15 November 2008

[ac-i] Cerpen Harsutejo dari TITIAN

Cerpen

P A B R I K  P A K U

Oleh: Harsutejo

Seperti telah dijanjikan tepat jam sembilan pagi pak Marta Widjaya telah sampai di kantor Darto. Dengan sedan BMW mereka  meluncur ke pabrik paku di kawasan industri. Ini merupakan kunjungan Darto pertama sebagai pejabat bank ke pabrik itu. Pekerjaan tambahan sebulan sekali ini merupakan selingan cukup menarik baginya dalam lingkaran pekerjaan rutin di belakang meja, angka bertumpuk berlembar menggunung. Datang ke berbagai pabrik, mengamatinya dari dekat.

"Apa ada rencana untuk ekspor produk anda Pak Marta?" tanyanya asal-asalan tapi tak bakal meleset di sela cerita Pak Marta yang doyan berkisah.

"O, pasar dalem negeri masih sangat luas, bahkan kita orang masih impor produk kualitas tinggi seperti beberapa jenis paku beton." Tentu saja pejabat bank itu telah menyiapkan diri dengan mempelajari berkas perusahaan tersebut. Fasilitas kredit yang diterimanya, agunan, pabrik yang telah berproduksi setahun lalu, laporan inspeksi terdahulu, laporan stok, asuransi.

Darto diajak keliling pabrik dengan ditemani manajer produksi Simon Widjaya yang dua tahun sebelumnya lulus dari suatu perguruan tinggi teknik di Amerika. Mula-mula mereka masuk ke bagian penarikan dan pemotongan batangan besi. Dalam beberapa menit saja Darto tak tahan. Agaknya pabrik ini masih sama saja dengan setahun lalu ketika mula-mula berproduksi seperti tercatat dalam laporan. Memang laporan itu hanya menyinggung selintas bahwa para pekerja tidak memakai safety device alias alat perlindungan keselamatan kerja yang memadai. Kalau seorang manajer produksi dan inspektur bank masuk ke ruang itu tanpa ear plug bagaimana diharap para pekerja dilengkapi alat itu. Begitu Darto berpikir. Ia segera mengajak si Simon keluar dengan berteriak di tengah bunyi bising mengiris serta letusan keras memekakkan. Darto berjalan  cepat menyusuri tengah pabrik serta memperhatikan para pekerja, besi centang perenang, tumpukan peti hasil produksi sambil mengatupkan ke dua tangan ke telinga.

"Ya, karena Bapak tidak biasa, kalau biasa tidak apa-apa," begitu kata Simon santai seenaknya.

"Saudara Simon berapa kali sehari mengontrol mereka?"

"Ya terkadang."

"Dua kali, tiga kali?" Darto meragukannya. "Bung Simon, saya khawatir banyak buruh nanti jadi tuli, dalam setahun, dua tahun atau tiga tahun!" dengan nada serius.

"O tidak mungkin itu Pak, tidak mungkin. Kalau kita sudah biasa itu tidak menjadi masalah, seperti kata pepatah alah bisa karena biasa. Para buruh itu sudah biasa, sudah lebih setahun pabrik ini berjalan. Percaya saya Pak." Darto berpikir pepatah macam mana pula itu yang dipakai dengan sembarangan.

"Saudara Simon bisa memperkirakan berapa desibel itu kekuatannya, apa tidak jauh melewati ambang batas tanpa peralatan keamanan?" Ia tidak bereaksi. Penampilan Widjaya yang satu ini tlondho ngantuk, siapa tahu ia tamatan perguruan tinggi kaki lima, Darto mulai curiga. Selanjutnya Darto diperkenalkan pada direktur keuangan pak Roni Widjaya di kantornya yang nyaman dan rapi kontras dengan pabriknya. Ia tamatan negeri Belanda, nampak serius beda dengan Simon adiknya. Semua menyambutnya dengan ramah. Ya semua inspektur bank di mana dan kapan pun di dunia ini mendapat sambutan ramah tamah dari nasabah penerima kreditnya.

Sementara itu laporan stok mutakhir telah disiapkan. Dijelaskan bahwa semua stok ada di dalam pabrik yang baru saja dikunjunginya. Darto tak tertarik memeriksanya kembali, tak ingin berada di neraka kebisingan itu. Ketika masalah safety device  disinggung rupanya tak pernah terlintas di benak Roni, ia tak tertarik masuk pabrik. Reaksinya khas orang keuangan.

"Tapi berapa ongkosnya Pak, saya kuwatir kita orang belon mampu menyediakken. Kita harus bener-bener membikin kalkulasinya."

"Untuk ear plug dan masker saya kira ongkosnya tidak mahal Pak Roni dibanding fungsinya begitu penting melindungi telinga dan mata buruh di situ," Darto menimpali. "Disamping itu siapa saja yang masuk pabrik harus mengenakan ear plug paling tidak."

Ketika lonjoran besi ditarik mesin untuk mendapatkan diameter yang dikehendaki timbul bunyi bising. Lalu waktu logam dipotong-potong dengan ukuran tertentu, timbul bunyi seperti ledakan peluru senapan jarak dekat. Ada berapa puluh mesin menimbulkan ledakan semacam itu serentak berentetan. Belum lagi mesin pencetak dan seterusnya. Tak berlebihan untuk disebut neraka kebisingan.

Hari itu Darto makan siang bersama Pak Marta di sebuah restoran Jepang di kawasan Kota. Selesai makan sekali lagi ia mengingatkannya akan pentingnya safety device itu.

"O pasti Pak, pasti. Saya setuju sama Bapak, saya aken mintak Simon untuk memplajari dan menyiapken," begitu kata Pak Marta simpatik. Sebagai direktur utama PT Widjaya Bledek Perkasa tentu perintahnya mengenai masalah semacam itu akan segera dilaksanakan meski ia jarang berada di pabrik itu. Widjaya tertua ini membawahi berbagai jenis usaha lain.

Tiga bulan kemudian Darto menitip kepada temannya Eddy yang akan melakukan inspeksi ke pabrik yang sama agar memeriksa apakah mereka telah menggunakan peralatan seperti yang dimaksud. Ia tahu teman ini tak tertarik pada hal-hal yang menjadi perhatiannya. Keterangannya pun kemudian pendek saja, "Belum,"  lalu ditambahkannya "Saya juga enggak tahan, cepet-cepet keluar." Tapi dalam laporan yang ditulisnya hal itu sama sekali tidak disinggung. Dengan inisiatif Darto sendiri di luar pekerjaannya ia telepon Pak Marta mengingatkan lagi soal safety device itu.

"Tentu Pak saya masih inget betul, telah saya perintahken pada Simon," lagi-lagi Pak Marta dengan simpatik. Dua minggu kemudian Darto bicara lewat telepon dengan Simon. Widjaya yang satu ini rupanya paling suka tidak berada di tempat biarpun sebenarnya jabatan mengharuskannya. Dijelaskannya ia tak pernah menerima perintah apa pun mengenai masalah yang disampaikan Darto. "Bapak tidak usah khawatir, buruh kami semua dalam keadaan sehat walafiat, produksi berjalan baik dan lancar. Bunga bank juga dibayar lancar, Bapak bisa periksa. Kapan Bapak datang lagi?" Suara si Simon merayu mengejek.

Darto mengumpat sendiri 'bajingan', ia tidak tanya bunga bank tapi tanya safety device, ia minta perhatian mereka untuk melindungi kuping buruh, mata buruh. Apa berlebihan peduli dengan kuping dan mata si Mamat dan si Supi. Apa pendengaran dan penglihatan mereka bisa ditukar dengan bunga bank. Ia ngomel sendiri.

+++

Seperti tercantum dalam agendanya hari itu Darto ada acara makan siang bersama John Mitchell. Ia baru enam bulan tugas di Jakarta, tapi telah bekerja di bank itu selama dua puluh dua tahun. Ia memulai kariernya sebagai pesuruh di kantor  London, kemudian naik menjadi klerek sambil mengikuti kursus perbankan. Ia telah berdinas di berbagai negeri Afrika Asia. Sebagai kepala manajemen kredit di sini ia telah mendatangi sebagian besar nasabah debitur.

Acara makan siang demikian biasanya diikuti empat lima orang, kali itu hanya mereka berdua. Darto berncerita sebenarnya cita-citanya bekerja di bidang penerbitan atau kewartawanan, tapi tidak kesampaian.

"Indonesia jauh lebih maju dibanding banyak negeri Afrika. Jakarta jauh lebih modern ketimbang Nairobi, Lusaka, Lagos atau Harare. Juga kondisi kerja di sini jauh lebih bagus."

"Bagaimana kondisi kerja dibanding Inggris?"

"Well, industri Inggris telah lebih dari dua ratus tahun, bahkan revolusi industri dimulai di Inggris, kurang fair membandingkannya dengan Indonesia."

Akhirnya John bicara tentang beberapa laporan inspeksi yang dibuat Darto. Rupanya ada pengaduan dari Pak Marta yang ramah tamah dan sopan santun itu.

"Laporan inspeksi bukanlah laporan jurnalistik. Inspeksi merupakan sarana untuk memeriksa kebenaran laporan nasabah, eksistensi pabriknya, produksinya, pemasarannya, kondisi keuangannya. Inspeksi yang baik dapat mendeteksi kemungkinan arah perkembangan perusahaan. Kondisi kerja dapat menjadi ilustrasi bila itu ada hubungannya dengan keselamatan fasilitas yang diterimanya." Begitu John memberi kuliah dengan lancar. Ia telah menggeluti bidang perkreditan selama empat belas tahun.

"Kondisi kerja tak terpisah dengan perkembangan dan hari depan suatu usaha. Makin baik kondisinya makin baik kemungkinannya," sambut Darto tak mau kalah dengan bankir kapitalis tipikal.

"Well, tidak sesederhana itu. Segalanya harus melewati perkembangan  wajar setapak demi setapak, tak terkecuali kondisi kerja."

"Tapi itu tak berarti kami harus mengulangi kesalahan sama yang dibuat negeri-negeri Eropa bukan?"

"Apa yang kau maksud?" tanya John menyelidik.

"Tentang kondisi kerja Indonesia tak perlu meniru dan mengulangi jaman Charles Dickens  seperti dalam karyanya David Copperfield tentang revolusi industri di Inggris misalnya. Kalau tidak berarti kami di Indonesia tak mampu memetik pengalaman orang lain, pengalaman negerimu," begitu Darto mencoba menandingi.

Lalu John pun menyinggung laporan inspeksi Darto yang lain tentang  pabrik kimia milik PT Cleret Agung Chemical sebelum kedatangannya. Di situ ia mempersoalkan pembuangan limbah pabrik yang diragukan kehandalannya. Ia tahu Steve Perkins yang digantikan si John telah mencantumkan catatan pada laporannya menyatakan masalah itu tidak relevan. Ia sempat berdebat dengan Steve perkara itu.

"Polusi tidak menjadi perhatian bank kita atau bank manapun, ada institusi lain yang membidangi bahkan mengawasinya. Kita tak perlu ikut mengawasi," begitu kata Steve.

"Saya tidak sependapat dengan anda Steve. Kita memang tidak perlu mengawasi, tapi kita harus peduli. Polusi menjadi masalah kita semua," Darto tidak mau menyerah. Akhirnya Steve bilang,

"Harap diingat anda seorang bankir melakukan tugas inspeksi terhadap penerima fasilitas kredit. Ini masalah bisnis masalah komersial, bukan masalah lingkungan hidup!" 

Sesampai di kantor sebelum berpisah John menekankan pada Darto, "Betapapun anda seorang bankir, bukan jurnalis," dengan nada bersahabat menggurui.

"Exactly, saya mau jadi bankir dengan wawasan. Terima kasih makan siangnya John, see you." Darto merasakan suasana demokratis kecil itu seperti barang mewah, tapi apa artinya kalau kuping buruh kecil itu tetap saja jadi budek.

Catatan: tlondho = binatang muda seperti jangkrik yang belum bisa terbang melompat, di sini artinya anak muda ingusan.

Jakapermai, April 1994.-       

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: