02 November 2008

[ac-i] jurnal toddopuli: kekayaan sastra kita

JURNAL TODDOPULI:
  
 
KEKAYAAN SASTRA KITA
 
 
Sebagai orang yang tidak terlalu lama di milis panyingkul, pada hari Minggu musim gugur yang di awal bulan ini sudah berakhir dan memasuki musim dingin, aku membuka-buka arsip website panyingkul. Seperti pernah kukatakan sebelumnya, milis dan web ini aku ikuti dengan maksud utama mengenal perkembangan di Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah di kawasan Republik Indonesia kita. Sebab aku sangat yakin, di pulau-pulau terdapat suatu khazanah budaya , termasuk sastra-seni yang kaya-raya. Barangkali anak negeri dan bangsa ini saja yang kurang atau belum begitu mengenalnya dan kurang atau belum mengindahkannya karena barangkali merasa apa yang kita miliki sebagai kadaluwarsa dan tidak "modern" sebagai hasil dari suatu pendidikan yang berorientasi ke Barat yang mungkin dianggap sebagai lambang "modernitas". Sementara orang-orang Barat [tanpa merincinya],  melakukan penelitian dan menerbitkan hasil-hasil penelitian mereka tentang budaya lokal kita. Menghimpun karya-karya anak negeri kita di perpustakaan atau museum-museum. Sehingga untuk belajar tentang negeri kita, kita akhirnya perlu belajar dan membongkar dokumen-dokumen di negeri asing yang jauh. Agaknya kita tidak  terlalu menghargai apa yang kita punyai sendiri, keadaan yang sering kusebut sebagai asing di negeri sendiri sekali pun kita menyebut diri sebagai orang Indonesia dan secara geografis hidup di Indonesia atau pulau ini dan itu. Aku khawatir bahwa dengan keadaan keterasingn kita dari budaya negeri sendiri, membuat pintu kolonialisasi tipe baru akan terbuka lebar dan kemudian kita menjadi tidak lebih daripada anak koloni alias "inlader" yang oleh orang Dayak disebut "jipen kekinian", budak tipe baru.
 
Kekayaan budaya warisan tetua kita, sebenarnya sadar atau tidak, kukira meninggalkan tanda pada diri kita, pada pola pikir dan mentalitas kita. Mempelajari , mengenal budaya sendiri, akar budaya kita, tidak sama dengan anjuran kembali ke zaman bahela. Pada budaya lokal, akar kita, sekali pun lahir dan berkembang di suatu geografis lokal, biasanya senantiasa mengandung nilai universalnya. Hal-hal universal ini masih tanggap  zaman dan jika kita merevitalisasinya dan  mereinstitusinya sesuai zaman, ia menjadi sebuah bahasa bagi kita berdialog dengan budaya dunia. Mempelajari dan mengenal budaya lokal, aku kira juga tidak sama dengan mendorong kesempitan berbentuk ethnosentrisme atau separatisme karena jika kita memahami makna universalnya maka kita bisa menjadi anak manusiayang berkarakter. Mempelajari budaya diri kita sendiri tidak ada sangkut-pautnya dengan nasionalisme sempit atau nasionalisme etnik yang agaknya hanya mengantar kita ke jalan buntu, apalagi dalam syarat dunia sekarang.
 
Artikel M. Aan Mansyur yang aku dapatkan ketika membuka-buka ulang website panyingkul , di bawah ini bagiku, hanya menjadi salah satu contoh lain lagi tentang kekayaan budaya, termasuk sastra lokal kita. Izinkan aku mengutipnya ulang.
 
Paris, Musim Gugur 2008
--------------------------------
JJ. Kusni
 
Lampiran:
 
 
 
 
 
 
 
 


 
:
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 

.
 :: risetkita
Senin, 22-01-2007 
Orang Bugis Pandai Menyembunyikan Maksud
:: M Aan Mansyur :


Aksara Lontara.


Puisi Bugis yang terdiri atas beragam jenis, merupakan salah satu kekayaan sastra lokal yang unik, meski kini kian tak dikenali. Salah satunya adalah elong maliung bettuanna, atau sajak-sajak yang menyimpan makna tersembunyi. Citizen reporter M Aan Mansyur melakukan riset atas sejumlah jenis puisi ini, dan mengajak kita menelusuri makna-makna tersembunyi di balik sejumlah elong. (p!)

 
Selain La Galigo, epos-mitos Bugis yang bisa jadi adalah karya sastra terpanjang di dunia, mungkin tak banyak lagi karya sastra Bugis yang kita ketahui. Padahal, menurut Roger Tol dalam sebuah artikelnya, selain jumlahnya yang diperkirakan sampai 2.500.000 karya, kualitas karya sastra Bugis sangat menarik untuk terus diperbincangkan.

Salah satu jenis karya sastra Bugis adalah elong. Meskipun secara harfiah elong berarti 'lagu', tetapi dalam pembahasan sastra elong dimaksudkan sebagai satu jenis puisi.

Menurut Salim (1990:3-5) sedikitnya ada 14 jenis elong, yang bisa dibedakan menurut isi (keluarga, agama, nasehat dan hiburan), peristiwa (lulabi, perang, pernikahan, melamar, dll) dan kepelikan atau keanehannya (bentuk dan permainan bahasa). Contoh-contoh elong bisa ditemukan dalam beberapa buku yang ditulis oleh Muhammad Salim, Muhammad Sikki, Rahman Daeng Palallo, dan paling komprehensif ditulis oleh B.F Matthes.

Ada sebuah jenis elong yang belum banyak dibahas namun justru sangat menarik yaitu elong maliung bettuanna. Maliung sebenarnya berarti 'dalam' dan bettuanna berarti 'artinya' atau 'maknanya'. Frase maliung bettuanna dalam jenis puisi ini berarti 'susah ditemukan maknanya'. Dengan kata lain, puisi dengan makna tersembunyi (Palallo, 1968, 11:7).

Bukankah semua puisi memang menyembunyikan maknanya? Betul. Tetapi, ternyata ada yang berbeda dalam jenis puisi Bugis ini. Selain menggunakan simbol atau majas tertentu, jenis puisi ini menggunakan satu (permainan) bahasa yang disebut Basa to Bakke' (yang tidak akan ditemukan dalam jenis puisi lain) untuk menyembunyikan makna. Secara harfiah Basa to Bakke' berarti bahasa orang-orang Bakke'. Tetapi dalam pengertian puisi ini frase itu berarti permainan bahasa orang-orang Bakke'. Bakke' di sini merujuk kepada Datu Bakke' atau Pangeran (dari) Bakke'. Daerah Bakke terletak di Soppeng. Sang pangeran konon dikenal sebagai tokoh yang intelek dan sangat pandai berbahasa. Selain dalam elong maliung bettuanna, Basa to Bakke juga ditemukan dalam puisi sejarah abad ke-20 Tolo'na Arung Labuaja (Tol, 1992, 148:85).

Tiga Langkah Menyingkap Makna
Vopel (1967:3) mengatakan bahwa kemungkinan puisilah bahasa paling rumit di dunia ini. Disebut paling rumit karena puisi menghendaki kepadatan (compactness) dalam pengungkapan. Kepadatan ini tidak hanya tercermin lewat kata-kata yang memiliki bobot makna yang berdaya jangkau lebih luas ketimbang bahasa sehari-hari. Kepadatan juga berperan sebagai pembangun dimensi lapis kedua seperti membangun kesan atau efek imagery, tatanan ritmis di tiap baris, membentuk nada suara sebagai cermin sikap penulis semisal sinis, ironis, atau hiperbolis terhadap pokok persoalan yang diangkat. Dan yang lebih penting juga adalah membangun dimensi lain yang hadir tanpa terlihat karena berada di balik makna literal dan atau di balik bentuk yang dipilih.

Tuntutan-tuntutan seperti itu relatif longgar pada genre sastra lainnya, semisal prosa (cerita pendek, novel) dan drama.
Perhatikan stanza berikut ini:

Kegaena na mumaberrekkeng,
buaja bulu'ede,
lompu' walennae?


[Mana lebih kau suka,
buaya gunung,
atau lumpur sungai?]

Sepintas lalu bentuk puisi ini mirip haiku, puisi tradisional Jepang. Namun ternyata ada beberapa hal yang membedakannya. Puisi (teka-teki) ini sesungguhnya ingin menyampaikan sebuah makna, yakni: 'yang mana lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?' Bagaimana bisa sampai begitu?

Bagi yang paham aksara Bugis, tentu masih ingat bahwa aksara Bugis memiliki keunikan. Beberapa keunikan aksara Bugis adalah tidak adanya huruf mati (final velar nasals), glottal stop, dan konsonan rangkap (geminated consonants). Satu silabel (suku kata) jika dibaca bisa menjadi enam jenis silabel. Contohnya, huruf untuk silabel 'pa' bisa saja dibaca 'pa', 'ppa', 'pang', 'ppang', 'pa'', atau 'ppa''. Keunikan aksara Bugis inilah yang dieksplorasi oleh permainan Basa to Bakke' dalam elong maliung bettuanna .

Dalam satu elong yang disebutkan tadi, langkah pertama untuk menyingkap maknanya telah dilakukan. Langkah pertama itu adalah mengidentifikasi pernyataan. Ada dua frase dalam puisi itu yang harus diperhatikan, buaja bulue'ede dan lompu' walennae. Buaja bulu'ede berarti 'buaya gunung' dan lompu' walennae berarti 'lumpur sungai'.

Setelah mengidentifikasi pernyataan, langkah kedua adalah menemukan apa rujukan dari pernyataan (frase) yang telah ditemukan. Buaja bulu'ede (buaya gunung) dalam puisi itu merujuk kepada macang (macan) dan lompu' walannae (lumpur sungai) merujuk kepada kessi' (pasir).
Jika hanya sampai di sini, puisi itu berarti 'yang mana yang lebih kau suka, macan atau pasir?' Tetapi bukanlah itu yang sesungguhnya ingin disampaikan puisi tersebut. Lalu bagaimana caranya agar tiba pada makna sesungguhnya? Kita masih membutuhkan satu langkah lagi.

Dalam tulisan aksara Bugis, kata macang (macan) sama dengan macca' (cerdas) dan kessi' (pasir) sama dengan kessing (elok atau cantik). Masing-masing ditulis 'ma-ca' dan 'ke-si'.
Akhirnya makna puisi itu menjadi 'mana yang lebih kau suka, perempuan cerdas atau perempuan cantik?' Luar biasa, kan?

Perhatikan beberapa contoh lagi berikut ini:

Gellang riwata' majjekko,
Anre-anrena to Menre'e,
atena unnyie.


[Tembaga melengkung di ujung,
makanan orang Mandar,
hati kunyit.]

Puisi ini sesungguhnya berarti 'aku mencintaimu'. Bagaimana bisa demikian? Gellang riwata' majjekko merujuk kepada meng (kail), anre-anrena to Menre'e merujuk kepada loka (pisang) — konon Orang Bugis dulu menganggap makanan pokok orang Mandar adalah pisang, dan atena unnyie merujuk kepada ridi (kuning). Jika tiga kata itu dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi 'me-lo-ka-ri-di'. Rangkaian huruf ini bisa juga dibaca melo' ka ridi (aku mencintaimu).

Tiga lapis menyingkap makna itu bisa diuraikan lebih rinci seperti berikut; lapis pertama, mengenali frase yang menyimpan kiasan (bunyi). Dalam puisi di atas, setiap barisnya menyimpan masing-masing satu frase untuk mengenali kiasan itu; gellang riwata majjekko, anre-anrena to Menre'e, dan atena unnyie. Kiasan dari frase itu, secara berurutan masing-masing; meng (kail), loka (pisang), dan ridi (kuning). Lapis kedua adalah bunyi meng, loka, dan ridi. Bunyi tiga kata itu membawa kita ke lapis selanjutnya, untuk menemukan makna, bunyi meng dalam aksara Bugis ditulis 'me', bunyi loka ditulis 'lo-ka', dan bunyi ridi ditulis 'ri-di'.

Untuk menemukan makna elong semua bunyi itu dirangkai menjadi 'me-lo-ka-ri-di'. Rangkaian bunyi itu jika dibaca menjadi melo'ka ridi yang maknanya 'aku mencintaimu'.

Jika disederhanakan rumus tiga lapis menyingkap makna sebuah elong maliung bettuanna adalah:
(1) frase ->(2) bunyi -> (3) makna.

Inungeng mapekke'-pekke'
balinna ase'ede,
bali ulu bale.


[Minuman pekat,
kebalikan atas,
kebalikan kepala ikan.]

Setelah melalui proses penyingkapan makna, puisi ini berarti 'saya membencimu', makna itu ditemukan dari rangkaian kata teng, awa, dan ikko yang jika dituliskan dengan aksara Bugis menjadi 'te-a-wa-(r)i-ko', aku tidak mau (benci) padamu. Frase elong itu adalah inungeng mapekke-pekke, balinna ase'ede, dan bali ulu bale. Bunyi yang dihasilkan frase itu adalah teng (teh), awa (bawah), dan ikko (ekor). Bunyi ini jika dituliskan dalam aksara Bugis akan menjadi 'te-a-wa-(r)i-ko'. Rangkaian aksara Bugis itu bisa juga terbaca teawa (r)iko (aku benci padamu).

Nah, berikut ini satu contoh lagi. Mari kita sama-sama mencoba menemukan makna dari elong tersebut.

Duami uwala sappo,
Wunganna panasae,
Na belo-belona kanukue.


[Dua saja pagarku,
bunga nangka,
dan cat kuku.]




Wunganna panasae merujuk kepada lempu (bunga nangka) jika dituliskan memakai aksara Bugis, kata lempu (bunga nangka) tak berbeda dengan lempu' (jujur) yaitu 'le-pu'. Sementara belo-belona kanukue merujuk kepada pacci (daun pewarna kuku) yang jika ditulis sama dengan paccing (bersih) yaitu 'pa-ci'. Jadi sesungguhnya maksud bait pendek yang mirip haiku itu adalah: hanya dua yang aku jadikan benteng; kejujuran dan kejernihan.

Selain puitis, elong maliung bettuanna juga kelihatan rumit dan berlapis-lapis. Namun jika menemukan rumusnya, puisi ini tidak serumit yang kita duga. Jenis puisi ini betul-betul unik. Sungguh, alangkah pintar orang-orang Bugis (dahulu) menyembunyikan maksudnya. Dan tentu saja, alangkah kreatifnya mereka.

Permainan Bahasa
Sesungguhnya ada pola-pola umum yang paling sering digunakan dalam permainan bahasa orang Bakke. Basa to Bakke biasanya menggunakan tiga macam topik dalam frasenya; 1) yang berhubungan dengan nama daerah atau tempat (geografical), 2) tentang tumbuh-tumbuhan (botanical), dan 3) tentang binatang (zoological). Memang ada beberapa pengecualian, tetapi ketiga topik itulah yang paling sering digunakan.

1. Frase berhubungan dengan nama daerah

Satu contoh frase untuk topik geografis adalah sebagai berikut:

Toddanna Tangka nataro,
toddanna Palangiseng,
nalao purai.


[Di sebelah utara Tangka dia letakkan,
di sebelah utara Palangiseng,
dia akan menyelesaikannya.]

Frase Toddanna Tangka merujuk kepada Lebureng yang juga bisa berarti 'perawan' dan frase toddanna Palangiseng merujuk kepada Baringeng yang jika disebut nyaris terdengar ringeng (ringan, murahan). Elong itu kira-kira bermakna, 'dia mengabaikan seorang perawan lalu menikahi pelacur'. Tangka, Lebureng, Palingeseng, dan Baringeng adalah nama-nama daerah.

Beberapa frase lain yang menggunakan nama-nama daerah adalah:




Masih banyak contoh yang lain untuk frase-frase yang berhubungan dengan nama-nama tempat atau daerah.

2. Frase tumbuh-tumbuhan

Sementara frase-frase yang mengandung tumbuh-tumbuhan, ada beberapa contoh berikut ini:




3. Frase binatang

Dan yang terakhir adalah frase-frase yang berhubungan dengan binatang, di antaranya:




Ternyata bahasa Bugis bisa menjadi permainan yang menarik. Keunikan bahasa seperti itulah yang membuat puisi Bugis menjadi berbeda dibandingkan jenis puisi lainnya. Meski elong maliung bettuanna tak lagi pernah diperkenalkan, meliriknya kembali bisa menjadi alternatif. Puisi Bugis ini bisa menjadi jawaban atas kejenuhan banyak kritikus sastra yang menganggap puisi modern Indonesia diperangkap oleh segelintir nama besar seperti Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad. Kekuatan elong maliung bettuanna adalah ketercapaian dan keseimbangan dua kekuatan, bentuk dan isi, hal yang semakin susah ditemukan oleh penyair kontemporer.

Tak banyak bentuk puisi yang mampu mengawinkan bentuk dan isi seperti yang diperlihatkan oleh elong maliung bettuanna.

Telah disadari oleh para penyair Bugis terdahulu bahwa puisi sangat penting peranannya sehingga harus dibuat sedemikin indahnya. Selain aturan bunyi (fonologi) dan makna (semantik) yang telah dijelaskan di atas, sesungguhnya elong maliung bettuanna juga menarik untuk dilihat dari segi matra (bagan yang digunakan dalam penyusunan baris sajak yang berhubungan dengan jumlah, panjang dan tekanan suku kata), pembentukan kata (morfologi) dan yang tak kalah menarik adalah archaic vocabulary, pemakaian kata-kata Bugis lama yang (mungkin) tak lagi dikenal oleh orang-orang Bugis sekarang ini.

Terbuka banyak pintu untuk masuk dan menikmati elong maliung bettuanna ini. Bagi anda yang ingin menyembunyikan maksud dalam permainan bahasa, tak ada salahnya mengadopsi cara yang digunakan puisi ini. Selain itu, 'permainan bahasa' ini mungkin akan membuat Anda mencintai kembali bahasa Bugis. Tapi untuk mencoba mengutak-atik elong, kita dituntut mampu membaca huruf lontara, paham budaya Bugis dan alam pikiran orang Bugis.

Sayang sekali, orang-orang Bugis sekarang tak lagi melihat arti penting sebuah puisi (elong). Berbeda dengan William Shakespeare yang karena puisi signifikan baginya, ia memujinya dalam sebuah soneta yang ia tutup dengan dua baris terakhir: so long as men can breathe or eyes can see,/so long lives this, and this gives lives to thee. Sepanjang manusia masih bernafas, atau mata masih mampu memandang, akan selama itu pula puisi tetap lestari dan ia akan memberimu kehidupan yang bermakna.(p!)


Referensi:
-Fachruddin Ambo Enre, 1983, Ritumpanna Weelenrennge, telaah filologis sebuah Episode Bugis klasik, Jakarta: Universitas Indonesia.

-Goenawan Mohamad, 2004, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi, Jakarta: Alvabet.

-Kennedy, J.X, 1991. Literaure: an Introduction to Fiction, Poetry and Drama, (Fifth Edition). New York: harper Collins Publisher.

-Mattulada, 1985, Latoa; satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis, Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

- Muhammad Salim, 1969-71, Transliterasi dan Terjemahan elong Ugi (kajian naskah Bugis), Ujung pandang: Departemen P dan K, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan.

-Muhammad Sikki, dkk, 1978, Terjemahan beberapa naskah lontara Bugis, Ujung Pandang: Balai Penelitian Bahasa.

-Pelras, Christian, 2006, Manusia Bugis, Jakarta: Nalar.

-Perrine, Laurence, 1974, Literatre: Structure, Sound and sense. (Second Edition). New York: Harcourt Brace Javanovisch Inc.

-Rahman Daeng Palallo, 1968, 'Bahasa Bugis; Dari hal elong maliung bettuanna (pantun jang dalam artinya)', Bingkisan I.

-Siswantoro, 2002, Apresiasi Puisi-puisi Sastra Inggris, Surakarta: Muhammadiyah University Press.

-Tol, Roger, 1992, 'Fish Food on a Tree Branch; Hidden Meanings in Bugis Poetry', Leiden: Bijdragen tot de Taal-land- en Volkenkunde 148 : 82-102.



* Citizen reporter M Aan Mansyur dapat dihubungi melalui email luarkurung@yahoo.co.uk


 
Komentar :
05-10-2008
Dari : ridwan | putra_bgs80@yahoo.com
saya bangga punya keturunan bugis dan masih menjadi bugis sejati. tapi saya sedih dan kurang bangga dengan kelakuan segelintir anak bugis zaman sekarang.. marilah kita sama-sama menjaga nama baik keturunan dan bangsa kita bugis
03-07-2008
Dari : |
03-07-2008
Dari : syukri_b | syukri_b@yahoo.com
Fappatteppu,puisi dan elong adalah sarana komonukasi orang bugis tempo dulu.karena dulu tidak ada televisi,hp atau internet.jadi sarana itulah yang di pakai menarik nenek kita dulu mempererat komunikasi sesama mereka.saya menduga ilham itu terinspirasi oleh tradisi karawitan di jawa dan pantun di tanah melayu.karena budaya rantau orang bugis,biasanya kalau tidak bawa uang "ya,bawa carita.tetapi saya sbg putra,walaupun di cuci dengan air sungai mahakam tetap sebagai orang bugis,merasa bahwa saat ini kita mengalami kemunduran di bidang ekonomi.hasil sawah yang kita nikmati sekarang bukan hasil kita,tapi jerih payah nenek moyang kita.demikian pula perdagangan antar pulau yang pernah di kuasai nenek moyang kita sekarang hanya tinggal kenangan.melalui email ini saya mohon agar kita cari solusi bersama.persatuan dan kebersamaan dengan ikatan 'siri' na 'pacce' harus kita daur ulang.jangan terpengaruh dengan kepentingan politik sesaat.thank,s salamaki,topada salama ri allabuangetta.
19-06-2008
Dari : ANDI.AMIR .REWA | AMIR AJAA.YAHOO.COM
MUNGKING IA TO UGI PALING BANGNGA MEMPUNYAI BAHASA DAERA YANG BEGITU UNIK YG SUKU KATANYA MEMPUNYAI BEBERAPA ARTI YG KADANG KALA MENYIMPANG ARTI YANG TERSEMBUNYI DI BALIK KALIMAT PUISINYA.(IA MONGROKA DI SERANG-BANTENG MAKULIAKA MUPA)TO MASALLEKA LAGO
 
05-08-2007
Dari : arif | aco_bugis@yahoo.com/aco_paotere@plasa.co
keren nih artikelnya, ini nih yg harus dipelajari oleh kita generasi muda sul-sel. btw, penulis ini doctor dibidang sastra yah? really two tumbs up fro him!
09-07-2007
Dari : Abhy | habibi_kid@yahoo.com
assalamu alaikum... Cebbo'ka iya'... Nappanna engka ubaca mappakkue... Salut..salut..salut salam kenal untuk semua silesureng Ogiku ri makassar, Makkukkue engkaka okko Pontianak, tennia pato eganna Ogi okkoe. Namoni de nengka nalejjai tana Ogi (mereka asli keturunan bugis)tapi makessing mopa bicara ogina... Kita orang Bugis harus bangga, karena dimana-mana kita di hormati orang... Ewako Sidrap...Hidup Nene Mallomo.. Malilu sipakainge, rebba sipatokkong,Mali siparappe Wassalam
22-06-2007
Dari : ammi | epponabacobetta@yahoo.co.id
Tanpa terasa mallinangngi uwwae matakku.ternyata sudah lama sy hidup dikampng halaman orang.kalau ditanya"Asal Mana?dengan bangga sy menjawab"Bone,sy orang bugis".Beberapa orang manado,memang masih mengerutkan dahi mendengarnya,seakan- akan masih asing dg kota tercinta sy ini.Tp biarlaah...ini tanggunp jawab saya u memberitahu mereka.Orang bugis memeng pandai menyembunyikan maksud.Maraja Siri.
21-06-2007
Dari : Bugis Turunan | bugisturunan@yahoo.com
Orang bugis dahulukala, macca mabbicara deceng. Orang bugiskini macca bicara-belle. Orang bugis yang sedang berkuasa, macapila belle-na. Pintar melindungi siri'na alias kurang siri', biar konyol bicaranya yang penting berjamaah - menjamah barang yang bukan haknya. Orang bugis dahulukala, meninggalkan sureq i la galigo. Orang bugiskini meninggalkan Ruko dan proyek taman kanak-kanak pantai losari. Kalau mau lihat realitas kekonyolan birokrasi pemerintahnya, lihatlah realitas lalu- lintas jalanan kotanya. Hebat bukan? Tapi maaf kalau "Aku" yang lewat dijalanan kota ini, poraider selalu menuntun lalulintasku. maaf! kota makassar adalah jelmaan dari bisikan investor yang menguntungkan investornya dan penguasanya. "Hai orang miskin pergi dari kota ini, karena kota ini di buat bukan untukmu!" Maafku 2007, bugisturunan.
06-06-2007
Dari : ani | harniati_sham@yahoo.com.my
iyya'marennuka na'engka oki ugi,orang tua ku bilang idi tau ugi'e asiriseng mi'ri onroang ri linoe apakah itu betul saya tulis.saya juga masih bisa baca oki ugi walaupun di besarkan di malaysia
29-05-2007
Dari : akhmar | a_akhmar@yahoo.com
Beberapa hasil penelitian puisi Bugis, seringkali mengangkat potongan elong yang Anda angkat. Penafsirannya selalu sama. Apakah puisi Bugis selalu menyajikan makna sama pada setiap pembacanya?
29-05-2007
Dari : mila | bricmild@yahoo.com
salam kenal teman-teman makassar. puisi itu indah..
29-05-2007
Dari : yahya | nakgagana_makassar@yahoo.com
daeng aan. sy mo tanyaki ini cess. sy pernah dengar salah satu mungkin ini juga adalah sebuah puisi bugis. tapi sy mo tau maknanya. mudah2an aan bisa kasih sy jawabannya nah. tolong ka kasi'. " tellabu matanna essoe ritengngana batarae ".
14-02-2007
Dari : anchu | makdika@yahoo.com
senag, sangat senang. very happy... ada tulisan tentang aksara Lontara. Ini adalah identitas kita, harusnya patut kita syukuri moyang kita telah membuat pondasi peradaban yg sangat meodern, sayangnya generasinya tidak menanmkan rasa cinta pada peradaban nenek moyang mereka. Jepang, China, India, Arab dan Eropa membangun peradaban diatas pondasi yg telah dibangun nenek moyang mereka... Lalu kita..... Apakah para pembaca panyingkul juga masih bisa membaca peninggalan moyang mereka?
09-02-2007
Dari : idham | idham_4@yahoo.co.id
Saya Bangga sekali dengan adanya artikel-artikel tentang bahasa bugis,semoga bahasa bugis tetap lestari sebagai bahasa daerah orang bugis walaupun sekarang putra-putri kelahiran bugis sudah jarang memperhatikannya.Res opa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata.Ewako Tau Ogi na Pangkajene SIDRAP.
23-01-2007
Dari : Rasjid | rasjid.amin@t-online.de
Munkin karena masih terpukau oleh tulisan Pak Aan, sampai menulis alamat yang tidak lengkap
23-01-2007
Dari : Rasjid | rasjid.amin@t-online.
Pembahasan yang hebat ! Pak AAn, saya salut atas tulisan anda. Saya meliwatkan waktu lebih satu jam hanya untuk membaca dan berusaha mengerti sedikit apa yang anda sajikan itu.
23-01-2007
Dari : adda | axedark_doang@yahoo.com
Waktu saya masih SD dan SMP,masih sempat di ajarkan elong maliung bettuanna di atas terutama dalam pelajaran bahasa daerah bahkan selingan di antara pelajaran-pelajaran lain,menarik sekali,bahkan setelah beberapa tahun masih teringat dan sebagian di antaranya merupakan nilai-nilai yang di pegang oleh orang bugis,mudah-mudahan sekarang pun elong maliung bettuanna di atas masih di ajarkan ke anak-anak sehingga nilai-nilai budaya tetap lestari
23-01-2007
Dari : tommy | tompart56@yahoo.com
Membaca tulisan ini , saya teringat sewaktu SMP dimana saya diajarkan bahasa Bugis ( tahun 1970 an ) oleh ibu guru yang sangat disiplin dalam mengeja lafal2 bahasa Bugis) Terima kasih tulisannya,saya tertawa sendiri membacanya sebab teringat saat salah mengeja huruf dan cuping telinga yang jadi sasaran ibu guru.
22-01-2007
Dari : rahman | massandala_siwali@yahoo.co.id
ga nyangka kalau leluhur kita ternyata ahli bahasa juga,,, bangga jadi orang bugis
22-01-2007
Dari : Sammy Lee | lee_sammy@telpacific.com.au
Wah, sungguh ruar biasa! Kagum dan bangga saya, Pak Aaan! Sayang usiaku sudah terlalu senja. Rasanya sangat kepengen menyelidiki lebih banyak kekayaan kebudayaan bangsa kita, terutama suku bugis. Wow! Nyata lebih hebat dari William Shakespeare punya karya, di? Saya teringat banyak tahun yang lalu, hehe, mungkin lebih tepat saya mengatakan, sudah lupa tahun berapa kejadian ini, dan saya tidak pasti yang mana, entah Christian Pelras atau Roger Tol, mungkin ada yang dapat menolong mengingatkan saya, tapi satu kali ada seorang bule yang badannya berbulu lebat sekali naik bis DAMRI dari Jalan Pelabuhan menuju ke jalan Maros. Ketika naik ke bis itu beberapa ibu-ibu berbisik kepada satu sama lain, "E dede sangkama leba ki dare!" (Wah, persis seperti monyet tampaknya!" Si Bule itu diam saja dan duduk di bangku paling belakang. Kemudian ketika tiba di Jl. Maros dia mau turun. Melewati ibu-ibu yang memberikan komentar tadi, si tamu asing, yang rupanya adalah seorang ahli bahasa daerah Bugis dan Makassar, berkata dengan sangat lancar dan dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua yang dibis itu: "Tabe katte, na malo anne dareka!" Saya perhatikan semua ibu-ibu itu menjadi merah dan ada yang malah pucat mukanya menahan malu. Saya boleh bayangkan mungkin kalu boleh mereka ingin masuk kekolong tempat duduk mereka bersembunyi waktu itu. ****


New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: