29 November 2008

[ac-i] ahmadun yosi herfanda : Heterogenitas Puisi Indonesia Mutakhir

Heterogenitas Puisi Indonesia Mutakhir

Posted by: dianing on: Juni 12, 2007

* In: KLIPING
* Comment!

Sumber: Republika, Minggu, 10 Juni 2007

Bagian terakhir dari dua tulisan.

Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur sastra Republika

Dibanding dunia fiksi, lebih sulit untuk merumuskan perkembangan perpuisian Indonesia mutakhir, karena tidak adanya mainstream yang kuat. Yang lebih tampak pada perpuisian Indonesia mutakhir adalah keberagaman tema dan gaya pengucapan. Heterogenitas tema dan gaya itu tampak pada sajak-sajak yang dipublikasikan di surat kabar, majalah sastra, maupun buku-buku antologi puisi dan kumpulan sajak.

Kenyataan itu menegaskan bahwa keberagaman gaya dan tema menjadi ciri utama perpuisian Indonesia mutakhir, yang sebenarnya juga menjadi ciri Angkatan 2000 — angkatan sastra Indonesia mutakhir versi Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Versi lain dari Angkatan 2000 dengan rumusan ciri estetik yang berbeda juga sempat dimunculkan oleh Korrie Layun Rampan.

Sayangnya, kelahiran angkatan sastra terbaru itu kurang mendapatkan posisi yang kuat dalam sejarah sastra Indonesia, karena ciri estetik yang 'menyatukannya' dianggap kurang meyakinkan. Korrie, sebenarnya sudah mencoba merumuskan ciri estetik yang menyatukan angkatan tersebut, namun karena wajah heterogen sastra Indonesia lebih tampak di permukaan, ciri estetik yang dikemukakan Korrie kurang meyakinkan untuk menandai lahirnya sebuah angkatan baru.

Pada awal 1990-an sempat muncul gaya Afrizalian, yang nyaris menjadi mainstream yang kuat. Gaya Afrizalian — sajak-sajak mosaik bercitraan dunia urban industrial — dibarengi maraknya sajak-sajak gelap dengan simbolisasi yang berlapis dan sulit ditafsirkan. Tetapi, bersamaan dengan itu, sajak-sajak imajis yang bening, serta sajak-sajak religius-sufistik dan sajak-sajak sosial yang transparan, juga tetap banyak ditulis.

Kemudian, di seputar reformasi politik 1998, perpuisian Indonesia lebih dimaraki oleh sajak-sajak sosial, yang disebut sebagai 'sajak-sajak peduli bangsa'. Fenomena sajak-sajak sosial ini bahkan berhasil menggeser fenomena Afrizalian dan sajak-sajak gelap. Penyair-penyair yang semula tampak 'mengharamkan' tema sosial-politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Acep Zamzam Noor, misalnya, bahkan ikut menulis sajak-sajak kritik sosial yang tajam dan lugas.

Pasca-maraknya sajak-sajak sosial, sejak awal tahun 2000 hingga kini, perpuisian Indonesia kembali pada kemerdekaan masing-masing penyair dalam mencipta. Gaya dan tema sajak-sajak Indonesia mutakhir — seperti dapat kita amati pada rubrik-rubrik sastra surat kabar, majalah Horison, Jurnal Puisi, serta berbagai kumpulan dan antologi puisi — kembali beragam. Heterogenitas tema dan gaya pengucapan kembali mewarnai perpuisian Indonesia.

Belakang, muncul sajak-sajak (naratif) yang panjang, seperti banyak dimuat Harian Kompas. Tetapi, sajak-sajak pendek tetap banyak bermunculan di rubrik-rubrik sastra surat kabar lain, seperti Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dan Koran Sindo. Sehingga, sajak-sajak panjang versi Kompas belum dapat dianggap sebagai mainstream.

Selain itu, masih ada kesan yang kuat bahwa tradisi perpuisian Indonesia mutakhir kembali terperangkap ke dalam orientasi kuantitatif, seperti yang disebut oleh Budi Darma sebagai 'kesemarakan yang tanpa prestasi estetik' — sebutan Budi Darma ketika melihat maraknya buku-buku antologi puisi yang diterbitkan oleh komunitas-komunitas sastra di Tanah Air sejak awal 1990-an.

Asumsi Budi Darma itu bisa benar, bisa pula salah. Sebab, bisa jadi sebenarnya prestasi estetik itu ada, namun tidak terlihat jelas, karena kita tidak memiliki kritikus sastra yang tajam dan jeli dalam melihat sajak-sajak yang ada. Lagi-lagi, kita merasakan kekurangan kritikus sastra, atau bahkan krisis kritik sastra. Tradisi kritik sastra kita belum mampu mengimbangi booming puisi Indonesia mutakhir.

Sajak-sajak Indonesia paling mutakhir yang berhasil menarik perhatian para pengamat sastra — setidaknya dewan juri Khatulistiwa Awards 2005 — justru sajak-sajak bertema keseharian yang sepele, dengan citraan-citraan di seputar sarung dan celana, karya Joko Pinurbo. Penyair asal Yogyakarta ini berhasil meraih salah satu penghargaan bergengsi, Khatulistiwa Literary Award 2005.

Berjayanya fiksi-fiksi seksual dan sajak-sajak bertema keseharian yang sepele, seperti telah disinggung di atas, menandakan bahwa tradisi kesastraan Indonesia belakangan ini 'terjatuh' atau 'terdegradasi' dari posisi yang semula transenden ke posisi yang profan. Karya sastra rata-rata tidak lagi membawa pesan-pesan luhur yang diorientasikan untuk mencerahkan masyarakatnya.

Dalam kecenderungan seperti itu, karya sastra terkesan sekadar dikemas sebagai bacaan yang menghibur sekaligus untuk mencari sensasi permukaan. Kalaupun mau dilihat secara ideologis, khususnya fiksi-fiksi seksual, sastra mutakhir justru cenderung dimanfaatkan untuk mendegradasi posisi luhur peradaban manusia sendiri.

Dalam novel Saman, misalnya, posisi hubungan seks yang dianggap sakral oleh agama dengan dilindungi oleh lembaga perkawinan, cenderung hendak dibebaskan dari campur tangan agama, dan cenderung hendak dibiarkan 'bebas untuk dinikmati' seperti orang menikmati es krim atau pizza hut.

Pada sisi lain memang ada mainstream fiksi Islami, tetapi karena gayanya yang ngepop (pop-Islami), sejauh ini belum terlalu diperhitungkan oleh para pengamat, akademisi maupun kritisi sastra, sebagai bagian penting dari pertumbuhan sastra Indonesia. Sebagian penulis fiksi Islami yang terkesan bersikap 'hitam putih' dalam memandang persoalan manusia (masyarakat) juga malah cenderung memberikan citra yang sektarian pada tradisi fiksi Islami.

Meskipun begitu, masyarakat pembaca karya sastra di Indonesia patut berterima kasih pada para perintis tradisi fiksi Islami, seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Maimon Herawati — tiga pendiri FLP — karena fiksi-fiksi Islami dapat menjadi alternatif bacaan yang lebih sehat di tengah maraknya fiksi seksual yang cenderung anti-moral serta teenlit yang mengadopsi begitu saja moral pergaulan yang serba bebas ala remaja Amerika.

Bagaimanapun, fiksi-fiksi Islami, seperti karya-karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Gola Gong, dan Habiburrahman El-Shirazy, tetap menjadi pilihan terbaik bagi bacaan remaja dan kaum muda Islam, ataupun keluarga Muslim, di Tanah Air.

Di tengah kecenderungan profanisasi sastra di satu sisi, dan sektarianisasi sastra pada sisi yang lain, saya kira penting sekali untuk direaktualisasi gagasan-gagasan sastra transendental ataupun sastra profetik, seperti yang pernah dikemukakan oleh Kuntowijoyo dan Emha Ainun Nadjib.

Reaktualisasi sastra transendental itu penting agar tradisi sastra tidak ikut terseret ke peradaban satu dimensi yang hanya memuja materi dan kenikmatan duniawi, agar sastra Indonesia tetap menjadi penyeimbang untuk dapat tetap menjaga dimensi-dimensi keilahian dan kekhalifahan manusia di muka bumi.

Tulisan ini merupakan pengantar untuk Sesi Diskusi Pesta Penyair Indonesia 2007, Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering, di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan, 26 Mei 2007. (Ahmadun Yosi Herfanda )
----------------------------------

TENTANG SAYA

DIANING WIDYA YUDHISTIRA, lahir di Batang 6 April 1974. Menulis puisi, cerpen dan resensi buku, mulai tahun 1992. Dipublikasikan ke berbagai media antara lain Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, The Jakarta Post, Nova, Horison (Jakarta), Wawasan, Cempaka, Suara Merdeka (Semarang), Memorandum, Jawa Pos (Surabaya), Pikiran Rakyat (Bandung), Waspada (Medan), Serambi Indonesia (Banda Aceh), Suara Nusa (Nusa Tenggara Barat), Bali Pos (Denpasar), Majalah GEN dan Tunas Cipta (Malaysia) dan Bahana (Brunei Darussalam)

Puisi-puisinya bisa ditemukan dalam sejumlah buku kumpulan bersama, antara lain, antologi puisi "Mimbar Penyair Abad 21" (1996), "Forum Pesta Penyair Jawa Tengah 1993" (1993), "Dari Negeri Poci II" (1994), "Dari Negeri Poci III", "Antologi Puisi Indonesia" (1998), "Kicau Kepodang IV" (1997), "Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka" (1995), "Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia" (ed Korrie Layun Rampan, 2001) , "Surat Putih 2" (2002), "Kiara I" (2000), "Kiara II" (2003), "Aceh dalam Puisi" (2003), "Bisikan Kata, Teriakan Kota" (2003), "Mahaduka Aceh" (2005), dan lain-lain.

Cerpennya bisa ditemukan dalam sejumlah antologi cerpen, seperti kumpulan cerpen "Kembang Manyang" (2000), "Dunia Perempuan" (ed. Korrie Layun Rampan, 2002), "Yang Dibalut Lumut" (CWI, 2003), "Kota yang Bernama dan Tak Bernama" (2003), "Bunga-Bunga Cinta" (Senayan Abadi, 2004), "Jika Cinta…." (Senayan Abadi, 2004).

Novelnya "Sintren", dimuat bersambung harian Republika (akhir September 2004-awal Februari 2005). Novel itulah yang sudah muncul menjadi buku. Novelnya yang lain "Perempuan Mencari Tuhan" juga dimuat bersambung di Republika, kini telah terbit menjadi buku ("Perempuan Mencari Tuhan", Penerbit Republika 2007). Kumpulan cerpen tunggalnya "Kematian yang Indah" (Grasindo, 2005). Kini sedang menunggu terbit novel barunya tentang perjuangan seorang perempuan.

Tahun 1996 diundang dan mengikuti "Mimbar Penyair Abad 21" di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Desember 2003 diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk baca puisi dalam forum "Temu Sastra Jakarta". Kini tinggal di Perumahan Vila Pamulang, Blok Dj-7/8, Pondok Petir, Sawangan, Depok 16517, Email: dianing@gmail.com dan dianingwidya@yahoo.com
19 Responses to "TENTANG SAYA"

1 | Salamah

Juli 4th, 2007 at 4:42 am

Saya kira panjenengan putrinya Pak Yudhistira ANM yang penulis itu. Betulkah?? Tapi kalau lihat usianya kok saya jadi ragu??..
Saya harap anda menulis untuk mengarahkan ummat ini lebih dekat kepada Alloh.

2 | ayucipta

Juli 13th, 2007 at 8:55 am

Ass Wr Wb

Apa kabar saudaraku yang ayu, lama tak berkabar, semoga sehat selalu. Kangenku kuwujudkan dalam doa agar keluarga dan anak-anak sehat dan bahagia. Ngomong-ngomong Fira kelas berapa? salam buat Bang Mus

Wass Wr Wb

—————–
Wah, kabar baik Ayu. Fira sudah kelas IV. Lama juga ya kita tak ketemu. Ayo dong, main ke rumah. Salam buat keluarga. Jangan lupa baca novel baruku "Perempuan Mencari Tuhan". Makasih.

3 | Gunoto Saparie

Agustus 18th, 2007 at 7:26 am

Selamat dan sukses ya? Semoga cita-citamu menjadi sastrawan besar tercapai. Salam buat keluarga.

GS

—————–

Pak Gun, makasih ya. Salam juga buat keluarga.

4 | Astrid

Nopember 14th, 2007 at 2:25 am

Mbak Dianing (boleh ya dipanggil "mbak"?), saya baca dua novelmu: Sintren dan Perempuan Mencari Tuhan. Terus terang saya merasa rugi telah membeli novel-novel itu, karena habis saya baca dalam waktu masing-masing tak lebih dari 24 jam. Jangan salah sangka, bukan karena jumlah halamannya yang terlalu tipis… tapi karena caramu menulis itu membuat saya ketagihan, nggak mau berhenti sebelum selesai hehehe… sukses selalu ya, dan mohon doa restunya untuk penulis-penulis pemula seperti saya ini.

———

Mbak Astrid, terima kasih atas apresiasinya. Semoga sukses selalu menyertai kita semua. Salam, DWY.

5 | Tanzil

Nopember 20th, 2007 at 3:54 am

Saya baru saja menamatkan novel Sintren.
Menarik karena menambah wawasan saya ttg salah satu kesenian daerah yang ada di tanah air ! Salut!
Selamat juga karena novel ini masuk dalam daftar Longlist KLA 2007.

———

Terima kasih Mas, atas apresiasinya. Salam hangat, DWY.

6 | titik

Desember 11th, 2007 at 11:51 am

Pas saya baca judul resensi Sintren di koran, saya langsung ingat Ronggeng Dukuh Paruk, hanya karena sama-sama penari. Selamat ya Mbak, semoga menang deh…tapi kalau enggak, udah 5 besar itu sudah bagus bgt, saingannya kan juga bagus - bagus. Sekali lagi, selamat yah…

————-
Makasih banyak Mbak. Salam, DWY.

7 | Budhi Setyawan

Desember 17th, 2007 at 4:39 am

salam kenal…
Saya bangga sebagai sesama warga asal Jawa Tengah. semoga semakin banyak penggiat sastra dari Jawa Tengah. maaf kalau di acara peluncuran tak bisa datang, karena lagi banyak pekerjaan. Biasa lah pegawai negeri.
selamat n sukses buat semua karyanya yaa….

———
Mas Budhi,
Makasih banyak. Saya senang sekali kita bisa ketemu ketika saya dan teman-teman baca puisi di RRI 21 Desember lalu. Salam dan selamat berkarya.

8 | mifka

Januari 11th, 2008 at 11:36 pm

Wah, senang saya bisa mampir kesini. Salam hangat. :)

——– Terimakasih, salam hangat juga.

9 | Suparman

Februari 22nd, 2008 at 4:27 pm

Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, mbak Widia. Keteguhan panjenengan sangat patut saya agungkan. Semoga selalu eksis menulis. Semoga selalu eksis mendesis.

—— Selamatpagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam juga. Terimakasih atas apresiasi panjenengan, salam.

10 | ila lampung

Maret 11th, 2008 at 3:16 pm

mba, pa kabarnya
msh inget aku gak,
aku pernah menemanimu melewati malam di wisma semergo (nama yg sulit diucap)
emailmu apa?

———-
masih ingat dong, aku denger baru nikah, selamat ya. Emailku dianingwy@hotmail.com Terimakasih, salam.

11 | emokillme

April 3rd, 2008 at 4:30 am

Halooo, Lam kenal…

btw, q baru belajar bikin blog ney… sekalian numapang mampir… he…
boleh kan?…

Salam, makasih…

__________________________________

http://emokillme.wordpress.com

__________________________________

12 | Eskage

April 4th, 2008 at 4:51 pm

Halo mbak widya, masih suka ke semarang nggak?

——
halo juga, pengen sih tapi belum kesampaian sampai sekarang he he he. Maaf ini siapa ya?

13 | cahmbatang

April 22nd, 2008 at 4:34 am

kapan nih pulang ke mbatang ?

———-
ya kalau ada kesempatan, pasti saya pulang.

14 | 1000download

Juni 1st, 2008 at 7:16 am

Maaf, mbak Widya, mau nebeng sharing info, jangan marah ya. Bagi yang suka cerita pendek, ada lebih dari 2000 cerpen di sriticom yang sudah didownload dan dikompres. Untuk mendownload klik disini. Terima kasih. :-)

15 | umybilqis

Oktober 9th, 2008 at 8:20 am

mbak… bisa gak diceritakan awal mula tulisanya dimuat.
soalnya saya juga pengen nulis , tapi gak Pe-De . takut gak dimuat dan tulisanya gak berbobot.
kalo boleh minta saran juga ..
terima kasih
email sy di seka_hs_08@yahoo.com

16 | emma

Oktober 28th, 2008 at 4:03 am

salam kenal mbak'.. aku seneng deh mampir di sini..
banyak tulisan menarik..
aku jg udah mampir lhoo..ke "rumah" fira..

17 | dianing

Oktober 30th, 2008 at 2:22 pm

salam kenal juga, Mbak. Terimakasih dah mau mampir. Salam.

18 | Moumtaza

Nopember 23rd, 2008 at 2:16 pm

Mbak, eh Dik, eh Mbak aja deh. Aku juga wong mBatang, Karangasem tepatnya. pernah beberapa seri mbaca sintren di koran. Bapakku penasaran banget mbaca itu. salam kenal saja deh, moga-moga ada persuaan (di manapun) untuk bisa lebih mengenal …

19 | hudan hidayat

Nopember 29th, 2008 at 3:18 pm

salam ya dian. saya boleh ambil tulisanmu di atas ya, untuk saya bagikan ke milis. selamat atas novelmu dian.

hudan

____________________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: