30 Oktober 2008

[ac-i] penyair tua dan penyair muda (wawan-ismanto)

Menimbang Lagi tentang Penyair Tua dan Penyair Muda

Oleh Wawan Firmansyah

Oleh : An. Ismanto

Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ada tuduhan dari khalayak bahwa sastra Indonesia mengalami krisis terkait dengan regenerasi. Dengan rasional khalayak berusaha membuktikan, bahwa pada waktu itu memang karya-karya yang baik boleh dikatakan tidak ada.

HB Jassin menjawab tuduhan itu dengan berpijak pada kenyataan, bukan pada utak-atik logika semata, dengan menyatakan bahwa kesusastraan tidak mengalami krisis, karena toh masih ada para penulis yang menulis (Oyon Sofian, Magelang, 2001: 47).
Dan kini, lebih dari tiga dekade setelah pertikaian khalayak dengan Jassin, pembela gigih sastra itu, muncul lagi "krisis" yang kurang lebih sama. Di kota-kota sastra (Bandung, Yogyakarta—kecuali Denpasar). Ini kali, "krisis" dipicu oleh ketidakpuasan para penyair "muda" atas kiprah para penyair "tua". Denpasar, Bali, dapat dikecualikan dari peta "pusat" sastra yang sedang "krisis", karena telah membuktikan diri mampu menjaga keseimbangan antara sastrawan "tua" dan "muda"—ini tentunya tak lepas dari peran Umbu Landu Paranggi.

Jauh sebelumnya, Sapardi Doko Damono telah memahami potensi polemik semacam itu. Bagi Sapardi, puisi rupanya telah menjadi bentuk sastra yang menarik minat orang-orang muda, terutama sekali dalam masa prkembangan awal sebagai sastrawan.
Sajak-sajak yang dikirimkan ke majalah-majalah yang berprestasi tidak dapat dimuat segera. Mereka harus menunggu atau mengirim karya mereka itu ke koran-koran yang cukup banyak jumlahnya (Sapardi Dojok Damono, 1983: 90).

Sementara beberapa penyair mendapatkan tempat yang semakin kukuh dalam perkembangan puisi Indonesia, kaum muda yang baru mulai menulis itu merasakan semacam tekanan. Mereka merasa tidak bisa cepat tampil karena terhalang oleh tokoh-tokoh yang sudah "mapan". Memang hal itu bisa dirasakan sebagai penindasan sebab ruang gerak mereka, yakni penerbitan yang bisa menampilkan karya mereka, sangat terbatas.Tambahan lagi, kebanyakan mereka menetapkan kepenyairan berdasarkan dimuat atau tidaknya sajak-sajak mereka dalam salah satu media yang dianggap sebagai barometer.

Pemahaman Sapardi tampaknya tidak jauh berbeda dengan polemik yang dipicu oleh esai Achmad Muhlish Amrin (AMA) di Jawa Pos (12/2/2007), yang dibalas oleh Indra Tjahyadi (28/2/2007). Di Bandung, polemik diriuhkan oleh Widzar Al-Fhifarry dan kawan-kawan.
Bagi AMA, yang sejatinya hanya menggemakan saja keluhan dari sekian banyak penyair muda usia, persaingan para penyair "tua" dan penyair "muda" adalah persaingan yang tidak sehat. Karena, para redaktur media massa ternyata lebih banyak memilih memuat karya-karya para penyair "tua". AMA menuntut agar para redaktur memberi kesempatan kepada para penyair "muda" dan pada saat yang sama meminta para penyair "tua" agar mengurangi kiprah di dunia sastra.

Indra Tjahyadi, yang terhitung "tua" dari segi usia maupun proses kreatif jika dibandingkan dengan AMA, memertanyakan epistemologi penyair "tua" dan "muda". Bagi Indra, AMA tampak menggunakan usia sebagai tolok ukur terma "tua" dan "muda" yang dilekatkan para gelar penyair.

Indra menyangsikan tolok ukur semacam itu karena baginya rawan kontradiksi: seorang penyair muda usia bisa saja menulis puisi yang sekilas mustahil ditulis oleh orang dengan pengalaman hidup yang belum seberapa, dan sebaliknya. Ia mengajukan proses kreatif dan kematangan karya sebagai tolok ukur, dengan catatan jika memang pemilahan antara penyair "tua" dan "muda" memang dibutuhkan.

Keluhan AMA dan para penyair muda lain adalah lontaran yang sangat manusiawi. Setiap penyair, tua maupun manusia, tentu ingin puisinya dipublikasikan dan dibaca khalayak. Namun, tentu saja, karena puisi adalah karya sastra, maka para penyair harus memerhatikan juga pre-teks puisi: organisasi dan ideologi pemublikasi puisi, yang punya otoritas mutlak untuk menerbitkan atau menolak karya puisi.

Publikasi puisi di suatu media (baca: koran) menjadi bukti bahwa seorang penyair, muda maupun tua usianya, mampu berdialektika dan bernegosiasi secara esestetis dengan otoritas media dan membuktikan bahwa dirinya mau berusaha dan tidak "manja".
Jika dipikir lebih lanjut, keluhan seperti itu sejatinya juga sebuah ironi. Permintaan para penyair "muda" agar para penyair "tua" memberi kesempatan dengan cara mengurangi kiprah di dunia sastra, substansinya tidak berbeda dengan pelarangan buku-buku Pramoedya oleh Pemerintah Orde Baru, atau pembakaran buku-buku Salman Rushdie, atau pembredelan TEMPO.

Dan seumpama para redaktur kemudian dengan mudah memberi tempat bagi para penyair muda itu, sementara karya-karya itu secara literer buruk, tindakan itu justru kontra-produktif, karena media massa hanya akan mengisi khasanah kesusastraan kita dengan karya-karya yang buruk—yang boleh jadi mencoreng muka kita di mata khalayak internasional dan membikin orang-orang yang baru mulai meminati sastra kita menyesal.
Jika kita memakai metode kritik Jassin—berpijak pada kenyataan dan memandang sastra sebagai suara hati—, maka kita memang harus mengakui bahwa pemilahan itu tak terelakkan. Pemilahan itu sudah terjadi dengan sendirinya dalam kenyataan. Betapa sering khalayak menyebut Sapardi Djoko Damono sebagai penyair senior, yang berasosiasi kuat dengan "tua", sementara pada saat yang sama menyebut Dina Oktaviani atau Hasta Indriyana sebagai "penyair muda".

Bahkan, Jassin sendiri, yang setiap katanya hampir-hampir menjadi "hukum" sastra Indonesia, menyebut Chairil Anwar sebagai penyair muda—sebutan yang dirapal dengan persis oleh khalayak sastra yang lebih kemudian.

Generasi para sastrawan pada 1960-an dan 1970-an memang beruntung memiliki pembela segigih Hindia Belanda Jassin, sehingga mereka, sedikit banyak, percaya diri untuk terus menulis. Namun, kita harus menghitung konteks pembelaan Jassin.

Menurut Budi Darma, jawaban Jassin itu bertalian erat dengan keyakinannya bahwa sastra adalah suara hati manusia dan juga keyakinannya tentang kebutuhan regenerasi dalam kesusastraan. Sementara sastrawan-sastrawan senior lain cenderung kurang memerhatikan generasi muda, dengan tekun Jassin berusaha untuk mencari titik-titik kuat pada sastrawan-sastrawan yang belum mapan.

Titik-titik kuat itu, tentu saja, adalah titik kuat sastra sebagai suara hati, bukan sastra sebagai kerja otak. Budi Darma mencontohkan "Kucing" karya Hudan Hidayat yang mengandalkan diri pada letupan-letupan intuisi (2001: 48). Apakah saat ini ada "titik-titik kuat" pada para penyair kita yang belum mapan?

Satu-satunya jalan keluar bagi penyair, baik muda maupun tua, adalah segera membaca dan menulis dan mengambil pena. Penyair tidak usah buka mulut dan pena dalam keriuhan polemik yang mempertentangkan para penyair dengan sesama penyair. Karena, pada hakikatnya setiap penyair tidak mengenal usia tua atau muda, sebab puisi-puisi mereka telah memungkinkan mereka untuk "mengatasi kesemantaraan segala", dan setiap puisi pada hakikatnya membikin para penyair senantiasa muda, senantiasa terlahir kembali karena beroleh "kristal kata" dan "pesona", sehingga walaupun Langit dan bumi akan berlalu, tetapi puisinya tidak akan berlalu.

Penulis adalah seorang penyair.

Sumber : Sinar Harapan, 14 Juli 2007


___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

------------------------------------

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

Sphere: Related Content

1 komentar:

Kenayu Tara mengatakan...

Saya setuju. Dan di jagat kata, saya kira, tidak mengenal tua atau muda. Yang ada cuma penyair. Bagaimana puisi itu akan hidup atau berlalu, tinggal berapa kekuatan kata di jiwa puisi itu. Salam.