02 November 2008

[ac-i] A.Kohar Ibrahim: SPBB (3)- Mawie Memaknai Memerahnya Sosialisme Indonesia

Mawie Memaknai Memerahnya Sosialisme Indonesia
SPBB (3) Oleh: A. Kohar Ibrahim
 

Mawi Ananta Jonie:

Kunanti Bumi Memerah Darah

Bumi Sosialisme Indonesia

 

 

Sekitar Prahara Budak Budaya (3)

Oleh: A.Kohar Ibrahim

 

 

SAYA mulai bagian ketiga Sekitar Prahara Budak Budaya ini dalam suasana seperti nomor satu: Di Beranda Betawi dengan irama lagu gambang kromong GK Sinar Terang berjudul Renggong Buyut disusul Jali Jali Bunga Siantan. Sesekali ngigel sembari pejamkan mata, selang seling muncul gambar gambarannya Lenong dengan lakon Si Pitung jagoan betawi yang kondang.

 

Aneh, di pentas tahun 60'an itu para bidak budak budaya yang gairah lincah bermain memainkan peranannya itu ada wajah wajah yang aku kenal. Antaranya: Tarbin si jagoan Pasar Tenabang, Mawie, aku sendiri dan Hasan yang berkumis tebal, mengenakan sarong dan peci hitam. Kami menari pencak dengan gaya Melayu seperti Si Pitung. Sang jagoan rakyat yang merupakan perwujudan nama kolektip:  7 Pendekar --  asal serangkai wilayah besar Melayu.

 

Lebih aneh lagi: keikutsertaan Hasan. Padahal pada masa itu, sang penulis "sejuta puisi" itu entah masih berada di mana. Di kayangankah? Tak mengapalah. Lantaran sama-sama penulis dan jurnalis, yang suka observasi dan melacak sumber tulisan, seperti aku, dia pun akan dengan mudah mengerti akan lukisan Mawie Ananta Jonie di sekitar Jalan Hayamwuruk, Ibukota Jakarta itu.

 

Dengan baris-baris ini aku hanya ingin menggarisbawahi betapa aku bisa memaklumi adanya postingan Hasan Aspahani seperti yang sepenuhnya dikutip dalam bagian (2) yang lalu. Sebagai generasi lebih muda dariku, masih wajar wajar saja dia melakukan itu – sekedar menuruti atau menggarisbawahi para senior yang selama ini disimaknya. Macam Taufik Ismail dan Ikranagara itu. Maka, untuk memenuhi harapannya, dengan sabar aku berupaya menghubungi Mawie Ananta Jonie yang sudah sekian lama tak jumpa langsung.

 

Memenuhi harapan sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan,  Bung Mawie menunjukkan bahwa soal sajak yang menjadi persoalan ini sesungguhnya  pernah diperbincangkan dua tahun lalu. Dalam postingan di milis Sastra Pembebasan dan dapat dilacak pula di Google.  Kongkretnya, seperti yang tertera dalam penjelasannya  kepada Saudara Djoko, Saudara Herusutedjo dan sejarawan Asvi Warman Adam.

 

*

 

Penjelasan Mawie Ananta Jonie :

 

Saudara Djoko,

Saya telah membaca surat E-mail Anda tertanggal 1 Maret 2006 terkirim pukul 6:16 pagi melalui "Sastra Pembebasan" (SP). Surat tersebut di dahului dengan menurunkan puisi "Kunanti Bumi Yang Memerah Darah" dengan dua bait isinya.


Kemudian Anda menanyakan kepada pencinta milis ini "kenal" atau "pernah membacanya" atau "... bahkan diantara anda adalah penulis puisi ini?"

Baiklah di sini saya katakan bahwa puisi: "Kunanti Bumi Memerah Darah" tersebut jadi bukan "Kunanti Bumi Yang Memerah Darah" adalah karya saya Mawie. Sayang saya tidak mempunyai tanda buktinya lagi tapi seingat saya puisi ini saya tulis disekitar tahun 1964, 42 tahun yang lalu dan dimuat Lentera pada tahun yang sama. Menurut yang beredar sekarang panjangnya adalah 7 bait.

Saudara Djoko, terimakasih atas perhatian Anda.

Salam.
Mawie Ananta Jonie.

 


 *


Saudara Harsutedjo,

Pada tanggal 1 Maret 2006,saya membaca surat E-mail Anda kepada Saudara Djoko di dalam SP yang Anda kirimkan pada pukul 18: 32. Surat E-mail ini kemudian di Fw kan oleh Saudara Omie ke pada adres yang sama sekitar pukul 20:59.


Di sini perkenankanlah saya menyampaikan rasa terimakasih saya atas perhatian Anda dan yang telah menjelaskan kepada saudara Djoko bahwa "Kunanti Bumi Memerah Darah" adalah puisi karya saya.

Saudara Harsutedjo, mengemukakan kepada saya isi bukunya Sulastomo "Dibalik Tragedi 1965" yang menyebut saya "sebagai seniman Lekra yang telah mengetahui akan terjadinya peristiwa besar" dan bahkan Taufik Ismail mempertanyakan "Bagaimana bisa Mawie tahu, bahwa bumi akan bersimbah darah,enam setengah bulan sebelum peristiwa itu berlangsung? Kenapa dia bocorkan konspirasi itu? Kok Mawie bisa tahu?..."

*


Mengenai surat E-mail Pak Asvi Warman Adam pada tgl 9 Februari 2006 yang dikirimkan beliau pada pukul 4:54 kepada saya dengan menggunakan milis wahana tersebut sebenarnya telah saya balas pada tgl. 10 Februari 2006 pukul 11:39 melalui adres langsung beliau. Pokok yang saya kemukakan kepada Pak Asvi ketika itu adalah soal "bagaimana proses penciptaan sajak ini?" seperti yang ditanyakannya.

Dalam kesempatan ini baiklah saya turunkan penjelasan yang saya berikan kepada beliau tadi sebagai berikut:


Sdr. Asvi, Tentang proses penciptaan sajak: "Kunanti Bumi Memerah Darah" kurang lebih seingat saya begini:

Waktunya pertengahan atau akhir tahun 1964, jadi 42 tahun yang lalu, saya sering bolak-balik dengan berjalan kaki di Jalan Hajam Wuruk menyusuri kali Ciliwung. Pada waktu itu tumbuh berderet di sepanjang kali pohon-pohon pelindung. Penduduk memanfaatkan air kali yang diam dan berwarna kuning tanahliat ini sebagai tempat mandi dan mencuci. Hal ini sangat menarik perhatian saya. Akan tetapi lebih menarik perhatian saya lagi adalah adanya orang-orang yang tak berpunya membuat tempat tinggal di bawah pohon-pohon pelindung tadi dengan atap dan dinding dari kertas-kertas karton pungutan dari tempat pembuangan sampah. Rumah-rumah tersebut jauh lebih sederhana dari kandang ayam.
Di sinilah sepanjang hari ibu-ibu penghuninya dengan berpakaian lusuh duduk dengan mata menerawang menanti dan entah menanti apa?

Suatu hari ketika saya melewati panorama Ibu Kota yang mengiris ini mata saya terpancing oleh seorang ibu yang sedang duduk dengan memangku anaknya yang menangis mendekap susu ibu yang kempis tak berisi.
Mata itu menyapu perut si ibu yang sedang hamil pula. Lepas sesudah itu saya kembali ke tempat tinggal saya di Gedung Pemuda, Jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Di sini hati saya berkata bahwa kemiskinan dan kemelaratan ini tidak bisa ditanggulangi hanya dengan rasa hiba, tidak bisa ditanggulangi hanya dengan cara belas kasihan lalu memberikan seperak dua perak berupa sedekah kepada mereka, lebih-lebih tidak bisa ditanggulangi dengan jalan menggaruk dan menggusur mereka dan melemparkannya jauh ke pinggiran yang terasing. Dan di sini saya mengatakan pada diri saya bahwa penderitan yang dialami mereka semua itu bersumber pada sistim masyarakat "penghisapan oleh manusia atas manusia". Oleh karena itu untuk menghapus maslah ini secara mendasar tidak ada jalan lain kecuali mengubah sistim itu sendiri. Dan sistim yang baru itu adalah seperti yang diajarkan oleh Bung Karno: Masyarakat Sosialis Indonesia! Sistim inilah yang saya ungkapan dengan kata-kata antara lain "kunanti bumi memerah darah" di dalam sajak tersebut.

Demikianlah Saudra Harsutedjo penjelasan saya kepada Pak Asvi tentang proses penciptaan sajak ini. Jadi inilah pula latar belakang dari lahir dan ditulisnya sajak tadi. Dan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perkiraan atau ramalan atau karena "telah mengetahui akan terjadinya peristiwa besar". Tidak !.

Di sini saya tekankan bahwa saya menggunakan kata "Kunanti bumi memerah darah" dalam sanjak tersebut dengan maksud sebagai menanti bumi merah dari sistim masyarakat Sosialis Indonesia. Jadi bukan seperti yang dikatakan ..."bahwa bumi akan bersimbah darah".  Bukan!

Soal "konspirasi" yang dikemukakan dalam surat E-mail ini tentu menyangkut ... "bahwa bumi akan bersimbah darah",... Saya tak mengerti bagaimana bentuk pekerjaan lonspirasi".Tapi apakah pekerjaan seperti ... akan terjadinya peristiwa besar." yang lalu itu bisa dikasih tahu kepada sembarang orang?


Jadi saya tidak tahu sesuatu "konspirasi" dengan peristiwa ini, maka tidak ada pula yang saya "bocorkan" dalam puisi saya. Sdr. Djoko Sri Moeljono dan Sdr. Harsutejo,
Sekian dan terimakasih.

Salam
Mawie Ananta Jonie.


***

Begitulah pengakuan Mawie Ananta Jonie sang penyair kelahiran Teluk Bayur, Padang Sumatera Barat, tahun 1940. Pengakuannya yang bening dan cerah itu aku yakini. Karena cukup lama aku mengenalnya – selaku penulis-jurnalis yunior (kebanding Pram, Tom Anwar dan lainnya yang senior) dan yang sama-sama mulai gairah kiprah di koran Bintang Timur., Jalan Hayamwuruk, Jakarta itu. ***

 

1 Nopember 2008.

 

Catatan: Masih akan disambung dengan soal yang dipersoalkan lainnya. Ilustrasi foto: Mawie Ananta Jonie & keluarganya.

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: