30 November 2008

[ac-i] jurnal toddopuli: luna vidya anak sentani tanah papua akan bermonolog di paris

Jurnal Toddopuli:
 
 

LUNA VIDYA 

ANAK SENTANI  TANAH PAPUA

AKAN BERMONOLOG DI PARIS

 

 

[Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku]

 

 

 

Pada tanggal 15 Desember 2008, Koperasi Restoran Indonesia Paris yang sekaligus sebagai pusat kebudayaan Indnesia di Paris, akan merayakan ultanya yang ke-26.  Dalam rangka kegiatan ini maka akan diselenggarakan bedahbuku dan pameran foto tentang Indonesia, bekerja sama dengan Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam". Sementara itu pada 7 Desember 2008 "Pasar Malam" akan melangsungkan acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indoneisa" dengan menghadiirkan Sitor Sitomorang, Richard Oh, Laksmi Pamuntjak, Djenar Maesa Ayu, Lily Yulianti dan Luna Vidya di samping para pakar sastra dan indonesianis Peris dan Belanda serta para penerbit terkemuka Perancis seperti Gallimard dan Flammarion yang telah menerbitkan antara lain karya-karya Pramoedya A Toer,  Ayu Utami serta kemudian Laksmi Pamuntjak. Acara sastra kali ini agak lain dari acara-acara sastra terdahulu jika dilihat dari kompisisi mereka yang diundang yang berasal dari berbagai asal etnik di Indonesia. Tema pembicaraan pun berkisar tentang bagaimana perkembangan pemikiran dan perasaan para penulis bermula dari etnik berkembang melalui nasionalisme lalu menjurus ke universalisme. Hal paling baru adalah hadirnya Lily Yulianti, penulis dari Makassar dan Luna Vidya, aktris kelahiran danau Sentani, Papua. Memang sebelum ini ,  "Pasar Malam"  pernah mengadakan acara untuk penyair  Bali ,Tan Lioe Ie sehingga tampilnya sastrawan-seniman dari luar Jawabukan diawali oleh Lily dan Luna. Bali sebenarnya bukanlah nama baru dalam dunia kesenian. Senman-seniman Bali sering datang ke Paris. Bahkan Arthaud, dramarturg Perancis terkemuka terilhami ketika menyaksikan pertunjukkan pentas Bali. Di Perancis, terkadang, tidak sedikit orang lebih mengenal Bali dari Indonesia. Hadirnya Lily Yulianti dan Luna Vidya dari Makassar dan Papua, kali ini menjadi mempunyai arti khusus,  karena baru merekalah sastrawan-seniman dariIndonesia Timur yang diundang oleh"Pasar Malam" dalam kegiatan internasionalnya. Hal ini memperlihatkan perhatian "Pasar Malam" pada perkembangan sastra-seni di luar Jawa dan di muar pusat-pusat kegiatan sastra-seni tradisional yang dikenal dunia, sekaligus memperlihatkan bahwa. kegiatan sastra-seni di luar pusat-pusat tradisional mendapat perhatian dan pengakuan. Guna menopang pengakuan dan perhatian ini maka Lily dan Luna pada kesempatan in, sebagai tanda bukti kegiatan sastra di luar Jawa, ingin memamerkan karya-karya sastra dari Makassar dan Aceh.
 
 
Sedangkan   dalam rangka peringatan ulta ke-26 Koperasi Restoran Indonesia Scop Fraternité Pairs, sudah merencanakan untuk memberi acara khsus kepada Luna Vidya guna menggelarkan monolog berjudul "Balada Sumarah" karya Tentrem  Lestari. 
 

Balada Sumarah adalah kisah hidup yang dituturkan dalam sebuah sidang pengadilan. Sidang pengadilan  seorang TKW yang  tertuduh telah melakukan pembunuhan terhadap majikannya.

 

Di depan siding pengadilan itu, Sumarah bercerita tentang hari-hari dimana ia belajar menerima diskriminasi dalam seluruh dimensi kehidupan sosialnya sejak kecil karena satu penyebab: ayahnya dituduh sebagai anggota PKI. Ayah yang tidak pernah sempat dikenalnya.

 

 

Karena alasan itu Sumarah meski lulus SMA dengan nilai terbaik ijazahnya tak berbunyi apa-apa. Untuknya tak ada kesempatan menjadi pegawai negeri, bahkan petugas administrasi. Ia hanya boleh menjadi buruh pabrik. Nama bapaknya, adalah bayangan hitam yang terus menguntitnya di semua kesempatan. Bayangan itu menggelapkan bahkan impian Sumarah untuk menikah.

 

 

Dikucilkan, dirampas hak-haknya di negeri sendiri, menjadi TKW di Arab Saudi adalah kesempatan satu-satunya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kesempatan yang diperolehnya dengan memberi amplop. Sumarah menyangka, setelah bertahun-tahun menjadi rakyat setengah gelap di negeri sendiri, terselip dan tidak boleh mendongakkan kepala, ia akan bermetamorfosa dari ulat bulu menjadi kupu-kupu indah di negeri orang.

 

 

Balada Sumarah  yang ditulis  oleh Tentrem Lestari ini mulai ditampilkan oleh Luna Vidya sejak tahun 2005 pada Festival Monolog Dewan Kesenian Jakarta 2005 di Teater Kecil-TIM.

 

 

Luna Vidya lahir di Sentani, Papua, Luna Vidya, bermain teater sejak tahun 1984 di Makassar bersama berbagai kelompok teater di kota itu, sejak datang ke Makassar setelah menamatkan SMAnya di Jayapura. Bergabung dengan Teater Kampus Universitas Hassanuddin, Ia makin mengokohkan dirinya sebagai salah satu pemain teater terbaik Sulawesi Selatan.

 

 

Ia memfokuskan diri pada ruang-ruang teater monolog, memainkan naskah-naskah orang lain, LV juga menulis naskahnya sendiri (Meja Makan, Pagar, Garis) dan membuat adaptasi dari cerita-cerita pendek untuk keperluan itu. "Makkunrai", "Dapur" adalah naskah monolog yang iia sadur  dari cerita-cerita pendek yang ditulis oleh  Lily Julianti dalam kumpulan cerpen "Makkunrai" [bahasaBugis :Perempuan]. Bersama Lily, Makkunrai menjadi titik awal bergulirnya Makkunrai Project (2007), sebuah proyek pembelajaran berdimensi gender lewat penulisan sastra dan pementasan panggung.

 

 

Untuk hidupnya, Luna Vidya bekerja sebagai Communication Coordinator Sustainable Mariculture Project di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

 

Kehadiran Lily Yulianti dan Luna Vidya di Paris sekali lagi  saya lihat sebagai pengakuan dan peehatian Paris sebagai kota budaya pada sastra kepulauan.  Jadi tidaknya acara Luna Vidya di acara ulta ke-26 Koperasi Restoran Indonesia Scop Fraternié Paris  [mungkin juga di acara "Pasar Malam"] an hanya tergantung pada peroleh visa untuk datang ke ibukoa Perancis yang dibelah oleh sungai Seine yang dingin. Tapi Johanna  Lederer selaku Ketua "Pasar Malam" dan biasa menangani soal visa mengatakan bahwa Kedutaan Besar Perancis di Jakarta berjanji akan membantu penyelesaian soal visa ini semaksimal mungkin. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa Luna Vidya, anak Sentani Tanah Papua, akan bermonolog di Paris, menampilan karya yang mempunyai pesan jelas dan gugatan terhadap ketidakadilan serta Tragedi Kemanusiaan 1965 yang berdampak sampai sekarang atas kehidupan jutan anak negeri bernama Indonesia. Barangkali pengalaman sebagai anak Papua membuat Luna Vidya menjadi senman engagé, jika menggunakan ungkapan orang Perancis. Karena seperti ujar Rendra baru-baru ini senimantidak cukup hanya berpihak tapi juga niscaya terlibat.

 

 

Selamat datang di Seine Luna Vidya, puteri Sentani Tanah Papua.  Kenanganku seketika terbang melayang ke barisan gunung Papua yang pernah kudaki dan kujelajahi beberapa tahun silam, perndakian berat dan susah payah  yang terekam di ratusan ribu foto. Tapi adakah jalan lurus dan aman dalam mendaki dan  menaklukkan puncak. Hanya saja, begitu sampai di puncak maka pemandangan akan menghampar di bawah, ujar Hô Chi Minh,  presiden- penyair Viêt Nam dalam antologi puisnya "Catatan Harian Di Penjara". Saya  membayangkan Luna Vidya sedang mendaki menggapai puncak demi puncak, demikian juga sastra kepulauan. Barangkali aku memang sedang bermimpi bahwa sastra kepulauan memang punya esok, lusa, tulah dan tubin. ****

 

 

Perjalanan Kembali,Musim Dingin 2008

-------------------------------------------------------

JJ. Kusni



Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: