28 November 2008

[ac-i] Bls: mengacak dan membangun struktur dalam sastra

--- Pada Jum, 28/11/08, Hudan Hidayat <hudanhidayat@yahoo.com> menulis:

> Dari: Hudan Hidayat <hudanhidayat@yahoo.com>
> Topik: mengacak dan membangun struktur dalam sastra
> Kepada: "Apresiasi Sastra" <Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com>, "artculture indonesia" <artculture-indonesia@yahoogroups.com>, "bhinneka tinggal ika" <bhinneka_tunggal_ika@yahoogroups.com>, "Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com FPK" <Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com>
> Tanggal: Jumat, 28 November, 2008, 4:59 AM

> Kebutuhan sastra akan struktur, yang meletakkan dirinya pada
> unsur-unsur tanda dan makna dalam bahasa, seolah padanan
> anggota-anggota tubuh yang menghendaki ruhnya, yang memancar
> dalam tenaga-tenaga mekanik dalam fungsi serat-serat anggota
> tubuh. Atau bisa dibalik: ruh yang hendak bereksistensi di
> dalam ruang sebuah tubuh. Badan bahasa, atau yang disebut
> Saussure sebagai penanda, itulah anggota tubuh dalam badan
> manusia. Sedang ruh manusia adalah makna yang terpancar oleh
> badan bahasa dalam dunia yang ditandai.
>
> Dalam struktur itulah orang bisa menarik anasir-anasir
> sifat-sifat sastra ke dalam pelbagai konsep sastra atau
> konsep bahasa. Menarik sastra juga ke dalam konsep-konsep
> yang datang dari dunia lain – katakanlah filsafat.
> Struktur sebuah karya bukanlah sebuah hal yang bergerak
> mutlak dalam dirinya. Ia akan berguncang ketika disentuh
> oleh dunia lain – dunia pembaca. Resepsi atas sebuah
> karya, baik resepsi dalam tingkatan ilmu sastra yang hendak
> menyorot ke dalam anasir-anasir, atau bergerak dalam ranah
> kritik sastra dengan pelibatan macam-macam pendekatan,
> adalah hal yang niscaya yang membuat struktur sebuah karya
> sastra berguncang itu. Struktur tiba-tiba menjadi tak utuh
> lagi. Ketarik dan ditarik oleh pembacanya sendiri dalam
> ramainya dunia pemaknaan pembaca.
>
> Kritikus sastra Katrin Bandel menunjukkan struktur sebuah
> karya yang berguncang itu. Dalam kajiannya terhadap novel
> supernova, ia meletakkan fenomena struktur yang terguncang
> itu dengan penyebutan "Karya sastra sebagai taman
> bermain".
>
> "Apa yang akan terjadi seandainya tokoh sebuah novel
> tiba-tiba melepaskan diri dan meloncat keluar dari karya
> sastra itu, lalu berkeliaran dengan bebas, tanpa bisa
> dikontrol lagi oleh pengarang yang menciptakannya?"
> Itulah pengelihatan Katrin saat ia menemukan novel
> Supernova yang diletakkan ke dalam wadah lain – wadah
> respon pembaca novel Supernova di dunia maya, di mana
> pembaca menjadi partisipan bebas untuk memaknai dunia novel
> Supernova.
>
> Kita bisa menyebut respon pembaca itu sebagai aspek
> demokratisasi sastra oleh sang pembaca novel. Bahwa novel
> kini bukanlah milik sang pengarang lagi, tapi sudah menjadi
> bagian dunia publik yang ramai. Atau dalam kalimat Katrin,
> "… rangkaian tulisan di bawah judul Thanks From Me
> (wadah novel supernova dalam dunia maya itu – hh)
> merupakan semacam tanggapan pembaca atas novel Supernova.
> Pembaca bereaksi bukan dengan memberi komentar, seperti yang
> biasanya dilakukan kritikus atau orang awam setelah membaca
> sebuah karya sastra."
>
> Apa yang menarik dalam esai Katrin yang sangat jernih dan
> penuh kontrol ini, adalah saat ia mengambil Sartre dalam
> soal aktivitas membaca, bahwa membaca adalah sebuah kegiatan
> untuk menciptakan kembali.
>
> "Agaknya pandangan Sartre", tulis Katrin, "bahwa
> 'membaca adalah menciptakan yang terarah' terbukti benar
> pada mereka, hanya saja apa yang sudah diciptakan dalam
> benak mereka itu tidak rela mereka tinggalkan pada waktu
> menutup halaman terakhir, melainkan mereka jadikan titik
> tolak untuk terus mencipta, dengan mengambil alih cerita dan
> tokoh-tokoh Supernova."
> "Mengambil alih tokoh-tokoh Supernova", itulah saat di
> mana struktur dalam sebuah karya sastra (novel) itu
> berguncang, tak lagi menjadi struktur dalam dirinya sendiri.
>
> Guncangan-guncangan seperti ini, sebenarnya terjadi tidak
> hanya di dalam ranah struktur sebuah karya. Tetapi di ranah
> pembaca juga sebagai manusia yang menghadapi bacaan.
> Menghadapi bacaan sang pembaca pada dasarnya membentuk
> struktur kognitif yang disadarinya, menjadi sebuah konsep
> bagaimana cara dia memandang dunia. Atau tenggelam dan
> terbenam menjadi sebuah gerak-gerik psikis dalam term freud.
> Kelak tiba masanya di mana struktur yang berproses mencari
> bentuk itu atau yang "tenggelam" itu, meledak ke luar
> sebagai respon manusia atas dunia yang tengah dihadapinya.
>
> Proses seperti itulah yang diceritakan Sartre, dalam
> renungannya yang metaforis dan amat indah di perpustakaan
> kakeknya saat ia masih kanak, dalam bukunya yang konon telah
> mengantarkannya mendapat hadiah nobel yang ditolaknya itu
> – Kata-Kata.
>
> "Perpustakaan laksana dunia yang terjerat dalam cermin;
> tebalnya tak terhingga, beraneka, juga tak terduga. Aku
> terjun dalam petualangan yang luar biasa: menaiki kursi,
> meja, meski dengan resiko membuat semua roboh jatuh di
> atasku. Buku-buku di rak paling atas lama di luar
> jangkauanku. Ada buku lain, baru kutemukan, yang dengan
> mudah dapat kuambil; tetapi ada juga yang bersembunyi: yang
> ini pernah kuambil, bahkan mulai kubaca, dan aku yakin sudah
> kukembalikan, tetapi nyatanya aku perlu waktu seminggu untuk
> menemukannya kembali.
>
> Ada penemuan-penemuan mengerikan: kubuka buku tebal,
> tahu-tahu halaman berwarnanya kudapati penuh dikerubuti
> serangga-serangga memualkan. Berbaring di permadani,
> kulakukan perjalanan-perjalanan yang berat ke tengah
> karya-karya Fontenelle, Aristophanus, dan Rebelais:
> kalimat-kalimat berkutat di hadapanku seperti benda-benda
> hidup; mereka harus kuamati; aku mengelilinginya, pura-pura
> kujauhi dan tiba-tiba kembali agar bisa mengagetkan mereka
> di saat lengah: pada umumnya kalimat-kalimat itu tidak
> membuka rahasia dirinya."
>
> "Aku mengelilinginya, pura-pura kujauhi dan tiba-tiba
> kembali agar bisa mengagetkan mereka di saat lengah",
> adalah pelukisan yang ditemukan Katrin terhadap realitas
> pembaca novel Supernova yang kini menjadikan novel Supernova
> sebagai milik bersama.
>
> Saya baru menyadari pendapat Katrin ini, ketika merenungkan
> esai-esai saya sendiri, semacam ideologi dalam mencipta,
> yang dituang ke dalam bentuk novel, bahwa dunia novel adalah
> sebuah dunia di mana kebutuhan mengacak-ngacak dan membentuk
> kembali struktur, adalah proses yang berjalan bolak-balik
> dalam dunia penciptaan.
>
> Penciptaan bukanlah sebuah kawasan yang bisa dan harus
> dibakukan, tapi adalah dunia terbuka dimana, seperti
> kata-kata Sartre, "kalimat-kalimat" yang "tak membuka
> rahasia dirinya" terbuka untuk dijelajahi. Seakan tangan
> pengarang memegang serenteng kunci, untuk masuk ke dalam
> kamar rahasia dari kalimat-kalimat serupa itu.
>
> Kini pengarang bebas dalam dirinya sendiri, bebas pula
> dalam dunia. Tapi kebebasan mutlak sang pengarang, adalah
> kebebasan mutlak pula bagi sang pembaca sebuah karangan.
> Ilmu memang hendak membuat klasifikasi, menentukan
> sifat-sifat umum dan sifat-sifat khusus, tapi pengarang dan
> pembaca terbebas dari tuntutan ilmu. Ilmu bisa dijadikan
> panduan, pegangan, atau semacam tongkat untuk bertopang.
> Selanjutnya dalam pengembaraan memasuki lorong-lorong bahasa
> sebagai jalan untuk memasuki lorong-lorong jiwa manusia,
> maka sebuah patokan yang hendak ditancapkan menjadikan
> seorang pengarang atau pembaca tersendat. Ia serupa kuda
> yang berlari kencang, tapi tali kekang memperlambat lari
> sang kuda. Tapi kemanakah kuda hendak berlari kalau horizon
> terdepan tanpa peta? Maka nampak kita ditarik ke dalam dunia
> ilmu kembali. seolah ilmu adalah tali kekang, menjadi
> pengarah ke mana sang pengarang dan pembaca hendak berlabuh,
> atau mendekat dan menjauh.
>
> Dalam dunia tarik menarik semacam itu, dunia di mana
> kebutuhan membentuk struktur sama besarnya dengan kehendak
> untuk menghancurkan struktur, maka cerita atau bahasa
> menjadi lincah, dan nyaris tak ada patokan untuk membentuk
> sebuah bahasa atau sebuah cerita. Konvensi, terbuka untuk
> sebuah pelanggaran bahasa, dengan atau tanpa kesadaran –
> semacam impuls yang berdenyut dari dalam jiwa sang pengarang
> – dari jiwa sang pembaca juga. Kini mengintip di tiap
> tubuh si aku-lirik atau si aku -prosaik. Maka
> eksplosifisisme, kini bukan hanya sebuah dugaan tapi telah
> dan bisa menjadi sebuah program.
>
> Hidup memang seolah menggenggam air dalam tangan. Dan air
> selalu merucut ke balik tangan. Begitulah struktur dan
> antistruktur itu bekerja dalam jiwa sang pengarang dan sang
> pembaca. Untuk kemudian meletus dalam ledakan-ledakan
> kreatif. Ada tali hendak mengekang lajunya ledakan, tapi tak
> berdaya oleh desakan-desakan dalam diri yang tak tertahankan
> lagi.
>
> Seperti yang saya lihat dalam puisi penyair Maulana Achmad
> (dan pastilah penyair lain juga), yang memainkan
> tarikan-tarikan semacam itu dalam puisinya berjudul
> "Ketika Nanti". Tarikan dari sebuah kegetiran, tapi tak
> terucapkan dan tak terkatakan – kegetiran apakah itu?
> Darimana datangnya dan kemana ia hendak menuju? Tapi dalam
> puisi yang bernas ini, tarikan-tarikan itu bukanlah
> menampakkan kebutuhan mengacak struktur bahasa, tapi sebuah
> fenomena dari batin yang terbelah – batin yang menerima
> tapi hendak menjauh, menolaknya, menjadikan dirinya sebagai
> bayangan.
>
> Ketika nanti,
> Aku dan dedaunan sulit diurai
> Sebaiknya kau keduk sesudu kami
> Hiduplah! sebatas mampumu saja
> : bila baik langkahmu, aku kan membentuk bayang
>
> Dunia puisi yang menalikan manusia ke dalam dunia benda, ke
> dalam sebuah metapor tentang kesedihan, dalam puisi Maulana
> "pakcik" Achmad ini, akhirnya sampai juga ke dalam
> pengacakan struktur jiwa benda dan jiwa manusia. Itulah saat
> di mana sang penyair menyebut pengacakan itu sebagai "aku
> dan dedauan sulit diurai", di mana fungsi daun sebagai
> benda mati, kini di tangan penyair menjadi hidup seolah
> hatinya sendiri.
>
> "Biarkan surai kisah kami menampar wajahmu.
> Mungkin angin kelak kan ceritakan sedikit
> : pernahkah aku, daun dan angin hidup
>
> Daun, angin, tebing, sampai juga kepada kita menari-narikan
> kesedihannya, seolah manusia yang bersedih hati yang
> mengucapkan kesedihannya ke dalam dunia kata - puisi.
>
> (hudan hidayat)
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Coba Yahoo! Messenger baru


Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru. Akhirnya datang juga! http://id.messenger.yahoo.com

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: