24 November 2008

[ac-i] Fantasia at Emmitan Gallery, November 30th, 2008

We wormly invite you to attend the opening of

Visual art exhibition

 

Ahmad Zaki & Nico Ricardi

 

"FANTASIA"

 

Sunday, November 30th, 2008

07.00 pm

 

At Emmitan fa Gallery

Jl. Walikota Mustajab No. 76, Surabaya 60272, Indonesia

 

The exhibition curated by Kuss Indarto

 

PROFIL SENIMAN:

Dimensi Ruang dan Subyek Benda Nico-Zaki

 

Keberjamakan estetika karya seni rupa kontemporer Indonesia kini bertambah kaya dengan kemunculan perupa yang menaruh perhatian besar pada aspek eksplorasi dimensi ruang dan subyek benda. Momentum pameran bersama antara perupa Nico Ricardi dan Ahmad Zaki yang kebetulan sama-sama berdarah Minangkabau kali ini boleh jadi adalah upaya untuk menunjukkan seberapa jauh celah obyek estetika berupa dimensi ruang dan subyek benda tersebut digarap menjadi karya yang artistik dipandang dalam kepatuhan kisi-kisi pakem disiplin seni rupa.

 

Ada banyak hal yang ternyata memang cukup menarik digali. Oleh karena itu dua perupa ini ingin membuktikan seberapa jauh sisi menarik tersebut memang dapat dijumput. Berikut ini adalah esai naratif yang merupakan intisari wawancara terhadap perupa Nico Ricardi dan Ahmad Zaki. Semoga dapat memperkaya dimensi keruangan kita dalam mengapresiasi subyek lukisan sebagai benda yang memang terkodratkan mempunyai alasan multi-estetik. Catatan ini mencoba membentangkan kanvas dengan sedikit investigatif sebagai konsekuensi untuk mewujudkan dimensi alternatif pelacakan guna memahami subyek latar belakang penciptaan atau proses kreatif berkarya sang seniman.      

 

***

 

[Besi-besi yang Dingin di Ruang Nico Ricardi]

 

Gagasan paling elementer yang memicu saya melukis obyek soal benda seperti besi atau logam, metal atau baja ini sebenarnya adalah upaya untuk mengeksplorasi wilayah dua dimensi. Kelebihan sudut pandang dua dimensi adalah kekayaan perspektif. Ini yang harus disadari. Saya mencoba jujur saja, merasakan ketika melihat kanvas, ada gejala visual apa yang saya tangkap, lantas saya pertimbangkan masak-masak enaknya diisi apa. Kekhasan yang ingin saya tonjolkan dalam eksplorasi ranah bidang dua dimensi tersebut adalah soal maksimalisasi pengolahan ruang. Saya kira, itulah yang memang membedakannya dengan ruang tiga dimensi karena di dalam pemahaman ruang tiga dimensi cenderung lebih konkret, lebih fleksibel. Kita pun bisa bermain menggunakan media apa saja, tidak terbatas. Ruang tiga dimensi memang lebih kompleks tantangan eksplorasinya, susah diprediksi. Untuk konteks pembicaraan tentang ruang tiga dimensi, saya tidak membedakan antara pemahaman dalam seni lukis dan patung. Apalagi sekarang zamannya visual, aspek eksplorasi atau permainan dalam ruang tertentu amat penting sekali.

 

Banyak orang yang mempertanyakan apakah jika saya sekarang menekuni aspek ruang dua dimensi sebetulnya adalah mencari jalan mudah setelah bermain dengan tiga dimensi yang sangat kompleks? Ada juga pertanyaan lain, apakah saya hanya memindahkan tema yang tidak bisa ditampung dalam ruang tiga dimensi lantas ambruk begitu saja ke alternatif ruang dua dimensi? Alasan yang tepat adalah saya merasakan bahwa dalam berkarya di ruang dua dimensi saya merasakan belum mencapai harapan puncak. Karena itu terus mencari. Kemarin-kemarin saya berpameran semacam ini kan hanya ikut event-event tertentu saja, setiap event paling banter dua karya. Sekarang mumpung ada kesempatan untuk mengeksplorasi bidang dua dimensi secara lebih intensif, apalagi merupakan pameran bersama dua orang yang mempunyai pendekatan visual relatif sama, bisa dilihatlah bagaimana hasilnya. Bagaimana pencapaian yang telah kami lakukan.

 

Jujur saja, dengan berkarya semacam ini, saya hanya ingin menonjolkan aspek penting dalam psikologis saya, bahwa saya enjoy. Ini merupakan jalan dalam menjawab tantangan dari dalam diri sendiri bahwa saya benar-benar tidak takut mengeksplorasi pendekatan tertentu atau katakanlah bentuk baru. Dalam mengeksplorasi itu, tentu saja saya tidak lepas tangan begitu saja. Saya punya rambu-rambu supaya karya saya tidak dengan gampang ikut atau terpengaruh dengan seniman lain. Ya, asal orang tahulah bahwa saya mempunyai karakteristik dan pendekatan karya yang lebih spesifik dari yang lain. Sejumlah lukisan dalam pameran ini mengacu pada obsesi saya karena secara tidak langsung saya juga ingin menegaskan bahwa inilah bidang flat (datar) yang tidak bisa dinegosiasi lagi. Saya pun tidak mau mendramatisasi dimensi itu dengan interpretasi-interpretasi yang terlalu kabur sebab nanti malah absurd.

 

Bagi saya, titik menarik dalam mengolah obyek besi karena besi cukup mempunyai karakter. Karakter tersebut bisa diolah misalnya saja karena aspek karatannya. Karatan (korosi) tersebut juga bisa menjelma menjadi jembatan obsesi yang lain. Karatan sebagai tanda tertentu ternyata cukup representatif jika dikembangkan dalam pemahaman yang lebih luas lagi.

 

Saya menekuni obyek semacam ini mulai tahun 2004. Tentu saja ada pergeseran sudut pandang atau perspektif sampai pada proses kreatif yang muncul di kurun 2008 ini. Dulu saya menganggap karatan itu hanyalah obyek yang semata-mata bisa dilihat, sekarang saya melihat karatan bisa menjadi jembatan untuk sesuatu hal yang bernilai kompleks interpretasi dan pemaknaannya. Kendala nilai estetik yang muncul ketika saya terobsesi tentang karatan lebih sering bertumbuk pada kekhawatiran sudut pandang tertentu: apakah efek karatan yang saya buat bernilai sekadar sebagai penghias atau justru menguntungkan? Hal itulah yang saya timbang-timbang secara matang: cocokkah jika saya terapkan?

 

Memang, pengalaman saya ketika membuat karya patung cukup biasa memunculkan figur manusia. Ketika melukis saya tidak memunculkannya lagi karena kalau membuat figur manusia lebih baik dengan perspektif tiga dimensional yang bisa dilihat dari segala sisi. Tidak terbatas pada dimensi tertentu yang malah akan membuatnya bernilai nanggung. Kalau kita melibatkan sosok tubuh pada bidang kanvas, otomatis nanti kalau kita nggak kuat mengontrolnya akan kecolongan juga. Jangan-jangan kita malah nyerempet ke masalah yang secara estetik tidak kita inginkan. Akhirnya orang membaca karya kita juga jadi enggak jelas.

 

Karya saya cenderung diakromatik (dua warna) dan identik tidak cerah. Visualisasi yang sepertinya berjarak dengan realitas. Mungkin karena kaitannya dengan emosi saya yang muncul waktu itu. Meski warna-warna yang tidak terlalu cerah sebetulnya juga kebiasaan dari dulu. Saya merasa cocok dengan warna semacam itu. Saya tidak mau memaksakan diri dengan macam-macam warna yang akhirnya nanti malah membuat saya sendiri tidak enjoy. Jika karya saya ada yang menyebut sebagai optical art (op-art) sehingga mampu memerangkap secara optik, menurut saya kembali ke esensi bentuk atau aspek rupanya bagaimana? Apakah posisi mata penikmat memang enjoy? Selanjutnya terserah bagaimana menafsirkannya lagi.

 

Mengenai aspek keminangkabauan, saya tetap tidak melupakan spirit tradisi itu di dalam proses kreatif. Tetapi saya juga tidak akan memunculkannya secara verbal, meskipun pergulatan kreatif saya adalah juga bersama rekan-rekan sesama Minang. Secara tidak langsung saya justru terpengaruh pada karya seni rupa yang dulu-dulu saja. Pokoknya zaman dulu banget. Apalah itu namanya mooi indie, renaisans, atau sejenisnya. Kasus-kasus visual yang muncul pada era itu saya pelajari. Meskipun akar obsesi saya tetap akan memainkan identitas visual yang berunsur benda seperti besi. Kalaupun obyek berujud jendela, ya ada unsur besinya. Begitu pula dengan benda atau barang lainnya.

 

Proses kreatif dengan kecenderungan kekhasan perspektif semacam ini dipicu karena semenjak di bangku SD saya senang soal pendekatan pemahaman yang menggunakan ilmu perspektif. Tapi saya benar-benar kesusahan dengan masalah hitung-menghitung. Karena itulah saya lebih suka lari ke kecenderungan art-nya dengan alasan lebih bebas. Sejak kecil saya juga senang otomotif. Merangkai-rangkai pun saya suka. Ditambah lagi dengan kesukaan saya dalam mengoleksi majalah, otak-atik motor, tentu saja itu melecut pengalaman soal mengolah benda dan upaya penempatannya dalam sudut pandang yang berdimensi tertentu. Dulu, waktu masih kecil, kalau kakak saya menangis maka ia akan diam jika dibujuk dengan uang atau makanan. Berbeda dengan saya, biasanya sehabis menangis akan diam kalau digambarin mobil. Hal itu mengimbas dalam perjalanan hidup saya, sampai ketika remaja kalau pas saya pergi ke terminal melihat banyak bus maka perasaan saya senang sekali. Rupanya keterlibatan emosional dalam memandang dan mendudukkan benda dalam porsi maupun komposisi tertentu memang menjadi acuan alter ego yang sulit dibendung.

 

Khazanah karya-karya yang berjenis abstrak, dekoratif, surealis, dan macam-macam aliran lainnya sudah cukup kita pahami dalam percaturan dunia seni rupa kita. Dan saya ingin membuat semacam terobosan, tentu saja sepenuh rasa percaya diri yang saya anggap tahu dan bisa. Saya yakin, ciri estetik yang saya pamerkan kali ini, yang saya rasa tidak terkungkung pada tema yang sempit, dapat memberi sumbangan signifikan bagi perkembangan khazanah karya seni rupa Indonesia. Meski bagi saya, yang namanya perubahan itu juga sangat penting. Saya sendiri tidak akan mengekang diri, bagaimana jika selanjutnya justru berubah, baik dalam hal kecenderungan gaya atau ciri estetik yang tidak melulu berupa benda tertentu. Nilai eksploratif tetap saya kedepankan bahkan setelah lahirnya karya-karya sebagaimana yang ada di dalam pameran kali ini.

 

***

 

[Ceret di Lukisan Ahmad Zaki]

               

Karya-karya saya memang punya titik perhatian utama, yakni menggali subyek benda seperti ceret atau alat lainnya, yang berfungsi untuk menjerang air. Sebenarnya, kalau dibilang punya latar belakang atau tidak terhadap selera semacam ini, maka saya rasa tak ada latar belakangnya sama sekali. Termasuk terhadap latar belakang masa kecil saya. Ya, pokoknya saya tertarik saja dengan acuan subyek benda.

 

Saya sangat menekuni obyek semacam ini pada 2007 awal. Awalnya adalah ceret yang muncul terlebih dahulu dan saya eksplorasi aspek kebentukannya. Sekarang saya lebih menempatkan teko sebagai idiom tertentu, obyek yang khas saja. Ya, kebetulan saja saya lagi senang sama obyek ceret, maka kesenangan itu saya maksimalkan dalam visualisasi karya estetik.

 

Secara konseptual ceret saya bikin untuk membantu "menjelaskan keruangan-keruangan", batas-batas ruang yang ada di dalam karya-karya saya. Oleh sebab itulah maka saya relatif bermain perspektif yang justru tak real. Saya menawarkan kemungkinan aspek ruang dan keruangan dalam lukisan. Itulah sudut yang bisa dieksplorasi. Titik acuan yang membuat saya tertarik dengan obyek semacam ini, dengan pengenalan perspektif yang beragam. Pada titik ini saya belajar banyak pada tokoh seniman yang juga ahli matematika, Escher yang karyanya memperlihatkan kemampuannya dalam memainkan perspektif dan aspek keruangan. Hal yang paling menantang saya dalam mengeksplorasi karya semacam ini adalah bagaimana membuka kemungkinan untuk memunculkan ruang dan obyek yang baru. Kendala estetika yang saya temui lebih teknis, yakni persoalan warna, atau komposisi, misalnya.

 

"Saya inginnya begini, lho kok enggak ketemu," begitu misalnya, "Jadi, ibaratnya, bisa saja antara 'kepala' dan bagian 'kaki' malah tidak sinkron."

 

Sebelum mengawali karya-karya semacam ini saya bikin sketsa dulu, pakai media olahan foto di komputer, memotret obyek secara langsung, dan tentu saja menghabiskan banyak ceret sebagai bahan observasi maupun eksplorasi. Kurun waktu ketika pengolahan estetika sebelum fase ini belumlah mencoba mengeksplorasi bentuk ceret secara serius. Jika ada yang bilang karya saya cenderung sangat terukur, rapi, aspek-aspek subyeknya tergarap, sisi akurasinya berseberangan dengan kelompok atau komunitas seni lainnya, ya silakan bagaimana penikmat seni menilainya. Ada yang sampai membandingkannya dengan kelompok seni senior seperti Kelompok Jendela, misalnya, yang kadang-kadang secara visual identik dengan ihwal "coreng-moreng, tidak menggarap pilihan visual yang realistik", ya silakan saja. Hanya saja aspek realistik di dalam karya saya lebih saya maksudkan sebagai usaha mengeluarkan apa yang saya pikirkan, saya gelisahkan. Ya, lebih pada eksplorasi pemikiran saja. Enaknya gimana. Jadi, lebih karena alasan pribadi saja.

 

Seniman lokal yang jadi acuan kreatif saya kebetulan relatif tidak ada. Kali ini pun kalau saya bikin lukisan dengan ukuran relatif besar, sebenarnya juga lebih memenuhi permintaan galeri saja. Permintaan itulah yang kemudian menantang dikembangkan lagi. Di satu sisi saya tertantang bagaimana menjadikan karya tersebut semaksimal mungkin. Itulah tantangan menariknya, bagaimana mengeksplorasi kreativitas sejauh yang saya mampu. Penjelajahan kreatif tersebut saya harapkan bisa diapresiasi secara proporsional.

 

Pilihan subyek tentang benda tertentu seperti teko atau ceret memang bukanlah pilihan yang bersifat segera atau serta-merta. Pastilah ada prosesnya. Uniknya, sebelumnya saya malah lebih tertarik terhadap tema lingkungan, seperti hutan, daun, pokoknya yang berbau neo-mooi indie. Boleh jadi jika dirumuskan secara filosofis, maka jadinya pendekatan eksploratif soal benda dan ruang ini ibaratnya adalah kalau kita misalnya membikin kopi di satu ceret, maka yang lainnya pastilah dapat giliran atas ceret tersebut. Inilah pemikiran awal saya, keberangkatan saya tertarik mengeksplorasi soal sudut pandang ceret. Atau dalam pendekatan rumusan filosofis lainnya adalah jika kita membikin kopi maka mestilah semuanya dapat kopinya. Hanya saja takarannya berbeda antara satu dengan yang lain.

 

Saya mendasari pameran bersama ini tidak dengan pendekatan konsepsi yang berlebihan. Saya kira hanya karena saya lancar berkomunikasi dengan Nico Ricardi yang sesama anak Minang, lagi pula kebetulan bertetangga, maka dalam pembicaraan dan arah agenda pameran pun dapat dikondisikan. Memang, dalam amatan saya belakangan ini banyak perupa yang sangat suka mengolah aspek perspektif. Nah, saya sendiri point-nya bukan lagi sekadar masalah perspektif, tetapi mencoba merambah aspek yang lebih luas lagi. Benar jika ada yang mengatakan bahwa aspek pemiuhan atau pembelokan perspektif dan juga logika menjadi bagian cara ucap estetika yang saya kembangkan. Tapi, saya berusaha bersetia mendudukkan obyeknya masih tetap realistik. Inilah variabel cukup spesifik yang bagi saya belumlah digali secara maksimal.

 

Memang benar jika ada yang mengatakan bahwa seorang Escher adalah seorang seniman yang fisikawan dan matematikawan sehingga karya-karyanya bisa begitu matematis, aspek perspektifnya pun tidak tumpang-tindih, jika ada pemiuhan maka pemiuhan tersebut terukur secara matematis, tidak optis (optical) saja. Bolehlah dianggap karya saya sekarang acuannya mengarah ke sana, meskipun bagi saya hasilnya tetap belum sematematis yang dikerjakan Escher. Apa mau dikata, saya malah lebih memaksudkannya ke pendekatan soal rasa yang enak secara personal dari dalam diri saya saja.

 

Ada juga yang menganggap bahwa disiplin keilmuan saya dari bidang kriya (logam) ke bidang seni lukis ternyata cukup membekali menjadi orang yang cenderung suka menghias. Memang, kalau disiplin ilmu kriya arahannya lebih ke bentuk-bentuk dekoratif, banyak mengolah aspek hiasan. Pengaruh unsur dekoratif tersebut ternyata tanpa disadari sering saya tampilkan ke bidang garapan seni lukis, dan teman-teman saya sering mengomentari bahwa aspek kriyanya sangat terasa terbawa dalam kanvas. Jujur saja, hal itu sering tak begitu saya sadari.

 

Kalau soal rencana kapan saya menggeser selera estetik, baik dalam hal tema atau apa pun saja, ya itu bisa saja terjadi entah kapan. Boleh jadi, yang mendasari tetap tak beranjak dari wilayah personal saya, lebih ke aspek psikologis saja. Kalau rasanya pas ingin pindah selera estetik ya pindah. Suatu waktu, mungkin lima tahun atau tujuh tahun kemudian bisa balik lagi. Benarlah kata orang, bahwa kecenderungan lukisan saya tidak melimpah warnanya, paling 2 atau 3 warna saja. Suatu hal yang lagi-lagi secara kebetulan saja saya rasakan memancing kemungkinan enjoy. Memang, point of interest karya-karya saya yang relatif tersembunyi sebetulnya lebih pada persoalan untuk mengolah komposisi warna. Itu saya sadari.

 

Gimana asyiknya saja deh ya. ***

 

Dituliskan kembali oleh Kuss Indarto dan Satmoko Budi Santoso.

 

KURATORIAL:

Fantasia

 

Oleh Kuss Indarto

 

Kedua seniman muda ini sama-sama berdarah Minangkabau. Sama-sama bertaruh nasib dengan melanglang dari Sumatra Barat menuju Yogyakarta untuk studi di Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta. Juga sama-sama tinggal di satu kampung di Sewon, Bantul, Yogyakarta. Dan sama-sama menunjuk sosok Maurits Cornelius Escher (1898-1972) sebagai salah satu titik acuan utama pada pola kekaryaannya dalam beberapa waktu terakhir.

 

Memang, kalau disimak dengan detail pada semua karya kedua seniman ini, ada satu titik temu yang mempertautkan keduanya dalam satu ketertarikan, yakni menggagas sebuah permainan perspektif di tengah limpahan objek benda-benda dan lanskap keseharian. Kalau kemudian mereka merujuk pada seniman kelahiran Leeuwarden, Belanda, yakni M.C. Escher, tentu ada pemahaman yang bisa diakuri setelah mencermati karya-karya Zaki dan Nico ini—dengan mengulang-alik ingatan publik pada karya-karya M.C. Escher.

 

Menggali Optical Art

 

M.C. Escher sendiri lebih dikenal sebagai salah satu seniman legendaris di Belanda yang menyuntuki seni grafis (printmaking) sebagai pilihan basis kreatifnya. Lithografi adalah satu di antara beberapa medium yang digeluti hingga menelurkan rentetan karya-karya puncak—di samping menghasilkan sekian banyak karya cukil kayu (woodcuts dan wood curving), skesta dan gambar. Seniman yang menyelesaikan studi arsitektur di School for Architecture and Decorative Arts, Haarlem, Belanda, ini banyak memunculkan fenomena visual dalam karyanya dengan memberi penekanan pada "simulasi perspektif". Artinya, kurang lebih, aspek perspektif dalam karya dua dimensi dieksplorasi lebih jauh dengan tipuan-tipuan optis yang menghasilkan kaburnya logika "perspektif natural". Di dalamnya ada semacam proses penciptaan bentuk nyata melalui model-model yang memampukan apresian menghadapinya sebagai ilusi, fantasi, atau khayali karena seolah tampak menjadi nyata. Dalam "perspektif natural" ini batasan antara jauh-dekat, atas-bawah, tinggi-rendah, dan sejenisnya jelas dibatasi oleh kelaziman umum dengan menyertakan ketertiban cara berpikir yang masuk akal.

 

Sementara seniman yang semasa hidupnya menghasilkan 448 karya printmaking serta 2.000-an sketsa, drawing dan lainnya ini mencoba mengingkari "perspektif natural". Oleh Escher, "perspektif natural" ini ditabrak dengan "semena-mena" untuk menghasilkan kemungkinan "realitas perspektif baru". Lewat kreativitas artistik, akurasi matematis dan perhatiannya pada detail, Escher mencoba masuk untuk bermain-main dengan membelokkan logika "perspektif natural" sekaligus mengaplikasikan sepenuhnya kemampuan dirinya dalam ilmu matematika. Maka, lahirlah karya-karya yang memberi daya ganggu terhadap mata apresian karena adanya pembelokan logika perspektif yang telah dimain-mainkannya secara optis-matematis. Inilah yang kemudian ditengarai oleh para kritisi sebagai karya optical art atau op art. Publik tentu mampu mengenang dengan ingatan yang kuat atas karya besar Escher yang memain-mainkan aspek perspektif ini, seperti karya lithografi bertajuk High and Low yang dibuatnya tahun 1948, House of Stair (1951), Relativity (1953), Waterfall (1961), dan karya lainnya. Karya-karya tersebut dapat dengan tegas menunjukkan pemahaman dan penaklukannya atas ihwal perspektif.

 

Bertahun-tahun kemudian, menyeruak juga nama-nama besar di jagad seni rupa dunia yang mengukuhi pilihan kreatifnya dengan menggali sebesar-besarnya optical art ini. Misalnya ada Victor Vasarely (1908-1997) dan Bridget Riley (1931-…), untuk menyebut beberapa nama yang paling dikenal.

 

Namun, dibandingkan dengan (terutama) Vasarely, Bridget Riley maupun tokoh op art lainnya, Escher memiliki titik beda, yakni mengembangkan op art sebagai bagian dari ketertarikannya untuk melukiskan lanskap dan lingkungan sehari-hari. Bukan sekadar bermain-main dengan tarikan garis-garis yang berjajar, bergelombang, yang membentuk ritme garis, kesan ruang dan citra bentuk yang terkadang masif, monoton dan kering. Escher bisa keluar dari perangkap monotonitas itu. Inilah kelebihan Escher yang pernah mengecap studi arsitektur sehingga bisa menyatukan antara permainan optik, matematika sekaligus arsitektur secara lebih artistik.

 

Ruang Fantasi dalam Kaburnya Perspektif

 

Bagi Zaki dan Nico, poin ini menjadi hal mendasar ketika mereka menjatuhkan pilihan untuk menentukan kecenderungan karya seniman sebagai titik acuan. Meski tak begitu ketat dan optimal menyimak semua karya Escher, namun keduanya memberi apresiasi yang besar hingga kemudian menjadikannya sebagai sumber preferensi. Harus saya tekankan terlebih dulu di sini bahwa perkara gejala pengaruh-mempengaruhi di sini tidak cukup relevan jika dibicarakan dalam konteks ketaatan pada aspek orisinalitas dan otentisitas, namun mesti dilihat secara lebih luas sebagai pernyataan konteks pertalian dan pertukarannya. Kedua seniman muda ini jelas memiliki konteks masalah, penjelajahan artistik, dan konsep kreatif yang berjarak dengan M.C. Escher. Mereka berdua memiliki sumber gagasan yang saling berbeda (juga dengan Escher), yang kemudian digubah dengan mempertukarkannya lewat modus kreatif masing-masing. Inilah poin pokoknya.

 

Zaki menerima keterpengaruhan di atas dengan melekatkannya pada karya-karya yang memiliki subject matter (pokok soal) berujud benda bernama ceret. Ceret yang beragam warna itu berasal dari model benda sesungguhnya yang dipiuhkan, diobrak-abrik dan dibedah dari wujud asalinya. Di sekitar ceret, terutama di bagian bawahnya, dijajarkan cangkir-cangkir dalam beragam posisi dan konfigurasi. Benda ceret dan cangkir "dipertemukan" oleh jalinan citra aliran air yang mengucur. Dan pada titik temu air antara ceret dan cangkir inilah fantasi tentang perspektif dimainkan dengan piawai oleh Zaki. Apresian bagai digoyang fantasinya tentang aliran air yang berakibat pada merapuhnya asumsi tentang konfigurasi cangkir yang telah tertata sebelumnya. Aliran air itu menjadikan persepsi atas posisi cangkir yang di bawah dan yang di atas, yang lebih tinggi dan yang lebih rendah, yang lebih depan dan yang lebih belakang, menjadi goyah. Inilah fantasi atas permainan perpektif yang dicapai oleh Zaki sehingga layak untuk ditempatkan sebagai karya dengan pendekatan optical art.

 

Pun dengan karya Nico Ricardi yang melakukan pendekatan kreatif serupa. Pilihannya untuk menampilkan citra plat-plat besi (berikut gambar pola yang teratur dan monoton) masih membekas dengan kuat setelah dimunculkannya pertama kali sekitar tahun 2004 lalu. Citra plat besi itu kini tak sekadar hadir secara frontal, namun telah banyak menciptakan fantasi ruang-ruang. Dan ruang-ruang yang tercipta dari "perspektif natural" ini juga dibuyarkan dengan memain-mainkan lewat beberapa citra benda (seperti pilar yang menempel di dinding) yang ditempatkan pada sudut tertentu hingga berdampak pada merapuhnya "perspektif natural" tersebut. Citra ruang yang kemudian terbentuk telah menampilkan pembelokan logika karena ketidaklaziman tersebut. Maka, menyimak karya-karya Nico yang cenderung memilih tidak royal dalam pewarnaan (hanya monokromatik atau diakromatik), justru bertambah "warna" karena kemampuannya menggoyahkan perspektif dalam kanvas.

 

Menariknya, kedua seniman ini tidak memiliki semacam garis ideologi yang tegas (setidaknya tidak diliontarkan secara verbal) atas pilihan-pilihannya untuk menyuntuki object benda tertentu. Zaki sangat fokus dalam mengangkat ceret dan pasangannya, cangkir. Sedang Nico banyak mengemukakan plat-plat besi yang masif. Namun mereka sekadar mengatakan bahwa hal itu sekadar sebagai ketertarikan atas aspek visual, belum menguliti hal tersebut sebagai basis ideologi kreatif, misalnya.

 

Mungkin tak selamanya ideologi kreatif harus dinyatakan secara terbuka dan verbal, namun cukup dengan mencermati lewat kecenderungan yang telah menjadi artefak dalam karyanya. Karena, apapun—seperti diungkapkan Brian Wallis dalam What's Wrong with This Picture, 1984: xv—sebuah peristiwa adalah satu hal, sedang menyadarinya adalah hal yang lain, dan saat suatu peristiwa atau suatu hal tertentu dihadirkan kembali, dinyatakan, digambarkan, atau diterangkan, maka saat itulah sebuah representasi ditunjukkan. Representasi, dalam pengertiannya yang luas, merupakan konstruksi pikiran juga ideologi kreatif (termasuk juga, dinyatakan secara rupa) yang bersifat artifisial yang melaluinya kita memahami dunia (realitas).

 

Dan duet Ahmad Zaki serta Nico Ricardi telah menghadirkan kepada publik representasi yang baik untuk mengantar masuk dalam ruang-ruang fantasi.

 

Kuss Indarto, kurator seni rupa.

 

Fantasia

 

by Kuss Indarto

 

Both young artists are Minangkabau descendants. Both of them bet their destiny, wandering from West Sumatra to Yogyakarta to study in Visual Art Faculty of Indonesian Art Institute (ISI) Yogyakarta. They also live in one village in Sewon, Bantul, Yogyakarta. And, both of them also point out to Maurits Cornelius Escher (1898-1972) as a main reference point of their works pattern recently.

 

If we see specifically all the works of both artists, there is one meeting point which connects both of them in one interest i.e. giving an idea of a perspective game in the middle of abundance of physical objects and daily scenery. If they refer to an artist who was born in Leeuwarden, Netherlands then, there is certainly an understanding which can be agreed after observing to Ahmad Zaki and Nico Ricardi's works this time – by recalling public's memory toward M.C. Escher's works.

 

Digging out Optical Art

 

M.C. Escher himself is more known as one of legendary artists in Netherlands who focused on printmaking art as a choice of his creative basis. Lithography is one of some media which is embraced, so it creates a sequence of peak works - besides producing so many woodcuts and wood curving works, sketches, and pictures. The artist, who finished his architecture studies in School for Architecture and Decorative Arts, Haarlem, Netherlands, presented a lot visual phenomenon in his works by giving an emphasis toward "perspective simulation". It means that, more or less, the perspective aspect in the two dimension work is explored further by optical trickeries which result the logic blur of "natural perspective". Inside, there is a kind of real form creating process through models which is able to make the appreciator faces it as an illusion, fantasy, or unreality because it looks real. In "natural perspective", the boundary between far and close, above and bellow, high and short, and kinds of those things are obviously limited by general convention that is together with the discipline of reasoning.

 

Meanwhile, the artist who produced 448 works of printmaking, and about 2.000 sketches, drawing and others in his life tried to deny the "natural perspective". By Escher, the "natural perspective" is collided "cruelly" to produces a possibility of a "new perspective reality". Through the artistic creativity, his mathematical accuracy and attention toward details, Escher tried to penetrate to play by conversion the logic of "natural perspective" and also fully implementing his ability in math. Therefore, it was born the works which give a disturbing power to the eyes of appreciator because there is a conversion of perspective logic that has been played mathematically-optically. This is called as an optical art work or op art work by critics later. Public certainly can remember with a strong memory because of Escher masterpiece which play with perspective aspect, such as lithography work entitled High and Low made in 1948, House of Stair (1951), Relativity (1953), and Waterfall (1961), and other works. Those works can show strictly their understanding and conquering toward perspective issues.

 

Years later, there are many other big names come out in the world of visual art who focus his creative choice in digging out the optical art. For example, there are Victor Vasarely (1908-1997) and Bridget Riley (1931- ..) to mention some most well-known names.

 

However, if we compare with (especially) Vasarely, Bridget Riley or other op art artists, Escher has a different point, i.e. developing op art as a part of his interest to paint daily scenery and environment. It doesn't only play with lines drawing that is parallel, curly, and forming rhythm, line, space impression and physical image which are sometimes massive, monotonous, and dry. Escher was able to come out from the monotone trap. This is the advantage of Escher who once studied in architecture so he can combine between optical game, math along with more artistic architecture.

 

Fantasy Space in the Blur of Perspective

 

For Zaki and Nico, this point becomes a basic thing when they choose to decide this tendency of work as a reference point. Although it is not that close and optimal in observing Escher's works, both of them give a big appreciation which then change into reference source. I have to emphasize first that the issue of effect-effecting here is not relevant to be discussed in the context of loyalty toward authenticity and originality aspects, but we have to see it more widely as a statement of the connection and exchange context. Both young artists obviously have issue contexts, artistic exploration, and creative concept which are distant with M.C. Escher. They both have an idea source which is different each other (and also Escher), which is changed afterwards by exchanging it trough each creative modus. This is the main point.

 

Zaki accepts the influence above by attaching it toward works that have subject matter in a form of a physical object, called water pot. The water pot with various colors comes from an object model which is actually distorted, destroyed, and operated from the real form. Around the water pot, especially the bottom side, it is lined cups in various position and configuration. The object of water pot and cups are "met" by the sequence images of water stream which is pouring. And in the meeting point between water and the pot, the fantasy about perspective is played sophisticatedly by Zaki. The appreciator fantasy seems to be shaken about the water stream which is produced the fragility of assumption about cups configuration which are organized before. The water stream makes the perception toward cups' position which is above and below, higher and lower, back and front, loose. This is the fantasy toward perspective game which is achieved by Zaki so it deserves to be recognized as a work with optical art approach.

 

Nico Ricardi's works also do the same creative approach. His choice to present the image of iron plates (along with monotonous and organized pattern) is still traced strongly after it was presented for the first time in 2004. The image of iron plates now doesn't only exist frontally, but also creates many fantasy spaces. And spaces created from "natural perspective" are scattered by playing with some physical object's image (such as the pillar attached to the wall) which places in a particular corner so it produces the fragility of "natural perspective". The image of space which is then created has shown logic conversion because of its peculiarity. Hence, observing Nico's works which are inclined to choose disloyal in coloring (only monochromatic and dichromatic), it adds a "color" instead because its ability to make the perspective in the canvas uncertain.   

 

The interesting point is both artists don't have a kind of a strict ideology line (at least it doesn't show verbally) toward their choices to handle a particular physical object. Zaki really focuses on raising water pot and its couple, cups. Meanwhile, Nico discusses much about massive iron plates. Nevertheless, they just say that it is merely as an interest toward visual aspects. It has not pealed those things as a creative ideology basis yet, for example.

 

Probably, a creative ideology is not always stated openly and verbally, but it is enough by observing through its tendency which already becomes an artifact in their works. It is because anything- just like revealed by Brian Wallis in What's Wrong with This Picture, 1984: xv—, "An incident is one thing, and realizing it is another thing and when an incident or a particular thing is presented again, stated, depicted, and explained, then at that time, a representation is shown." Representation, in a broad definition, is a thought construction and also creative ideology (including, it is stated visually) which is artificial and through it, we understand the world (reality)

 

And the duet Ahmad Zaki and Nico Ricardi have presented a good representation in introducing to fantasy spaces to the public.

 

Kuss Indarto, art curator.

 

 


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: