18 November 2008

[ac-i] dari arsip andi makmur makka:suppa

DARI ARSIP ANDI MAKMUR MAKKA:

 

CATATAN TENTANG  C.PELRAS

 

GAGALNYA KRISTENISASI  SUPPA DAN BACUKIKI (1)

 

Dituturkan : A.Makmur Makka

[The Habibie Center, Jakarta] 

 

Tahun 90-an, saya  bertemu  Christian Pelras, sarjana Prancis yang ahli mengenai suku Bugis. Pertemuan itu hanya kebetulan  di sebuah rumah seorang warganegara Prancis di Kawasan Kemang Jakarta Selatan. Saya diperkenalkan oleh teman saya Fracois Raillon, yang ahli tentang Indonesia.. Saya sudah lama tahu nama Pelras, tetapi baru kali itu saya bertemu muka . Ketika saya perkenalkan nama saya, ia langsung menyambut :   " Namanya seperti nama Bugis", teman saya langsung menimpali :

" Benar, ia orang  Bugis ".

Setelah berbicara panjang lebar mengenai orang Bugis, suku yang sudah lama ditelitinya, kami berpisah.Beberapa hari kemudian, melalui teman Francois Raillon, saya mendapat sebuah paket pos yang dikirim dari Singapura.  Isinya sebuah buku tebal berjudul " The Bugis", karangan Christian  Pelras. Buku itu lama saya simpan, kemudian dua tahun lalu saya menerima hadiah buku "Manusia Bugis" dari Dr.Nurhayati Rahman, ahli sejarah dari UNHAS, terjemahan " The Bugis", buku Christian Pelras. Buku Christian Pelras ini menambah pemahaman saya mengenai orang Bugis, paling tidak menurut penelitian seorang Barat. Walaupun, Chirstian Pelras, hanya salah satu sarjana Barat yang pernah membuat penelitian mengenai suku Bugis.

 

Dari tulisan C. Pelras inilah yang makin memperkuat dugaan saya bahwa sejumlah penguasa kerajaan di Sulawesi_Selatan pada abad ke XVI, pernah dibaptis masuk agama Katholik. Sebutlah antara lain Kerajaan Tallo, Suppa, Siang (Pangkajenne), Bacukiki, Alitta, Gowa. Penyebaran agama Katholik di Sulawesi-Selatan ketika itu bersamaan dengan kedatangan bangsa-bangsa asing, terutama Portugis. Jalur kedatangan bangsa Portugis pertama kali dari Malaka menuju ke daerah Ajatappareng dan Suppa, dari Ajatappareng ke Siang ( Pangkajenne). Yang agak aneh, peyebaran agama ini ke Gowa, melalui jalur lain, yakni dari Ternate pada tahun yang lebih awal ( 1539), sementara ke Ajattapareng, Suppa dan siang, barulah l534, beberapa tahun kemudian.

 

Menurut Pelras, usaha kristenisasi raja-raja ini dimulai dengan kedatangan seorang pedagang Portugis yang Antonio de Paiva yang tertarik pada kekayaan daerah Indonesia Timur, khususnya kayu cendana. Mula-mula Antonio datang ke Siang dalam perjalanan ke daerah Sulawesi Tengah, kemudian singgah di Suppa. Pada kesempatan itulah Antonio membaptis penguasa di Suppa dan Siang ( ternyata kedua penguasa kerajaan itu bersahbat) . Itupun tidak dengan mudah, karena menurut C.Pelras, didahului perdebatan teologis yang hangat. Tidak disebut siapa penguasa Suppa yang dibaptis, kronik mengenai hal ini hanya dibaca dalam laporan Antonio de Paiva yang meminta maaf kepada Uskup Goa (  India), karena ia telah membaptis dua penguasa  tanpa penugasan resmi.

 

Apa alasan kedua penguasa ini mau dibaptis masuk agama Katholik? C.Pelras menulis, kemungkinan untuk membuat persekutuan militer dalam menghadapi serangan kerajaan kembar Gowa dan Wajo. Dengan demikian, tampak ada motif lain, tidak dengan keyakinan pada agama itu. Di kisahkan, ketika Antonio de Paiva kembali ke  Malaka, ikut serta utusan dari kedua penguasa ke Malaka untuk meminta Gubernur Malaka mengirimkan pendeta ke Suppa dan Siang dan jika mungkin bantuan militer. Bahkan ikut pula serta dua putra penguasa dari Suppa. Kedua pemuda itu, kemudian dibawah ke Eropa.

Beberapa waktu setelah peristiwa tersebut, mendengar permintaan kedua penguasa di Sulawesi-Selatan itu, misionaris Khatolik yang terkenal Francisco Xavier berangkat ke Malaka dan dari sana ia akan melanjutkan perjalanan ke Suppa.  Kedatangan missionaries ini kemudian batal, karena di terjadi perang antara Wajo dan Sidenreng . Sidenreng bersekutu dengan Suppa dan Siang, Francisco Xavier mungkin tidak mau mengambil resiko terjebak dalam kancah peperangan antarpara penguasa tersebut.  Mendahului kedatangan Fansisco Xavier, sudah datang pendeta Vicente Viegas dari Malaka, dialah yang membaptis penguasa Alitta dan Bacukiki.

 

Pertalian agama antarpenguasa Suppa,Siang, Alitta dan Bacukiki dengan Portugis akan berlanjut, jika tidak terjadi peristiwa seorang perwira Portugis membawa lari seorang putri penguasa Suppa. Penguasa Suppa murka, supaya tidak terjadi pertumpahan darah, orang-orang Portugis buru-buru meninggalkan Suppa dan membawa putri penguasa Suppa tersebut ke kapal. Anak blasteran putri penguasa Suppa dengan perwira Portugis itu kemudian lahir dan bernama Manuel Godinho de`Eredia, ibunya juga diberi nama Donna Ele'na Vesiva  ( konon keturunan Raja Suppa dan Raja Bacukiki). Manuel Godinho menjadi seorang pintar, ia menjadi penulis dan akhli geografi. Dialah yang pertama kali menyebut adanya pulau di sebelah selatan Timor yang kemudian dikenal sebagai Australia. Hanya seorang anggota ekspedisi Portugis bernama Manuel Pinto yang tidak ikut . Tetapi dia meninggalkan Suppa menuju Siang, Tallo, Sidenreng. Pinto inilah yang menulis laporan ke Uskup Goa (India) bahwa raja-raja tersebut sebenarnya sangat ingin bersekutu dengan Portugis. Wilayah Ajjatapareng tahun 1827   menurut perkiraan  berjumlah 180.000 orang penduduk, tahun l884 berjumlah 236.000 penduduk. Ajattapareng meliputi Sidenreng, Sawitto, Suppa, Bacukiki, Alitta, Rappang.

 

Kegagalan kristenisasi penguasa Sulawesi-Selatan ini, tidak disebutkan secara jelas.  Hanya.Pelras melukiskan bahwa kemungkinan  missionaries itu pesimis akan merubah watak dan kepercayaan dasar penguasa di Sulawesi-Selatan itu. Misalnya, tidak mungkin menggantikan peranan Bissu dengan Pendeta Katholik jika mereka memilih menetap sebagai pemimpin agama. Alasan teknis, karena kurangnya tersedia pendeta di Malaka . Tahun  l584 pernah dikirim empat pendeta ke Makassar, tetapi tidak bertahan lama. Kemungkinan lain, agama Katholik terdesak dengan masuknya agama Islam di Sulawesi-Selatan melalui ulama dari Melayu. Agama ini kemudian dianut dengan fanatik oleh penguasa di Gowa dan sekaligus sebagai kerajaan yang sangat kuat sebelum ditaklukkan Belanda melalui pembatasan dalam Perjanjian Bongaya 1667. Jelas bahwa penguasa-penguasa di Suppa, Alitta dan Sidenreng saat itu, bukanlah penguasa setelah kerajaan Gowa menjadi kerajaan Islam yang adidaya di Sulawesi-Selatan.  Karena setelah itu, penguasa-penguasa lokal di Suppa, Alitta, Sidenreng  diambil dari keluarga dekat raja-raja Gowa.

 

 

MACHOQUIQUE (BACUKIKI) BANDAR UTAMA(2)

 

Dituturkan : A.Makmur Makka

 

Hal yang juga menarik dari buku Christian Pelras, ketika ia menulis bahwa Bacukiki benar sebagai Bandar (laut) utama di Sulawesi-Selatan, bahkan ketika Gowa belum ditulis dalam sebuah peta yang dibuat ekpedisi Portugis ketika itu. Peta yang hanya ditulis tangan ini dibuat setelah pelayaran Antonio de Paiva (l544) ke Sulawesi-Selatan. Pada peta itu tertulis " Description chorological de Macazar"  Disepanjang pantai barat dalam peta itu tertulis "BUGUIS". Dalam peta berderet dari utara ditulis Mandar, linta (Alitta),SUPA ( Suppa) dan Machoquique (Bacukiki). Tulisan Machoquique ( Bacukiki)  berhadapan dengan gambar sebuah jangkar, yang menurut Pelras seolah menggambarkan bahwa banda tersebut menjadi bandar utama Portugis. Sayang peta tersebut menurut Pelras mungkijn dibuat oleh orang yang belum pernah melihat situasi daerah itu sebenarnya. Gambar itu hanya dibuat berdasarkan pelukisan orang lain, karena lokasi Bacukiki dilukis sangat mencorok ke dalam ( seperti ratusan kilometer) berdasarkan prepektif gambar, padahal Bacukiki, tidak berapa jauh dari garis luar pantai.

 

Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya di sebuah media , mengutip tulisan Leonard Andaya, seorang peneliti mengenai kerajaan-kerajaan Bugis dalam buku : The Heritage of Arung Palakka. Dalam buku itu juga disebut peranan bandar Bacukiki yang luar biasa di Sulawesi-selatan pada abad ke XVI. Karena Bacukiki menjadi bandar internasional untuk berbagai macam perdagangan dari daerah sekitarnya. Barulah ketika Kerajaan Gowa sudah besar dan berpengaruh setelah menaklukan semua kerajaan di Sulawesi-Selatan termasuk Bone. Raja Gowa yang sangat piawai dalam mengatur kerajaan bernama Tunipalangga ( 1546). 

 

Hampir bersamaan dengan kedatangaan banyak ekspedisi dari Portugis, maka Bacukiki perlahan kehilangan peran. Seperti diketahui Tunipalangga adalah raja yang pintar, misalanya dia menetapkan standar ukuran berat, menciptakan jabatan yang khusus mengatur system administrasi dalam kerajaan ( Tumailalang) . Dia pula yang memulai pembuatan peluru secara lokal, mencampur emas dan logam lain untuk membuat batu-bata, merubah tombak yang panjang lebih pendek, mungkin untuk memudahkan mobilitas perajurit, serta perisai besar menjadi kecil agar lebih lincah penggunaanya.

 

Salah satu gagasan Tunipalangga, setelah melihat jauhnya bandar Bacukiki dari Gowa ( Somba Opu), yang sulit diawasi, dan tentu saja menjadi saingan bandar-bandar lain di Gowa seperti Ujung Tanah, Grassi, maka baginda ingin supaya kegiatan dan peranan Bacukiki sebagai bandar dialihkan ke Gowa. Pekerjaan ini tentu tidak mudah, karena bandar Bacukiki sudah lama dikenal, selain itu tenaga terampil yang mengelola bandar ini adalah orang-orang yang berasal dari Bacukiki, Sawitto dan Suppa. Baginda tidak berpikir panjang, ia memerintahkan semua tenaga-tenaga ahli yang mengelola bandar Bacukiki dipindahkan ke Makassar. Dengan kekuasannya, semua ini bisa terjadi, sejumlah orang Bacukiki,Suppa dan Sawitto, ikut dipindahkan ke Makassar. Tidak hanya orang lokal, bahkan perusahaan-perusahaan dagang orang Melayu yang sudah terlanjur didirikan di Bacukiki harus ikut pindah. Orang Melayu yang meminta beberapa syarat untuk pindah, semua dikabulkan oleh baginda, termasuk izin menetap di Makassar.Sejak itu, kegiatan bandar Bacukiki menyusut dan digantikan oleh bandar yang ada di kerajaan Gowa. Sebelum Gowa menguasai Bacukiki, Bacukiki berada dibawah kekuasaan kerajaan Siang ( Pangkajenne).

 

Sayang sekali tidak ada kronik dari para peneliti Barat ini yang menjelaskan mengenai siapa penguasa di Bacukiki pada waktu itu. Begitu pula mengenai penguasa di kerajaan Suppa. Peta sejarah Sulawesi-Selatan pada abad XII-XV yang dibuat oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Muchlis Paendi dkk tahun l986, misalnya hanya menyebut nama kerajaan antara lain : Kasuwiyang Salapang ( Gowa), Ajattapareng ( Sidenreng), Matajang ( Bone), Bantaeng ( Bonthain), Bukil ( Selayar) serta peta kawasan masing-masing. . Kerajaan Sawitto tidak disebut, Bacukiki juga tidak disebut. Pada abad XVI, sudah tertulis kerajaan : Endekan ( Enrekang) Sawitto, Wajo, Suppa, Mallusetasi, Tanete Barru,Bone,Soppeng, Madalle, Marusu ( Maros),Gowa,Bulukumba,Bantaeng,Binamu (Takalar), Bajeng, Selayar, Bulo-Bulo( Sinjai). Parepare masuk kawasan kerajaan Mallusetasi, tentu di sini juga berada Bacukiki. Tetapi melihat keunikan Bacukiki, selain pernah sebagai bandar internasional yang ramai di Sulawesi-Selatan, maka cikal bakal Bacukiki yang kini hanya menjadi sebuah kecamatan di kota Parepare, tentulah menyimpan sejarah tersendiri yang berbeda dengan kerajaan lain.

 

 

KERAJAAN SUPPA MELAWAN PASUKAN INGGERIS (3)

Dituturkan A.Makmur Makka

 

Kerajaan Inggeris pernah menjajah kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan pada abad ke XVIII. Pada waktu itu, Belanda kalah perang melawan Inggeris di Eropah dan tunduk pada Traktat (konvensi) London tahun 1814.. Di Batavia dan Jawa, Raffles  pemimpin tertinggi Inggeris  di Jawa mengambil alih kekuasaan dari kerajaan Belanda. Raffles terkenal pencinta alam dan dialah yang mendirikan Kebun Raya Bogor, sebelum ia dipindahkan lagi ke semananjung Malaya dan Singapura. Barulah pada  tahun 1816, Kerajaan Belanda kembali berkuasa di  kawasan Nusantara. Gubernur Jenderal Belanda sebagai pemimpin tertinggi Belanda di Batavia bernama G.A.G Philip van der Capelien.  Tetapi hubungan antarkerjaaan – kerajaan di Sulawesi-Selatan dengan Pemerintah Hindia Belanda, tidak lagi semulus semasa kejayaan Hindia Belanda di Sulawesi-Selatan dibawah Admiral Speilman.

Kerajaan-kerajaan yang sudah dikuasai Gowa dan Bone, karena "politik  kawin-mawin" yang digencarkan antara keluarga Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone semasa akhir perang Makassar yang dimenangkan Arungpone La Tenritatta Arung Palakka, membuat kedua kerajaan ini makin dekat dan bersatu. Hal inilah yang juga menyusahkan pemerintah kerajaan Inggeris di Makassar yang dipimpin  Residen Philips dan Mayor Dalton pimpinan pasukan kerajaan Inggeris .

 

Saat kuasa kerjaan Inggeris di Makassar hendak mengendalikan kekuasaan raja-raja di Sulawesi-Selatan sebagaimana masa pemerintahan Hindia Belanda, Inggeris mendapat tantangan, In ggerisn  misalnya  hendak menentukan siapa yang berhak dan direstuinya menjadi raja. pada setiap kerajaan. Kebijakan ini terhalang ketika Inggeris hendak mementukan siapa yang menjadi raja di Kerajaan Gowa. Pada waktu itu, raja Gowa terjadi dualisme pemerintahan, yang pertama dipegang oleh Arung Mampu, Sultan Mallisujawa didukung oleh rakyat Gowa dari pegunungan serta Arumpone dan Sultan Zainuddin Karaeng Katangka didukung oleh penduduk Gowa dari pesisir pantai. Sultan Zainuddin ini didukung oleh kerjaaan Inggeris di Makassar. Barulah ketika Raja Gowa dipimpin oleh I Mappatunru Karaeng Lembangparang, putra Raja Tallo, maka dualisme ini berakhir. Wakil kerjaaan Inggeris di Makassar kemudian menyerahkan regalia ( benda kerjaaan) berupa Sudangga ( keris) dan Kalompoang ( mahkota) ke I Mappatunru Karaeng Lembangparang. Pada waktu itu, Inggeris tinggal menghadapi Arungpone To Appatunru yang juga memakai gelar Arung Palakka. Arumpone ini hendak  menggelorakan kembali semangat Bone untuk merdeka dan bebas dari tekanan manapun. Inggeris tentu saja tidak senang, Inggeris ingin menjatuhkan To Appatunru yang  sudah menyatakan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, seperti Gowa,Soppeng dan Sidenreng. Sebagai hukuman kepada Arumpone To Appatunru, pelabuhan Parepare yang sudah muncul kembali, terutama sebagai lalu lintas perdagangan hasil pertanian dan biji besi ( dari Luwu ?) yang dikuasai oleh kerajaan Bone, diserahkan pengelolaannya kepada Addatuang Sidenreng La Wawo Sultan Muhammad Said. Untuk mengadakan penguasaan mutlak pada kerajaan Bone, maka Inggeris bermaksud menyerang Bone dan menaklukkannya.

 

SUPPA BERPERANG MELAWAN INGGERIS

 

Disinilah Inggeris terlibat dalam peperangan melawan Kerajaan Suppa yang dipimpin oleh Datu Suppa yang bernama Sultan Aden. Datu Suppa tidak lain adalah adik ipar dari Arumpone To Appatunru Arung Palakka. Tahun 1815, pasukan Inggeris yang dipimpin oleh  Letnan Jackson atas perintah Kapten Wood di Makassar, hendak menuju Bone lewat Parepare. Tetapi Datu Suppa menghadang perjalanan pasukan yang melalui darat ini . Perang seru terjadi, dengan persenjataan pasukan Suppa yang sangat kuat, pasukan Inggeris akhirnya berhasil dihalau . Pasukan Inggeris mundur kembali ke Makassar dan  hendak melalui Tanete Barru. Tetapi pasukan Inggeris kembali diserang oleh pasukan Datu Tanete La Patau yang ternyata juga sepupu Arungpone To Appatunru Arung Palakka. Pasukan Inggeris babak belur dan terus mengundurkan diri ke arah Makassar, daerah yang dilaluinya antara lain Sigeri dan Maros, kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, turut diserang pasukan Datu Tanete dan akhirnya dikuasai oleh La Patau.

 

Inilah perlawaan heroik kerajaan Suppa melawan Inggeris dan pada abad sebelumnya juga mengusir Portugis yang berusaha mengkristensi rakyat Suppa dan rajanya. Ketika Hindia Belanda kembali berkuasa berdasarkan konvensi London 1814, Belanda hendak memulihkan kekuasaannya pada kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkannya di Sulawesi-Selatan, khususnya Gowa dan Bone. Penguasa Hindia Belanda di Makassar mengadakan pembaruan dan pengukuhan kembali  Perjanjian Bongaya ( Cappaya ri Bungaya) tahun l667. Perjanjian ini dibuat  Kerajaan Gowa dibawah Sultan Hasanuddin, setelah beliau dikalahkan oleh persekutuan Belanda dan Bone.

 

Seperti yang sudah disebutkan di atas, "politik kawin-mawin" antar keluarga kerajaan Gowa dan Bone untuk mengakhiri permusuhan yang abadi atara keduanya, telah berhasil menyatukan dan mendamaikan Gowa dan Bone. Pembaruan Perjanjian Bongaya bertujuan agar Hindia Belanda dapat  memaksakan kembali kemauannya kepada kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan ini.  Kerajaan Bone yang pernah menjadi sekutunya, saat itu dikuasai oleh keturunan dan sanak keluarga Tenritatta Arung Palakkqa, Petta Malampe' Gemmene, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata tidak ingin terus menerus diperintah penguasa Hindia Belanda. Semua Arungpone, sampai pada Arungpone La Pawawoi dan Arungpone Andi Mappanyukki ( sebelumnya menjadi Datu Suppa), tetap melakukan penentangan dan perlawanan. Salah seorang diantaranya adalah Arungpone Besse Kajuara, kendatipun dia seorang perempuan, perlawannnya kepada pasukan Hindia Belanda sangat gencar. Ia kemudian dikalahkan oleh Belanda dan turun tahta. Ia tidak mau menatap lagi di Bone dan memilih tinggal di Suppa, tanah kelahirannya. Tahun itu juga ( l862) oleh rakyat Suppa dia dinobatkan menjadi Datu Suppa sampai akhirnya dia mangkat dan diberi gelar Datu Suppa Matinroe' ri Majennang.

Saya tidak tahu dimana tempat pemakaman Besse Kajuara di Majennang Suppa.Kelurahan Majennang tidak luas, bagi penduduk Suppa akan lebih terhormat jika makam Datu Suppa dan pahlawan wanita ini dipelihara dengan baik. Tentu ini menjadi wewenang pemerintah kabupaten Pinrang.

 

KERAJAAN BONE DAN GOWA BERSATU (4)

 

Dituturkan : A.Makmur Makka

 

I Tenritetta Arung Palakka, Petta Malampee' Gemmena, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata bukan hanya seorang panglima perang yang berani dan berhati  keras. Dibalik itu, ia mempunyai kepribadian yang lunak.  Setelah memenangkan Perang Makassar yang berkahir dengan Perjanjian Bongaya 1667, Arung Palakka memilih tinggal di Makassar dan membuat Istana kecil di Bontoala. Ia kemudian menunjuk La Patau kemanakannya untuk menggantikannhya sebagai Arungpone.Hubungannya dengan penguasa Belanda yang tinggal di Benteng Rotterdam, berjalan baik walaupun tidak begitu hangat. Penguasa Belanda tampaknya masih sangat perlu memelihara hubungan dengan Bone penguasa seluruh kerajaan di Sulawesi-Selatan. Karena itu, penguasa Belanda sangat menghormati Arung Palakka serta apa yang telah dikatakannya. Termasuk antara lain, keputusannya untuk menyerahkan kerajaan Bone kepada La Patau kemanakannya.

 

Tetapi Arung Palakka  merasa bahwa sikap permusuhan antara kerajaan Bone dan Gowa tidak bisa terus menerus terjadi. Baginda sangat memaklumi, betapa terhina dan dipermalukannya panglima-panglima perang kerajaan Gowa, ketika baru saja dikalahkan dalam Perang Makassar. Arung Palakka, ingin segera menghapuskan semua stigma dan penghinaan itu. Untuk itu, ia membuat sebuah paviliun besar  di Gowa, dimana setiap malam ia memperkenankan panglima muda kerajaan Gowa  berpesta dan bergembira.  Mereka yang terluka dalam peperangan, dipangilkan seorang Kadhi yang membacakan doa dan memohon kesembuhannya. Apalagi, Arung Palakka sangat menghormati Karaeng Patingalloang, seorang intelektual besar dan pembesar kerajaan Gowa yang pernah menjadi ayah angkatnya, ketika ia sekeluarga menjadi tawanan Kerajaan Gowa jauh sebelum Perang Makassar meletus. Pesta ini diadakan untuk menandingi pesta besar-besaran pasukan Bone dan sekutunya serta pasukan Belanda di Bontoala, yang siang malam merayakan kemenangan Bone.

 

Arung Palakka berpikir, untuk menyatukan Gowa dan Bone, tidak ada jalan lain  adalah mengadakan "pertalian keluarga" antar keduanya bahkan  dengan kerajaan Luwu yang pernah membantunya. Untuk itu, Arung Palakka mempersunting putri Karaeng Bontomarannu, panglima pasukan laut Makassar menjadi isteri keduanya, setelah Daeng Talele. Sebelumnya, seorang kemanakannaya sudah dipersunting oleh penguasa di kerajaan Luwu.  Setelah ia meninggal karena sakit keras pada tanggal 6 April 1696 , La Patau mengambilalih kepemimpinan Arung Palakka sebagaimana  kehendak Arung Palakka sendiri. La Patau Matama Tikka Walinonoe' kemudian melanjutkan kebijakan Arung Palakka dengan mempersunting salah seorang putri Karaeng Patukangan, seorang kerabat dan pembesar kerajaan Gowa yang bernama I Mariama Karaeng Patukangan. Pada makam La Patau yang diberi gelar Matinrio ri Nagauleng, sekitar 30 km dari jalan  poros menuju Sengkang, sekarang makam I Mariama terletak tidak berapa jauh dari makam La Patau serta isteri-isterinya yang  lain.

 

KAMPANYE "PEMBODOHAN' PILKADA

 

Pada bulan Mei 2007 yang lalu, saya sempatkan berziarah kemakam La Patau Matinroe ri nagauleng, cikal bakal aristokarasi Sulawesi-Selatan ini di Bone. Makam La Patau telah dipugar oleh pemerintah daerah dengan baik. Makam itu terletak  dalam tembok yang tebal, kemudian diberi atap pelindung . Seluruh makam yang kira-kira seluas seratus meter persegi. Dalam tembok yang terasa`tenang dan teduh itu, terletak sejumlah isteri dan kerabat La Patau Matama Tikka Walinonoe', matinroe ri Nagauleng.

Inilah gagasan Arung Palakka untuk mendamaikan seluruh kerajaan di Sulawesi-Selatan agar tidak terus menerus bermusuhan. Penguasa kerajaan Bone, Gowa dan Luwu bahkan kerajaan di Ajatapareng, Soppeng , Sengkang, Tanete, Barru sampai selatan Makassar, Bataeng, Sinjai, Polongbangkeng,  sudah tidak bisa dipilah-pilah  lagi. Itulah "politik kawin mawin" yang sengaja diciptakan setelah Perang Makassar berakhir.

 

Sebagai contoh,  Raja Gowa ke- I Makkulau Karaeng Lembangparang mempunyai dua putra masing-masing I Mappanyukki dan I Panguriseng Arung Alitta. I Mappanyukki kemudian diangkat menjadi Datu Suppa lalu dinobatkan lagi menjadi Arungpone . La Sinrang ( Sawitto) adalah kemanakan La Temma Addatuang Sawitto. Sementara Permaisuri I Makkualau  Karaeng Lembangparang  Raja Gowa yang bernama I Tenri Paddanreng  adalah sepupu La Temma Addatuang Sawitto. Jadi La Sinrang adalah kemanakan permaisuri I Makkulau Sultan Husain Raja Gowa. Seperti diketahui Andi Abdullah Bau Massepe, pejuang nasional yang pernah menjadi Datu Suppa setelah A.Makkasau pamannya, adalah putra I Mappanyukki Arungpone. A.Abdullah Bau Massepe bersaudara dengan A.Pangerang Petta Rani, mantan Gubernur Sul-Sel.

 

I Makkulau Karaeng Lembangparang, mempunyai saudara bernama I Mangi-mangi Karaeng Bontonompo, yang kemudian menggantikannya menjadi Raja Gowa. I Mangi-mangi mempunyai anak bernama La Idjo Karaeng La Lolang yang kemudian menjadi Raja Gowa terakhir. Baginda I Mangi-mangi  memperisterikan I Kunjung Karaeng Tanatana, putri I Nyula Mayor Bone. I Mappanyukki Arungpone ke XXII memperisterikan putri La Parenrengi Karaeng Tinggimae Datu Suppa ke XXIV putra Manggarabarani Arung Matowae Wajo . Isterinya bernama Dalawetoeng adalah putra La Panguriseng Addatuang Sidenreng. Betapa rumitnya hubungan keluarga bangsawan yang sudah saling bersilangan ini,

Karena itu, ketika kampanye Pilkada Gubernur baru-baru ini, ada kampanye yang menggunakan aristokrat membuat dikotomi antara Bugis dan Makassar, Bugis dan Turatea, maka kampanye itu adalah kampanye "pembodohan". Sekarang, dalam suasana yang sudah "meelting pot" berbaur dan campur aduk, mengangkat isu seperti ini, total adalah "pembodohan".

 

DANAU SIDENRENG PERNAH SELUAS 30 MIL PERSEGI (5)

 

Dituturkan ; A.Makmur Makka

 

Beberapa hari setelah Idul Fitri 2007, saya bersama keluarga bersilaturahmi ke Belokka, Wanio, Wette'e dan Baranti. Pada kesempatan itu, saya coba melayari Sungai Sidenreng di Wette'e sambil menikmati "bale bolong", " ceppe (ikan gabus) dan "lawaurang" (ronto) pada sebuah rumah terapung di atas Danau Sidenreng  milik A.Tongkeng . Pengalaman yang unik ini, memancing keinginan saya untuk lebih banyak tahu mengenai Danau Sidenreng dan Danau Tempe yang ternyata saling berhubungan. Danau Sidenreng terutama di Wette' sekarang  sudah sangat dangkal. Ketika kami melayari beberapa ratus meter danau menggunakan perahu motor ( tangkai baling-baling hanya dipegang pengemudi)  dari pelabuhan ikan Wette', kedalamannya  hanya sekitar satu setengah meter. Perahu motor berpenumpang empat itu, melaju meliuk-liuk menghindari "belantara" enceng gondok, dengan kecepatan – menurut perkiraan saya- sepuluh  km/ perjam .  Kondisi yang sama juga terjadi di Danau Tempe kabupaten Wajo yang saling berhubungan dengan Danau Sidenreng.

 

Christian Pelras yang dalam buku " The Bugis", mengutip Bulbeck dalam Historical Aechaelogy  bahwa sebenarnya laut pernah memanjang dari Sungai Cenrana kearah pegunungan dan terus ke Danau Tempe yang rendah. Hal itu terjadi 7.100 dan 2.600 tahun yang lalu. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa pada abad ke 16 Masehi, bagian rendah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng  masih merupakan satu danau yang besar dan luas, namun kemudian dalam perjalanan waktu semakin mendangkal. Dulu menurut penuturan Pinto orang Portugis yang pernah mengunjungi danau ini tahun 1548, melaporkan bahwa penduduk menamakan danau ini sebagai " Tappareng Karaja" yang banyak dilalui perahu layar besar, termasuk perahu layar Portugis yang panjang dan lebar. Menurut Pinto, danau tersebut lebarnya lima legua Portugis atau sekitar  25 km dan panjangnya sekitar 100 km. Tahun l828, seorang narasumber bernama Crawfurd yang menulis dalam bukunya "Description Dictionary" menyatakan, bahwa berdasarkan keterangan orang Wajo ketika itu, panjang danau tersebut sekitar 38 km. Sumber lain Nahuijs van Burgst  dalam buku " Briven 54" menyebutkan tahun 1827 Danau Sidenreng  berhubungan dengan Danau Tempe. Danau Tempe mempunyai keliling 72 km dengan kedalaman 6-30 kaki. Tetapi pada pengukuran Danau Sidenreng tahun 1889, tentu oleh pihak kolonial Belanda, diperkirakan luas danau tersebut 30 mil persegi dan Danau Tempe 59 mil persegi, serta kedalaman 4-5 meter pada musim hujan.  Sejak waktu itu, disebutkan danau tersebut selalu kering pada musim kemarau. Penuturan ini, masih sinkron dengan keadaaan sekarang. Menurut penduduk setempat, pada musim kemarau dari tappareng Sidenreng orang bisa berjalan kaki melalui danau itu ke Belawa kabupaten Sengkang. Sementara pada musim hujan dan bila terjadi banjir, Danau Sidenreng dan Danau Tempe menyatu kembali. Menurut penuturan lain, Danau Sidenreng  pernah berhubungan dengan Sungai Saddang yang mengalir ke Selat Makassar melalui Suppa. Sungai Saddang dulu juga melalui daerah yang  disebut Danau Alitta  ( Sawitto), tetapi kemudian danau itu menjadi rawa-rawa diawal  abad ke  20 ,  kemudian menjadi kering kerontang, tanpa bekas sekarang ini.

Masa itu, pernah pemerintah dan masyarakat di Sidenreng membuat sebuah rencana besar menggali terusan sepanjang 22 km guna mengalihkan aliran sungai ke Selat Makassar, agar alur perdangan dari Sidenreng bisa langsung, tidak melalui Sungai Cenrana di Teluk Bone, tetapi rencana itu gagal.

 

Dalam teks I Lagaligo, sebuah karya sastra Bugis Makassar yang bercampur mitologi, konon menyebutkan pula bahwa pada masa  lembah Danau Tempe masih digenangi air " laut tawar" dan orang Makassar menyebut danau itu sebagai "Tapparang La'baya" dan orang Bugis menyebutnya "Tappareng Karaja", maka pada abad ke 16 Sulawesi-Selatan diperkirakan dibelah dua oleh laut air tawar, tetapi kemudian terbagi menjadi danau-danau kecil ; Danau Tempe, Danau Sidenreng dan Danau Alitta (yang sudah kering).

 

Pada masa itu, masyarakat setempat sudah menggantungkan hidupnya pada penghasilan ikan air tawar dari danau-danau itu. Bahkan sampai sekarang dengan lebar yang makin menyempit ( Oktober) hanya sekitar selebar 30 sampai 40 meter, kedalaman sekitar satu setengah  meter, Danau Sidenreng masih berpenghasilan milyaran rupiah.  Pada musim hujan dan banjir, air danau meluap dan penduduk sekitarnya terpaksa hanya berdiam di rumah. "Belantara" enceng gondok yang sudah menciptakan "daratan" khusus, tetapi tempat sarang dan persembunyian ikan, bisa bergeser karena arus deras ke tepi danau dan menggoyangkan rumah penduduk. Rumah-rumah penduduk terpaksa dipagari dengan batangan bambu panjang sebagai penghalau. Dari jauh, terlihat seperti antene menjulang tinggi.

Memperhatikan perubahan geografis sungai-sungai kuno pada abad tersebut dan melihat kondisinya sekarang yang berubah drastis, menarik untuk dipelajari , bagaimana sungai-sungai itu bermuara di kawasan Ajatappareng dan khususnya di Bacukiki. Saya menduga Sungai Bacukiki dulu juga memiliki lebar dan kedalaman yang tidak seperti sekarang. Perhatikan kawasan "Sore dangkang" yang lokasinya tidak beberapa jauh dari jalan poros Makassar-Parepare, kemungkinan dulu sebagai tempat lego jangkar perahu-perahu dagang internasional.

 

Sayang  pemerintah daerah apalagi anak-anak muda, tidak tertarik dengan sejarah geografis daerah. Mereka tidak berminat melakukan rekonstruksi sejarah atau membuat tesis mengenai hal ini. Kita semua kalah dengan orang asing yang justru tidak punya kepentingan lagi dengan daerah ini, kecuali  untuk menjadi ahli khusus Bugis Makassar seperti Christian Pelras, Crawfurd, Leonard Andaya..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

"MASSUNGKELLI" BUSANA NENEK MOYANG  KITA DULU

 

Dituturkan : A.Makmur Makka

 

Saya terkesan menyaksikan model dan warna warni pakaian jika saya menghadiri pesta perkawinan di Sulawesi-Selatan. Saya selalu berpikir dan membandingkan empatpuluh tahun lalu,  busana adat kita banyak yang berubah . Darimana masyarakat mengadaptasi perubahan model dan pakaian-pakaian tersebut? Tentu saja tidak secara instan muncul. Sebagaimana tradisi dunia mode, setiap model akan silih berganti dan mengalami perubahan semanjang masa. Apalagi dunia mode sudah masuk dalam jebakan  indutri.

 

Padahal masih ada saksi mata yang melihat bahwa penghuni Sulawesi-Selatan sekarang ini hanya berbusana "massungkelli" ( cawat) . Sampai tahun enam puluhan, saya masih biasa mendengar kosakata untuk menghina seseorang dengan menyebutnya " To massungkelli", padahal proses berbusana nenek moyang kita dulu semuanya memang " massungkelli".

 

Bayangkan , waktu itu teknologi kapas apalagi bertenun belum kita temukan. Bukti sejarah juga menunjukkan bahwa bahan busana yang digunakan nenek moyang kita hanyalah dari kulit kayu yang kemudian ditumbuk menjadi serat melebar. Teknologi membuat busana seperti ini, masih bisa ditemukan  di Sulawesi Tengah dan Tenggara dan kawasan Tana Toraja. Menurut sumber Christian Pelras, bertenun barulah muncul di Asia Tenggara pada 700-500 tahun sebelum Masehi. Kata  kapas atau "ape " bagi orang Bugis, "kapasa" dalam bahasa Makassar, ternyata juga diambil dari bahasa Sansekerta "karpasa". Jika ditelusuri, kemungkinan besar teknologi bertenun diperoleh  orang Bugis Makassar dari nenek moyang mereka yang menurut tesis Christian Pelras berasal dari Kalimatan bagian Tenggara dan Sumatera. Mereka ini  sudah "terindianisasi" atau mendapat pengaruh India. Seperti diketahui, berabad-abad lalu, India adalah pelopor pembuatan tekstil dan kertas, bahkan sampai sekarang India sangat unggul dalam industri tekstil.

 

BAJU BODO, BAJU LABBU

 

Dari mana asal baju bodo atau " waju ponco"  yang kita kenal sekarang ini Di daerah yang berbahasa Makassar, tidak hanya dikenal baju bodo sebagai pakaian tradisional, tetapi juga " baju labbu" seperti model baju kurung di Sumatera, tetapi dikombinaskan dengan sarung. Kain baju labbu , setahu saya tidak pernah transparan ( tembus pandang) seperti baju bodo. Bisa dipastikan, baju labbu diadaptasi dari pakaian wanita Melayu Sumatera, karena lalu lintas orang Melayu ke daerah Bugis Makassar sangat intensif sejak abad 16. Apalagi setelah kerajaan-kerajaan Bugis Makassar sudah menerima Islam yang dibawah oleh penganjur Melayu seperti Dato Patimang , Dato ri Bandang. Pakaian wanita-wanita Melayu mungkin ikut jadi panutan dan tidak mempertontonkan aurat.

 

Sangat mengherankan,  bajo bodo untuk wanita  sebagai pakaian adat tradisional  paruh abad ke 19, ternyata masih dipakai sebagaimana aslinya. Pakaian yang transparan warna itu, tetap digunakan tanpa memakai BH. Sejumlah foto lama  yang saya simpan, para wanita yang menggunakan baju bodo, masih tidak memakai BH. Bahkan foto yang bertarih l929 dalam buku "Een Haan in Orrlog, Tologna Arung Labuaja een Buginess heldendict " karangan Roger Tol, masih ditemukan foto seorang perempuan muda berbaju bodo tanpa BH. Tetapi foto-foto Arung Labuaja tahun l905 dengan isteri-isterinya, semua sudah mengenakan BH. Mungkin setelah paruh abad ke 19, pemakaian BH bagi perempuan baru populer. Rambut kaum wanita pada umumnya dikonde (simpolong), kecuali bagi ada acara adat dan di istana, kaum perempuan menggulung rambutnya tegak ( simpolong tettong).

 

Bagi kaum lelaki, menurut  sumber Christian Pelras, sudah lazim memakai sarung ( kambai atau Cambay) . Padahal Cambay adalah nama sebuah bandar di India . Sarung (lipa)  biasanya hanya diselempangkan dibahu dan dipasangkan dengan celana pendek sedikit lebih panjang melewati lutut ( sulara ponco- Bugis ) . Kata "sulara" kemungkinan berasal dari kata Arab " sarwal". Sarung yang sering digunakan dulu bermotif seperti kain Skotlandia "tartan", berkotak-kotak kecil. Hampir semua "lipa garusu" bercorak seperti ini, begitu pula sarung sutera ( lipa sabbe)  bercorak klasik yang masih ada sekarang. Ketika teknologi tenun sudah dikuasai, maka "lipa sabbe" mulai diproduksi, sebelumnya semua "lipa garusu", masih memakai katun. Kenapa disebut "garusu", karena cara membuat sarung mengkilap sebelah ( bagian luar) , harus di "garusu" dulu dengan "boli-boli" dari sejenis rumah kerang laut, setelah terlebih dahulu diberikan alat pengeras ( kanji). Sabbe untuk membuat sarung, kemungkinan besar didatangkan dari Thailand dan China. Sampai sekarang, sutera masih  banyak didatangkan dari negara tersebut, kendatipun sutera alam pernah kita hasilkan sendiri.

 

Pria Bugis menggunakan sarung sebagai selempang hanya pada waktu senggang. Tetapi jika akan menemui tamu atau yang berderajat lebih tinggi, sarung biasanya diikat erat dipinggang ( ipangg'erre'). Jika hal itu tidak dilakukan, berarti orang tersebut melanggar konvensi atau etika .  Pemandangan yang tidak aneh, jika sejumlah pria juga memakai pakaian seperti jubah dan surban, pakaian ini dipakai oleh ulama seperti kadhi setelah agama Islam mulai jadi kepercayaan. Tetapi sejumlah penguasa juga biasa menggunakan pakaian ini, mungkin untuk menunjukkan keulamaan mereka

 

 Untuk tutup kepala, pria umumya menggunakan "passapu". Saya tidak tahu model tutup kepala ini diadopsi dari mana, tetapi orang Melayu dan umunya di Sumatera juga menggunakan asserori ini yang disebut "destar". Mungkin belum banyak yang tahu, seingat saya lukisan Sultan Hasanuddin yang memakai "passapu" tegak, mata membelalak, alis tebal dengan hulu keris Suddanga di dada, hanyalah imajinasi Tarekat Kimin, pelukis Jawatan Penerangan Provinsi Sulawesi tahun limapuluhan.Lukisan imajiner ini, sampai sekarang ini masih diakui sebagai raut wajah Sultan Hasanuddin, yang mengenakan  passapu.

 

Menurut Pelras, seorang Jesuit yang pernah bertemu Sultan Hasanuddin melukiskan bahwa I Mallombasi Karaeng Mattawang Sultan Hasanuddin mengenakan jas tutup ( seperti model jas tutup di Eropa) tanpa kemeja. Tidak disebutkan bagaimana assesori penutup kepalanya. Tetapi "destar" atau "passapu" sudah lazim digunakan ketika itu, bahkan di Bone kaum bangsawan juga menggunakan passapu, padahal kita tahu orang Bone sudah lazim menggunakan "songkok to Bone" atau  juga disebut "songkok pamiring" , bulat melingkar . Bahannya dulu dibuat dari serat tumbuh-tumbuhan yang sangat awet. Untuk kaum bangsawan biasanya disulam dengan benang emas. Tinggi dan rendahnya sulaman emas, diatur berdasarkan derajat bangsawan yang memakainnya.

 

PAKAIAN ADAT SUDAH MILIK  ORANG KAYA?

 

Di tuturkan : A.Makmur Makka

 

Busana tradisonal Bugis Makassar sudah jarang dibicarakan berdasarkan maknanya.  Sekarang ini, busana tradisional tersebut sudah menjadi busana populer dan masuk golongan seni massa, karena sudah diproduksi massal untuk dipakai sebagai assesori biasa. Itulah sebabnya, songkok "To Bone" sekarang sudah kehilangan maknanya. Misalnya saja, asseosri emas yang melingkar sarat dengan makna, makin tinggi lingkaran emasnya, pertanda makin tinggi derajat kebangsawanan pemakainya. Hanya Sombaya di Gowa dan Petta Mangkaue di Bone dan raja yang sederajat yang menurut konvensi tak tertulis berhak memakai lingkar emas yang tinggi ( kira-kira hanya satu centimeter tersisa tanpa balutan emas).  Tetapi sekarang semua pejabat yang merasa sebagai penguasa tertinggi setempat tega memakai assesori emas yang tinggi pada "songkok pamiring-nya". Mungkin karena merasa dialah  penguasa, derajatnya ekuivalen dengan raja pada masa lalu. Selain itu, ia juga memiliki uang, sanggup membeli dan memesan dengan harga mahal apapun. Sebenarnya, memang tidak ada konvensi tertulis mengaturnya, tetapi bagi masyarakat yang tahu tradisi busana dan  etikanya, merasa hal ini tidak wajar. Sanksinya tidak ada, tetapi hanya tersimpan dalam hati mereka, atau menjadi bahan bisikan dan perguncingan  mereka yang mengerti konvensi tidak tertulis ini.

 

Saya lihat, justru dikalangan mereka yang merasa diri berhak menggunakan assesori emas tinggi pada songkok mereka, justru tahu diri.  Merekalah yang  memakai asesori sesuai dengan derajat  mereka dalam konvensi tradisi. Songkok "pamiring" harian Sombaya Andi Ijo Karaeng Lalolang, raja Gowa terakhir hanya memakai lingkar  emas tidak lebih satu sentimeter, tidak setinggi emas songkok pejabat kita di daerah. Hanya saja, Sombaya menggunakan benang emas yang sedikit lebih tebal. Sama halnya dengan La Pawawio Karaeng Sigeri Raja Bone (1895-l905), beliau pun hanya menggunakan selingkar emas rendah pada songkoknya. Andi Mappanyukki Raja Bone ke 32 bahkan lebih banyak terlihat dengan surban dikepalanya.   

 

Warna baju bodo yang dikenakan kaum wanita sehari-hari juga mempunyai konvensi tersendiri. Warna hitam bagi orang tua, warna putih bagi sanro atau "indo pasusuan", wanita yang mengasuh anak raja-raja. Warna merah muda bagi para wanita muda tetapi sudah bersuami, warna merah jambu (pink) untuk gadis remaja . Konvensi tak tertulis untuk warna baju bodo ini tampaknya sampai sekarang masih diikuti, walaupun coraknya makin kaya dan warna-warnanya ramai. Hal ini bisa dimaklumi, pada masa lalu, pemilihan warna terbatas pada warna-warna dasar, merah, kuning, hitam , putih. Ibu-Ibu kita yang dari Tana Toraja sampai tahun limapuluhan, memakai warna pakaian adat yang sangat terbatas, seperti biru tua baik baju dan sarung, begitu pula warna hitam. Sekarang pun dalam acara-acara penguburan warna baju yang dipakai keluarga yang berduka di Tana Toraja, masih polos.

 

Sekarang remaja putrid  yang memakai baju bodo hanya betul-betul menggunakan "waju ponco", karena tidak lagi memakai baju bodo yang penuh. Bagi mereka yang sudah biasa menggunakan jilbab dan merasa risih memakai baju transaparan, mereka membuat kreasi baru dengan  mengenakan lengan panjang dari baju bisa. Kebiasaan ini biasa ditemui dalam acara-acara perkawinan dan para wanita pengantar undangan perkawinan. Busana yang yang digunakan kaum pria pada upacara pernikahan biasanya memakai baju  dan jas tutup yang berhiaskan benang emas, begitu pula sarung yang dikenakan. Kepalanya memakai "sigerra", seperti topi .  Perempuan memakai "simpolong tettong", baju bodoh dan assesori gelang "sigerra tedong".  Konvensi dan tata cara perkawinan adat seperti inipun tampaknya sebagian besar masih diikuti, kecuali bagi mereka yang mampu dan kaum bangsawan, masih menggunakan tata cara sesuai tradisi lama dengan sedikit modifikasi.

Untuk memberikan gambaran bagaimana busana pria tradisi masa lalu, kita kutip Christian Pelras berdasarkan pengakuan James Brook yang berkunjung ke tanah Bugis tahun l840. 

" Pakaiannya mengagumkan, terbuat dari beludru ungi-kecoklatan, dihiasi bunga warna emas, selanaya, agak longgar, dengan bahan sama, menutupi setengah betis, dengan enam atau delapan kancing emas. Bajuny dikancing sampai ke leher , juga dengan kancing emas dan tiap lengan baju dihiasi jejeran kancing emas dari ujung lengan sampai bawah. Selembar sarung atau rok pendek bersongket emas, melingkar dipinggang, dengan keris berhias permata; dia menggunakan songkok berhiasakan benang emas bersulam rapi  dan rumit. Raja – raja lain juga juga mengenakan pakain berhias emas…" 

 

Apa yang disaksikan orang asing ini, jelas pakaian upacara adat atau acara penyambutan resmi. Karena pakaian yang dilihatnya, bukan pakaian masyarakat sehari-hari.Tetapi hal bisa  melukiskan betapa kayanya perbendaharaan tradisi kita, hanya dalam cara berpakaian.

 

Sayang , tradisi ini sekarang tidak lagi dijaga karena tidak ada yang merasa berwenang menegakkan konvensi dan aturan adat. Pelanggaran atau yang melenceng dari tradisi serta  konvensi tidak tertulis ini, sudah banyak dilanggar. Banyak orang yang sudah merasa kebal dari guncingan masyarakat . Pakaian adat sudah jadi milik orang kaya dan penguasa, tidak ada lagi yang mau menegakkan pakem dan aturannya.****



Try cool new skins, plus more space for friends. Download Singapore Yahoo! Messenger now. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: