31 Oktober 2008

Re: Fw: [ac-i] Salut Untuk PDI-P

Saya berduka cita atas kepergian kebebasan yang mengagungkan dan mengacu kepada kebaiakan dan kesusilaan. Yang akan datang mungkin malah pemerkosaan terhadap hak2 individu dan pertumbuhan polisi preman yang mengatas namakan kessusilaan.
B.Hidayat.

Bambang Hidayat
Pasir Muncang,Dago Atas
PPR-ITB G17
Bandung 40135
Jawa Barat,Indonesia
Tilp./fax: 62-22-250 3375
e-mail : hidayatbambang@yahoo.com
bhidayat07@hotmail.com

--- On Thu, 10/30/08, tri wibowo <triwibowos@gmail.com> wrote:
From: tri wibowo <triwibowos@gmail.com>
Subject: Re: Fw: [ac-i] Salut Untuk PDI-P
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Cc: "imam" <imam.ws@gmail.com>, nasional-list@yahoogroups.com, "Mediacare" <mediacare@cbn.net.id>, sastra-pembebasan@yahoogroups..com, hksis@yahoogroups.com, mimbar-bebas@yahoogroups.com
Date: Thursday, October 30, 2008, 10:07 PM

Terlepas dari pluralisme dan isme-isme lainnya. Sebetulnya, DPR dan pemerintah tuh mbok mengaca diri! Bicara soal ografi, justru DPR dan PEMERINTAH itu yang o. Misalnya, masih inget nggak soal kasus VIDEO MEZUM Yahya Zaini (Kepala Bidang Kerohanian Partai GOLKAR) dan Maria Eva?  Masih inget nggak sama kasus perselingkuhannya Al Amin Nasution? (Partai berbasiskan AGAMA loch) Kasus pelecehan sexsual oleh Anggota DPR Max Moein?

Sebaiknya Negara jangan mengurus MORALITAS masyarakat-nya! URUS dulu MORAL para ANGGOTA DPR dan PEMERINTAH sendiri.

Salam,

Bowo

KETUA MASYARAKAT TAAT BERIBADAH (kalau hari raya doang :))

2008/10/30 BDG KUSUMO <bdgkusumo@volny. cz>
Bung Imam ÿb.,
salut kita untuk PDI-P, PDS, juga perorangan anggota DPR RI dan semua
komponen Civil Society yang menolak RUU ografi dan dengan demikian
gigih mempertahankan pluralisme di Nusantara. Ingat, bahwa pluralisme
adalah sama dan sebangun dengan demokrasi. Demagogi tentang ber
demokratisasi yang "takes time" namun sekaligus rajin meletakan fondasi
untuk men nihilisasi pluralisme adalah kemunafikan kolosal. Kita tolak!
 
Salam, Bismo DG
 
----- Original Message -----
From: imam
Sent: Wednesday, October 29, 2008 2:22 PM
Subject: [ac-i] Salut Untuk PDI-P

Tidak perlu jenius untuk mengetahui kalau ancaman bagi Indonesia adalah rembetan krisis keuangan global, bukan ografi.  Ancaman gawat darurat di depan hidung kita semua adalah pelemahan pertumbuhan, ancaman PHK masal, rupiah terjun bebas. Kita menghadapi krisis keuangan global, bukan krisis ografi. Tapi kenapa yang diurusin DPR malah RUU ' o'? Di saat arus penolakan terhadap RUU ' o' menguat, DPR ngotot mensahkan RUU ' o'. Menjadi pertanyaan, kalau notabene arus publik menolak RUU ' o' namun DPR malah melawan arus, terus di mana makna "wakil rakyat"?

Di tengah krisis keuangan global, menjadi pertanyaan, apa urgensinya RUU ' o'? Apa rakyat menjadi sejahtera bila pakaiannya diatur-atur?  Apa kemiskinan dan pengangguran akan menurun dengan mengatur cara berpakaian rakyat, dengan mengatur bacaan rakyat, dengan mengatur film dan konten yang boleh diakses orang dewasa? Apa sektor riil akan tertolong dengan RUU ' o' ini?

Mbok ya membuat RUU itu jangan suka-suka sesuai selera politiknya sendiri, jangan membuat RUU yang melanggar kepastian hukum, melanggar hak sipil masyarakat. Frase kata 'gerak tubuh' digabung dengan pasal 'peran serta masyarakat', wah akan membuat cewek cantik bertubuh seksi rentan menjadi korban pemerasan. Kemudian, pasal 'peran serta masyarakat' itu, apa kita ingin merubuhkan negara hukum ini dan menyerahkannya pada angry mob..??!

Melihat kosa kata di RUU ' o' ini yang memuat kata 'senggama', 'onani', 'oral seks', 'anal seks', alih-alih RUU ini untuk memberantas ografi, justru RUU inilah salah satu contoh ografi.

Salut pada PDI-P yang menolak RUU ' o' ini.

Regards,

Imam



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg. com
Version: 8.0.175 / Virus Database: 270.8.4/1753 - Release Date: 28.10.2008 21:20


__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: