29 November 2008

[ac-i] jurnal cerpen indonesia

Jurnal Cerpen Indonesia: Benteng Terakhir Para Cerpenis
Oleh Republika
Selasa, 18-Juni-2002, 20:14:00 Klik: 6323

Mengimbangi derasnya karya cerpen bermutu berikut kreatornya, sejumlah cerpenis dan pengamat sastra kini menerbitkan 'Jurnal Cerita Pendek Indonesia' (JCPI). Peluncuran perdananya telah dilakukan awal Februari lalu di Bali, di tengah pelaksanaan Konggres Cerpen Indonesia II. Kelahirannya dibidani oleh Yayasan Cerita Pendek Indonesia (YCPI), tempat berkumpulnya para seniman sastra seperti Joni Ariadinata, Hudan Hidayat, Maman S Mahayana, Ahmad Tohari, Bakdi Sumanto, dan Raudal Tanjung Banua. Kesemua nama ini tentu tercatat juga sebagai dewan redaksi, kecuali Bakdi Sumanto yang digantikan Satmoko Budi Santoso.

Jurnal ini, kata Joni Ariadinata, salah seorang inisiatornya, merupakan cermin eksistensi cerpen dalam sebuah keberagaman dunia seni, yang juga membutuhkan media lain di samping media massa yang ada. ''Ini supaya cerpen bisa menguji diri sampai batas-batas yang mungkin dicapainya, sesuatu yang hampir mustahil ditampung oleh media seperti koran atau majalah,'' paparnya. Watak media massa sejenis koran dan majalah seperti jumlah halaman yang terbatas, segmen pembaca tertentu, atau syarat komunikatif yang diberlakukan, menurutnya, menjadi penyebab kemustahilan itu.

Jurnal berisi dua tulisan esai tentang cerpen dan delapan cerpen yang bertebal 140 halaman ini, kata Joni, dimaksudkan juga sebagai laboratorium yang mengkhususkan pada penulisan dan pengembangan cerpen dalam arti seluas-luasnya. Untuk itu, sambungnya, jurnal ini mencari dan menampung karya-karya dengan perambahan dan eksperimen sejauh-jauhnya.

Tapi menurut Hudan Hidayat, keberadaan JCPI ini juga sebagai wadah bagi karya para cerpenis yang tak bisa diakomodasi koran atau majalah, baik karena alasan tema maupun penulisan. ''Banyak pengalaman teman yang punya cerpen bagus, tapi tak bisa dimuat,'' tuturnya.

Ia menyebut contoh cerpen berjudul 'Tamlika' berisi kritik pedas buat pemerintah yang tak laku di media massa mana pun, termasuk majalah sastra 'Horison.' Begitu pula karya-karya tinggi Danarto, seperti 'Menjaring Malikat, Godlob' dan 'Adam Makrifat' serta kumpulan cerpen Sutardji Calzoum Bachri yang mampu mengorek otak dan hati, 'Hujan Menulis Ayam'.

''Kita butuh media yang bisa mengeksplorasi cerpen sejauh-jauhnya. Karena ini juga merupakan bentuk penghargaan atas eksistensi seniman itu,'' tandas penulis kumpulan cerpen 'Orang Sakit' ini. Jurnal ini, harapannya, dapat menjadi tempat yang layak bagi cerpenis untuk mengembangkan diri.

Cerpen yang dimuat dalam jurnal triwulanan ini, kata Hudan, tak bisa disentuh aparat dengan alasan konteks wacana ilmiah. ''Ini salah satu siasat. Dan pemerintah jangan marah kalau ada cerpen yang mengkritik dan menghantam kebijakannya,'' tukasnya. Namun, ia juga menyadari bahwa cerpen itu tak boleh hidup terpencil. Cerpen harus dibaca orang.

''Secara kualitas kita ingin bikin cerpen yang 'gila', tapi bersamaan itu bisa pula diterima orang banyak,'' ungkapnya. Dan itu, lanjutnya, memang menjadi tantangan yang tak mudah.

Jurnal yang terbit sekitar 3.000 eksemplar dan memiliki target sasaran masyarakat luas ini, papar Hudan, berusaha pula mengedepankan pencarian dan pengucapan baru di dalam ranah cerpen. Ia tak menepis anggapan bahwa jurnal cerpen ini akan menjadi bacaan berat. ''Kita tak bisa lagi membiarkan anak-anak hanya membaca hal yang 'ringan'. Hatta dan Sjarir itu sudah baca buku Marxis sejak mereka muda,'' tandasnya. Hudan menambahkan, mereka berusaha pula menepis anggapan bahwa anak SMU sekarang itu tak sanggup baca yang 'berat-berat'.

Pemunculan jurnal cerpen yang telah dirintis sejak setahun lalu ini, papar Hudan, juga diharapkan menjadi juru bicara cerpen Indonesia. ''Seolah-olah cerpenis Indonesia itu telah berhenti sampai Danarto dan Seno Gumira Ajidarma saja,'' paparnya.

Sementara regenerasi yang kurang tajam, sambung Hudan, cerpenis-cerpenis baru terus bermunculan. Nama-nama cerpenis besar dan bernas yang sudah ada kian panjang deretannya hingga kini. Sebut saja Hamsad Rangkuti, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, Umar Kayam, M Fudoli Zaini, Satyagraha Hoerip, Danarto, Sinansari Ecip, Bakdi Soemanto, Gerson Poyk. Lalu Korrie Layun Rampan, Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ekram Jamil, Gus Tf Sakai. Berikutnya yang kian memantapkan barisan cerpenis nasional adalah Joni Ariadinata, Agus Noor, Hudan Hidayat, dan Satmoko.

Karya-ka rya mereka bertebaran di majalah dan koran serta parade panggung cerpen. Dari situlah, terutama media massa cetak dan publik mengenal sambil mengikuti perkembangan cerpen. Cerpen sudah menjadi bagian dari berita-berita minggu media cetak Indonesia. Akibatnya, banyak dikatakan oleh para penulis cerpen, ada kecenderungan cerpen yang dimuat disesuaikan dengan selera media tersebut, minimal selera redaktur budayanya.

''Jurnal ini ingin memberi gelanggang baru dan mematahkan hegemoni yang ada,'' ujarnya. Hudan mengibaratkan jurnal cerpen ini menjadi gizi tambahan bagi pikiran dan perasaan masyarakat.

Menurut pengamat sastra DR Riris Thoha Sarumpaet, adalah wajar dan manusiawi bila keberadaan jurnal cerpen ini menjadi wadah ekspresi para cerpenis yang kurang mendapat kesempatan di halaman media massa. ''Hanya saja, saya kurang yakin apa betul sudah tak ada tempat lagi bagi para cerpenis untuk tampil di media massa,'' papar dosen FSUI ini. ''Saya kira media massa cukup memberi kebebasan..., dari cerpen yang terbagus sampai yang terlucu.''

Namun Riris memaklumi adanya berbagai keterbatasan koran dan majalah sebagai wadah bagi cerpen. Dengan adanya kriteria media massa, sementara terdapat beragam cerpen dan cerpenis, maka dapat dipahami bila kemudian muncul kebutuhan wadah seperti jurnal ini.

Perempuan yang juga sering menjadi juri penulisan cerpen ini mengatakan wajar pula jika seorang redaktur majalah atau koran memilih cerpen dengan penulis yang terkenal. ''Dengan waktu yang tak banyak, redaktur tak mau mengambil risiko besar. Cerpenis besar yang dianggap punya kekuatan dalam tulisannya akhirnya jadi pilihan utama,'' katanya.

Riris memberikan apresiasi bagi para cerpenis yang berani melahirkan jurnal cerpen. ''Betapa pun merasa dirinya tak diterima, namun bisa menciptakan jurnal. Dan ini menjadi pembuktian bahwa mereka tak hanya menerima cerpenis 'bermerek', tapi juga bikin diri mereka bermerek juga,'' ujarnya.

Riris berharap jurnal ini tak hanya menjadi letupan tuntutan sesaat saja. Upaya untuk tetap mempertahankan kualitasnya, kata Risis, menjadi tantangan utama di samping pengelolaan yang benar dan terencana serta ketersediaan dana yang menyakinkan. ''Jangan asal terbit, asal kumpul saja,'' tandasnya.


Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: