21 November 2008

[ac-i] Cerpen Putu Oka dari TITIAN

 

Harumi

Putu Oka Sukanta

 

SETIAP aku lewat di depannya, pasti aku terhenti. Tidak hanya sejenak, seringkali bermenit menit. Aku memandanginya. Memperhatikan seluruh tubuhnya yang bergoyang pelahan-lahan mengikuti irama musik alam yang mengayunkannya. Musik alam itu digesek oleh dedaunan tetumbuhan yang memayunginya.  Aku menghirup aroma tubuhnya. Aroma yang berembus dari napasnya. Juga dari pori-pori tubuhnya. Dari rambutnya bergerai. Aku berdiri berlama-lama  di depannya. Terasa seperti ada aroma mistis yang menyelesup ke dalam kantong udara paru-paruku. Tidak hanya aromanya yang terasa menyelusup tetapi ada enerji mengalir   menghangatkan tubuh, kekuatan gaib kayali.

 

Kutarik nafas dalam-dalam, menghirup dalam-dalam aromanya, napasnya yang mengalirkan kehangatan tubuhnya.

"Oiii, segar," aku berbisik sendiri. Aku belum puas, aku mengangkat kedua tangan, menyorongkan ke depan hendak memeluknya.

 

" Jangan disentuh, Nak." Terdengar suara entah dari mana datangnya.

Aku memang tidak hendak memeluknya, tetapi hanya ingin tertular auranya. Suara itu tidak kupedulikan. Karena aku memang tidak akan menyentuhnya.

 

Kedua telapak tangan aku hadapkan ke pipinya. Sesaat kemudian kualihkan ke bagian tubuhnya yang lain, ke dadanya yang bergoyang  meliuk. Ke pinggangnya.

 

Tetapi beberapa saat kemudian tanganku beralih ke atas. Terasa di bagian dadanya inilah kekuatannya berpusat. Sedangkan aroma wangi yang mistis itu berembus keluar dari seluruh sosok tubuhnya. Kedua telapak tanganku bergerak di luar keinginanku mendekat dan menjauh dari dadanya tanpa kendali. "Kekuatan apa yang menghidupkan tanganku?" Aku bertanya, tapi tak ada yang menjawab. Tak ada siapa-siapa di sekelilingku.

 

Keheningan memukauku tanpa mampu menyadarinya. Tanganku lebih cepat lagi bergerak, sekarang tidak hanya mendekat dan menjauh dari dadanya tetapi telapak tanganku menghadap tubuhku dengan gerakan juga mendekat dan menjauh dari dadaku sendiri. Aku memejamkan mata. Aku terbawa oleh aura magnitnya, gerakan tanganku tanpa kendali. Kepalaku bergerak bergoyang berputar-putar.

 

"Ahhh wanginya. Hangat." Kuhirup dalam-dalam lagi aroma itu.

 

Kemudian aku melangkah meninggalkanya. Aku tidak tahu siapa namanya, dan sepertinya aku tidak punya keinginan untuk mengetahui namanya. Aku lebih suka memberikan nama menurut keinginanku sendiri. Maka aku beri nama ia, Harumi.

 

Ia tinggal di rumah Ibu Sri, di sebuah rumah sederhana menghadap gunung . Matahari pagi menyiramkan kehangatannya pada pekarangan belakang rumah Ibu Sri. Aku tidak tahu mengapa orang-orang mengatakan itu rumah Ibu Sri, bukan rumah Pak Made, seorang lelaki yang juga berdiam di rumah tersebut.  Pak Made, kata orang lagi,  beristrikan Bu Ketut, adik Bu Sri. Tetapi rumah itu terkenal sebagai rumah Bu Sri, seorang perempuan yang pada pandangan pertama kami bertemu telah memancarkan kewibaan dari sinar matanya.

 

" Boleh Nak. Silakan masuk melihat-lihat." Begitu sapanya ketika pertama kali aku minta izin masuk ke pekarangan rumahnya.

 

Aku menjawabnya dengan senyum dan anggukan kepala. Dan di antara tetumbuhan yang rimbun itulah aku bertemu dengan Harumi. Pada pertemuan pertama pandangan kami dipertemukan oleh aroma tubuhnya. Aku terkesima. Kami saling menyapa dengan senyum dan bahasa mata. Pada saat kunjungan pertamaku, aku melangkah lewat di depannya, tetapi langkahku terhentikan beberapa langkah sesudah melewatainya oleh aroma wangi yang belum pernah tercium sebelumnya. Aku menolehnya, mencari-cari dari mana aroma itu datang. Aku berdiri memaling-malingkan muka.

"Apa yang kau cari, Nak?" tanya Bu Sri yang tanpa sepengetahuanku  berdiri di antara tetumbuhan lain, memperhatikan gerak gerikku.

"Ada aroma yang menyapa saya, Bu."

" Ya, ia ada di dekatmu."

 

Aku mencari-carinya. Yang kucari itu tersenyum, sapaan lembut. Aku melangkah mendekatinya, tanpa kata-kata. Aromanya semakin menderas menyentuhku. Aku menciumnya dalam-dalam aroma yang memancar dari sekujur tubuhnya dalam kedekatan yang berjarak.

 

" Ibu boleh saya menumpang untuk berjemur?" aku bertanya tersipu-sipu untuk mengalihkan rasa malu yang tertangkap basah.

"Oh tentu saja boleh. Ini kan rumah dalam hati tanpa pintu."

"Tanpa pintu Bu? Rumah dalam hati Bu?"

" Ya, karena kami bangun  dengan ketulusan, terbuka untuk siapa saja yang datang membawa kejujuran." Aku terdiam dan bertanya sendiri, apakah aku datang dengan keculasan, maka Bu Sri bilang begitu? Aku merasa datang dengan kepolosanku. Tanpa  syak wasangka, apa lagi pamrih.

"Apa artinya itu Bu?"

"Tentu Nak bisa memahami apa yang Ibu maksud. Masuklah. Duduk di mana saja maunya, sambil menjemur tubuhmu. Matahari adalah sahabat kami yang menghidupi kami semua penghuni rumah ini. Ketika ia datang pagi, ia memberikan kehangatannya untuk mendorong tubuh kita lebih kuat. Di senja hari, ketika ia mau masuk ke peraduannya ke balik gunung, ia memberikan rona merahnya yang semakin lembut, seolah memperingatkan kita bahwa hidup ini berputar bagai roda. Tidak ada keabadian dan kemutlakan. Tapi jangan merokok ya, sebab asapnya akan meracuni penghuni rumah ini. " Bu Sri menunjuk pohon-pohon, rumput , langit dan dirinya sendiri sebelum  menghilang di antara pepohonan. Aku pun duduk di seonggok batu di halaman rumah Bu Sri yang diterpa matahari pagi. Karena tak kelihatan seseorang pun, maka aku pun membuka baju. Pernah seorang pengobat, aku tidak tahu apakah pengobat itu dokter apa bukan, sebab tak menampakkan perbedaan, mengatakan sinar matahari, kehangatan dan berbagai warnanya dapat meningkatkan kekuatan paru-paru. Sejak kecil aku sering diserang oleh gangguan pernapasan. Aku menghadap matahari dan membuka mulut sehingga hangat matahari terasa di rongga mulut. Beberapa saat kemudian aku membelakangi matahari, terasa tangan-tangannya yang halus mengelus-elus otot punggung menyalurkan kehangatan alaminya. Kenikmatan yang susah kuceritakan.

 

Dibawa oleh kenikmatan tersebut anganku mengembara  ke pegunungan hijau yang kesejukannya juga dapat aku rasakan bersamaan dengan elusan jari-jemari matahari.

 

"Sedang berjemur Dik?" terdengar suara dari arah belakang punggung. Dengan cekatan aku membalikkan badan dan memandang perempuan setengah baya  yang entah dari kapan memperhatikanku.

 

"Ya, Mbak. Maaf saya telanjang dada." Tanganku repot mematut baju yang kupakai lagi.

"Tidak apa-apa, teruskan saja berjemur." sahutnya

"Maaf,  Mbak tinggal di sini?"

"Ya, saya mantu Ibu Artemisia."

"Ibu Aremisia yang mana?"

"Itu lho yang biasa dipanggil sebagai Ibu Sri. Itu panggilan umum, tetapi nama sebenarnya Ibu Artemisia."

"Lantas nama Mbak siapa?"

"Saya Centella."

"Nama asing, tapi sedap di telinga. Apakah penghuni rumah ini orang asing?" tanyaku sedikit tergagap.

"Kami warga dunia, Dik," sahutnya dan sebelum sempat aku berkomentar ia melanjutkan pertanyaannya.

"Adik siapa?"

"Saya Orbanyu "

"Oh nama yang  agak aneh di telingaku."

"Gak tahulah kenapa almarhum Ayah memberikan nama yang sering jadi tertawaan teman-teman..Nulisnya begini lho, Mbak: Orbanew". Ia menuliskannya di sepotong kertas.

"Suami Mbak ada? Boleh saya berkenalan?"

"Ia pengembara. Jarang di rumah. Ia orang yang tidak berumah. Begitu ia menyebut dirinya."

"Ah masa. Ini kan rumahnya bukan? Atau ini rumah Ibu Sri. Eh ee, Ibu Artemisia?"

"Ini rumah di dalam hati. Rumah orang-orang yang punya hati. Ya termasuk suami saya."

Sulit aku memahami maksudnya. Seperti juga apa yang dikatakan oleh Ibu Sri.

"Suami saya menjadi pengembara yang tidak bisa ditangkap oleh siapa pun juga. Saya juga sulit menangkapnya. Apalagi penguasa."

"Penguasa?" tanyaku heran. "Apa hubungannya semua itu?"

" Ia menjadi pengembara semenjak zaman genting dulu itu. Ia dilatih oleh zamannya menjadi pengembara, menperjuangkan keadilan yang belum didapatkannya."

"Zaman genting yang mana Mbak."

"Zaman sejak tahun 66 sampai 98 itu. Sejak itu ia menjadi pengembara, mendatangi sanubari di setiap penjuru dunia."

 

Aku semakin tidak mengerti. Guru sejarah kan tidak pernah mengatakan ada zaman genting semasa tahun 66 sampai 98. Bukankah itu zaman pembangunan? Dan bapakku  pernah mengatakan sebelum meninggal, zaman itu adalah zaman keemasannya. Zaman kemakmuran bagi kami. Harta dan kekuasaan melimpah ruah pada keluarga kami. Kok disebut zaman genting? Jangan-jangan keluarga ini, keluarga tidak waras."

 

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh Mbak Centella sudah menghilang. Entah ke dalam rumah atau menyelinap di antara pepohonan. Aku duduk tercenung, menatap matahari. Aku baru sadar bahwa rumah Ibu Sri ini bagaikan seorang bayi yang berselimutkan pepohonan. Pepohonan bak pelindung kukuh memagarinya, dengan dedaunannya bagaikan renda berjuntai dimainkan angin lembut. Pepohonan beragam jenis, belukar, tanaman liar, beraneka warna kembang, gulma, tumbuh berdampingan saling bergantungan hidup seperti halnya sebuah komunitas..

 

Perlahan aku bangkit dari dudukku. Tubuhku telah berkeringat. Aku mau pamitan kepada Ibu Sri, ee  Ibu Artemisia atau Mbak Centella.

"Ibu, Ibu, Ibu" Aku memanggilnya berulang kali.

"Spada?"

Tak ada yang menyahut. Aku memberanikan diri ke bagian samping  rumah, melompati bebatuan jalan setapak.

Sepi. Hening. Tak ada seorang pun tampak. Rumah memang tidak berpintu. Tanpa daun jendela, sehingga sinar matahari dan udara hilir mudik tanpa penghalang.

Ketika aku kembali ke arah jalan keluar, terdengar suara entah dari mana datangnya

" Dik tidak sarapan dulu. Suami saya sebentar lagi datang. Katanya mau berkenalan. Tidak jadi? Tapi besok Mas Gynura sudah harus pergi lagi menghadiri seminar HAM di Genewa."

 

Aku tidak menoleh, karena aku tidak tahu dari mana suara Mbak Centella itu datang.

Aku melangkah terus berbekalkan enerji dan aroma tubuh  pohon pinus atau cemara wangi yang kuberi nama Harumi.***

(Taman Sringanis, Bogor, pertengahan Juni 007)

 

Keterangan.

 Artemisia vulgaris (Bahasa Latin) = pohon Sudamala

Centella Asiatica (bahasa Latin ) = pohon Pegagan.

Gynura psudo-china( bahasa Latin) = pohon Dewa.

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: