17 November 2008

[ac-i] DVD:DAMPAK SOSIALTRAGEDI KEMANUSIAAN 1965/66

MENYEMAI TERANG DALAM KELAM

Tragedi kemanusiaan 1965-1966, menyisakan tidak hanya luka bathin tapi juga sisa-sisa pergulatan untuk tetap menjadi manusia di bawah penindasan militerisme sebagai ujung tombak Orde Baru.

Sketsa-sketsa percik terang orang yang ditahan, dikejar-kejar dan mereka yang ditinggalkan oleh orang tuanya, suaminya, istrinya, karena dipenjarakan atau dibunuh. Seorang penyair mempertanyakan kepada jendral-jendral tentang  keabsahan sejarah yang mengandung fitnah. Saksi mata bercerita tentang fitnah Tarian Harum Bunga dan Congkel Mata di Lubang Buaya.

Lukakah bathin seorang anak perempuan yang mencari bapaknya dari tempat tahanan ke tempat lainnya, lantas dipertontonkan dengan penyiksaan tahanan sampai terkencing-kencing ?

Kisah singkat seorang ibu yang mengetahui suaminya sudah ditangkap dan dia sendiri termasuk daftar orang yang akan dibunuh, menggelandangkan diri dari satu kota ke kota lainnya, agar bisa tetap hidup dan mengurus anaknya, kini telah menjadi manusia baru. Seorang pekerja film dalam rangka menghindarkan diri dari penangkapan terpaksa menjadi gelandangan agar dapat bertahan hidup sampai sekarang ini.

Seorang intelektual telah bertahan hidup selama suaminya dipenjarakan dan berhasil eksis. Tampak juga bagaimana seorang petugas Lubang Buaya memberikan indoktrinasi kepada anak-anak kecil.

Pengakuan salah seorang anak DN. Aidit yang bertemu dengan Letjen (Purn) Sarwo Edhi Wibowo, juga diungkapkan dalam film ini. Masih banyak kisah-kisah lainnya seperti paparan seorang sejarahwan dan praktisi hukum.

SOWING THE LIGHT IN THE DARK

The tragedy of Humanity 1965-1966, not just living the deep inner wound, it also left many struggles to keep on living as human under military oppression as the New Order's instruments.

Sparks of sketches of man and woman arrested, pursued and they who were left by the parents, husbands, wives as they imprisoned or killed. A poet questioning the generals about this country's slandered history. An eye-witness telling the lie behind "Tarian Harum Bunga" (The Nude Dance) ang "Congkel Mata" at Lubang Buaya. How deep a small girl's inner wound who was searching her father from one cell to another and had to watch prisoners being tortured till urinated ?

A woman's story who knew that her husband already arrested and she herself  was included in the list to be killed ran for life and her beloved child. Now she is a new human being. A confession from DN Aidit's son when he met Letjen Sarwo Edhi Wibowo and what was said in that event. And manymore.

 

PEREMPUAN YANG TERTUDUH

Bercerita tentang salah satu peristiwa yang terjadi dalam sejarah Indonesia, yang patut diteliti dari banyak hal, karena disitulah kita bisa melihat ada titik krisis dalam membangun Nation Building sebagai Indonesia.

Selama ini sejarah Indonesia banyak ditulis dari tokoh laki-laki dan saksi laki-laki. Sementara kita lihat banyak saksi perempuan yang juga banyak cerita dan tutur mengenai peristiwa dan kejadian pada waktu '65 khususnya, kalau kita bicara tentang '65

THE ACCUSED WOMAN

Telling about the '65 Affair was an incident in Indonesia's history which supposedly to be researched properly from any aspects, as within the incident we could examine, there were crisis point in Nation Building as Indonesia.

So far, Indonesian story have been written by men and from men witnesses. While we could see, many women's witnesses who had many stories and narratives in regard the affair and incident '65, if we talk about the '65 Affair.

 

TUMBUH DALAM BADAI

Adalah kisah beberapa anak yang berjuang hidup dalam tekanan diskriminasi secara struktural karena orang tua mereka menjadi korban Tragedi Kemanusiaan 1965/66. Mereka pantang menyerah, tumbuh dalam berbagai kondisi untuk bertahan hidup dan mengembangkan dirinya menjadi manusia baru.

Diantara mereka adalah Wangi Indria, dalang wayang kulit yang juga penari dan penyanyi di Indramayu. Dia anak salah seorang dalang wayang kulit yang pada zaman Orde Baru menjadi tahanan politik. Bondan Nusantara, anak Ibu Kadariah, seorang primadona ketoprak Jogja tahun 60-an, yang ditahan beberapa tahun. Juga muncul dua anak dari Bali, selain Nani Nurahman, seorang putri jendral Soetoyo yang diabadikan sebagai Pahlawan Revolusi.

GROWING IN THE STORM

Is about the struggle of those people whose their parents have been victims of the tragedy in 1965/66 and until today still experience discrimination from different sides.

However, they refuse to give up, in fact, they grow under these difficult circumstances and develop to new human beings.One of them is Wangi IndrIa, a "Wayang Kulit" puppeteer and also a dancer and singer from Indramayu. Her father, also a puppeteer, was a political prisoner during the New Order. Bondan Nusantara, the son of Ibu Kadariyah, a prima donna of Javanese theatre from Jogja in the 60's. Nani Nurahman the daughter of General Soetoyo, who will always be remembered as a national hero, There are also two sons of the victim from Bali told their stories.

 

SENI DITATING JAMAN

Mengungkapkan beberapa pengalaman seniman LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang terus berkarya walau dalam ketertindasan dan penistaan oleh Orde Baru baik di dalam maupun di luar penjara. Mereka membuktikan bahwa seni tak bisa dipadamkan oleh kekuasaan apapun juga.

Seorang pendukung Manifes Kebudayaan menyampaikan pendapatnya mengenai situasi tersebut. Sejarahwan, ahli hukum, seniman, kurator seni rupa juga ikut bicara menambah bobot dan warna film ini.

THE ART THAT WILL NOT DIE

Expresses the opinions and experiences of some members of LEKRA ( League Of People's Culture), who were always continuing their art creation although they were inside or out side of prison. They have prove that The Art will never die and, or killed by any kind of power holder. One of the Cultural Manifest member gave his opinion about that condition.Historian, artist, lawyer, arts curator, also gave their comments to enrich the film's value and make this film more colorful.

 

Keterangan

Harga setiap keeping / judul Rp. 40.000. Tidak termasuk ongkos kirim.

Pemesanan melalui e-mail : poskanta @indosat.net.id

Melaui Fax: 021 47860766

Langsung: Jl. Balai Pustaka I No.8 Rawamangun, Jakarta Timur 13220.

 

Pembayaran dikirim ke: Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan

ACC: 101.11.06408 (bukti pembayaran difax ke 021 47860766)

Bank Bumi Arta

Jl. Kopi 3,5,7

Jakarta Barat.

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: