa sastra kepulauan mempunyai esok dan terus merambah jalan majunya.***
 
Perjalanan Kembali, Musim Gugur 2008
---------------------------------------


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: