25 Oktober 2008

Re: [ac-i] Pers dalam demokratisasi di Indonesia


Pers dimitoskan sebagai pilar ke-4 demokrasi, melengkapi (ingat MELENGKAPI) tiga pilar demokrasi yang lain (Eksekutif - Legislatif - Yudikatif). Jadi, Pers bisa berfungsi dengan baik dalam sistem demokrasi apabila ketiga pilar utamanya juga kokoh.

Nah, di Indonesia, dengan tiga pilar utamanya yang rapuh, tidak mungkin Pers menyanggah atap demokrasi. Sebab mekanisme kerja Pers hanya mengangkat masalah ke permukaan, untuk dieksekusi oleh Eksekutif - Legislatif - Yudikatif.

Jadi saya sependapat dengan pengarang Filipina Jose Rizal, yang bilang novelnya Noli Me Tangere -- juga tulisannya yang lain -- tak lebih dari mengangkat sosok bangsa yang sakit ke altar kuil. Selanjutnya, tugas kita, juga para pemuka agama, untuk mendoakan (berbuat) demi kesembuhan si sakit.

Pada 1997 akhir dan 1998, Pers kita berhasil mengangkat penyakit-penyakit bangsanya, dengan lebih leluasa. Tapi yang menindaklanjuti bukan Eksekutif-Legislatif-Yudikatif yang sudah mandul. Yang mengeksekusi (mendoakan) adalah kalangan intelektual dan rakyat yang sudah menyatu. Disatukan oleh kegelisahan dan penderitaan yang sama.

Sekarang keadaan belum berubah. Eksekuti-Legislatif-Yudikatif kita masih memble. Sementara kalangan intelektual hanyut dalam urusannya sendiri. Rakyat? Rakyat sibuk memikirkan penderitaannya sendiri. Sehingga Pers juga tak berdaya, meskipun masih tetap memiliki kebebasan (relatif).

Maka ketika para aktivis yang kritis (menentang kebijakan ugal-ugalan penguasa) ditangkapi, nyaris tak ada intelektual tampil membela, dan diberitakan oleh Pers kita. Sehingga Pers kita hanyut dalam arus perspektif penguasa, dengan menaruh kata DEMO ANARKIS - DEMO BRUTAL - di head line. Akibatnya, penguasa jadi leluasa dan merasa memiliki legitimasi menangkapi aktivis, dan menuduh tokoh-tokoh kritis (yang sudah tinggal beberapa biji) sebagai orang yang berada di balik demo itu.

Demikianlah. Mudah-mudahan pandangan saya ada manfaatnya untuk memperkaya penulisan tentang Pers dalam Perjuangan....

Salam!

Adhie M Massardi
Juru Bicara KomiteBangkit Indonesia


--- On Fri, 10/24/08, indraphp6 <indraphp@gmail.com> wrote:
From: indraphp6 <indraphp@gmail.com>
Subject: [ac-i] Pers dalam demokratisasi di Indonesia
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Date: Friday, October 24, 2008, 12:58 PM

Dalam berbagai deskripsi para ahli, diakui bahwa pers Indonesia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan reformasi atau revolusi Mei 1998 yang mencapai momen bersejarah dengan pengunduran diri presiden Soeharto, setelah berkuasa selama 32 tahun. Meskipun pers bukanlah pelopor dari gerakan revolusi itu, namun pers telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam peristiwa tersebut dengan penyajian berita-berita yang kritis sehingga melemahkan legitimasi rezim Orde Baru yang berkuasa pada waktu itu. Wacana tentang peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998 dapat digeneralisasikan bahwa wacana mengenai kontribusi signifikan pers dalam memicu perubahan masyarakat seakan mengikuti teori klasik komunukasi massa yang telah populer sejak lama, yaitu teori serba media.

Diasumsikan bahwa media massa (dalam hal ini pers) mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi masyarakat, bukan saja dalam membentuk opini dan sikap tetapi juga dalam memicu terjadinya gerakan sosial.

Berangkat dari teori dan realita diatas penulis mencoba melakukan penelitian dengan judul "Pers Dalam Demokratisasi di Indonesia, Kajian Tentang Peranan Pers Dalam Peristiwa Revolusi Mei 1998´´, dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998 serta mengetahui kendala-kendala yang dihadapi oleh pers dalam menjalankan peranannya tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif dan literatu atau yang dikenal juga dengan studi kepustakaan, yakni dengan menganalisa dan menggambarkan peranan pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998 melalui buku-buku, jurnal, artikel, dokumen dan hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Latar belakang penetapan topik penelitian ini mengingat pers sebagai suatu lembaga sosial yang mempunyai kekuatan dalam sistem politik dan berdasarkan pengamatan penulis bahwa pers selama orde baru senantiasa dibatasi ruang geraknya oleh pemerintah, dengan kata lain dilakukannya kontrol yang ketat oleh pemerintah terhadap pers, namun dalam situasi dan kondisi seperti itu pers tetap mampu berperan dalam mewujudkan demokrasi di Indonesia, khususnya dalam peristiwa revolusi Mei 1998.

thank's
indraphp

Sumber : http://www.skripsi- indonesia. com/pers- dalam-demokratis asi-di-indonesia /

__._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: