30 Oktober 2008

Re: [ac-i] Tersinggunglah!

yang terhormat, bapak Thaniago.

menanggapi opini anda terhadap penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

saya kurang setuju jika anda menanggapi pengaruh budaya barat, dalam konteks anda disini adalah bahasa Inggris, sebagai suatu hal yang negatif dan bersifat menjajah nasionalisme (demikian saya menyebutnya) kita.
sudut pandang anda menyatakan seakan-akan bahwa bahasa Inggris bukanlah sebuah bahasa yang seharusnya dikuasai bagi manusia berbangsa Indonesia.

begini pak, perkenalkan dahulu, saya biasa di panggil Rio, mahasiswa fakultas psikologi penjurusan Industri dan Organisasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, yang sedang mengerjakan skripsi bertopik partisipasi politik mahasiswa, dengan pembimbing salah satu caleg di pemilu tahun 2009, Ibu Retno .

secara sederhana, pengaruh bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai bangsa Indonesia, tidak dapat dilihat sebagai bentuk penjajahan. bagaimanapun anda sudah akui bahwa itu adalah sebuah pengaruh globalisme, baik secara eksplisit maupun implisit, anda utarakan di tulisan anda, sebagai contoh ketika orang jepang itu sudah dapat berbahasa Indonesia, bukankah ini sudah sebuah bentuk globalisme (aset negara yang di sebar hingga ke lintas benua dan pulau).

bukan kemudian kita merasa malu ketika ternyata orang jepang atau orang amerika lebih mencintai budaya kita, namun ini justru patut dibanggakan, karena bagaimanapun juga, perlu kita akui , bangsa-bangsa tersebut sudah menjadi sebuah negara yang telah berkembang, berbeda dengan bangsa kita segera telah berkembang (demikian saya mengganti istilah 'negara berkembang' supaya terkesan lebih optimis), namun mau mengenal budaya kita bangsa Indonesia. belum tentu apa yang dimiliki negara lain, mau mereka pelajari atau mereka kenali.

perihal bahasa Inggris yang di sisipkan dalam bahasa Indonesia yang dipergunakan dalam koran sindo, atau anda sebut "dengan tololnya" (meskipun bagi saya, bahasa ini bukan bahasa Indonesia yang baik, secara personal), perlu anda juga pandang dari segi yang berbeda. bahasa seperti ini tentunya punya maksut tersendiri. bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional nomor 1, tentunya ketika disisipkan dalam bahasa negara manapun, menurut saya adalah supaya dapat lebih dimengerti bagi orang bernegara manapun. bagaimanapun, Indonesia di tinggali oleh manusia. dan dari negara manapun kita, bukan berarti kita hidup sendiri. bukankah jika ada bahasa pemersatu seluruh bangsa, ini berarti sebuah awal dari perdamaian global? dan apakah setiap orang, tidak mengingini perdamaian global ini?

bahkan pemuda Indonesia pada tahun 1928 tanggal 28 oktober, tidak menyatakan bahwa bahasa Indonesia sebagai SATU-SATU NYA  bahasa yang harus dikuasai..

"SUMPAH PEMUDA :
  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. "
Namun jelas bahwa kita memang bangga, bertumpah darah hanya satu, tanah INDONESIA, dan berbangsa hanya satu, bangsa INDONESIA.

tilik lagi , bagaimana kita berbahasa, berdasarkan situasi dan kondisi. Jika kita sedang berhadapan dengan sebuah situasi yang memerlukan bahasa Indonesia, dan kondisi yang formal, maka se yogya nya, kita juga menggunakan bahasa Indonesia yang juga baik tutur dan tata bahasanya. seperti anda misalnya, apakah mungkin, jika anda sedang berhadapan dengan bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono, apakah mungkin anda menggunakan kata "TOLOL" ?

berbeda lagi jika anda berhadapan dengan seorang berlatar belakang Inggris, yang mungkin jika dia tidak bisa berbahasa Indonesia (karena jelas harus dimaklumi, bahasa Indonesia bukan bahasa internasional), maka bukankah kita harus berbahasa Inggris, untuk dapat berkomunikasi dengannya?

perihal artis muda yang berbicara "bechyek" dan sebagainya, dan perihal orang yang mencampur-campurkan, bukan berarti orang tersebut mencemar bahasa Indonesia, melainkan ada sebuah proses lain yang memungkinkan orang memiliki bahasa yang tercampur tersebut. bagaimanapun, manusia bukan robot yang bisa di buat menjadi dikotomi. artis muda yang ada paparkan misalnya, berlatar belakang ,sejak kecil dia bersekolah bukan di Indonesia, namun ketika dia pulang ke Indonesia ketika besarnya, baru belajar bahasa Indonesia, jelas, bahwa dia seperti seorang amerika yang baru diajarkan bahas Indonesia, sehingga ketika berkata-kata yang bukan bahasa yang diajarkan kepadanya ketika pertama kali mengenal bahasa, jadi seperti itu logatnya. sementara, orang lain yang mencampur-campur bahasanya itu, belum tentu ketika dia dihadapkan kepada situasi dan kondisi yang menuntut dia untuk berbahasa formal bahasa Indonesia, dia masih tetap mencampurkan semua bahasa yang digunakannya, pak Thaniago.

demikian pendapat saya,
seorang mahasiswa yang punya semangat sumpah pemuda.

 
salam,


Barnabas Januario


barnabasjanuario.wordpress.com


Owner
House of Pin
www.freewebs.com/bjdesign-houseofpin

Marketing staff
Inter Graha Sofa
intergrahasofa.weebly.com




From: Roy Thaniago <jagoanpatas@yahoo.co.id>
To: omk-sayangbumi@yahoogroups.com; muda-mudi katolik <muda-mudi-katolik@yahoogroups.com>; mudika bhk <bhk-mudik@yahoogroups.com>; ruang baca <ruangbaca@yahoogroups.com>; agenda 18 <forum-agenda18@yahoogroups.com>; AKI <aki-forum@yahoogroups.com>; forum penulis kota malanh <forum_penulis_kota_malang@yahoogroups.com>; penulis lepas <penulislepas@yahoogroups.com>; penulis shvoong <penulis-shvoong@yahoogroups.com>; jurnalisme sastrawi <jurnalisme-sastrawi@yahoogroups.com>; pasar buku <pasarbuku@yahoogroups.com>; pemuda kaj <pemoeda@yahoogroups.com>; sudirman leman <leman_sudirman@yahoo.com>; Felitas Johan Handoko <felitas.johan@gmail.com>; johannes nugroho <johannes_sebastian@uph.edu>; Johan <jotoso@telkom.net>; AA Kunto <aakuntoa@gmail.com>; "Adrianus Budhi, MSC." <adri.budhi@gmail.com>; penyair <penyair@yahoogroups.com>; natal lia <natalia_ti2xk@yahoo.com>; nasional-list@yahoogroups.com; nongkrong bareng2 <nongkrong_bareng2@yahoogroups.com>; musyawarah-burung <musyawarah-burung@yahoogroups.com>; peduli sampah <peduli_sampah@yahoogroups.com>; Agus Noor <agus2noor@yahoo.co.id>; Ahid Hidayat <ahidh@yahoo.com>; Ahmad Jalidu <masjali@yahoo.com>; Akhda Afif Rasyidi <akhdaafif@yahoo.com>; Alvin Lee <alveen_133@yahoo.com>; Alvina Cadenza <alvinacadenza@yahoo.com>; anamy paat <anamypaat@hotmail.fr>; Andra Ps <andraps@gmail.com>; Andrea Christina <andrea.christina@sctv.co.id>; Andreas Harsono <aharsono@cbn.net.id>; Anis Mahmudah <aniselek@yahoo.com>; apresiasi sastra <apresiasi-sastra@yahoogroups.com>; Ardhi Detik <ardhi@staff.detik.com>; Arie Handoko <arie.handoko@gmail.com>; Disandhika Ariestyo <san_0389@yahoo.com>; dita aditya <dita_katarina@yahoo.com>; Eveline Ayu <applee_line@yahoo.com>; Fransiscus Arief <oecil_slash@yahoo.com>; Gugun Arief <gugunarief@yahoo.com>; ratih aja <ratih@mk.co.id>; quinn albertina <q_onnezz_88@yahoo.com>; suzie anastasia <juz_humbl3@yahoo.com>; willy april prayoga <yoga1204@yahoo.com>; Willy Souw <willysouw@gmail.com>; Riston Adenan <riston.adenan@indomobil.co.id>; yoanita aceh <yoan_aceh@yahoo.com>; yoga kuswandono <aloysrobert@yahoo.co.id>; yovita aridita <yovita.aridita@gmail.com>; Eka Budianta <eka@budianta.com>; batuhidup@yahoogroups.com; benedictsu@yahoo.com; blazingr4v3@yahoo.com; Benigna Brigida Budiman <ninay@3b-link.net>; Budi Putra <bp@budiputra.com>; harry Bhaskara <harry@thejakartapost.com>; Hery Budiawan <h3r_canticum@yahoo.com>; joko bethu <kawulaku@yahoo.co.id>; Lulu Bong <bolue_kukuz@yahoo.com>; Michael Budiman Mulyadi <michael_budiman@yahoo.com>; samiaji bintang <samiaji.bintang@gmail.com>; artculture indonesia <artculture-indonesia@yahoogroups.com>; buku kita <bukukita@yahoogroups.com>; dastan books <dastanbooks@yahoogroups.com>; filsafat <filsafat@yahoogroups.com>; forum pembaca kompas <forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com>; lingkar pena <forum_lingkarpena@yahoogroups.com>; Lingkar Seni <lingkar-seni@yahoogroups.com>; Christina Mandang <cmandang@yahoo.com>
Sent: Wednesday, October 29, 2008 11:04:12 PM
Subject: [ac-i] Tersinggunglah!

Tersinggunglah!


Seorang kawan yang baru lulus kuliah ditolak di mana-mana ketika melamar pekerjaan. Kesalahannya cuma satu, Ia terlalu bangga memakai bahasa Indonesia.

TIDAK seperti kebanyakan pelamar lain yang berfoya-foya dalam bahasa Inggris, kawan tadi memakai bahasa Indonesia dalam surat lamarannya. Jumlah alasannya memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya itu, cuma satu, yakni, ia melamar pada perusahaan yang ada di Indonesia, yang masyarakat, rekan kerja, dan pimpinannya berbahasa Indonesia. Perusahaan yang pekerjaanya bisa dikerjakan dalam bahasa Indonesia. Sialnya, kawan tadi lupa, kalau perusahaan di Indonesia merasa hebat ketika berhasil mengaudisi karyawannya dalam bahasa Inggris. Biar sedikit intelek, bro!

Dari perusahaan dengan banyak istilah asingnya – meeting, outing, order, customer, owner, break event point, part time, office boy – mari beralih ke bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah Inggris juga amat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan. Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing. Tengoklah istilah seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang paling tolol, busway.

Entah, tulah apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita. Kenapa kata-kata asing bertaburan dalam percakapan sehari-hari? Bahasa Indonesia seakan tak mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng bahasa Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih melafal tengkyu, sori, serprais, sekuriti, syoping sebagai syarat penduduk berwawasan global – walau pengetahuan dan nalarnya tidak diajak mengglobal.

Tidak ketinggalan – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang seharusnya mendidik masyarakat, malah melayani kekeliruan berbahasa tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti namanya dengan bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media dengan istilah Inggris seperti admission, free laptop, the leading university, faculty of management, dan seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang sehari-hari berbahasa Indonesia.

Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja kata-kata yang mondar-mandir di halaman mata kita. Ada Today Dialogues, Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada SINDO, sebuah media massa nasional, yang logikanya adalah sebuah media yang turut bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, pun bersikap demikian. Coba periksa koran ini pada tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik 'news' dan 'quote of the day'. Usaha meng-inggris ini belum usai, karena disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik 'financial revolution'-nya Tung Desem Waringin, rubrik 'people', rubrik 'fashion', rubrik 'food', rubrik 'rundown', atau cap 'special report' pada artikel tertentu. Jangan tersenyum geli dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini.

Mau contoh lain? Tak usah pergi jauh, karena cukup sambil duduk menggenggam halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda: merek permen, keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung (exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar 'dosa' tersebut. Dan tentunya memanjangkan rasa jengkel.

Lalu, menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil mengadopsi bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi seciamik mereka? Apakah dengan begitu terlihat cerdas karena berhasil mensejajarkan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu jijiknyakah kita terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata 'peralatan kantor' perlu ditemani kata dalam kurung 'stationery', 'nyata' ditemani kata dalam kurung 'real', atau 'kekuatan' yang ditemani 'power'? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di dalam kurung ketimbang kata dalam bahasa Indonesia-nya.

Masih cukup waraskah kita ketika menertawakan seorang artis muda yang ber-Inggris ria, "hujan..beychek. .ojhek", yang padahal adalah cermin dari ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, 'oh my god', 'monkey', 'shit', 'fuck you', atau 'event organizer'.

Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap sok inggris ini tidak diimbangi dengan pengetahuan memadai. Contoh paling fatal, juga paling tolol, ada pada isitilah 'busway' yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika. Mana ada frase, "ke Blok M naik 'jalanan bis' sangat nyaman".

Coba perhatikan, bagaimana kita melafal 'AC' (Air Conditioner) dan'HP' (Hand Phone). Bukankah kita menyepel a-se untuk 'AC' dan ha-pe untuk 'HP'? – padahal kalau sok Inggris layaklah dieja ei-si dan eitch-pi. Tapi tidak pada 'VCD' (Video Compact Disc) dan 'PC' (Personal Computer), karena kita menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, 'Media Nusantara Citra' (MNC), dieja dengan em-en-si, bukan em-en-ce.

Yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya (bahasa) Indonesia adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di Eropa, beberapa konservatori musik malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, hal ini justru terbalik bila artis Indonesia yang tampil.

Pada konser Nusantara Symphony Orchestra yang berkolaborasi dengan Tokyo Philharmonie Orchestra di Balai Sarbini, 10 Juni 2008 lalu, sebagai perwakilan dari Indonesia, Miranda Goeltom yang orang Indonesia memberi sambutan, tentunya dalam bahasa Inggris. Lalu, sebagai perwakilan Jepang, kata sambutan dari 'Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Republik Indonesia', Kojiro Shiojiri menyusul. Shiojiri yang asli Jepang ini, yang tidak ada untungnya karena memakai bahasa Indonesia, malah dengan pede-nya berpidato dalam bahasa Indonesia, meski terbata. Sudah cukup muakkah membaca kenorakan kita di atas?

Memang, bahasa yang hidup adalah bahasa yang dinamis dan terus dirusak. Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti bahasa Latin. Namun dalam konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang menggigiti identitas bangsa. Tidak mampu mengatasi kekagokkannya sendiri terhadap budaya asing. Mirip orang kampung yang merias berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung halaman.

Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri. Tenang saja, kita ada kawan. Bangsa Romawi adalah kawan yang dimaksud. Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural, Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah, ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah? Ketika tersinggung saat membaca artikel ini, begitu jawabnya.

Jadi, tersinggunglah!

--
Posted By Roy Thaniago to Saung Kata at 10/29/2008 08:01:00 PM


Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail. com.

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: