30 November 2008

[ac-i] Pameran Foto: Ruang Perempuan

UNDANGAN PAMERAN FOTO RUANG PEREMPUAN
 
Delapan fotografer perempuan yang memiliki hasrat untuk berbagi cerita mengenai kota & individu-individu di dalamnya. Sebuah cerita ketika area bermetamorfosis menjadi Arena. Sebuah cerita di dalam "Ruang Perempuan"
 
Tempat : Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki
              Jl. Cikini Raya no. 73 Jakarta Pusat
Waktu  : 2 - 7 Desember
 
lalu dilanjutkan
 
Tempat : Galeri Oktagon
              Jl. Gunung Sahari no. 50A Jakarta Pusat
Waktu  : 9 Desember 2008 - 9 Januari 2009
 
Acara:
Pembukaan Selasa, 2 Desember 2008 Pk. 19.30 oleh Ibu Hj. Tatiek Fauzi Bowo (dalam konfirmasi)
Diskusi "Perempuan & Fotografi", 13 Desember 2008, pk. 14.00, pembicara: Stefanny Imelda
Temu Perupa & Penutupan Pameran, 9 Januari 2009 pk. 18.00
 
The Female Photographers are:
Aiko Urfia Rakhmi
Christina Phan
Evelyn Pritt
Ruth Hesti Utami
Julia Sarisetiati
Keke Tumbuan
Malahayati
Stephany Yaya Sungkharisma

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] puisi sebelum prosa (dari blognya pabrik tenan)

Puisi, Sebelum Prosa

by Nuruddin Asyhadie

katakataDengan mengulang kembali diktum Gunawan Muhammad bahwa seorang penyair yang baik mestilah penulis prosa yang baik, lewat sebuah esei berjudul "Prosa, Sebelum Puisi", Nirwan Dewanto berusaha mengkritisi permainan bahasa dalam puisi mutakhir Indonesia
. Bagi Nirwan, puisi-puisi itu begitu rapuh dan tumpul, meski tampak gagah dan eksentrik, berlebihan dalam penggunaan kata dan tak cermat dalam menyusun kalimat dan tanda baca.

Hipotesa ini kemudian diverifikasi dengan kegagalan para penyair itu dalam membangun argumen dan menarik kesimpulan ketika mereka menulis prosa, namun justru mekanisme verifikasi puisi dengan hal di luar dirinya inilah yang membuat tulisan Nirwan menjadi begitu problematik. Pertama, mengapa ekonomi bahasa (puisi) musti hemat atau tersuling? Kedua, mengapa ia musti benar dan tepat? Ketiga, mengapa ia harus logis (apapun bentuk logika yang dianut atau disodorkannya)?

Penaikan prosa atas puisi yang dilakukan dalam "Prosa, Sebelum Puisi" menunjukan pada kita bahwa bagi Nirwan Dewanto, bahasa adalah sebuah alat untuk mengutarakan gagasan, sepotong pakaian bagi akal, sebuah produk dari keterjagaan.

Dari sanalah maka terdapat tulisan yang baik dan yang buruk, benar dan salah, sebab akallah yang memiliki baik dan buruk, benar dan salah. Akal adalah sebuah dunia totaliter dan tertutup. Ia bersumber dari Aku dan kembali ke Aku. Tidak ada yang di luar diri-Ku, Yang Lain tak lebih tak bukan adalah alter ego-Ku. Dalam dunia seperti ini sistem yang berlaku adalah pemutusan, inklusi-eksklusi.

Pernahkah menulis menjadi operasi yang demikian rigid? Jika demikian mengapa dalam setiap tulisan atau secara lebih luas, dalam setiap teks, selalu terdapat retakan? mengapa setiap kali menulis orang tak pernah berhasil sampai pada tujuan yang ditetapkannya dan hanya menemui suatu "kegagalan yang indah"?

Saya teringat pada sebuah pernyataan dalam Phaedrus: "Writing is at once mnemotechnique and the power of forgeting." Menulis adalah teknik hafalan atau apa yang disebut oleh Milan Kundera sebagai "perjuangan melawan kealpaan", tetapi juga sekaligus kealpaan itu sendiri. Itulah sebabnya maka sebuah tulisan, seperti yang disadari oleh Budi Darma saat menulis Olenka, selalu mengalami pelanturan.

"Prosa, Sebelum Puisi" sendiri merupakan sebuah contoh konkrit dari hal itu. Bagaimana sebuah tulisan yang mengagul-agulkan logika, keruntutan, dan ketepatan berpikir, yang dengan demikian juga berbahasa, justru gagal menampilkan diri sebagaimana yang ingin diajukannya. Semisal, ketika Nirwan Dewanto menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri mengenai puisi modern dunia akhir Abad 19, yang anti naratif, yang bebas dari argumen, dan diksi yang lebih menekankan irama tinimbang makna, bukannya membuktikan bahwa sajak-sajak itu sesungguhnya merupakan sajak-sajak yang lemah, atau berusaha menunjukan bahwa pun dalam puisi-puisi seperti itu terdapat sebuah logika tertentu, ada sebuah ketepatan, atau keruntutan berpikir atau berbahasa tertentu, jawaban yang diberikan lebih merupakan sebuah elakan.

Lebih menyedihkan lagi, pengelakan tersebut kemudian disusul dengan sebuah seruan agar kita ingat bahwa bahasa ada sebelum penyair, dan penyair tak dapat bergerak bebas tanpa tunduk kepada logika bahasa itu sendiri, pada gramatikanya, yang mengalami kontradiksi dalam dirinya sendiri.

Apakah artinya "penyair tak dapat bergerak bebas tanpa tunduk kepada logika bahasa itu sendiri, pada gramatikanya", bagaimana mungkin ketertundukan menjadi syarat bagi kebebasan? Kalimat ini sungguh merupakan kalimat tak bermakna.

Pun jika yang dimaksud di sana adalah semacam arche writing Derrida atau psikoanalisa Lacanian (yang berpendapat bahwa "Aku" adalah konstruksi bahasa yang ditanamkan pada fase cermin), Nirwan telah melupakan satu hal, yaitu bahasa sebagai sebuah sistem yang arbitrer, bukan absolut.

Contoh lainnya adalah ketika Nirwan menjawab persoalan automatic writing yang dipraktekan oleh para penyair Surealis Prancis, ia menyatakan: "Saya tak percaya kepada penulisan otomatis." Kalimat ini kemudian disusul dengan: "Tapi saya percaya…" Tidak ada argumentasi di sana. Penjelasan akan apa yang dipercayainya, tidak bisa begitu saja dipandang sebagai sebuah argumentasi atau memiliki hubungan kausalitas. Di dalam logika, peristiwa yang sebelumnya, tidak serta merta merupakan sebab dari yang kemudian, dan yang kemudian tak serta merta merupakan akibat dari yang sebelumnya. Jelaslah dalam masalah ini Nirwan mengalami sebuah sesat pikir.

Apakah dengan demikian Nirwan Dewanto adalah penulis prosa yang buruk? Yang karena ia juga menulis puisi, maka ia adalah juga penyair yang buruk?

Dalam bangun pikir "Prosa, Sebelum Puisi", jawabannya adalah ya, tetapi jika menulis adalah perjuangan melawan kealpaan sekaligus kealpaan itu sendiri, jika menulis adalah proses pelanturan, jawabannya adalah tidak. Dalam tulisan sebagai tegangan antara ingatan dan kealpaan, hal itu menjadi sesuatu yang tak terpikirkan. Tulisan kini berada di seberang baik dan buruk. Amoral.

Pelanturan dalam tulisan menunjukan bahwa motif pertama dalam menulis adalah hasrat, bukan akal. Hasrat, mengacu pada pendapat Rousseau dalam "Essay on the Origin of Languages", merupakan ibu dari tindak metaforik, artinya sebuah tindak transegeresi terus menerus, melompat dari satu hal ke hal lainnya, tanpa pernah memikirkan tujuan akhir atau merindukan kembali bilik rumahnya yang hangat. Tindak metaforik secara esensial merupakan bentuk dari puisi. Tindak metaforik adalah tindak puitik.

Oleh sebab itu dalam dunia puitik, yang dipertaruhkan bukanlah rumusan benar dan salah, baik dan buruk, melainkan kemampuan seseorang untuk menghubungkan setiap tanda. Seorang jenius, sebagaimana yang dikatakan oleh Aristoteles, adalah orang yang mampu menemukan hubungan dalam fenomena-fenomena yang ada, bahkan fenomena yang tak berhubungan sekalipun.

Pertaruhan ini tak terbatas pada penyair dan pengarang, tetapi juga kritikus. Kritikus di sini bukan lagi seorang abdi sekaligus penguasa yang menentukan kelayakan hidup sebuah karya. Ia tak lagi seorang hakim yang mengetukan palunya untuk kemudian menyatakan mana yang menang dan mana yang kalah, mana yang bebas dan mana yang musti tewas terpenggal jilotin. Sebagaimana penyair dan pengarang, kini kritikus adalah seorang alkemis, nomad, Abraham, yang mengembara oleh sapaan hasrat. Bukan seorang pemalas, yang terkungkung dalam tempurung ingatan kolektif, sehingga saat ia melihat sekuntum bunga teratai ia langsung menghubungkannya dengan Shidarta Gautama, seakan-akan teratai sama dengan Shidarta sama dengan kesucian sama dengan keilahiaan. Ia tak peduli ketika teratai itu justru meludahi langit, dan tenggelam dalam kejatuhan. Ia tak peduli akan keberadaan sebuah teratai lain: Lotopaga, teratai-teratai kealpaan.


___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

[ac-i] Sinopsis 4 Lakon Pentas Ludruk Karya Budaya, 2-5 Desember 2008

AYO NONTON RAME-RAME

PENTAS LUDRUK KARYA BUDAYA MOJOKERTO

Tempat:

GOR Kusuma Bangsa Jl. Hayam Wuruk Mojosari

Kabupaten Mojokerto

Tanggal:

2 s.d. 5 Desember 2008

Mulai pukul 19.30 WIB

LAKON:

JOKO TINGKIR, Selasa 2 Desember 2008

Sejak kecil sudah menjadi cita-cita Joko Tingkir untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa dengan menjadi prajurit di Kasultanan Demak. Cita-cita tersebut tercapai dengan mulus setelah Sultan Demak mengetahui kecerdikan dan keterampilan Joko Tingkir. Diangkatlah dia menjadi prajurit dengan tugas khusus menjaga Taman Kaputren.

Melihat kecerdikan dan ketangkasan prajurit Joko Tingkir, Puteri Kembang anak Sultan Demak terpikat dan akhirnya mengutarakan cintanya. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Tumenggung Probosemi yang sejak awal tidak suka dengan Joko Tingkir. Tumenggung Probosemi melaporkan kelancangan prajurit Joko Tingkir menggoda Puteri Kembang.

Laporan Probosemi membuat Sultan marah dan dipecatlah Joko Tingkir. Puteri Kembang menjadi gelisah. Pemecatan tersebut tidak membuat Joko Tingkir patah semangat, namun malah memacu dirinya untuk banyak belajar dan meningkatkan keterampilannya, atas keberaniannya menangkap kerbau yang mengamuk, Joko Tingkir diangkat kembali sebagai prajurit, bahkan diambil menantu oleh Sultan Demak.

Sutradara : MUGAED (Mujiadi Zakaria,Gawok, Eko Edi Susanto)

UNTUNG SUROPATI, Rabu 3 Desember 2008

Walau dia mencintai dan menyayangi Nonik Belanda (Suzana), tidak harus membuat dia tunduk dan patuh pada pemerintah Belanda, apalagi menjilat. Setelah dijebloskan ke penjara oleh Belanda malah dia mendapat banyak teman utamanya Kek Bun yang selalu memberikan semangat dan motivasi.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Para tahanan sepakat menjebol sel yang dipimpin oleh Untung. Semuanya melarikan diri ke dalam hutan menggalang kekuatan untuk memberontak kepada pemerintah Belanda di Indonesia.

Beberapa pihak telah membantu Untung melawan Belanda, utamanya Sultan Cirebon. Dalam pertempuran dahsyat, Jenderal Moor (ayah Suzana) dapat dibunuh oleh Untung.

Sutradara : MUGAED (Mujiadi Zakaria,Gawok, Eko Edi Susanto)

PERAWAN KUBURAN, Kamis 4 Desember 2008

Kejahatan bisa dilakukan oleh siapa saja bahkan orang terdekat. Pak Purbo, saat isterinya tidak berada di rumah tega memperkosa dan membunuh anak tirinya Suci, yang seharusnya dilindunginya.

Tragisnya, mayat Suci dikubur di halaman belakang rumahnya, yang penguburannya dibantu 2 (dua) orang pembantunya karena diancam dan ditekan oleh Pak Purbo.

Becik ketithik, ala ketoro. Akhirnya kejahatan Pak Purbo dapat dibongkar oleh Polisi atas bantuan Jarwo dan Sugeng, teman dekat Suci.

Sutradara : MUGAED (Mujiadi Zakaria,Gawok, Eko Edi Susanto)

SILUMAN BUAYA PUTIH, Jumat, 5 Desember 2008

Cinta itu tulus. Cinta itu tumbuh dari hal yang sederhana (kebiasaan). Kata pepatah, witting tresno jalaran saka kulino. Kebiasaan Pandansari yang sering cuci-cuci di sungai Kedung Soro telah menjadi perhatian Ratu Bajul Putih.

Dari perhatian tumbuhlah benih-benih cinta dari Ratu Bajul Putih pada Pandansari yang akhirnya membuat Pandansari hamil. Setelah kelahiran puteranya, baru keduanya menyadari tidak mungkin kehidupan siluman bias langgeng bersatu dengan manusia.

Kesepakatanpun terjadi. Keduanya bisa bertemu di tepi sungai Kedung Soro dengan melempar sesaji yang telah ditentukan setiap hari Selasa Kliwon. Kedua Bajul yang ada di Kedung Soro tidak boleh mengganggu kehidupan manusia di sekitarnya.

Sutradara : MUGAED (Mujiadi Zakaria,Gawok, Eko Edi Susanto)

Tiket

VIP Rp 10.000,- (tersedia 100 kursi)

Ekonomi Rp 5.000,- (tersedia 500 kursi)

Informasi:

Drs H. Eko Edy Susanto,Msi

(Abah Edy Karya)

Pimpinan Ludruk Karya Budaya

Dusun Sukodono RT 02 RW 01 Desa Canggu Kecamatan Jetis

Kabupaten Mojokerto 61310

Jawa Timur

INDONESIA

Telp 0321- 362847

HP 081 231 89 347

Email:cakedikarya (at)yahoo.com dan cakedikarya(at)gmail.com

http://ludrukkaryabudaya.multiply.com

Kegiatan ini telah mendapat surat ijin Polres Mojokerto no.pol : SI/142/XI/2008/Intelkam dan ditandatangani oleh Ajun Komisaris Polisi H Rokhani bin Roeslan, Kasat Intelkam Polres Mojokerto, tertanggal 29 Nopember 2008.

Biaya untuk mengurus surat ijin sebesar Rp 800.000 (Delapan ratus ribu rupiah), masing-masing adalah Polsek Mojosari Rp 400.000,- (Empat ratus ribu rupiah), Koramil Rp 50.000,- (Lima puluh ribu rupiah), Kantor Kecamatan Mojosari Rp 50.000,- (Lima puluh ribu rupiah), Polres Mojokerto Rp 300.000,- (Tiga ratus ribu rupiah).


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] jurnal toddopuli: luna vidya anak sentani tanah papua akan bermonolog di paris

Jurnal Toddopuli:
 
 

LUNA VIDYA 

ANAK SENTANI  TANAH PAPUA

AKAN BERMONOLOG DI PARIS

 

 

[Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku]

 

 

 

Pada tanggal 15 Desember 2008, Koperasi Restoran Indonesia Paris yang sekaligus sebagai pusat kebudayaan Indnesia di Paris, akan merayakan ultanya yang ke-26.  Dalam rangka kegiatan ini maka akan diselenggarakan bedahbuku dan pameran foto tentang Indonesia, bekerja sama dengan Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam". Sementara itu pada 7 Desember 2008 "Pasar Malam" akan melangsungkan acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indoneisa" dengan menghadiirkan Sitor Sitomorang, Richard Oh, Laksmi Pamuntjak, Djenar Maesa Ayu, Lily Yulianti dan Luna Vidya di samping para pakar sastra dan indonesianis Peris dan Belanda serta para penerbit terkemuka Perancis seperti Gallimard dan Flammarion yang telah menerbitkan antara lain karya-karya Pramoedya A Toer,  Ayu Utami serta kemudian Laksmi Pamuntjak. Acara sastra kali ini agak lain dari acara-acara sastra terdahulu jika dilihat dari kompisisi mereka yang diundang yang berasal dari berbagai asal etnik di Indonesia. Tema pembicaraan pun berkisar tentang bagaimana perkembangan pemikiran dan perasaan para penulis bermula dari etnik berkembang melalui nasionalisme lalu menjurus ke universalisme. Hal paling baru adalah hadirnya Lily Yulianti, penulis dari Makassar dan Luna Vidya, aktris kelahiran danau Sentani, Papua. Memang sebelum ini ,  "Pasar Malam"  pernah mengadakan acara untuk penyair  Bali ,Tan Lioe Ie sehingga tampilnya sastrawan-seniman dari luar Jawabukan diawali oleh Lily dan Luna. Bali sebenarnya bukanlah nama baru dalam dunia kesenian. Senman-seniman Bali sering datang ke Paris. Bahkan Arthaud, dramarturg Perancis terkemuka terilhami ketika menyaksikan pertunjukkan pentas Bali. Di Perancis, terkadang, tidak sedikit orang lebih mengenal Bali dari Indonesia. Hadirnya Lily Yulianti dan Luna Vidya dari Makassar dan Papua, kali ini menjadi mempunyai arti khusus,  karena baru merekalah sastrawan-seniman dariIndonesia Timur yang diundang oleh"Pasar Malam" dalam kegiatan internasionalnya. Hal ini memperlihatkan perhatian "Pasar Malam" pada perkembangan sastra-seni di luar Jawa dan di muar pusat-pusat kegiatan sastra-seni tradisional yang dikenal dunia, sekaligus memperlihatkan bahwa. kegiatan sastra-seni di luar pusat-pusat tradisional mendapat perhatian dan pengakuan. Guna menopang pengakuan dan perhatian ini maka Lily dan Luna pada kesempatan in, sebagai tanda bukti kegiatan sastra di luar Jawa, ingin memamerkan karya-karya sastra dari Makassar dan Aceh.
 
 
Sedangkan   dalam rangka peringatan ulta ke-26 Koperasi Restoran Indonesia Scop Fraternité Pairs, sudah merencanakan untuk memberi acara khsus kepada Luna Vidya guna menggelarkan monolog berjudul "Balada Sumarah" karya Tentrem  Lestari. 
 

Balada Sumarah adalah kisah hidup yang dituturkan dalam sebuah sidang pengadilan. Sidang pengadilan  seorang TKW yang  tertuduh telah melakukan pembunuhan terhadap majikannya.

 

Di depan siding pengadilan itu, Sumarah bercerita tentang hari-hari dimana ia belajar menerima diskriminasi dalam seluruh dimensi kehidupan sosialnya sejak kecil karena satu penyebab: ayahnya dituduh sebagai anggota PKI. Ayah yang tidak pernah sempat dikenalnya.

 

 

Karena alasan itu Sumarah meski lulus SMA dengan nilai terbaik ijazahnya tak berbunyi apa-apa. Untuknya tak ada kesempatan menjadi pegawai negeri, bahkan petugas administrasi. Ia hanya boleh menjadi buruh pabrik. Nama bapaknya, adalah bayangan hitam yang terus menguntitnya di semua kesempatan. Bayangan itu menggelapkan bahkan impian Sumarah untuk menikah.

 

 

Dikucilkan, dirampas hak-haknya di negeri sendiri, menjadi TKW di Arab Saudi adalah kesempatan satu-satunya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kesempatan yang diperolehnya dengan memberi amplop. Sumarah menyangka, setelah bertahun-tahun menjadi rakyat setengah gelap di negeri sendiri, terselip dan tidak boleh mendongakkan kepala, ia akan bermetamorfosa dari ulat bulu menjadi kupu-kupu indah di negeri orang.

 

 

Balada Sumarah  yang ditulis  oleh Tentrem Lestari ini mulai ditampilkan oleh Luna Vidya sejak tahun 2005 pada Festival Monolog Dewan Kesenian Jakarta 2005 di Teater Kecil-TIM.

 

 

Luna Vidya lahir di Sentani, Papua, Luna Vidya, bermain teater sejak tahun 1984 di Makassar bersama berbagai kelompok teater di kota itu, sejak datang ke Makassar setelah menamatkan SMAnya di Jayapura. Bergabung dengan Teater Kampus Universitas Hassanuddin, Ia makin mengokohkan dirinya sebagai salah satu pemain teater terbaik Sulawesi Selatan.

 

 

Ia memfokuskan diri pada ruang-ruang teater monolog, memainkan naskah-naskah orang lain, LV juga menulis naskahnya sendiri (Meja Makan, Pagar, Garis) dan membuat adaptasi dari cerita-cerita pendek untuk keperluan itu. "Makkunrai", "Dapur" adalah naskah monolog yang iia sadur  dari cerita-cerita pendek yang ditulis oleh  Lily Julianti dalam kumpulan cerpen "Makkunrai" [bahasaBugis :Perempuan]. Bersama Lily, Makkunrai menjadi titik awal bergulirnya Makkunrai Project (2007), sebuah proyek pembelajaran berdimensi gender lewat penulisan sastra dan pementasan panggung.

 

 

Untuk hidupnya, Luna Vidya bekerja sebagai Communication Coordinator Sustainable Mariculture Project di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

 

Kehadiran Lily Yulianti dan Luna Vidya di Paris sekali lagi  saya lihat sebagai pengakuan dan peehatian Paris sebagai kota budaya pada sastra kepulauan.  Jadi tidaknya acara Luna Vidya di acara ulta ke-26 Koperasi Restoran Indonesia Scop Fraternié Paris  [mungkin juga di acara "Pasar Malam"] an hanya tergantung pada peroleh visa untuk datang ke ibukoa Perancis yang dibelah oleh sungai Seine yang dingin. Tapi Johanna  Lederer selaku Ketua "Pasar Malam" dan biasa menangani soal visa mengatakan bahwa Kedutaan Besar Perancis di Jakarta berjanji akan membantu penyelesaian soal visa ini semaksimal mungkin. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa Luna Vidya, anak Sentani Tanah Papua, akan bermonolog di Paris, menampilan karya yang mempunyai pesan jelas dan gugatan terhadap ketidakadilan serta Tragedi Kemanusiaan 1965 yang berdampak sampai sekarang atas kehidupan jutan anak negeri bernama Indonesia. Barangkali pengalaman sebagai anak Papua membuat Luna Vidya menjadi senman engagé, jika menggunakan ungkapan orang Perancis. Karena seperti ujar Rendra baru-baru ini senimantidak cukup hanya berpihak tapi juga niscaya terlibat.

 

 

Selamat datang di Seine Luna Vidya, puteri Sentani Tanah Papua.  Kenanganku seketika terbang melayang ke barisan gunung Papua yang pernah kudaki dan kujelajahi beberapa tahun silam, perndakian berat dan susah payah  yang terekam di ratusan ribu foto. Tapi adakah jalan lurus dan aman dalam mendaki dan  menaklukkan puncak. Hanya saja, begitu sampai di puncak maka pemandangan akan menghampar di bawah, ujar Hô Chi Minh,  presiden- penyair Viêt Nam dalam antologi puisnya "Catatan Harian Di Penjara". Saya  membayangkan Luna Vidya sedang mendaki menggapai puncak demi puncak, demikian juga sastra kepulauan. Barangkali aku memang sedang bermimpi bahwa sastra kepulauan memang punya esok, lusa, tulah dan tubin. ****

 

 

Perjalanan Kembali,Musim Dingin 2008

-------------------------------------------------------

JJ. Kusni



Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

[ac-i] A.Kohar Ibrahim: SPBB (10) - Apresiasi Aksi Kemanusiaan Anti Kemanusiaan

Apresiasi Aksi Kemanusiaan Anti Kemanusiaan
SPBB (10) Oleh: A.Kohar Ibrahim
 

                                                                                                                                                                & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                               

Apresiasi Aksi Kemanusiaan Anti Kemanusiaan

 

 

SPBB (10)

Oleh : A. Kohar Ibrahim

 

 

DARI uraian terdahulu, jelas tercatat bahwasanya di antara duapuluhan lebih penentang pemberian Magsaysay Award untuk Pramoedya  itu adalah Ikranagara. Maka dari itu mudah dipahami kalau sampai sekarangpun Ikra mempunyai sikap pendiriannya yang serupa. Segaris dengan sikap pendirian Mochtar Lubis, Taufiq Ismail dan kaum Manikebuis yang berpanglimakan politik anti-komunis rezim OrBa paranoia.

 

Ada point-point layak perhatian dari postingan Ikra di Milis Apsas itu. Point-point yang memang selaras dengan apa dan siapa yang di-panglima-kannya. Yakni berupa penebaran tabir asap alias manfifestasi aksi « maling teriak maling ». Kongkritnya mereka (Manikebu/OrBa) yang menuduh pihak lawan politik melancarkan teror namun sesungguhnya mereka sendirilah yang melakukan tindakan kejahatan atas kemanusiaan itu yang luarbiasa dahsyatnya. Mereka tuding-tuduhkan Pramoedya-Lekra berkarya yang menyebarkan anti-kemanusiaan, namun mereka yang sesungguhnya turut aktip melakukan manifestasi aksi anti-kemanusiaan yang terbesar dan yang belum pernah terjadi dalam lembaran sejarah modern Indonesia..

 

 

Teror ? Sebenarnya Siapa Menteror Siapa ?

 

 

Ikranagara, di Milis Apsas 2 Oktober 2008, antara lain menyatakan :

 

« Pram aktif mendatangi toko buku, memeriksa apakah di rak buku itu masih dipajang buku-buku terlarang itu. Tulisannya di media massa pun membakar jiwa pengikutnya untuk melakukan hal yang sama di seantero Indonmesia. Teror yang digerakkan oleh Pram dari Jakarta lewat media massa itu memang berhasil menyebar sampai jauh ke pelosok. Api unggun bukit buku pun menyala di mana-mana, disulut oleh pengikut Lekra/PKI. Buku-buku karangan "Manikebuis" saya di Bali ;pun jadi korban, dibakar di depan tokoh orang tua saya. Termasuk buku "Dokter Zhivago" karya Boris Pasternak itu, sejumlah buku STA, HAMKA, Hatta,dll. »

Postingan Ikra itu disambut sastrawan Fahmi Fakih, bertanya-tanya :  « pak ikra, mau cerewet sedikit, neh, apakah ada bukti kongkrit bahwa pram benar-benar menggerakkan pembakaran buku seperti yang anda bilang ini? bisakah anda tunjukkan, media massa apa yang jadi corong pram untuk menggerakkan teror itu? »

 

« Saya nimbrung, yah? »  komen saya, spontan. « Ayo, Bung Ikra, jawab jabarkan pertanyaan Bung FF yang cukup penting ini -- demi penerangan bukan penggelapan, saling bantu saling berbagi.  Ku tunggu, deh. » (Kohar).

 

Ikranagara membalas postingan saya sebagai berikut : « Anda juga ingin tahu ttg zaman itu? » sambut Ikra, terusnya : « Silahkan baca jawaban saya untuk Bung Faqih. Mudah-mudahan Anda serius dalam bertanya, sehingga serius pula ,mencari jawbannya yang sudah banyak didokumentasikan, bahkan juga kaitannya dengan gerakan komunisme di luar negeri itu. Semua fakta sejarah itu sudah didokukmentasikan, silahkan datang ke Pusat Dokumentasi HB Jassin dan Perpustakaan Nasional. Atau datang ke tempat saya, akan saya sajikan dokumentasi- dokumentasi tertulis yang saya punyai. »

 « Mudah-mudahan anda terangsang untuk menuliskannya menjadi sebuah essai dari pandangan generasi Anda. Silahkan! »
anjur Ikra.

 

Menyimak balasan Ikra kontan saya tersenyum. Batinku ! Setelah menyimak ulang postingan-postingannya itu, tak saya temukan jawaban atau penjelasan Ikranagara yang persis dan tegas, melainkan secara umum pun samar-samar bahkan terkesan seperti membaca cuplikan karya fiksi roman melodramatis, dengan rintihan yang seperti lazimnya diulang-ulang kaum Manikebuis « korban teror » Pramoedya. « Teror » berupa prilaku Pram dan Lekra dengan « kekuasaan »nya mengontrol toko-toko buku, menyita lantas dijadikan umpan « api unggun bukit buku » di mana-mana, termasuk buku-buku milik pribadinya.



*

 

Lebih lanjut, masih pada tanggal 2 Oktober 2008, Ikranagara menambahkan penjelasannya :

 

« Tentang Pram melakukan profokasi lewat media, silahkan baca dokumen yang sudah ada, antara lain yang sudah saya ungkapkan itu. Lewat media itulah kemudian anakbuahnya di Bali bergerak dan mencari buku-buku "Manikebuis" dan sejumlah buku saya mereka grudug dan bakar itu. Di kota kecil tempat kelahiran saya di Bali itu saya memang selalu membanggakan sejumlah buku yang ketika remaja itu saya suka, antara lain "Dokter Zhivago" sehingga saya sendiri seiorng dipanggil dengan nama "Zhivago" ketika itu. Nah, lewat media massa itulah orang-orang Lekra di kota kecil saya itu tahu saya punya buku-buku yang menurut daftar yang mereka baca di media massa tergolong "Manikebuis" itu.
 
Tentang tindakannya, saya sempat menanyakan kepada yang langsung berpengalaman pahit. Dia adalah Mas Agung, pemilik toko buku dan penerbut "Gunung Agung" yang terkenal itu. Tokonya suatu hari didatangi oleh Pram, dan dengan marah Pram memerintahkan agar buku-buku "Manikebuis" yang sudah dinyatakan terlarang itu dibuang dari tokonya. Antara lain adalah "Dokter Zhivago."
 
Informasi pertama yang saya dapatkan tentang kejadian yang menimpa Mas Agung itu adalah dari teman-teman seniman di Jakarta, dan pada sebuah kesempatan bertemu dengan HB Jassin saya tanyakan hal itu.


Jassin menyatakan kejadian benar terjadi, lalu menyarankan agar saya datang ke toko buku « Gunung Agung » dan bertanya langsung kepada Mas Agung. Jadi, saya laksanakan saran Jassin, dan dari beliaulah saya dapatkan tentang tindakan Pram terhadap tokonya.
 
Menurut Mas Agung, bukan hanya itu. Pram minta agar toko buku Gunung Agung memberikan daftar toko buku di seluruh Indonesia yang menjadi langganan "Gunung Agung" agar bisa dilacak kemana saja buku-buku "Manikebuis" itu dikirimkan. Dari Mas Agung juga saya mendapat keterangan, bahwa bukan hanya toko bukunya dan penerbitnya saja yang digrudug oleh orang-orang Lekra di Jakarta dan kota-kota lainnya. »
 
(Apsas,  2 Oktober 2008)

 

 

*

 

Atas komentar Fahmi Fakih, Ikranagara membalasnya sebagai berikut:


 « Saya senang Anda berkomentar seperti ini, Bung Faqih. Dari komentar Anda, tampaknya Anda dari generasi yang baru, yang punya hasyrat ingin tahu tentang masa itu, masa yang Anda tampaknya memang belum hadir. Kalau Anda hadir, maka Anda akan dengan mudah mengetahuinya. Karena ingin tahu Anda ini saya nilai bagus sekali, jadi saya tanggapi sbb:

Untunglah ada yang sudah mengumpulkan tulisan-tulisan Pram di media massanya ketika di zaman itu. Antara lain ada buku berjudul "Prahara Budaya" yang cukup lengkap disusun oleh seorang dokumentator sastra kita, DS Mulyanto, yang oleh banyak orang diakui sebagai yang nomer dua dalam bidang ini setelah Yassin. Jadi, silahkan baca buku itu, sudah lebih dari cukup.
 
Saya sendiri menuliskan pengalaman saya di masa itu, bagaimana suatu tempat yang lebih dari seribu kilometer dari Jakarta, tertimpa oleh terornya di media itu. Dia melaksanakan apa yang ditulis oleh Lenin dalam bukunya yang berisi semacam manual perjuangan kaum komunis lewat media massa. Jadi, media massa disimpulkan sebagai alat propaganda politik dan sekali gus untuk menggerakkan massa komunis untuk menghancurkan kekuatan lawannya. Dan Pram dkk sangat piawai dalam hal ini.

Jadi, kalau Anda mau lebih dalam lagi tentang masa itu, silahkan baca buku-buku yang mengungkapkan bagiamana kerjanya organisasi  Lekra yang ditulis oleh seorang sarjana Malaysia jebolan UI. Dan  jangan lupa ditambahi dengan buku-buku dari luar negeri yang membahas bagaimana sepak terjang organisasi semacam itu di Uni Soviet dan RRC. Banyak sudah buku-buku semacam itu, yang mengungkapkan Zaman Perang Dingin tersebut.
 
Apa yang anda ingin dapatkan untuk rasa ingin tahu Anda itu sudah didokukmantasikan di banyak buku dan majalah dan koran. Silahkan  melakukan riset kepustakaan atas dokumen-dokumen yang ada di banyak tempat, baik yang di Pusat Dokumentasi HB Jassin, atau pun Perpustakaan Nasional kita, atau di UI, agar Anda bisa puas.
 
Saya akan senang sekali membantu Anda, silahkan datang ke tempat saya, akan saya kopikan bahan yang ada di perpustakaan saya. Saya akan dukung rasa ingin tahu Anda ini, dan akan saya dorong Anda untuk men ulis buku yang boleh jadi lebih bisa dikomunikasikan dengan generasi baru yang segenerasi dengan Anda. Ayolah, jangan kepalang tanggung dalam memenuhi rasa ingin tahu Anda itu! »
 
(Apsas, 2 Oktober 2008)

 

*

 

Menurut hemat saya, postingan-postingan Ikranagara tersebut di atas, tidak menunjukkan jawaban yang tegas atas pertanyaan yang diajukan oleh Fakih Fahmi di atas. Yakni : « Apakah ada bukti kongkrit bahwa Pram benar-benar menggerakkan pembakaran buku-buku… »

 

Kenapa Ikra tidak mampu menunjukkan bukti kongkrit, pasalnya memang tidak ada kejadian seperti yang digambarkan oleh Ikra. Baik dari penjelasan Pramoedya sendiri maupun saksi mata dan peneliti yang jujur lainnya menunjukkan bahwa Pram maupun Lekra tidak melakukan pembakaran buku, apa pula melakukan teror. Semua tuduhan ke alamat Pram dan Lekra itu memang hanya sebagai tabir asap. 

 

Dalam kenyataannya, yang melakukan vandalisme dan teror adalah pihak mereka – kaum Manikebu/OrBa.

 

« Bukan hanya buku … popok juga dirampas » ! jelas Pramoedya Ananta Toer dalam wawancaranya dengan SAS (Tabloid Mahasiswa Fakultas Sasrra Universitas Jember) Edisi 42 Tahun 1994. Dalam tulisan yang saya siar ulang di Majalah Kreasi N° 24 1995 itu, selain mengungkap apa dan siapa tokoh-tokoh Manikebu macam H.B. Yassin, Achdiat Kartamihardja, Trisno Soemardjo dan lainnya, juga menegaskan pengalamannya yang amat pahit. Pengalaman di kamp kerja-paksa Pulau Buru selama 14 tahun ; buku-bukunya pada masa OrBa dibakar semua ; rumah dan peralatan rumah, bahkan popok anaknya pun dirampasi !

 

Sesungguhnyalah bukan pihak Pramoedya, melainkan pihak lawannya yang melancarkan manifestasi aksi teroris berupa pembakaran kantor-kantor, buku-buku, pemecatan, penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan sampai pada pembantaian massal yang teramat biadab. Terutama sekali kebiadaban yang terjadi sejak kudeta militer 1 Oktober 1965 di Jawa dan juga di Bali.

 

Lantaran sudah sejak awal mulanya kejangkitan penyakit budaya politik paranoia OrBa, maka sementara kalangan budayawan, penulis atau penyair, hanya bisa mengutarakan hal-hal seperti isi postingan Ikra, tapi nyaris tabu mengungkapkan kenyataan telah terjadinya kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Kejahatan berupa manifestasi aksi teror dibawah teriak dan kibaran panji-panji « kesucian Pancasila ». Pancasila – yang salah satu silanya adalah Perikemanuisaan. Pancasila yang mereka « persucikan » namun diinjak-injak dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

 

Saya tegaskan : Ikra seenaknya saja melemparkan tuduhan Pramoedya telah menggerakkan teror, hingga buku-buku milik pribadinya pun jadi sasaran. Tetapi, bagaimana perihal merajalelanya kebiadaban berupa aksi terorisme yang juga  terjadi di Bali ?

 

Untuk rasa ingin tahu, selain untuk saya sendiri, pun terutama sekali untuk generasi  muda, iyalah – selaras anjuran Ikranagara – memang sudah selayaknya kita  memeriksa dokumentasi dan apalagi sudah banyak bahan yang dibukukan. Seperti buku yang dijadikan hadalannya berjudul « Prahara Budaya».

 

Terima kasih banyak atas masukannya. Akan tetapi, khusus mengenai manifestasi aksi teror, istimewa sekali yang terjadi di Bali, saya memiliki salah sebuah bahan – selain sebagai dokumentasi, juga bahan tulisan yang pernah kami turunkan di Majalah Arena N° 2 Th 1990-1991. Yakni tulisan John Gitting berjudul : Suharto dan Lobang Gelap di Bali.

 

Cobalah pembaca banding-bandingkan antara dongengan Ikranagara tentang « teror » ala Pramoedya dengan manifestasi aksi teror beneran yang direncana dan dijalankan oleh kaum fasis Indonesia seperti yang dilaporkan John Gitting, yang beberapa bagiannya saya garis-bawahi di bawah ini.

 

« Matahari telah terbenam di Bali, » tulis John Gitting memulai laporannya itu, « langit tiba-tiba menjadi gelap, ditaburi bintang-bintang gemerlapan. Kerik jangkerik, gonggong anjing berbaur dengan deru kipas angin. Seorang bekas pegawai kecil berkepala botak akhirnya muncul, tersenyum gugup. Saya ingin mendengar cerita yang mengerikan mengenai apa yang terjadi di pulau magis itu 25 tahun yang lalu.

 

« Pembantaian yang sangat kejam. Seratus orang dalam satu baris, crok...crok…crok. » Ia melakukan gerakan tangan seolah memotong padi. «Semuanya mati dalam satu lobang. Menyusul kemudian seratus orang yang lain. »  Ia menunjuk jauh ke jalan pedesaan yang didekap kegelapan. «  Semuanya mati dalam satu lobang. »

 

Kemudian ia tersenyum lagi. « Mengerikan – yang Putih dan yang Merah ». Yang Putih ? Dirabanya tembok putih di belakangnya. « Para pembunuh menutup mata para korban dengan kain putih. Sehingga mata mereka tidak dapat melihat dunia lain. »

 

« Yang Merah ? » Ia seolah mencelupkan jari-jarinya ke dalam kubangan dan membasahi lidahnya. « Kemudian mereka (para pembunuh, pen.) meminum darah para korban. Sehingga arwah si korban tidak akan mengganggu mereka selama tujuh turunan ».

 

Laporan John Gitting selanjutnya mengungkapkan bagaimana terjadinya kudeta militer yang berhasil di bawah komando Jenderal Suharto yang menumbangkan pemerintahan Presiden Sukarno. Teriring manifestasi aksi teroris yang direncanakan sehingga menelan korban yang teramat besar.

 

« Pembantaian terhadap sekitar seperempat juta orang Indonesia – mungkin jumlahnya dua kali lipat – pada akhir tahun 1965, adalah kekejaman terkeji dalam pertengahan abad lalu yang terlupakan. Hal itu dilakukan dibawah petunjuk tentara yang berkuasa dewasa ini…» Tulis John Gitting. « Dokumen-dokumen tentang kekejaman yang dilakukan secara intensif pada bulan Oktober sampai Desember 1965 dan beberapa tahun berikutnya, menjijikkan bila dibaca kembali. »

 

« Luweng (lobang dalam tanah, pen.), hutan, laut dan kemudian luweng lagi. Semuanya merupakan tempat bernoda untuk mengubur tubuh-tubuh manusia. Para tahanan ditutup matanya, kedua tangannya diikat kuat-kuat dengan kawat, dimasukkan ke dalam truk di tengah malam dan dibawa melewati jalan berlumpur ke suatu tempat dimana serdadu-serdadu telah menantinya. Njoto, seorang menteri di bawah Sukarno dan orang kedua (orang ketiga, pen.) dalam pimpinan PKI telah dipindahkan dari penjara oleh orang-orang Suharto dengan dalih 'meminjamnya'. Tubuh Njoto tak pernah ditemukan… Gerombolan-gerombolan pemuda Islam mendatangi kampung-kampung yang sepi seraya menakut-nakuti para tetangga yang melihatnya. 'Pada jam 3 pagi, tanpa ditanya sesuatupun, Sumo Kamin (seorang petani di desa Banjarharjo) dibantai di belakang rumahnya. Perutnya disobek, usus-ususnya dikeluarkan dan ia ditinggalkan begitu saja. Ketika isterinya kemudian mengetahui apa yang terjadi, ia menjadi histeris'… Rakyat yang ketakutan telah dipaksa tentara untuk menangkap siapa saja yang dicurigai sebagai komunis… »

 

Berkenaan dengan pembunuhan massal yang terjadi, dalam laporannya itu John Gitting mengutarakan, bahwa : Pada Desember 1965 Sukarno mengirimkan missi pencari fakta (facts finding mission) untuk menyelidikinya. « Di mana saja mereka tiba, mereka dihadapkan pada agenda yang telah ditetapkan militer. Penduduk yang loyal mengajukan petisi bagi pelarangan PKI, dan jumlah korban yang mati dilaporkan jauh di bawah angka sebenarnya. … Di Denpasar, ibukota Bali, seorang anggota senior komisi berhasil menyelinap keluar hotel melalui dapur dengan bantuan pegawai hotel. Pada larut malam itu ia berjumpa dengan seorang polisi yang tetap setia kepada Sukarno, yang mengemukakan kepadanya bahwa jumlah korban yang dibunuh sebenarnya bukan 3.000 melainkan 30.000. Di Jawa Timur seorang komandan polisi militer mengakui bahwa jumlah resmi 5.000 korban sebenarnya mungkin berlipat 'paling tidak delapan kali'. .. Sekembalinya di Jakarta, komisi itu menyampaikan kesimpulan resmi mereka kepada pers dunia, bahwa 'hanya 80.000 korban yang telah meninggal di seluruh Indonesia. … Sukarno diberi laporan rahasia bahwa angka korban yang sebenarnya adalah sekitar empat atau enam kali lebih tinggi (secara kasar 320.000 sampai 480.000). Menteri Luar Negeri Adam Malik yang mengkordinir haluan politik luar negeri baru Indonesia yang anti komunis bersama-sama Amerika Serikat, mengatakan kemudian secara pribadi bahwa jumlah korban sekitar 600.000. Bahkan ada seorang bekas Menteri yang memperkirakan jumlah itu mencapai satu juta. »

 

Demikian cuplikan mengenai manifestasi aksi teror dari laporan John Gitting yang kami turunkan di Majalah Arena N° 2 Januari 1991 pada halaman 12 – 22 itu. Salah sebuah dari sekian banyak bahan pertimbangan yang bermakna penting, yang isinya sangat berbeda dengan argumentasi yang dijajakan Ikranagara. Namun, tak urung, dalam dokumentasi lainnya pun, bisa diketahui bagaimana sikap-pendirian Ikra dan kaum pendukung Manikebu/OrBa lainnya terhadap Pramoedya Ananta Toer. Seperti yang diutarakan Ikra dalam artikelnya di Suara Pembaruan 30 Oktober 1992 berjudul : Humanisme Dan Antihumanisme.  Dalam mana orang bisa membaca pendapat Ikra yang memberi cap untuk Pramoedya sebagai pengarang yang antihumanisme.

 

Begitulah Ikranagara dengan opininya dalam tahun 1992. Begitulah pula rupanya yang mendasari sikap-pendiriannya untuk turut menanda-tangani pernyataan duapuluhan penulis yang menggugat penganugerahan Magsaysay Award untuk Pramoedya dalam tahun 1995. Dan sikap-pendiriannya itu diulang-tegaskan dalam postingannya di Milis Apsas awal Oktober 2008 ini. *** (28.11.2008)

 

Catatan : Masih akan disambung ke bagian (11) mengenai soal yang dijadikan persoalan lainnya.

Artikel  Suharto Dan Lobang Gelap Di Bali oleh John Gitting pertama kali disiar Guardian Minggu, terjemahan bahasa Indonesianya kami petik dari Untuk Demokrasi Dan Kebebasan nomor Oktober 1990.

Majalah Opini & Budaya Pluralis ARENA  terbitan Stichting I.S.D.M., Culemborg, Nederland. ISSN 0925-5575. Editor Abe alias A.Kohar Ibrahim.

 

 

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content