28 Oktober 2008

[ac-i] Jurnal Toddopuli: "Dix heures pour la littérature indonésienne" di paris 7 desember 2008

JURNAL TODDOPULI:
 
 
"SEPULUH JAM UNTUK SASTRA INDONESIA DI PARIS"
 
 
 
Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia, "Pasar Malam" pada tanggal 07 Desember 2008 mendatang kembali akan menyelenggarakan kegiatan budayanya. Kali ini dengan menggelarkan acara yang dijuduli "Dix Heures Pour La Littérature Indonésienne" [Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia]. Kegiatan tentang sastra Indonesia ini akan berlangsung di ruangan La Maison des Cultures du Monde,101 Boulevard Raspail, 75006 Paris. 
 
 
Dalam acara "Dix Heures Pour La Littérature Indonésienne" ini akan berbicara Sitor Situmorang, Laksmi Pamuncak dan Richard Oh, dengan tema "Dari Lingkup Pribadi Ke Ruang Publik . Otofiksi atau Meninjau Ulang Citra Diri .Otobiografi Dalam Karya Sastra"[" De la sphère privée à l'espace public : . autofiction ou image de soi revisitée ? La part autobiographique dans l'œuvre littéraire"]. Tema lain yang akan dibicarakan adalah "Aku dan Orang Lain" [Je et L'Autre]. 
 
 
Melihat komposisi para pembicara utama dalam jumpa sastra tersebut yang berasal dari berbagai latar etnik dan sosial, maka ketika  berjumpa dengan Johanna Lederer, Ketua Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam" di Koperasi Restoran Indonesia, aku jajagi pendapatnya tanyakan: "Apakah tidak sebaiknya juga para pembicara disarankan atau diarahkan untuk menyinggung masalah sastra lokal dan pengaruhnya terhadap diri mereka sebagai penulis. Bagaimana hubungan sastra lokal dan nilai-nilai universal?" Secara prinsip Johanna yang sarjana sastra Amerika  lulusan Universitas Sorbonne itu, menyatakan setuju. Ia pun melihat arti penting pengangkatan sastra lokal di Indonesia dalam konteks sastra Indonesia sebagai suatu bangsa dan negeri. Pengangkatan sastra lokal, tidak berarti mempertentangkannya  dengan sastra nasional yang berbahasa Indonesia.
 
 
Patut pula  dicatat bahwa di dunia akademi, masalah-masalah sastra lokal banyak ditangani oleh para Indonesianis Perancis dan dilihat dari berbagai metode pendekatan.  Waktu berjumpa di Paris dalam tahun ini,  ketika soal ini aku singgung, sebagaimana juga kubicarakan dengan Sitor Situmorang, Goenawan Mohamad memperlihatkan ketertarikannya dan mengesankan bahwa ia sangat mendukung. Kesan ini nampak ketika aku  berbicara tentang  Luna Vidya sebagai penyair yang lahir di Sentani dan sekarang bermukim di Makassar. Kesan serupa juga kudapatkan dari Sitor Situmorang ketika ia mengakui bahwa ia sering dikonsultasi oleh penggiat-penggiat sastra-seni  Tapianauli. Mengembangkan sastra-seni  lokal, aku lihat hanya menguntungkan bangsa dan negeri, suatu usaha sadar mendorong pengejawantahan potensi yang kaya-raya dan  potensial di negeri kita. Barangkali melalui cara ini, melalui proses, kita bisa mendapatkan wajah sastra-seni yang berkindonesiaan yang sekaligus bernilai universal. Sebab aku tidak pernah mempertentangkan nilai lokal dengan universal. Pada karya-karya lokal terdapat nilai universal. Dengan pengembangan sadar sastra-seni lokal, barangkali kita sekaligus mengejawantahkan konsep bhinneka tunggal  ika yang oleh Paul Ricoeur disebut bahwa "lokalitas adalah bahasa dalam bergaul dengan budaya dunia". "Kebudayaan itu majemk,kemanusiaan itu tunggal" sebagaimana yang tertuang pada konsep "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang putera-puteri naga] dan "Utus Kalunen [Anak Manusia] pada budaya Dayak dahoeloe. Pengembangan sastra-seni lokal yang pada suatu ketika oleh budayawan Halim HD dirumuskan sebagai "sastra-seni kepulauan", aku melihat bahwa keragaman itu adalah suatu rakhmat dan indah, sedangkan ketunggalan itu mengandung bahaya. Dengan pandangan ini, aku mempertanyakan pendapat Ignas Kleden yang mengesankan bahwa keindonesiaan itu bermula dari "atas". Sementara, aku melihat, bahwa dalam pengembangan kebudayaan di negeri ini, kita perlu berpijak di dua kaki: Dari atas dan dari bawah, tapi dengan titik berat dari bawah. Sebab seperti dikatakan oleh salah seorang penyair Tiongkok Kuno, penguasa bisa silih berganti, rakyat itu akan tetap ada.Dalam istilah kelompok pemikir Samir Amin, pandangan begini disebut : "rakyat sebagai poros".
 
 
Dalam acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia-s" kali ini seperti biasa akan turut berbicara para Indonesianis dan sejumlah pakar-pakar sastra dari Perancis sendiri seperti Gilbert Hamonic, antropolog dengan spesialisasi Asia Tenggarah, Christine Jordis, penulis dan redaktur pada penerbit besar Gallimard, Etienne Naveau, dosen pada  INALCO [Institut Nasional Untuk Bahasa-bahasa Timur] tentang sastra Indonesia, Vincent Bardet dari penerbit Le Seuil, penulis Bernard Chambaz dan lain-lain...
 
 
Kegiatan sastra Indonesia kali ini untuk pertama kali mendapat sokongan dari KBRI Paris, bahkan pejabat Dubes sendiri akan hadir.   Bantuan dari Perancis diperoleh dari  Centre National du Livre     Conseil régional d'Ile de France Direction régionale des Affaires Culturelles d'Ile de France, LES ÉDITIONS DU PACIFIQUE et Willem, seorang pelukis Sedangkan bantuan dari Kedutaan Perancis di Jakarta, yang biasanya diperoleh "Pasar Malam"  , sesuai dengan politik pemerintahan Sarkozy, yang mengurangi secara besar-besaran dana untuk kegiatan budaya di luar negeri, menjadi  diperoleh.  Karena itu kepada Lily Yulianti, sastrawan dari Makassar, hanya disampaikan undangan resmi tapi Lembaga Persahabatan tidak mempunyai syarat untuk mendanainya. Walau pun demikian, kukira, adanya undangan resmi kepada Lily Yulianti dan mungkin juga Luna Vidya, penyair kelahiran Sentani, Papua, sudah merupakan perhatian terhadap sastra lokal. Petunjuk bahwa "Pasar Malam" tidak hanya melihat perkembangan yang terdapat di Jawa. 
 
 
Kreativitas dan produktivitas sastrawan lokal akan merupakan sambutan  padan bagi peluang-peluang yang terbuka dan disediakan di mana saja baik di tingkat nasional mau pun di tingkat internasional. Barangkali!****
 
 
Perjalanan Pulang, Musim Gugur 2008
-------------------------------------------------------
JJ. Kusni

Kontak dan keterangan bisa di dapat pada: 
afi.pasar-malam@wanadoo.fr
http://pasarmalam.free.fr
 
Surat-menyurat pos pada: Association franco-indonésienne Pasar Malam Association culturelle pour l'amitié entre les peuples français et indonésien, 14 rue du Cardinal Lemoine, 75005 Paris. Kontak e-mail pada: afi.pasar-malam@wanadoo.fr, Tél. : 33-1 56 24 94 53 


Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist. Download it now! __._,_.___

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Sphere: Related Content

Tidak ada komentar: