19 November 2008

[ac-i] Abdi Dalem Kraton Yogya dan 'Borobudur Gayo'

Beberapa hari setelah kunjungan kami ke Borobudur, aku bersama
klienku berkunjung ke Kraton Yogyakarta, dalam kunjungan ke keraton
ini kami tidak bersama-sama dengan Pak Bekti. Di sini kami langsung
ditemani oleh Guide resmi Keraton yang berpakaian batik warna merah.
Guide inilah yang menjelaskan setiap detail bangunan, pernak-pernik
dan adat dalam keraton.

Dalam lingkungan keraton yang luasnya 1 kilometer persegi ini
terdapat banyak sekali bangunan-bangunan dengan berbagai fungsi.

Di setiap bangunan dan halaman yang sangat bersih dalam lingkungan
keraton ini aku melihat banyak sekali pekerja yang ternyata adalah
para abdi dalem keraton. Mereka berpakaian biru dengan blangkon dan
sarung khas jawa. Mereka ada yang sekedar duduk khusuk seperti
bersemedi, bersila langsung di atas pasir tanpa alas, ada yang
menyapu halaman, membersihkan debu yang melekat di instrument musik
dan perabotan milik keraton dan ada pula yang membaca buku-buku yang
ditulis dalam huruf sanskerta dan bahasa jawa.

Pemandangan seperti ini jauh lebih menarik perhatianku daripada
sekedar mendengarkan penjelasan guide tentang sejarah dan seluk-beluk
keraton, bagiku Manusia adalah bagian paling menarik dari seluruh
alam semesta.

Sebelumnya, aku sudah sering mendengar cerita tentang bagaimana
taatnya para abdi dalem ini kepada sultan junjungan mereka. Tapi
rasanya tentu berbeda kalau aku mendengarkan cerita itu langsung dari
orangnya. Karena saat ini aku berada di keraton ini aku tidak ingin
menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenallangsung manusia yang disebut
Abdi Dalem ini. Aku ingin merasakan langsung emosi mereka merasakan
sendiri bagaimana bentuk ketaatan mereka yang melegenda terhadap raja
junjungan mereka.

Aku mendekati seorang Abdi Dalem yang sedang membersihkan debu di
salah satu bangunan keraton, aku duduk di sampingnya dan mulai
mengajaknya bercakap-cakap. Aku menanyakan nama dan bertanya
bagaimana ceritanya dia bisa menjadi seorang Abdi dalem di keraton
ini. Namanya Pak Muchlosid, dia mengaku telah menjadi Abdi dalem di
keraton ini sejak beberapa tahun yang lalu.

Pak Muchlosid bercerita kalau sekarang di Keraton ini sekarang ada
peraturan yang mensyaratkan bahwa yang boleh melamar untuk menjadi
Abdi Dalem harus yang berumur di bawah 40 tahun. Mendengar ini aku
merasa penasaran dan menanyakan jumlah gaji yang diterimanya. Ketika
itu kutanyakan, Pak Muchlosid dengan bangga mengatakan kalau dia
tidak digaji apa-apa. Dia bekerja sebagai Abdi Dalem murni karena
Lillahi Ta'ala. Pekerjaan sebagai Abdi Dalem yang dia lakukan sejak
pagi hingga sore ini adalah bentuk pengabdiannya yang tulus dan tanpa
pamrih kepada Sultan junjungannya. Pak Muchlosid pun tampak begitu
bangga akan pengambdiannya ini, karena menurutnya sebenarnya banyak
sekali orang lain yang berminat menjadi Abdi Dalem tapi ditolak. Kata
Pak Muchlosid, dalam keraton ini Abdi Dalemlah yang membutuhkan
Keraton, bukan sebaliknya.

Ketika kutanyakan bagaimana caranya dia menghidupi keluarganya kalau
seluruh waktu produktifnya dihabiskan dengan bekerja di Keraton ini,
Pak Muchlosid menjawab kalau unytuk itu dia memelihara ayam yang
dikelola oleh istrinya. Urusan ekonomi keluarga itu sama sekali bukan
urusannya. Aku benar-benar takjub mendengar penuturan Pak Muchlosid
ini, lebih takjub lagi ketika aku mendengar pengakuan yang sama
keluar dari mulut Abdi Dalem lain yang kuajak bicara.

Sehabis dari keraton, kami berjalan-jalan di pasar burung. Pasar ini
sangat bersih, sangat berbeda dengan Pajak Petisah di Medan atau
Pasar Ampera dekat rumahku di Jakarta. Ketika aku bertanya mengenai
hal ini kepada beberapa pedagang yang berjualan di sana, kenapa pasar
ini bisa sedemikian bersihnya. Mereka mengatakan, itu karena mereka
tidak ingin pasar terlihat kotor jika tiba-tiba Sultan datang
berkunjung kesana.

Begitu dahsyatnya pengaruh Sultan dalam kehidupan Orang Jogja, begitu
besarnya rasa taat dan rasa hormat mereka kepada raja junjungan
mereka. Bahkan Islam, agama yang katanya sangat egaliter dan
memandang setiap manusia dengan derajat yang samapun tidak mampu
mengikis 'mentalitas borobudur' dari dalam diri orang Jogja. Dengan
mentalitas seperti ini tidak heranlah kalau makna Demokrasi bagi
orang Jogja yang merupakan salah satu pusat dunia intelektual di
Indonesia ini adalah meminta Sultan untuk menjadi penguasa seumur
hidup.

Sehabis dari pasar burung, kami kembali ke hotel. Sore harinya kami
melanjutkan perjalanan menuju Surabaya dengan menumpang kereta api.

Saat berada dalam gerbong kereta yang membawaku menuju Surabaya. Aku
merenungkan apa yang kurasakan dan kualami selama di Jogja.
Membayangkan Borobudur yang megah, membayangkan Pak Muchlosid dan
para Abdi Dalem lainnya yang memiliki kesetiaan tanpa batas terhadap
rajanya.

Kemudian aku mencoba membayangkan apa jadinya jika ada orang yang
berencana membangun Borobudur di Aceh. Sekuat apapun aku berusaha aku
tidak berhasil membayangkannya. Aku teringat pada ucapan seorang
antropolog Belanda bernama Snouck itu, Belanda yang paling dibenci di
Aceh ini mengatakan. Orang Gayo adalah 'True Republican'. Berdasarkan
hasil penelitiannya, Hurgronje mengatakan berkebalikan dengan Jawa,
Orang Gayo adalah orang-orang yang bebas dari rasa takut terhadap
raja atau pemimpinnya. Tidak seperti orang Jawa yang selalu
mengatakan 'Inggih' terhadap semua titah rajanya, Orang Gayo selalu
berani dan tidak pernah merasa ada beban jika mengatakan hal-hal yang
berbeda dengan pendapat pemimpinnya.

Masyarakat dengan karakter jenis ini sampai kapanpun tidak akan
pernah mampu membangun karya seni seagung dan seindah Borobudur.

Aku merenung sebentar, lalu kuperhatikan wajah-wajah klien perancisku
yang 3 hari belakangan ini terus bersamaku. Wajah-wajah dari orang-
orang yang mematuhi apapun yang aku katakan dalam setiap aktivitas
yang mereka lakukan.

Kemudian aku mengingat kembali wajah-wajah mereka yang sangat
antusias mendengarkan aku bercerita saat kami mengobrol di Meja
makan, saat aku bercerita tentang hal-hal kecil. Tentang diriku,
keluarga dan juga tentang putri kecilku yang sekarang tumbuh besar
dalam kesadaran sebagai seorang warga dunia yang tidak mengenal batas-
batas artifisial yang disebut negara.

Aku juga mengingat saat akupun mendengarkan cerita mereka tentang
kampung dan keluarga mereka, tentang budaya minum anggur mereka,
tentang keju Perancis yang jenisnya ratusan banyaknya. Seperti mereka
yang penuh antusias mendengarkan ceritaku akupun mendengarkan cerita
mereka dengan antusiasme yang sama. Saat itu aku dapat merasakan
dengan jelas betapa indahnya hidup seperti ini, hidup dalam perasaan
setara, tidak ada rasa lebih rendah atau perasaan lebih tinggi
sebagai sesama manusia.

Mengingat itu tiba-tiba aku merasa bersyukur, aku sadar Gayo dengan
karakter khasnya memang tidak akan pernah bisa membangun karya seni
berbentuk fisik yang nyata dan bisa diraba seindah dan seagung
Borobudur yang kini menjadi kekagumanku dan juga dunia. Sebuah
artefak yang menjadi bukti tingginya peradaban masyarakat yang
membangunnya dulu.

Tapi kepadaku dan semua orang Gayo generasi sekarang, muyang datuku
berhasil mewariskan karya seni lain yang tidak kalah indah dan
agungnya dibandingkan Borobudur. Bedanya karya seni warisan muyang
datuku ini hanya dapat dirasakan tapi tidak dapat dilihat dan diraba
secara fisik. Karya seni Gayo yang indah dan agung itu adalah
mentalitas Gayo yang oleh Hurgronje digambarkan sebagai
mentalitas 'TRUE REPUBLICAN' yaitu perasaan setara dalam relasi antar
sesama manusia.

Karya seni warisan muyang datuku ini adalah karya seni yang sama
seperti yang bisa kita temukan dalam keindahan setiap relief
peradaban modern di berbagai belahan dunia.

Inilah 'Borobudur Gayo' warisan muyang datuku yang paling berharga
yang akan kujaga baik-baik dan akan kuwariskan kepada gayo-gayo
keturunanku.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: