03 November 2008

[ac-i] A.Kohar Ibrahim: Sekitar Prahara Budak Budaya (4) - Apresiasi Kekuasaan Paranoia

Apresiasi Kekuasaan Paranoia
SPBB (4) Oleh: A.Kohar Ibrahim
 

 

 

A.Kohar Ibrahim:

 

Apresiasi  Kekuasaan Paranoia

 

 

Sekitar Prahara Budak Budaya (4)

 

 

BENAR. Rupanya memang benar konstatasi seorang penulis yang juga penyair, dalam penyimpulan baik dari apa yang disaksikan maupun yang dialaminya sendiri selaku korban, bahwasanya rezim Orde Baru atau OrBa itu adalah suatu rezim paranoia. Rezim yang mengidap penyakit jiwa --  yang selalu membayangkan sesuatu yang tiada sebagai ada, yang selalu mengada-ada, yang selalu menjadikan apa yang dibayangkan sebagai suatu kenyataan; rezim yang melakukan kejahatan berupa perampokan dan pembunuhan tapi menuduh orang lain yang melakukan aksi kekejian itu.

 

Maka dalam derita penyakit paranoia semacam itulah, dengan adanya garda-negara (pasukan bersenjata) yang dimilikinya sekalian alat propaganda berupa media massa yang dihegemoninya, yang berada di bawah ketiak kekuasaannya, maka dilancarkanlah segala manifestasi aksi teroris di segala bidang, termasuk bidang kebudayaan. Bidang kebudayaan dengan sejumlah intelektual dan pengarang yang dibekingnya terutama sekali kaum Manikebuis dan KKPI serta mereka yang menurut istilah Pramoedya sebagai oknum yang masuk "kantong kekuasaan".

 

Dampak negatip penguasa OrBa penderita paranoia alias sakit jiwa  ini sungguh dahsyat, bukan saja selama berjayanya, melainkan juga sesudah sekarat dan beralih ke masa apa yang disebut sebagai Era Reformasi, sampai detik ini malah, ketika bagian naskah ini  aku susun. Terbuktikan dengan adanya berita yang dilansir Lampung Post Minggu 2 Nopember 2008: "Pelarangan: Kejagung Tarik Buku Bergambar Palu Arit".  

 

Buku yang bertanda gambar palu arit itu sebenarnya berjudul: H.M. Misbach; Kisah Haji Merah. Karya Nor Hiqmah. Larangan karena alasan sampulnya bergambar palu arit yang diidentik dengan gerakan komunisme atau PKI. Meski penerbitnya, tak beritikad untuk membangkitkan komunisme dengan pemasangan emblem tersebut. "Tujuannya bukanlah untuk mencari sensasi, membangkit-bangkitkan, atau menghidup-hidupkan komunisme. Tetapi lebih didorong oleh kepentingan akademis," jelas Direktur Komunitas Bambu J.J.Rizal, Sabtu 1 Nopember 2008.

 

Begitulah, salah satu buktinya betapa bahaya laten penyakit paranoia OrBa dengan kandungan ideology anti-komunisme, bahkan hingga saat ini masih terus menstigmatikan kehidupan masyarakat dan menelan korbannya tanpa bosan. Meskipun jumlah korban itu sudah jutaan banyaknya.

 

Maka dengan itu, sebenarnya, aku tak begitu heran atas adanya opini atau sikap-tindakan senada ala mentalitas paranoie OrBa, baik yang datangnya dari kalangan senior, sebayaku ataupun yang lebih muda dariku. Lantaran sisa-sisa mentalitas OrBais itu sesungguhnyalah masih bersitegar hingga dewasa ini. Mentalitas yang tak beda secara hakiki dari kekuasaan arogan kaum penjajah Belanda terhadap kaum pejuang kemerdekaan macam Haji Misbach dan kawan-kawan seperjuangannya. Perjuangan berupa pemberontakan bersenjata yang dicetuskan 12 Nopember 1926 !

H.M. Misbah: Kisah Haji Merah ! Ah, rupanya sekalipun faktual isinya, lagi lagi, kata merah sudah bisa nyaris otomatis membangkitkan manifestasi aksi represi, lantaran kecurigaan dan ketakutan dari kekuasaan sendiri. Yang rupanya masih yang itu-itu juga yang jadi handalannya. Maka dari itu, sekali lagi, sebenarnya aku tak terlalu heran adanya komentar atau opini yang macam-macam itu di Milis Apsas; yang jadi pemicu untuk penyusunan catatanku ini. Dengan salah satu soal yang jadi persoalannya sebuah sajak dari penyair Ananta Jonie berjudul: Kunanti Bumi Memerah Darah. Yang ditulis dan disiarkan tahun 1964, bukan dalam tahun 1965 seperti dinyatakan Hasan Aspahani.

 

Iya. Sebenarnya tak terlalu heran -- kecuali cuma tergelitik. Lantaran aku tahu sudah sejak lama, betapa mentalitas OrBa yang paranoia itu. Mentalitas penyakit jiwa yang mengidap sudah sejak awal mulanya.

 

Bayangkan saja! Jangankan sebuah nashkah, sebuah buku, yang hanya sampulnya saja bertandakan simbolis seperti palu arit dan metamorfosa warna merah sarat keberanian, bahkan lagu macam Genjer-genjer sajapun dijadikan korban sasaran. Dinyatakan sebagai lagu yang haram! Dan siapa saja yang coba-coba menyanyikan atau menyatakan rasa suka pada lagu itu akan menerima ancaman sekaligus kecaman atau cap sebagai "Komunis" atau "G30SPKI" ! 

 

Pasalnya? Sebetulnya, bagi orang yang waras, lagu tersebut bukan saja layak diapresiasi sebagai bukti penghargaan akan warisan kesenian rakyat dan jadi popular karena disenangi rakyat. Sebaliknya, oleh penguasa OrBa dan budak kebudayaannya telah sedemikian rupa liciknya menyatakan lagu tersbut sebagai "berbahaya"; mengubahnya dari menyenangkan jadi "mengerikan". Seutuhnya adalah rekayasa rezim paranoia OrBa dengan menempelkan cap: "lagu komunis". Cap yang mengilustrasi dusta sekaligus fitnah yang berdampak luar biasa dahsyatnya. Bahwa dengan iringan lagu itulah kaum wanita Gerwani dan Pemuda Rakyat berpesta "Harum Bunga" yang amoral lagi biadab di Lubang Buaya, seperti berita rekayasa koran Berita Yudha. Koran militer yang merupakan corong propaganda hitam rezim OrBa yang paronoia itu!

 

Sebenarnya, masih banyak variasi manifestasi aksi bukti ke-paranoia-an OrBais maupun Manikebuis yang mendukungnya. Seperti yang antara lain direkam oleh penulis Hersri Setiawan mantan Tapol Pulau Buru. Semuanya hanya semata-mata merupakan bukti betapa arogansi kekuasaan kolonialis sawomateng yang paranoia itu terhadap kaum yang tertindas yang notabene adalah bangsanya sendiri. Suatu arogansi yang hakikatnya sama dengan kekuasaan Belanda, seperti salah satu contohnya diungkap – lagi lagi – oleh Pramoedya dalam Lentera-nya bertanggal 1 Agustus 1965. Sebagaimana disitir Alan Hogelan dalam esainya yang disiar Majalah Kreasi nomor 24 1995, hlm 40-41. Bahwasanya, karena menyiarkan syair patriotik dalam suratkabar Persatoean Hindia Semarang, Raden Aluwi Tjitroamojo dan Ismail Mangunprawiro dari suratkabar itu dijatuhi hukuman oleh pengadilan kolonial Belanda Semarang pada tanggal 10 Maret 1921. Syair itu berbunyi:

 

Lamalah soeda Hindia berperintah

Ampir poeloeh abad  mengalah

Hari2 Regering memerintah

Kaoem miskin dibikin susah

 

Ingatlah kita hidoep tertindas

Topeng Regering sangatlah manis

Apakah goena kita menangis

Baek melawan seranglah habis

 

*

 

Dari uraian di atas, benarlah opini yang menunjukkan bahwa dalam hal apresiasi terhadap hasil kreasi sastra dan seni memang tak lepas dari masalah kepentingan yang ragam macam. Terutama sekali, dan istimewa sekali, apresiasi demi kepentingan kekuasaan dengan segala atribusinya dan dalam segala format atau ragam macamnya. Resmi maupun non-resmi. Karena bentuk-bentuk kekuasaan itu ada di mana-mana, selain di tingkat institusi resmi, ada pula yang non-resmi atau partikeliran; selain dalam golongan,  kelompokan atau kawanan, ada pula dalam bentuknya yang fragmentaris ala faksi, geng, gundukan atau klik ! Semuanya, tanpa kecuali membawakan sekaligus berupaya menjaga kepentingannya masing-masing.

 

Oleh sebab itu, tidaklah terlalu mengherankan kalau adanya gejala atau fenomena atau bukti yang membuktikan bahwa hasil suatu apresiasi atas karya seni itu tidak seragam bahkan malah bisa mengundang tanda-tanya. Tak urung, bagaimanapun, apresiasi itu tak bisa tiada dalam kehidupan kebudayaan umumnya, kesenian khususnya.

 

Daya apresiasi, jika datang dari yang berjiwa bebas merdeka dan demokratis tentu saja mampu menghasilkan bukti yang menggembirakan bahkan mengagumkan. Itulah yang amat dibutuhkan, terutama untuk menghindari penyakit bangsa yang parah; istimewa sekali dalam keadaan bangsa memang lagi sakit! Bukti gamblang yang fatual lagi aktual adalah dengan fenomena penerbitan buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku.

 

Itulah contoh hasil daya apresiasi kaum intelektual sejati yang bebas merdeka dan punya nyali. Yang berani mengajukan pertanyaan: Why? Seraya mau dan mampu berupaya membuktikan jawabannya sendiri. Suatu bukti yang monumental! Seru saya dalam keikutsertaan membantu siaran hari peluncurannya.

 

Sedangkan apresiasi yang sangat disayangkan adanya, justeru sampai dewasa ini munculnya, adalah justeru sekitar mengapresiasi karya Pramoedya Ananta Toer dan para sastrawan Lekra lainnya. Suatu gaya apresiasi yang kental dengan muatan ideologi OrBa paranoia. Yang jadi pokok perbincangan dan penyusunan catatan saya ini. *** (3.11.2008)

 

Catatan: Masih akan disambung dengan soal-soal yang dipersoalkan lainnya.

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: