27 November 2008

[ac-i] Butet Kartaredjasa Buka Pameran Budi Yonaf di Bentara Budaya Yogyakarta, 2 Desember 2008

Mengundang Anda

untuk menghadiri

acara pembukaan pameran tunggal

Budi Yonaf

 

"Neng-Nang"

 

Selasa, 2 Desember 2008,

pukul 19.00 WIB

bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY),

Jalan Suroto 2, Yogyakarta

 

Pameran akan dibuka

oleh Butet Kertaredjasa.

 

Pameran akan berlangsung sampai 9 Desember 2008,

buka setiap hari pukul 09.00-13.00 WIB dan 17.00-21.00 WIB.

 

contact person: 081.331.111.111

 

Profil Budi Yonaf:

 

Akal Budi dan Tawaran Sugesti Budi

 

JALAN kreativitas adalah jalan seribu cara. Hal ini secara tegas ditunjukkan oleh perupa Budi Yonaf yang karya-karyanya terhitung "baru menggeliat" di percaturan dunia seni rupa Indonesia. Namun, kita tahu, sesungguhnya, "karya besar" maupun "karya kecil" adalah sama saja nilainya, yakni sama-sama memberikan alternatif pencerahan tertentu melalui keberadaan masing-masing. Tentu saja, karena alasan tersebut maka menjadikannya tidak dapat dipandang sepele. "Semua layak dicatat, semua layak dapat tempat!" begitu kurang lebih bunyi syair puisi milik penyair Chairil Anwar yang dapat kita gunakan dalam mendudukkan penghargaan terhadap karya seni.

 

Dalam momentum pameran Budi Yonaf kali ini, setidaknya kita memang dapat melihat seberapa jauh proses kreatif yang begitu sublim dilakoni Budi Yonaf. Jelas, hal tersebut akan memberikan pelajaran bagi kita, refleksi bagi kita, dan barangkali kita sendiri akan mencomotnya sebagai salah satu langkah keberhasilan.

 

Berikut ini paparan yang disarikan dari wawancara terhadap Budi Yonaf. Mudah-mudahan dapat memberikan gambaran kepada publik ihwal caranya memaknai esensi perjalanan panjang tentang proses kreatif dan titik inti yang sebenarnya dicari dalam perjalanan proses kreatifnya.

 

***

 

Nama aslinya Budiyono Affandi. Tapi dia mempopulerkan diri menjadi Budi Yonaf, karena jengah dengan nama yang persis sama dan disandang oleh pelukis senior di lingkungan Jawa Timur. Identitas itu penting, maka nama dan citra yang berbeda harus ditorehkan.

 

Dalam praktik melukis, dia memberi latar belakang penciptaan kreativitas yang ada kaitannya dengan aspek religi atau spiritual. Ternyata, kreativitas melukis adalah juga ungkapan perasaan kagum terhadap Tuhan. Pun, kreativitas melukis dijadikannya sebagai media refleksi. Budi sangat menghargai proses dalam kreativitas melukis yang secara diam-diam juga dirumuskannya sebagai jalan menuju keseimbangan hubungan vertikal dan horisontal: interaksi wajar dan manusiawi antara diri-Tuhan. Tentu saja selebihnya adalah interaksi wajar dan manusiawi antara diri-sesama manusia. Yang menarik, bagi Budi respons ekonomis publik hanyalah efek.

 

Konsep kerja yang dikembangkan Budi menganut filosofi bahwa manusia dilahirkan sesuai dengan kodrat dan kekhalifahannya masing-masing. Oleh karena itu, manusia harus sadar dalam mengambil peran atau fungsi sosialnya. Misalnya saja, sebagai pelukis, ada baiknya jika mempertimbangkan aspek pencapaian kreativitas estetika dan fungsionalisasi syiar agama. Oleh karena itu, ia terus mengasah pemahamannya terhadap tema-tema yang diangkat dalam lukisan agar mempunyai kedalaman makna. Ia menyadari bahwa sampai sekarang pemahamannya terhadap penguasaan tema tertentu yang bakalan diabstraksikan ke dalam bentuk lukisan masihlah dangkal.

 

Sejujurnya Budi mengakui bahwa alasan yang membuatnya menjadi keranjingan terhadap tema yang berbau religi dan spiritual ini karena ia menganggap bahwa pilihan realistis yang harus ia jatuhkan memang hanya pada tema tersebut. Ia seperti tertakdirkan menjalani media yang selayaknya ia imani sebagai jalan aktualisasi adalah lewat tema tersebut. Tugas kekhalifahan dalam versi tertentu pun akan ia jalani sebagaimana ustadz dalam mengajarkan ilmunya. Hanya saja alangkah baiknya jika ustadz tersebut mempunyai nilai plus. Konkretnya, misalnya saja terjadi pada bidang keaktoran, maka sebaiknya tidak berhenti menjadi aktor begitu saja. Tapi, bagaimana menjadi aktor plus, seperti Deddy Mizwar yang dianggapnya sebagai contoh representatif dalam menjalankan amanah kreativitas dan amanah kekhalifahan. Apalagi Deddy Mizwar telah membuktikan bahwa dulu waktu muda ia telah berhasil menunjukkan prestasi gemilangnya sebagai aktor dan di hari tua ia melengkapkan perannya sebagai pendakwah, juru filsafat alternatif, dan sebagainya. Dalam konteks tertentu ia adalah tipe manusia yang relatif matang fungsi maupun peran sosialnya.

 

Menengok pencapaiannya dalam proses kreatif sampai pada pameran kali ini, Budi menganggap bahwa secara tematik ia seperti merasa hanya katut (ikut) arus saja. Beberapa tahun sebelumnya ia malah seperti terbebaskan mau memunculkan karya seperti apa, tentu saja yang sesuai dengan kemauannya sendiri. Misalnya saja yang berhubungan dengan tema lingkungan, sosial, politik, spiritual, dan kadang-kadang terbumbui filosofi Jawa yang serta merta merasuk. Budi memahami bahwa hal semacam itu merupakan bagian dari tuntutan alamiah yang ada di dalam dirinya, ingin sekali ia sampaikan. Media lukisan pun divonisnya mempunyai kemampuan besar untuk bisa mengutarakan berbagai dimensi nilai hidup.

 

Kebetulan saja bahwa di dalam pameran kali ini Budi memilih tema yang beragam. Meskipun misi utamanya adalah mengusung kerangka religi dan spiritual tetapi dalam pendekatan estetika yang dipilih mempunyai tema yang beragam. Obsesi terpendamnya terhadap nilai-nilai filosofi Jawa pun ia kemas semenarik mungkin dengan pilihan simbol atau metafora tertentu yang dianggapnya mewakili.

 

Keberhasilan Budi dalam memenuhi cita-cita sebagai pelukis ternyata terkondisi dengan sangat baik semenjak kecil. Tercatat bahwa ketika duduk di bangku SD ia sudah menyukai dunia kreativitas menggambar. Secara kebetulan ia pun bertemu dan akhirnya berinteraksi secara intens dengan seorang guru yang melecut semangat proses kreatifnya.

 

Tak segan, sejak SD dan SMP pun Budi mengasah dan menguji kreativitasnya dengan mengikuti berbagai lomba melukis terutama. Prestasi di tingkat lokal sering mengantarnya meraih juara 1 atau 2. Acara-acara yang diikuti, misalnya saja, dalam momen Porseni atau lomba-lomba melukis khusus untuk tingkatan anak-anak. Budi ingat, penghargaan yang diterima waktu itu standar, ya berupa piagam, buku, uang, dan hadiah khusus yang berkaitan dengan alat-alat menggambar. Sampai ia duduk di bangku SMP pun jenis penghargaan yang diterima masih tetap seperti itu.

 

Mulailah ketika ia duduk di bangku SMP semakin terbuka wawasan berpikirnya, Budi mulai kenal dengan sejumlah tokoh dan sekolah seni. Apalagi, teman-teman gurunya sendiri ada yang dari ASRI. Bertemu dan berdiskusi dengan seniman senior Banyuwangi  S. Yadi K. juga mulai diakrabinya. Secara diam-diam, semenjak SMP pula, niat dan tekadnya adalah memilih jalan hidup di sekolah seni rupa sebagai alternatif terbaik. Tentu, setelah lulus SMP ia pun mendaftar di SMSR, Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta. Budi ingat, kawan-kawannya yang kini mulai matang sebagai seniman di antaranya adalah Samsul Arifin, juga Teguh Wiyatno, Priyo Sigit, Ekwan, dan lainnya. Sewaktu ia datang dan diterima di SMSR, tengah ramai-ramainya penetrasi program kebijakan SMK yang dinilai kontroversial bagi kalangan internal sekolah. Jadinya, waktu kelas 1 hampir sebagian besar kegiatannya setiap hari isinya cuma demo untuk menolak perubahan status SMSR (yang spesifik) menjadi SMK (yang dianggap terlalu general dan kurang jelas orientasinya).

 

Boleh dikata, generasi Budi waktu itu adalah generasi kelinci percobaan di tengah era transisi status SMK. Terus terang, Budi merasa sangat kecewa dengan situasi itu. Alasan yang mendasar: tidak ada penjurusan yang terarah. Hal tersebut dirasakannya sampai kelas 2 yang kenyataannya banyak ditemui sejumlah kejanggalan yang bersangkut-paut dengan pola pendidikan maupun kurikulum pengajaran. Padahal obsesi atau gambaran ideal Budi adalah ia bisa mendapatkan pendidikan yang total dalam bidang seni lukis di SMSR. Itulah yang dirasakannya tak ada. Oleh karena itu, pada waktu kelas 2 ia perlahan-lahan meyakini bahwa pendidikan yang total dalam bidang seni lukis justru akan bisa didapat dengan belajar di luar sekolah. Sampailah ia terdampar belajar secara intens kepada seniman dan akademini ISI Yogyakarta, Agus Kamal. Dialah satu sosok seniman yang dianggapnya sangat menggugah dan menginspirasi intensitas pendalaman keilmuan di bidang seni lukis. Budi pun menemukan satu pola pendekatan realisme yang dianggapnya memukau adalah dari tangan Agus Kamal.

 

Celaka memang, di lingkungan SMSR sendiri, waktu itu Budi merasa tidak mendapatkan tokoh idola yang sekredibel dengan tokoh-tokoh seni rupa di luar SMSR. Lucia Hartini, Effendi, dan lain-lain adalah contoh seniman yang menjadi pijakan kekagumannya. Secara spesifik, awal ketertarikannya ketika mulai ada pergeseran selera estetika dari pendekatan seni realis ke surealis(tik). Hal ini begitu kuat dirasakannya setelah lulus SMSR. Ia pelajari secara mendalam pendekatan dan pemahaman teknisnya, temanya, dan sebagainya. Memang, dirasakan bahwa kultur kreativitas di lingkungan SMSR cukup mengarahkan kecenderungan proses kreatifnya tapi tidak mempunyai banyak pengaruh yang dirasakan sekuat pencapaian estetika orang-orang di luar bangku SMSR. Budi memetik hikmah yang luar biasa bahwa ia haruslah pandai-pandai memaknai hakikat perjalanan. Ilmu tidaklah tergantung karena institusi sebagai faktor utama.

 

Dalam rentang fase perjalanan proses kreatifnya, ketika menginjak bangku kelas 3 ia memutuskan bekerja sambilan. Ia memutuskan untuk mandiri. Waktu itu ia banyak mengerjakan lukisan potret. Ia pernah bekerja di Adesya Art Studio. Ia mendapatkan pengalaman dibimbing dalam hal desain. Agak enaknya, pada saat bekerja itu bukanlah kontrak kerja yang bersifat full time. Setelah itu ia bekerja di Kasongan. Kala itu sudah memasuki kurun 1998-1999. Ia dipercaya menangani Bagian Finishing di tempat salah seorang pengusaha keramik. Di situ ia menemukan semacam eksperimen kreatif yang sangat membantu menajamkan penguasaan proses kreatifnya. Sekalian ia berkonsentrasi total melukis sebab waktu itu kebetulan juga sedang boom lukisan. Jika mengenang masa itu, Budi tak dapat melupakan banyaknya orderan lukisan. Boronganlah!

 

Dalam rentang waktu booming itu, Budi berusaha ikut mengarus. Sekali dua kali lukisannya laku. Pernah juga di tahun 2000-an itu ia mengerjakan jenis lukisan kaligrafi dengan teknik seperti yang dikembangkan Agus Kamal. Tuntutan teknis pun disadari Budi. Dia telah cukup menguasai teknis melukis seperti basis teknik yang dilakoni Agus Kamal. Jadi, waktu itu, meskipun Budi suntuk mengerjakan lukisan pesanan yang kebanyakan berupa reproduksi, ia masih tetap mempunyai waktu buat melukis. Tak pelak, beberapa lukisannya ia ikutkan dalam sejumlah pameran kecil-kecilan. Waktu itu sudah ada tren penghargaan ala kompetisi Phillip Morris Art Award. Sayang, karya Budi belum pernah lolos sebagai finalis (100 Besar). Budi ingat, selama ia sekolah di Yogya, penghargaan yang ia terima berupa Pratita Adhikarya. Lantas, terakhir, sebagai finalis dalam Jakarta Art Award 2008.

 

Budi mengakui kehidupan yang ditempuhnya relatif monoton saja. Pada tahun 2004 ia pun memutuskan menikah. Kebetulan waktu itu ia tidak mengerjakan proyek-proyek lukisan foto lagi. Itulah yang membuatnya bisa melukis serius dengan konsentrasi tinggi. Waktu itu, istri bekerja di luar rumah.

 

Warna-warni dalam proses kreatif dan totalitas perjalanan hidup Budi membuatnya merasa sebagai tempaan. Di belakangnya, sejumlah teman seperti Maslihar Panjul, Ferry, Robert, dan lain-lain adalah orang-orang yang terus memberi dukungan semangat untuk terus konsisten berkarya. Hingga kemudian, Budi tak mungkin lupa bahwa pada 2007 ia mengajukan proposal pameran seni rupa ke Bentara Budaya Yogyakarta, dengan menggelantungkan pesimisme di benak. Ini dipicu oleh banyak komentar dari sejumlah pihak, misalnya, soal cocok-tidaknya karya tertentu dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta. Syukurlah, sekitar satu bulanan barulah usulannya direspons positif dan ia bisa berpameran di Bentara Budaya Yogyakarta. Artinya, orang seperti Budi ternyata masih mempunyai sisi kekhawatiran tertentu dalam menyosialisasikan karya. Barangkali saja hal tersebut dipengaruhi oleh nilai eksistensinya yang relatif belum diperhitungkan, misalnya, karena alasan jarang terlibat dalam berpameran. Apalagi dalam sebuah pameran penting.

 

Dalam rentang waktu perjalanan proses kreatif yang panjang tersebut, pastilah aspek pergulatan dalam hal uji coba loncatan berbagai macam teknik ia jelajahi. Teknik abstrak seperti yang dikembangkan Hono Lete, misalnya, bagi Budi cenderung seperti bermain efek singwidh yang antara tekstur dan komposisinya bisa dibuat sangat menarik. Pernah juga ia bersentuhan dan menekuni corak dekoratif sebagaimana yang dikembangkan dalam lukisan Bali. Kalau belajar langsung dari teknik yang dilihat di Bali, keberadaan kanvas adalah tanpa didasari apa pun dan bisa langsung direspons pakai media spidol dan cat poster. Ada juga teknik kerok yang ia sukai. Meski begitu, ia merasa masih tetap belum matang dalam belajar menggleuti soal teknik melukis.

 

Jika Budi menghadapi kendala estetika misalnya dalam hal visualisasi surealisme yang dianggapnya ideal, maka ia menghadapinya bagai menggelinding saja. Apa adanya. Artinya, proses pemecahannya, aplikasi dari jagad gagasan menuju jagad bentuk, tidak membutuhkan metode yang sangat khusus. "Asal jalan", pastilah nanti akan ketemu solusinya. Oleh karena itu, satu-satunya tekad yang tak pernah selesai adalah mengeksplorasi kemampuan diri. Tekad pencariannya masih sangat panjang. Boleh jadi tidak melulu surealistik atau teknik tertentu saja. Satu hal yang rasanya sangat susah ditinggalkannya bahwa ia berangkat berkarya dengan tetap berkecenderungan dari ketertarikan dan kesenangan saja. Titik. Peluru eksistensi yang juga akan senantiasa ia pegang adalah berupa ilmu dan pengalaman. Ia percaya di situlah substansi fase perjalanan dan langkah proses pendewasaan berkarya akan terbentuk. Dengan begitu, ia juga masih punya waktu untuk "menyempurnakan" pencapaian estetika yang dirasa tak maksimal dari orang-orang yang diacunya seperti Lucia Hartini, misalnya. Celah itulah yang juga merupakan tantangan alternatif bagi Budi.

 

Boleh dikata ia memang tak begitu peduli dengan perkembangan arus seni rupa kontemporer Indonesia bahkan dunia yang dalam kurun waktu tertentu diharu-biru oleh berbagai isu dan tonggak pencapaian estetika tertentu. Atau digerus oleh gelombang masuknya kecenderungan kreatif seniman asing yang masuk deras ke Indonesia. Secara alamiah ia hanya ingin membuktikan bahwa sebuah lukisan haruslah mencapai tingkatan mempunyai kekuatan sugesti yang dalam. Di situlah esensi berkarya: bahwa ketika penikmat seni datang ke ruang pameran maka ia tak akan mudah melintasi antara karya lukisan yang satu dengan lainnya. Penikmat seni tersebut seyogyanya akan berhenti cukup lama dalam menikmati sebuah lukisan. Begitu seterusnya dengan lukisan yang dipajang berikutnya, berikutnya, dan berikutnya lagi.

 

Ruh sebuah karya lukis haruslah dapat ditemukan oleh perupa yang bersangkutan. Itulah misteri yang barangkali tak setiap perupa mampu menemukannya… ***

 

Dicatat oleh Kuss Indarto dan Satmoko Budi Santoso.

 

 

Kuratorial:

Neng-Nang

 

Jagad seni rupa, tak ayal lagi, seperti jagad mode. Dan memang, seni rupa adalah juga mode itu sendiri. Selalu saja ada siklus untuk menampilkan hal yang penuh kebaruan sebagai tuntutan serta standar utama yang tak terelakkan.

 

Seperti yang sempat merebak (kurang lebih) dalam lima tahun terakhir setelah beberapa galeri di Indonesia memberi ruang gerak yang besar bagi seniman China untuk mengeksposisikan karyanya di sini. Mulai dari Yue Minjun, Fang Lijun, Zhou Chunya, Wang Guangyi, dan lainnya. Seperti ada gaya-ucap utama beserta arus kuat yang menyelinap dengan deras pada sebagian bentang kanvas para perupa di Indonesia. Setidaknya ini bisa terlacak dalam berbagai perhelatan pameran dan terpacak pada beragam buku lelang seni rupa yang kinclong dengan ketebalannya yang melebihi buku telepon kota Jakarta.

 

Publik dengan mudah bisa melihat gelagat yang bisa ditangkap pada aspek visual atas karya-karya seniman Indonesia sekarang ini, yakni rentetan karya yang memiliki keterkaitan cukup melekat dengan kecenderungan artistik karya-karya para perupa China kontemporer yang menghambur di sini beberapa tahun terakhir. Aspek visual yang menonjol adalah, pertama, menguatnya karya-karya yang mengedepankan basis realisme yang kuat, rinci, halus, dengan penggarapan yang cermat dan serius. Penggarapan dengan kepekaan teknis virtuoso ala seniman jaman Renaisans dulu, dewasa ini banyak merebak dan ditekuni oleh banyak seniman di sini. Kedua, kuatnya aspek simplisitas atau kesederhanaan visual dengan menyingkirkan pola dan bentuk visual yang ornamentik atau penuh "hiasan". Pada umumnya subyek visual terlihat tunggal sebagai pokok soal utama (subject matter) dengan berusaha memberi penekanan pada tema juga gagasan yang kuat.

 

Modus kreatif seperti ini banyak menghinggapi seniman kita. Sebagai amsal, bisa kita simak seniman F. Sigit Santoso. Pada pameran tunggalnya di Edwin Gallery pada Agustus-September 2003 yang bertajuk plesetan Painthink, saya kira, menjadi titik balik penting dalam melihat pergeseran alur kreatifnya. Rentetan karya yang terpajang waktu itu seperti sebuah alur metamorfosa dari karya yang naratif dengan pendekatan visual surealistik menuju karya-karya cynical realism (realisme sinis) yang penuh simplisitas secara visual namun kuat dan bernas dunia gagasannya. Terlebih bila menyimak karya-karyanya yang terakhir, kesan tersebut kian menguat. Barangkali kecenderungan ini disadari Sigit sebagai bagian dari keterpengaruhan dirinya oleh karya kontempoter China, untuk kemudian menempatkannya sebagai bagian dari strategi dan siasat kreatifnya. Dengan ditunjang oleh kemampuan teknis yang sangat memadai, bagi Sigit, pencapaian visual ala "kontemporer China" bukanlah masalah besar. Lebih praktis dan lebih substantif pada pola dan capaian kerjanya. Kini problem ide yang harus terus diasah agar karyanya lebih tajam dan mendunia.

 

Kecenderungan serupa juga dialami oleh Budi "Swiss" Kustarto yang semakin fokus memotret gambaran (citra) dirinya. Atau juga Nurkholis yang kira-kira dalam empat tahun terakhir ini praktis telah "menghentikan" modus kreatifnya yang mengedepankan teknik body printing. Karya-karyanya terakhir merupakan karya dengan pendekatan realisme yang kuat dan dengan penyederhanan bentuk yang ektsrim, terutama bila dibandingkan dengan karya sebelumnya yang selalu riuh dalam tiap kanvasnya. Dan masih banyak contoh karya seniman lain.

 

Saya tak hendak mengatakan bahwa fenomena dalam dunia kreatif seni rupa ini dalam kerangka untuk membuat justifikasi hitam-putih sebagai baik-buruk dan semacamnya. Namun sebagai sebuah fakta sosial, realitas semacam ini bisa dicatat tebal-tebal bahwa kemungkinan pergeseran kreatif yang bertumpu pada pemiripan, pengekoran atau bahkan dalam kerangka yang sarkastik seperti epigonisme jelas telah menjadi lanskap keseharian yang mudah ditemui. Time will tell. Waktu pasti akan menguji pilihan-pilihan tersebut. Dan fenomena itupun membawa banyak implikasi di dalamnya, yang antara lain telah menempatkan tidak sedikit seniman Indonesia masuk dalam serapan pasar di tingkat regional. Bahwa ini disebut sebagai upaya internasionalisasi karya seni(man) Indonesia, tentu masih debatable, dan kadang belum tentu menarik untuk diwacanakan.

 

Dan di sela pilihan kecenderungan kreatif seniman seperti di atas, saat ini tengah merebak pula gejala pemindahan karya-karta street art yang bergerak di kanvas-kanvas seniman muda lainnya. Dan ini ternyata tidak terjadi di kawasan Yogyakarta atau Indonesia semata, namun juga sudah menggejala di banyak kawasan negara Asia, bahkan mengglobal. Kecenderungan ini mempertegas asumsi bahwa jangan-jangan publik seni(man) Indonesia betul-betul menjadi konsumen yang loyal atas trend seni rupa global, atau sebagian dari kita merupakan entitas seni yang relatif paling cepat tanggap (untuk menjadi bunglon?) terhadap pergerakan dinamika seni rupa di luar dirinya.

 

***

 

Dengan mendasarkan perbincangan seperti di atas, maka menjadi menarik ketika kita menyimak belasan karya Budi Yonaf yang tengah dieksposisikan kali ini. Karyanya secara garis besar menempatkan diri dalam pilahan corak surealistik (untuk tidak mengatakan "surealisme"), sebuah corak yang begitu gegap merambah banyak kanvas perupa Yogyakarta pada dasawarsa 1980-an akhir awal dasawarsa 1990-an lalu. Waktu itu, muncul para bintang "surealistik Yogya" yang cemerlang seperti Ivan Sagito, Lucia Hartini, Agus Kamal, Sudarisman, Effendi, Probo, V.A. Sudiro, dan sejumlah nama lain.

 

Kemunculan karya lukisan surealistik saat itu jelas berseberangan dengan mengemukanya surealisme di Barat pada dasawarsa 1920-an. Singkatnya, kala itu, Andre Breton dan para seniman sekutunya mempublikasikan Manifesto Pertama Surealisme di Paris tahun 1924 yang didasarkan dari praktik diskursif. Ranah surealisme kurang lebih bergerak mengembangkan otomatisme dalam mengolah dan mengejawantahkan citra-citra surealis yang bertumpu pada pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud.

Sementara enam puluhan tahun kemudian corak lukisan surealistik ala Yogyakarta banyak bertumpu pada keterpengaruhan atas eksotisme dan keunikan karakter visual karya surealisme Barat yang dilihat oleh sebagian dari para pelakunya dari buku-buku berikut potongan pembacaan secara parsial yang bertautan dengan surealisme. Bahkan dalam analisis Dwi Marianto surealisme dimaknai sebagai endapan-endapan dalam budaya sehari-hari termasuk sedimen-sedimen kultural yang melahirkan berbagai konflik yang halus tak kentara dan yang jelas-jelas nampak di Yogyakarta (lihat Surealisme Yogyakarta, 2001: xxvi). Karya surealistik Yogya lebih bersumber dari citra-citra kekontrasan atau nilai-nilai ironik dalam perikehidupan masyarakat Yogyakarta. Yang "real" dianggap "surreal", begitu sebaliknya.

 

Maka dari itu, ketika publik menyimak karya surealistik ala Budi Yonaf yang dibuat setelah lebih dari sepuluh tahun lalu "gempa" surealistik berlalu dari studio para seniman di Yogyakarta, apa yang bisa disimak lebih lanjut dari sini?

 

Saya melihat ada dua hal penting di sini. Pertama, dalam aspek kekaryaan, Budi Yonaf tampak mengukuhi pilihannya untuk menampilkan karya surealistik sebagai sebuah konsistensi atas alternatif dalam penggayaan karya sekaligus sebagai upaya keluar dari corak dan cara berkreasi yang menolak mengikuti arus utama (mainstream). Secara teknis, seniman semacam Budi ini telah cakap dan sangat terlatih untuk mengikuti arus dan trend visual apapun. Namun dengan pilihannya untuk tetap menampilkan corak karya yang telah menjadi "marjinal" ini justru memberi pengayaan kosa kreatif bagi komunitas seni rupa Yogyakarta secara umum. Budi tidak sedang ketinggalan jaman saya kira, namun mencoba untuk "mengendalikan jaman" dalam kanvas-kanvasnya.

 

Kedua, secara tematik Budi bergerak untuk melakukan pendalaman atas aspek dan nilai-nilai spiritualitas Jawa. Dan hal ini tampaknya begitu menyatu dalam gaya dan corak lukisan surealistik. Setidaknya, Budi merasakan greget kreatifnya melekat ketika menyandingkan antara corak lukisannya yang surealistik dan tema yang mengangkat spiritualitas (ke)Jawa(an).

 

Dalam dua hal penting di ataslah kiranya saya melihat bahwa naluri kesenimanannya tengah diuji dalam lintasan waktu, kepentingan, dan berbagai arus yang saling tumpang tindih. Ada banyak godaan yang dengan gampang, sebetulnya, bisa diraihnya dengan cepat. Ada arus pasar, misalnya, yang dengan deras berpotensi menyulap keberadaannya secara finansial untuk berubah dengan drastis. Namun seolah dalam kapasitas mental kejawaannya diendapkanlah problematika itu menjadi spirit yang menguatkannya.

 

Dalam derajat tertentu, mentalitas untuk berupaya mengendapkan hasrat ini seperti membumikan ajaran tertentu dalam kultur Jawa yang dikukuhinya, sejajar dengan Budi yang mengukuhi karya surealistiknya hingga kini. Budi—sekali lagi dalam gradasi yang terbatas—seperti mencoba ngugemi ungkapan dalam khasanah asketisme Jawa: "ananeng, ananing, uninung, uninang" yang kurang lebih bisa dipahami secara bebas dan sederhana sebagai upaya manusia untuk hidup demi mencari kejernihan batin (Suwardi Endrasmara, Mistik Kejawen, 2003: 95). Jelas dia tak seketat dalam asketisme macam itu.

Mungkin dia heneng, "berdiam untuk bergerak" menyusun kekuatan sebagai strategi. Neng-nang, seperti mengisyaratkan konsep dirinya dengan heneng untuk menang kelak. Karyanya yang dianggap stagnan (ketimbang banyak karya seniman lain yang dengan gampang mengarus angin ke sana-sini) sebenarnya menyimpan potensi bagi dirinya untuk mengendapkan spirit yang lebih dalam lagi: laku heneng untuk menang. Atau juga konsep neng-nang dipahami sebagai pertautan dua hal penting yang mungkin tengah mengobsesinya: jeneng-jenang. Jeneng dimaknai sebagai hasrat untuk membangun aspek eksitensi(al), dan jenang sebagai bagian yang melekat dalam alat ukur sebuah kemapanan, yakni (antara lain) limpahan finansial. Neng-nang, kiranya, bisa dibaca sebagai langkah tegas Budi Yonaf untuk membangun jaring-jaring jeneng dan jenang yang masih mengarak di langit di atas dirinya. Dan tengah berusaha diraihnya. Selamat merengkuh, Bud!

 

Kuss Indarto, kurator seni rupa.


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: