24 November 2008

[ac-i] Empat Buku Tari Irawati

Empat Buku Tari Irawati
---Anwar Holid


Salah satu keuntungan paling langka menjadi editor ialah ia berkesempatan mendapat manfaat dari teks yang disianginya. Ia bisa berjumpa dengan khazanah ilmu yang kadang-kadang awalnya begitu asing dan terasa jauh, sampai akhirnya dekat dan akrab, karena mendapat ilmu itu langsung dari ahlinya. Boleh jadi itulah kesempatan istimewa editor dibandingkan profesi lain: ia berkesempatan menelisik berbagai khazanah ilmu sambil mengurus teks tersebut agar lebih hidup dan mempesona.

Ranah baru yang saya gumuli baru-baru ini ialah tari klasik Sunda, karena saya menyunting naskah biografi seorang tokoh tari Sunda, Irawati Durban Ardjo. Dari mana mengukur bahwa dia benar-benar seorang tokoh? Keseriusan, konsistensi, loyalitas pengabdian, kiprah, sumbangsih, termasuk reputasi, merupakan alasan kuat yang membuat sejumlah orang sepakat menyatakan bahwa beliau memang tokoh tari Sunda. Lebih istimewa lagi, Irawati telah menulis empat buku tentang dasar-dasar gerakan, sejarah, perkembangan, dan bunga rampai jenis tari di Jawa Barat.

Kira-kira pada paro terakhir 2007, seorang teman memberi tahu bahwa Irawati butuh editor untuk naskah biografinya yang ditulis oleh Ahda Imran dan Miftahul Malik---waktu itu penulisannya belum selesai. Teman saya ingin juga jadi editor naskah itu, tapi kesibukan dan jarak membuat dia menawari agar saya mengambil peluang tersebut. Melamarlah saya, dan akhirnya diterima. Sejak itu perlahan-lahan saya mengetahui reputasi beliau, bukan hanya sebagai penari, melainkan juga pegiat tari Sunda yang lengkap. Di kalangan pecinta seni, Irawati terkemuka lantaran menjadi penari Istana Negara sejak 1959 (zaman Presiden Soekarno) hingga terakhir tampil pada 2006 saat Presiden Amerika Serikat George Bush, Jr. berkunjung ke Indonesia, dijamu di Istana Bogor, meski kehadirannya ditentang besar-besaran oleh sebagian kalangan.

Ketika kelas 1 SD, suatu hari Ira memperhatikan kakaknya yang diajari menari oleh kakak ipar untuk persiapan pesta kenaikan kelas. Setelah sebentar memperhatikan, segera ia mampu menirukan gerakan mereka. Bakat tari itu diasah dan ditumbuhkan di BKI (Badan Kesenian Indonesia). Meski mula-mula dilarang ibunya karena waktu itu citra perempuan penari Sunda ialah ronggeng penghibur para menak, kemampuan dan kegigihan Ira mendapat perhatian dan dukungan yang begitu besar dari dua guru utamanya, yaitu Tb. Oemay Martakusuma, Rd. Tjetje Somantri.

Disiplin BKI mengantarkannya berkali-kali menjadi duta kesenian Indonesia sejak remaja, memperkenalkan tari dan kesenian Indonesia. Sejak itu Ira tahu bahwa dirinya menyatu dengan tari Sunda, meski dia pun banyak menguasai tari jenis lain. Kenyataannya, biar memiliki sejumlah kemampuan dan ketertarikan, misalnya sebagai desainer interior dan melukis---ia sarjana dari Jurusan Seni Rupa ITB---Ira kembali lagi dan lagi ke tari Sunda, seni yang sejak kecil membesarkannya, memungkinkan ia meraih banyak pengalaman berharga. Seiring kedewasaan, Ira pun terlibat dalam segala urusan tari. Selain menari, dia menjadi pelatih, memproduksi, mendirikan sanggar, merancang kostum, sampai mencari sponsor pertunjukan.

Sebagai ahli tari, ia meneliti dan mendokumentasi khazanah literaturnya yang langka. Muaranya ialah ketika ia menjadi pengajar di Kori, hingga lembaga ini kini menjadi STSI, sampai ia pensiun.

Menulis buku tari Sunda awalnya pun demi pengabdian dan keperluan pengajaran. Selama menyusun dan mengumpulkan data, betapa nelangsa ia mendapati fakta bahwa dokumentasi tentang riwayat guru-gurunya, BKI dan Rinenggasari (lembaga yang paling awal membentuk etos dirinya sebagai penari), dan yang paling vital catatan koreografi, tak tersisa satu pun di bekas sekretariat. Semua arsip lenyap. Terpaksa Ira menuliskan lagi, melacaknya baik dari ingatannya dan para senior. Yang paling sulit ialah mencatat lagi tari kurang populer yang jarang dipentaskan. Ingatan dan penafsiran Ira memainkan peran penting untuk merekonstruksi kembali.

Tangan Ira tak hanya meliuk di antara selendang dan bergerak sesuai musik. Tangan itu pun cekatan menghasilkan buku. Telah empat buku ia lahirkan, yaitu Tari Sunda 1880-1990, Melacak Jejak Tb. Oemay Martakusuma dan Rd. Tjetje Somantri (1998, rev. 2007); Buku Kawit, Teknik Gerak dan Tari Dasar Sunda, dilengkapi VCD dan kaset tari (2004); Tari Sunda 1940-1965, Rd. Tjetje Somantri dan Kiprah BKI (2008); dan Album Semarak Tari di Tatar Sunda (2008).

Buku terakhirnya, berisi khazanah tari Jawa Barat, penuh ilustrasi dan warna, dirancang kronologik dari awal abad ke-20 hingga tahun 2000-an. Ira sedang mengupayakan buku itu terbit sesuai gagasan dan visinya. Karena berwarna dan penuh detail desain grafis, ongkos produksinya jelas mahal. "Saya sedang mencari sponsor untuk buku ini. Kalau tidak ya diterbitkan sendiri," tegasnya. Sebuah penerbit besar pernah ia dekati, tapi gagal, karena menurut Ira opsinya terlalu berat, yaitu ia harus menanggung biaya percetakan, sedangkan penerbit mengurus distribusi.

Untuk mensyukuri kiprah lebih dari lima dasawarsa berkiprah di dunia tari, pada Desember 2008 ini Irawati sedang menyiapkan acara "Lima Dasawarsa Irawati Menari." Kalau bisa sekalian dengan peluncuran buku-bukunya. Sementara itu pengabdian pada tari terus ia lanjutkan; Irawati keliling ke sejumlah kabupaten di Jawa Barat untuk mengajari guru-guru kesenian SD hingga SMU menari tari Sunda sebaik mungkin.[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai penulis, editor, dan publisis freelance. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | (022) 2037348 | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Pertama kali dipublikasi REPUBLIKA/Selisik, Minggu, 16 November 2008.
Situs terkait:
http://www.republika.co.id

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: